10 Fakta Tentang Mesias Menurut Alkitab

yesus-mesias

Artikel ini berisi tentang Mesias menurut Alkitab dan tradisi Yahudi.

Mesias adalah salah satu gelar Tuhan Yesus ketika Ia hidup dan melayani di dunia ini. Namun demikian, istilah Mesias tidak begitu populer dalam Perjanjian Baru, apalagi dalam Perjanjian Lama.

Dibanding gelar Mesias, Alkitab lebih banyak mencatat gelar-gelar Yesus lainnya, seperti Anak Manusia atau Anak Allah.

Baca juga: 10 Cara Yesus Menyatakan Dia Adalah Tuhan

Namun demikian, gelar Mesias sangat penting bagi Tuhan Yesus. Sebab istilah Mesias merupakan gelar pemimpin Israel yang dinubuatkan di Perjanjian Lama, juga gelar pemimpin Israel paling populer di antara orang Yahudi.

Baca juga: 10 Gelar Yesus Terpopuler Di Alkitab

Oleh karena itu, artikel kali ini akan membahas fakta-fakta penting di seputar Mesias. Dengan demikian pemahaman kita akan Mesias akan semakin lengkap.

Berikut 10 fakta penting seputar Mesias menurut Alkitab yang perlu kita tahu.

 

1. Di Perjanjian Lama Ada Banyak Istilah Yang Menunjuk Pada Pribadi Mesias

Mesias (bahasa Ibrani: Masyiakh) artinya adalah “yang diurapi”. Istilah ini muncul beberapa kali di dalam Perjanjian Lama. Misalnya dalam Mazmur 2:2 (dalam Alkitab Terjemahan Baru tidak memakai istilah Mesias, tetapi yang diurapi).

Dalam Perjanjian Lama, istilah “yang diurapi” mengacu pada orang-orang yang biasanya diurapi (dituangi dengan minyak) sebagai penahbisan atau pelantikan. Mereka ini adalah para imam, nabi dan raja.

Dalam bahasa Yunani (bahasa asli Perjanjian Baru), Masiakh ditransliterasi menjadi Messias, atau diterjemahkan menjadi Christos atau Kristus. Tetapi dalam Perjanjian Baru istilah Kristus jauh lebih populer dari istilah Mesias.

Di Perjanjian Lama, padanan bagi gelar Mesias ada banyak. Salah satunya adalah “seorang yang akan memerintah Israel”, yang terdapat dalam nubuat nabi Mikha.

“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mikha 5:1)

Bahwa istilah “seorang yang akan memerintah Israel” dalam ayat ini mengacu pada pribadi Mesias tampak dari pemahaman imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat Yahudi atas ayat tersebut. Menurut pemahaman imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat Yahudi, “seorang yang akan memerintah Israel” menunjuk pada Mesias (Matius 2:3-6).

 

2. Mesias Adalah Pemimpin Israel Dari Keturunan Daud

Mesias adalah salah satu keturunan raja Daud yang akan menjadi pemimpin Israel. Mesias memang dapat mengacu pada raja-raja Israel, yang merupakan keturunan Daud. Tetapi yang terutama adalah pada salah seorang keturunan Daud yang menjadi raja selama-lamanya.

“Engkau telah berkata: Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun.” (Mazmur 89:4-5).

Jadi Mesias adalah seorang tokoh penting, dari keturunan Daud, yang dinanti-nantikan oleh orang-orang Yahudi sebagai pemimpin mereka. Dan istilah Anak Daud menjadi sinonim bagi Mesias (Markus 10:47).

 

3. Mesias Itu Adalah Seorang Yang Ilahi

Meski Mesias adalah keturunan Daud, sebenarnya Ia juga bersifat ilahi. Mesias memang datang ke dunia dalam wujud manusia. Namun pada dasarnya Mesias itu seorang yang ilahi. Artinya, ia adalah Tuhan yang datang ke bumi dalam wujud manusia. Jadi ia bukanlah manusia biasa.

Sebagai contoh adalah nubuat nabi Mikha yang telah dikutip di atas. Nabi Mikha berkata bahwa permulaan Mesias sudah sejak zaman purbakala.

“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mikha 5:1)

Hal ini dapat diartikan bahwa Mesias itu pada dasarnya sudah ada sejak kekekalan. Dengan kata lain, Mesias itu tidak berawal, sebagaimana halnya dengan Allah.

Dan istilah Anak Allah menjadi identik dengan Mesias (Matius 16:16).

 

4. Mesias Harus Menderita Dan Mati Bagi Dosa-Dosa Manusia

 Yesaya 53 menubuatkan bahwa Mesias harus menderita dan mati bagi pengampunan dosa manusia. Bahkan Mesias itu juga akan bangkit dari kematian dan menerima upah yang besar dari Allah. Meski Mesias adalah ilahi, namun ia juga akan mati. Ia mati ketika ia berinkarnasi mengambil rupa manusia.

Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.” (Yesaya 53:7-9).

Sekalipun istilah Mesias tidak muncul dalam ayat-ayat ini, namun jelas ini mengacu pada pribadi Mesias. Hal ini tampak dari kutipan ayat-ayat ini dalam beberapa ayat di Perjanjian Baru, yang menunjuk kepada Yesus sebagai Mesias (misalnya, Kisah Para Rasul 8:27-35).

 

5. Konsep Mesias Semakin Populer Pada Zaman Intertestamental

Pada zaman intertestamental (zaman di antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru) banyak doktrin Yahudi yang berkembang. Pada masa itu Tuhan tidak berbicara kepada umatNya selama 400 tahun, tidak ada lagi nabi yang dibangkitkanNya pada zaman itu.

Karena itu, para rabi Yahudi mengembangkan beberapa doktrin, terutama yang berkaitan dengan masa depan Israel. Hal ini dikarenakan mereka sedang berada dalam penjajahanbangsa asing (Romawi) dan Tuhan seolah-olah telah meninggalkan mereka. Itulah sebabnya mereka mencoba merumuskan pengharapan mereka akan masa depan yang gemilang.

Salah satu doktrin orang Yahudi yang berkembang pada zaman intertestamental ini adalah tentang Mesias. Orang-orang Yahudi yakin bahwa Mesias akan datang untuk menjadi pemimpin mereka yang jaya serta membebaskan mereka dari musuh mereka, orang Romawi.

Jadi pada masa itu, umumnya orang Israel memandang figur Mesias sebagai raja politis, yang akan membawa Israel menjadi bangsa yang unggul dan mengalahkan kekuasaan bangsa lain.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!