Loading...
Loading...

10 Fakta Tentang Mesias Menurut Alkitab

 

4. Mesias Harus Menderita Dan Mati Bagi Dosa-Dosa Manusia

 Yesaya 53 menubuatkan bahwa Mesias harus menderita dan mati bagi pengampunan dosa manusia. Bahkan Mesias itu juga akan bangkit dari kematian dan menerima upah yang besar dari Allah. Meski Mesias adalah ilahi, namun ia juga akan mati. Ia mati ketika ia berinkarnasi mengambil rupa manusia.

Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.” (Yesaya 53:7-9).

Sekalipun istilah Mesias tidak muncul dalam ayat-ayat ini, namun jelas ini mengacu pada pribadi Mesias. Hal ini tampak dari kutipan ayat-ayat ini dalam beberapa ayat di Perjanjian Baru, yang menunjuk kepada Yesus sebagai Mesias (misalnya, Kisah Para Rasul 8:27-35).

 

5. Konsep Mesias Semakin Populer Pada Zaman Intertestamental

Pada zaman intertestamental (zaman di antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru) banyak doktrin Yahudi yang berkembang. Pada masa itu Tuhan tidak berbicara kepada umatNya selama 400 tahun, tidak ada lagi nabi yang dibangkitkanNya pada zaman itu.

Karena itu, para rabi Yahudi mengembangkan beberapa doktrin, terutama yang berkaitan dengan masa depan Israel. Hal ini dikarenakan mereka sedang berada dalam penjajahanbangsa asing (Romawi) dan Tuhan seolah-olah telah meninggalkan mereka. Itulah sebabnya mereka mencoba merumuskan pengharapan mereka akan masa depan yang gemilang.

Salah satu doktrin orang Yahudi yang berkembang pada zaman intertestamental ini adalah tentang Mesias. Orang-orang Yahudi yakin bahwa Mesias akan datang untuk menjadi pemimpin mereka yang jaya serta membebaskan mereka dari musuh mereka, orang Romawi.

Jadi pada masa itu, umumnya orang Israel memandang figur Mesias sebagai raja politis, yang akan membawa Israel menjadi bangsa yang unggul dan mengalahkan kekuasaan bangsa lain.

 

6. Pada Zaman Perjanjian Baru, Mayoritas Orang Yahudi Punya Konsep Yang Salah Tentang Mesias

Pada zaman Tuhan Yesus hidup di dunia, figur Mesias menjadi bahan perbincangan yang hangat di kalangan orang Yahudi (Yohanes 7:40-43). Namun demikian, mayoritas rakyat dan pemimpin Yahudi salah dalam memahami pribadi Mesias.

Pertama, orang-orang Yahudi melihat Mesias sebagai pemimpin politik.

Ketika Yesus mulai tampil sebagai pengajar, banyak orang Yahudi yang berpikir bahwa Dialah sosok Mesias yang mereka nanti-nantikan itu, terutama karena tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang diadakanNya. Karena itulah mereka mendorong Tuhan Yesus untuk tampil sebagai pemimpin politik mereka. Mereka berniat menjadikanNya sebagai raja mereka, tetapi ditolakNya (Yohanes 6:14-15).

Di sini konsep orang Yahudi tentang Mesias sebagai raja politis yang muncul pada zaman intertestamental semakin nyata.

Tuhan Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk menjadi pemimpin politik, tetapi sebagai raja atau pemimpin rohani, pada zaman eskatologis atau zaman yang akan datang (Yohanes 18:36-37). Telah dijelaskan (poin 4 di atas) bahwa Mesias datang untuk menderita dan mati (melayani secara rohani), bukan untuk tujuan politik.

Kedua, orang-orang Yahudi meyakini bahwa menurut Perjanjian Lama, Mesias tidak mati tetapi hidup selamanya. (Yohanes 12:34). Namun hal itu adalah pemahaman yang keliru tentang Mesias. Mereka salah mengerti Kitab Suci. Dari nubuat nabi Yesaya yang dikutip di atas (poin 4), jelas bahwa Mesias akan menderita dan mati bagi dosa-dosa manusia.

Ketiga, orang-orang Yahudi tidak melihat Mesias sebagai yang ilahi. Mereka hanya melihatnya sebagai manusia biasa.

Pertanyaan Tuhan Yesus kepada orang-orang farisi tentang siapakah itu Mesias, dan jawaban mereka yang mengatakan bahwa Mesias adalah anak Daud (Matius 22:41-46), merupakan contoh nyata kurangnya pengetahuan mereka akan pribadi Mesias. Tentu Mesias adalah Anak Daud (yang insani), tetapi dia juga sekaligus Anak Allah (yang ilahi), sebagaimana telah disebut di atas (poin 3).

 

7. Selama HidupNya Di Bumi Tuhan Yesus Sangat Jarang Memakai Istilah Mesias

Semasa hidup dan melayani di dunia, Yesus sangat jarang memakai istilah Mesias. Perjanjian Baru tidak pernah mencatat Yesus mengucapkan kata-kata, “Akulah Mesias”. Tampaknya Ia tidak terlalu suka memakai gelar Mesias, Ia sangat jarang memakai gelar tersebut dan terkesan sangat berhati-hati dalam menggunakannya.

Di sisi lain, Tuhan Yesus lebih suka memakai gelar Anak Manusia untuk menunjuk pada diriNya. Gelar ini berasal dari kitab Daniel (Daniel 7:13-14). Dalam beberapa kesempatan, Tuhan Yesus dengan jelas memperlihatkan bahwa Ia menghindari gelar Mesias dan menggantinya dengan gelar Anak Manusia.

Perhatikan ayat di bawah ini,

“Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji? Jawab Yesus: Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.” (Markus 14:61b-62).

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!