Contoh demokrasi di Alkitab ada banyak, baik di antara bangsa Israel di Perjanjian Lama maupun di dalam Gereja Kristen di Perjanjian Baru.

Semua contoh demokrasi di Alkitab ini menjadi bukti bahwa pada zaman Alkitab pun sudah banyak diterapkan sistem demokrasi, bukan baru ada pada zaman modern.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab yang memperjuangkan keadilan dan HAM

Jelas, contoh demokrasi di Alkitab ini bisa menjadi dasar atau acuan yang baik bagi negara-negara dalam menerapkan sistem demokrasi, khususnya negara mayoritas Kristen, atau negara yang secara historis banyak dipengaruhi kekristenan.

Seperti kita tahu, sistem demokrasi adalah sistem pemerintahan yang dianggap paling baik, karena melibatkan rakyat untuk berpartisipasi, baik dalam pemilu maupun dalam pengambilan keputusan penting.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Yang Melanggar HAM

Dan sistem demokrasi adalah sistem pemerintahan yang dianggap paling baik, yang telah diterapkan di sebagian besar negara di dunia saat ini.

Sistem demokrasi diyakini dimulai di kota Atena, Yunani kuno, dan dikembangkan oleh negara-negara barat (Eropa barat dan Amerika utara), melalui para ahli teori politik mereka.

Baca juga: 10 Tokoh Pembaharu Di Alkitab

Tetapi sebenarnya sistem demokrasi bukanlah murni “penemuan” Yunani atau negara-negara barat. Sebab faktanya di Alkitab pun sudah banyak diterapkan, walau bentuknya lebih sederhana dibanding sistem demokrasi di negara-negara modern saat ini.

Justru sebaliknya, negara-negara barat, yang identik dengan agama Kristen (Katolik dan Protestan), diyakini mendasarkan teori-teori mereka dari Alkitab.

Baca juga: 7 Tokoh Anti Korupsi Di Alkitab

Jika demikian, maka menjadi penting bagi kita untuk mengetahui dasar Alkitab bagi penerapan sistem demokrasi, ayat Alkitab yang berbicara tentang demokrasi, atau contoh penerapan sistem demokrasi di Alkitab.

Lalu apa sajakah 10 Contoh Demokrasi di Alkitab tersebut?

Berikut pembahasannya.

 

1. Pengangkatan hakim-hakim oleh Musa atas pilihan orang

Israel

Ketika Musa dipanggil Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel dari Mesir menuju Tanah Perjanjian, maka Musa meninggalkan istri dan kedua anaknya pada mertuanya, Yitro.

Dan ketika Musa dan bangsa Israel di padang gurun menuju Tanah Kanaan, maka Yitro, mertuanya datang menemui Musa, dengan membawa istri dan anak-anak Musa.

Yang menarik adalah mertua Musa menasihati Musa agar Musa tidak mengadili bangsa Israel sendirian, sebab ia akan kelelahan dan juga orang Israel.

Maka Yitro menyarankan Musa mengangkat para pemimpin seribu, pemimpin seratus, pemimpin lima puluh, dan pemimpin sepuluh.

Jadi para penimpin tersebut akan membantu Musa mengadili bangsa Israel dalam perkara-perkara yang kecil. Sedangkan perkara-perkara yang besar ditangani langsung oleh Musa.

Usul mertuanya ini diterima oleh Musa. Dia memilih sejumlah pemimpin di Israel untuk membantunya dalam mengadili bangsa itu (Keluaran 18:13-27).

Tetapi berdasarkan Ulangan 1:9-18, sebenarnya Musa tidak “memilih” sendiri para pemimpin itu,  orang Israel sendirilah yang memilihnya, Musa hanya mengangkat atau “menahbiskan” mereka.

Advertisements
Ad 16
Advertisements Text

 

2. Pengangkatan

12 Pengintai Tanah Kanaan

atas usulan orang

Israel

Ketika bangsa Israel berada di padang gurun Paran, dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian, Tuhan memerintahkan kepada Musa agar ia mengutus 12 pengintai ke Tanah Kanaan, yakni tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham dan keturunannya (bangsa Israel).

Kedua belas pengintai itu bertugas untuk mengintai atau mengamat-amati Tanah Perjanjian: bagaimana keadaan tanahnya serta seberapa kuat bangsa-bangsa penghuninya.

Kedua belas pengintai yang diutus Musa itu adalah para pemimpin atau kepala di tiap-tiap suku Israel. Mereka adalah orang-orang yang dipilih dari 12 suku Israel (dari 12 anak Yakub), satu orang mewakili satu suku.

Tetapi suku Lewi tidak termasuk, sebab suku Lewi telah dipilih Tuhan secara khusus untuk melayani di Kemah Suci.

Jadi mereka tidak mendapat warisan di Tanah Perjanjian, sehingga tidak perlu ikut mengintai.

Posisi suku Lewi digantikan oleh suku Yusuf. Jadi suku Yusuf dibagi menjadi dua, yakni suku Efraim dan suku Manasye, atau biasa disebut juga suku Yusuf (Bilangan 13:1-33).

Menurut Ulangan 1:19-33, yang memilih 12 pengintai ini adalah Musa, tetapi yang mengusulkan hal tersebut adalah orang Israel, yakni rakyat.

 

3. Ketetapan tentang hak waris perempuan atas inisiatif Putri-Putri Zelafehad

Putri-putri Zelafehad adalah 5 perempuan dari seorang laki-laki bernama Zelafehad dari suku Manasye (Yusuf).

Kelima putri Zelafehad ini adalah: Mahla, Noa, Hogla, Milka, dan Tirza.

Mereka berlima datang kepada Musa dan para pemimpin Israel lainnya untuk memperjuangkan hak-hak mereka sebagai perempuan.

Ayah mereka, Zelafehad, telah mati dan tidak meninggalkan anak laki-laki sehingga namanya terancam terhapus di antara kaum kerabatnya serta milik pusakanya akan beralih ke orang lain, bukan kepada anak perempuannya.

Sebab pada masa itu di antara bangsa Israel, orang yang meninggal tidak mempunyai anak laki-laki maka namanya akan terhapus dan milik pusakanya/tanah warisannya akan diberikan kepada orang lain, kerabat terdekatnya, sekalipun ia mempunyai anak perempuan.

Jadi anak-anak perempuan Zelafehad ini menuntut keadilan kepada Musa dan para pemimpin Israel. Mereka meminta agar milik pusaka ayah mereka (tanah) diberikan kepada mereka.

Musa menyampaikan perkara ini ke hadapan Tuhan, dan Tuhan mengabulkan permintaan putri-putri Zelafehad ini.

Tuhan kemudian memberikan sebuah hukum bahwa jika seorang laki-laki Israel meninggal dengan tidak mempunyai anak laki-laki, tetapi mempunyai anak perempuan, maka milik pusakanya akan diberikan kepada anak perempuannya.

Kecuali jika orang tersebut tidak mempunyai anak perempuan, maka barulah warisannya diberikan kepada kerabat terdekatnya, seperti saudara-saudaranya laki-laki atau saudara-saudara ayahnya.

Peraturan yang Tuhan berikan kepada Musa ini kemudian menjadi ketetapan bagi orang Israel turun temurun (Bilangan 27:1-11), yang jelas memberi rasa keadilan bagi kaum perempuan.

 

4. Pemberian tanah seberang sungai Yordan kepada 2,5 suku Israel

Sebelum bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian dengan menyeberangi Sungai Yordan menuju timur, maka dua setengah dari suku-suku mereka, meminta kepada Musa agar mereka diizinkan mendiami wilayah bagian timur dari sungai Yordan.

Kedua setengah suku tersebut adalah suku Ruben, suku Gad, dan setengah dari suku Manasye.

Ketika Musa berkata bahwa permintaan mereka akan melemahkan semangat suku-suku lain dalam merebut wilayah barat dari sungai Yordan, mereka menjawab bahwa mereka akan turut juga berperang merebut Tanah Perjanjian tersebut hingga suku-suku Israel yang lain mendapat bagian di dalamnya.

Hal ini disetujui oleh Musa, sehingga 2,5 suku Israel itu mendapat tanah warisan di Tanah Perjanjian bagian timur.

Dan 2,5 suku Israel tersebut pun memenuhi janji mereka untuk turut berperang merebut Tanah Perjanjian bagian barat hingga suku-suku Israel yang lain mendapat bagian di dalamnya (Bilangan 32:1-42; Yosua 13:8-33).

Tinggalkan Balasan