Loading...
Loading...

10 Fakta Tentang Baptisan Air Menurut Alkitab

Artikel ini membahas tentang 10 fakta tentang baptisan air menurut Alkitab.

Baptisan air adalah salah satu sakramen yang sangat penting bagi gereja dari seluruh denominasi atau aliran.

Baptisan air merupakan satu dari 7 sakramen gereja Katolik, dan satu dari 2 sakramen yang diakui oleh gereja-gereja Kristen Protestan.

Baca juga: 7 Makna Baptisan Air Menurut Alkitab

Dalam tradisi Kristen Protestan, sakramen diartikan sebagai “tanda lahiriah yang nampak, yang ditetapkan oleh Kristus, untuk menyatakan dan menjanjikan suatu berkat rohani.”

Memang, gereja-gereja Kristen mempunyai perbedaan akan hakekat, makna, atau tata cara dari Baptisan air tersebut.

Baca juga: 7 Jenis Baptisan Menurut Alkitab Dan PenjelasanNya

Namun seluruh aliran/denominasi gereja Kristen melakukan baptisan air serta meyakini bahwa hal itu merupakan perintah langsung Tuhan Yesus kepada murid-muridNya.

Dalam Perjanjian Baru baptisan air diberikan bagi mereka yang telah percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Baca juga: 4 Makna Perjamuan Kudus Menurut Alkitab

Orang yang telah dibaptis kemudian digabungkan ke dalam gereja.

Lalu apa sajakah 10 fakta tentang baptisan air menurut Alkitab?

Berikut penjelasannya.

 

1. Baptisan Air Dimulai Dari Perintah Allah Kepada Yohanes  

Baptisan air pertama kali muncul di Perjanjian Baru, tatkala Yohanes Pembaptis menyerukan kepada  orang-orang Israel untuk bertobat dan memberi diri dibaptis sebagai persiapan bagi kedatangan Mesias (Matius 3:1-11).

Yohanes Pembaptis adalah perintis jalan bagi Sang Mesias atau Tuhan Yesus.

Di Perjanjian Lama jelas belum dikenal istilah baptisan. Sehingga banyak orang yang bertanya, dari manakah baptisan Yohanes berasal?

Kemungkinan besar baptisan air, yang pertama kali dibawakan oleh Yohanes pembaptis, diambil dari tradisi kaum Esen, sebuah sekte Yahudi yang radikal.

Para arkeolog telah menemukan kolam-kolam di Israel, yang diduga kuat sebagai bekas kolam-kolam baptisan kaum Esen.

Namun demikian, akar baptisan air telah ada di Perjanjian Lama, dalam bentuk pentahiran/pembasuhan atau penyucian dosa.

Bagaimanapun, baptisan Yohanes berasal dari Allah. Allah sendiri yang memerintahkan Yohanes Pembaptis untuk membaptis orang-orang Israel (Yohanes 1:33).

Kendati demikian, baptisan Yohanes hanya berlaku bagi bangsa Israel pada zaman sebelum kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian.

Setelah kebangkitan Tuhan Yesus, baptisan yang berlaku bagi semua orang adalah baptisan Kristen (lihat poin 2 di bawah).

 

2. Tuhan Yesus Memerintahkan Murid-MuridNya Untuk Membaptis

Tuhan Yesus, sebelum naik ke surga, memberi perintah kepada murid-muridNya untuk memberitakan Injil dan membaptis mereka (Matius 28:19).

Hal ini dituruti oleh murid-muridNya, mereka memberitakan Injil di berbagai tempat serta membaptis mereka.

Baptisan ini jelas berbeda dengan baptisan Yohanes, yang hanya diperuntukkan bagi orang Israel sebelum pelayanan Tuhan Yesus.

Inilah baptisan Kristen, baptisan yang berlaku bagi semua orang. Bahkan yang telah mengalami baptisan Yohanes pun harus dibaptis dengan baptisan ini (Kisah Para Rasul 19:1-5).

 

3. Baptisan Air Diberikan Bagi Orang Dewasa Yang Telah Percaya Kepada Tuhan Yesus

Di Alkitab, orang-orang yang dibaptis adalah mereka yang telah percaya kepada Tuhan Yesus/kepada Injil yang diberitakan.

Sebagai contoh, orang-orang Samaria yang memberi diri dibaptis setelah percaya kepada Tuhan Yesus yang diberitakan oleh Filipus, termasuk Simon tukang sihir (Kisah Para Rasul 8:12-13).

Atau sida-sida Etiopia, yang dibaptis oleh Filipus setelah percaya kepada Tuhan Yesus yang diberitakannya (Kisah Para Rasul 8:36-38).

Sekalipun di Alkitab terdapat sejumlah rujukan pada baptisan sekeluarga (Kisah Para Rasul 16:33), tampaknya belum tentu hal ini berarti bahwa bayi/anak-anak juga ikut dibaptis.

Sebab bayi/anak-anak belum bisa mengambil keputusan sendiri, untuk percaya atau tidak, seperti halnya orang dewasa.

Jadi yang dibaptis di Alkitab adalah orang-orang dewasa yang telah percaya Tuhan Yesus.

 

4. Kemungkinan Besar Baptisan Air Di Alkitab Adalah Baptisan Selam

Istilah “baptis” berasal dari kata Yunani baptizo, yang artinya “dicelupkan” atau “ditenggelamkan”.

Istilah ini tentu dapat juga dipakai secara kiasan, sehingga muncullah istilah baptisan Roh atau baptisan api.

Namun di Alkitab, istilah itu betul-betul diterapkan secara harfiah dalam praktek baptisan.

Sebagai contoh adalah baptisan Yohanes (poin 1 di atas) yang dilakukan di sungai Yordan.

Sekalipun baptisan Yohanes tersebut bisa saja dilakukan dengan cara lain, misalnya percik, dengan mengambil air dari sungai Yordan, namun lebih mungkin bahwa orang-orang yang dibaptis diselam di sungai Yordan itu.

Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa Tuhan Yesus, setelah selesai dibaptis oleh Yohanes, “keluar” dari air (Matius 3:16; Markus 1:10).

Demikian juga dengan Filipus dan Sida-sida Etiopia, sama-sama masuk ke dalam air, ketika Filipus membaptis sida-sida Etiopia tersebut (Kisah Para Rasul 8:38-39).

Bagaimanapun, dibaptis dengan cara diselam adalah cara yang paling mungkin di Alkitab.

Apalagi hal ini dianalogikan dengan “kematian dan penguburan” terhadap dosa, yang lebih cocok dengan baptis selam ketimbang baptis percik (lihat poin 5 di bawah).

Tentu yang terpenting bukanlah metode atau cara baptisnya, tetapi prasyarat baptisnya, yakni orang dewasa yang telah percaya (poin 3 di atas).

Tetapi yang jelas mediumnya harus air, bukan yang lain, misalnya bendera, sebagaimana yang dipraktekkan orang-orang Kristen tertentu.

Jika tidak ada air di suatu tempat maka harus diusahakan agar air tersebut tersedia.

 

5. Makna Utama Baptisan Air Adalah Sebagai Lambang Pertobatan Dan Kehidupan Yang Baru 

Makna utama baptisan air menurut Alkitab adalah sebagai lambang bahwa seseorang telah meninggalkan cara hidupnya yang berdosa dan mulai memasuki kehidupan yang baru.

Dalam Roma 6:3-4 dan Kolose 2:12, rasul Paulus membandingkan kematian dan kebangkitan Yesus dengan “kematian” dan “kebangkitan” orang percaya melalui baptisan.

Melalui baptisan, orang percaya telah “dikuburkan” bersama Kristus.

Maksudnya, sebagaimana Kristus mati dan dikuburkan secara fisik, maka orang percaya juga telah “mati dan dikuburkan” secara kiasan.

Dan sebagaimana dengan Kristus bangkit dari kematian, maka orang percaya juga telah “dibangkitkan” secara kiasan.

Yang dimaksud rasul Paulus dengan “kematian” adalah kematian terhadap dosa. Dan yang dimaksud dengan “kebangkitan” adalah kehidupan yang baru, yang meninggalkan dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus (Roma 6:11-13).

Lewat baptisan kita diingatkan bahwa kita telah memasuki suatu kehidupan yang baru.

Jadi selain kita bertobat, meninggalkan dosa-dosa kita (poin 2 di atas), kita juga harus hidup dengan cara hidup yang baru, hidup seturut firman dan kehendak Allah, yakni hidup yang memuliakan Allah.

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!