Loading...

10 Budayawan Indonesia Terpopuler Beragama Kristen

Loading...

Ia juga dikenal dengan panggilan Rama Sindhu (atau dibaca “Romo Sindhu” dalam bahasa Jawa).

Sindhunata menempuh pendidikannya di Seminarium Marianum, Lawang, Jawa Timur (1970), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta (1980), Institut Filsafat Teologi Kentungan, Yogyakarta (1983).

Ia juga mendapat gelar doktor dari Hochschule für Philosophie, München, Jerman (1992) di mana disertasinya berkisar tentang pengharapan mesianik masyarakat Jawa.

Sindhunata adalah seorang imam Katolik, anggota Yesuit, dan redaktur majalah kebudayaan “Basis”.

Sindhunata juga dikenal sebagai penulis novel dan berbagai masalah kebudayaan. Selain itu, ia juga seorang komentator sepakbola.

Ia adalah pendiri komunitas “Pangoentji” (Pagoejoeban Ngoendjoek Tjioe, atau Paguyuban Minum Ciu) yang melibatkan diri pada bidang seni dan budaya.

 

8. Benny Susetyo

Budayawan Indonesia terpopuler selanjutnya beragama Kristen/Katolik adalah Benny Susetyo.

Antonius Benny Susetyo Pr atau akrab dipanggil Romo Benny, lahir di Malang, Jawa Timur, pada 10 Oktober 1968.

Romo Benny adalah seorang budayawan dan rohaniwan Katolik yang dikenal sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Wali Gereja Indonesia sejak 2008.

Pendidikannya ia selesaikan di Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang.

Romo Benny merupakan seorang aktivis yang aktif di berbagai organisasi kemanusiaan, budaya dan agama, seperti Forum Kajian Demokrasi dan Hak Asasi Manusia, Forum Komunikasi Antarumat Beragama, Forum Kerja Kemanusiaan, Visi Anak Bangsa, dan Pusat Studi dan Pengembangan Kebudayaan.

Ia juga salah satu pendiri dari Setara Institute, bersama sejumlah tokoh dan aktivis, di antaranya Gusdur (Abdurrahman Wahid), mantan Presiden RI, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Hendardi, dan Rocky Gerung, satu dari 7 Pengamat Politik Indonesia Terpopuler Beragama Kristen.

Setara Institute adalah perkumpulan individual/perorangan yang didedikasikan bagi pencapaian cita-cita di mana setiap orang diperlakukan setara dengan menghormati keberagaman, mengutamakan solidaritas dan bertujuan memuliakan manusia.

Romo Benny aktif menulis buku, juga artikel di beberapa koran nasional.

 

9. Abdon Nababan

Budayawan Indonesia terpopuler lainnya beragama Kristen/Katolik adalah Abdon Nababan.

Abdon Nababan lahir di Siborongborong, Sumatera Utara, pada 2 April 1964.

Ia dikenal sebagai Sekretaris Jenderal AMAN, sebuah organisasi masyarakat adat tingkat nasional, selama dua periode (2007–2012 dan 2012-2017).

Anggota AMAN saat ini berjumlah 2.332 komunitas adat dengan populasinya sekitar 17 juta jiwa.

Sebagai pemimpin organisasi masyarakat adat nasional terbesar di dunia, Abdon juga mengambil peran dalam kepemimpinan kolektif gerakan masyarakat adat internasional dan terlibat dalam negosiasi tingkat tinggi dan menjadi juru bicara dalam forum-forum PBB mewakili major grups Indigenous Peoples.

Sejak 5 tahun terakhir Abdon juga memimpin perjuangan melalui DPR RI dan Kantor Presiden agar segera ada UU Masyarakat Adat di Indonesia.

Selain itu, dia juga terlibat sebagai Anggota Tim Teknis Penyusunan RUU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Anggota Tim Teknis Penyusunan Keputusan Menteri tentang Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Berbasis Masyarakat, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) RI.

Selama 20 tahun ini Abdon juga memberikan perhatian yang khusus untuk Sumatera Utara, antara lain terlibat dalam beragam advokasi hak-hak masyarakat adat sejak kehadiran PT. Inti Indorayon Utama (IIU) di awal 1990-an.

Selain itu, ia juga aktif mendukung perjuangan Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI), organisasi perjuangan hak adat tertua di Indonesia.

 

10. Remy Sylado

Budayawan Indonesia terpopuler terakhir beragama Kristen/Katolik adalah Remy Sylado.

Yapi Panda Abdiel Tambayong atau Japi Tambajong, atau lebih dikenal dengan nama pena Remy Sylado lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 12 Juli 1945.

Remy Sylado menghabiskan masa kecil dan remaja di Semarang dan Solo. Latar belakang agamanya yang kuat membuat orangtuanya mengirimnya sekolah ke seminari.

Ia memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo di Semarang (1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), dan ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung.

Remy Sylado aktif menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi.

Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai dalam melukis dan main drama.

Remy pernah dianugerahi hadiah Kusala Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.

Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.

Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Bandung dan Jakarta, seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi.

 

Itulah 10 budayawan Indonesia terpopuler beragama Kristen dan Katolik.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!