Loading...

10 Fakta Tentang Makanan Halal Dan Haram Menurut Alkitab

Loading...

 

7. Tuhan Mengatakan Kepada Rasul Petrus Bahwa Tidak Ada Makanan Yang Haram

Alkisah rasul Petrus, pemimpin utama gereja mula-mula di Yerusalem,  sedang  berdoa pada pukul 12 tengah hari.

Hal ini jelas mengikuti waktu sembahyang orang Yahudi.

Waktu itu Petrus sedang menumpang di rumah Simon, seorang penyamak kulit di kota Yope.

Dan ketika Petrus sedang berdoa, tiba-tiba ia merasa lapar dan ingin makan.

Dan ketika makanan dihidangkan, ia diliputi kuasai ilahi.

Petrus mendapat sebuah penglihatan. Ia melihat langit terbuka dan turunlah sebuah benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya.

Di dalamnya terdapat berbagai jenis hewan yang haram menurut peraturan Hukum Taurat Yahudi.

Lalu terdengarlah oleh Petrus suatu suara, “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!”

Jelas ini adalah suara Tuhan.

Tetapi Petrus, yang memegang teguh aturan makanan halal dan haram dalam Hukum Taurat menjawab, “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.”

Maka kedengaranlah suatu suara untuk kedua kalinya, “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.”

Hal itu terjadi sampai tiga kali. Kemudian benda tersebut terangkat kembali ke langit.

Sementara Petrus sedang bertanya-tanya tentang penglihatan tersebut, muncullah tiga orang utusan Kornelius, seorang perwira Romawi penganut agama Yahudi  yang saleh.

Ternyata Tuhan telah menampakkan diri kepada Kornelius dan menyuruhnya untuk menjemput Petrus.

Maka Petrus pun datang dan memberitakan Injil kepada seisi rumah Kornelius sehingga mereka semua percaya kepada Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 10).

Dari kisah ini jelas bahwa makanan halal dan haram tidak lagi relevan bagi orang percaya di Perjanjian Baru. Tuhan sendiri yang mengatakannya kepada Petrus.

Dan makanan Halal dan haram, yang sebelumnya menjadi pembeda antara orang Yahudi dengan orang non-Yahudi (lihat poin 3 di atas) tidak lagi relevan.

Hal ini dibuktikan dengan Injil yang diberitakan kepada orang-orang non-Yahudi yang menghalalkan segala makanan (Kornelius sekeluarga).

 

8. Roh Kudus Memutuskan Bahwa  Orang Kristen Tidak Lagi Terikat Dengan Aturan Makanan Halal Dan Haram

Sejumlah orang Kristen Yahudi di Yudea pernah mengajarkan ajaran sesat di Antiokhia (jemaat mayoritas non-Yahudi) dengan mengatakan bahwa untuk bisa diselamatkan, maka seseorang harus menuruti Hukum Taurat.

Karena itu gereja melakukan “konsili” atau rapat umum pertama para pemimpin gereja  (rasul-rasul dan para penatua) di Yerusalem.

Para pemimpin gereja yang melakukan rapat di sini adalah perwakilan gereja Antiokhia dan gereja Yerusalem. Namun hasil sidang itu dikirimkan kepada gereja-gereja lainnya di berbagai kota.

Dan pada sidang Yerusalem ini diambil keputusan penting yang menyangkut orang-orang percaya dari bangsa-bangsa lain/non-Yahudi, yakni mereka tidak perlu  melakukan Hukum Taurat (termasuk aturan makanan halal dan haram) agar bisa diselamatkan.

Memang orang-orang Kristen non-Yahudi tersebut diberi beberapa aturan, namun semata-mata demi kelancaran hubungan mereka dengan orang-orang Kristen Yahudi (Kisah Para Rasul 15).

Artinya, orang Kristen tidak perlu lagi mengikuti aturan soal makanan halal dan haram, yang merupakan bagian integral dari sistem Hukum Taurat Yahudi.

Menarik untuk disimak, keputusan tersebut ternyata bukan hanya keputusan para pemimpin gereja (yang semuanya adalah orang Yahudi yang pasti mengikuti aturan makanan halal-haram), melainkan juga keputusan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 15:28).

Jadi bahwa aturan makanan halal dan haram tidak lagi mengikat orang Kristen pada dasarnya bukanlah ketetapan manusia, tetapi ketetapan Allah sendiri.

 

9. Rasul Paulus Mengajarkan Bahwa Bagi Orang Percaya Semua Makanan Halal 

Rasul Paulus mempunyai pandangan yang sama dengan Tuhan Yesus,  Petrus, dan para rasul lainnya dalam hal makanan halal dan haram.

Sebab memang rasul Paulus juga ikut serta dalam sidang gereja di Yerusalem yang memutuskan bahwa orang Kristen tidak perlu lagi melakukan Hukum Taurat, termasuk aturan makanan halal dan haram (lihat poin 8 di atas).

Dalam berbagai suratnya kepada jemaat-jemaat Tuhan di berbagai kota, rasul Paulus secara berulang-ulang menegaskan bahwa orang Kristen tidak terikat dengan aturan-aturan makanan halal dan haram.

Paulus mengatakan bahwa bagi orang Kristen, semua makanan halal. Sebab semua yang Tuhan ciptakan adalah baik adanya. Semuanya itu dikuduskan oleh firman dan doa (1 Timotius 4:1-5).

Rasul Paulus lebih lanjut berkata bahwa aturan tentang makanan halal dan haram hanyalah “bayangan”, sedangkan wujudnya adalah Kristus (Kolose 2:16-17).

Maksudnya jelas, jika wujud yang sesungguhnya telah datang (Tuhan Yesus melalui kematianNya di kayu salib), maka bayangan (Hukum Taurat, termasuk aturan makanan halal-haram) tidak diperlukan lagi.

 

10. Masalah Makanan Halal Dan Haram Tidak Boleh Menjadi Batu Sandungan Bagi Saudara Seiman

Sekalipun masalah makanan halal dan haram tidak lagi mengikat orang Kristen,  namun rupanya masih ada orang Kristen yang berpandangan bahwa aturan makanan halal dan haram dalam Perjanjian Lama itu masih tetap berlaku bagi orang Kristen di Perjanjian Baru.

Karena itu rasul Paulus menegaskan agar keyakinan orang-orang seperti itu tetap dihormati dan diperhatikan, tidak boleh dihakimi.

Demikian juga sebaliknya, orang Kristen yang masih menuruti aturan makanan halal dan haram di Perjanjian Lama harus menghormati orang Kristen yang tidak lagi mengikuti aturan tersebut dan tidak menghakiminya.

Rasul Paulus menegaskan bahwa orang percaya tidak boleh menjadi batu sandungan bagi saudara seimannya hanya karena berbeda pandangan tentang makanan halal-haram.

Dengan demikian tidak terjadi perpecahan di antara jemaat.

Yang terpenting menurut rasul Paulus adalah masing-masing orang Kristen harus yakin dengan pandangannya sendiri (Roma 14).

 

Itulah 10 fakta tentang makanan halal dan haram menurut Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan karenanya menurut pandangan Kristen.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!