10 Fakta Tentang Paskah Menurut Alkitab

 

Artikel ini akan membahas seputar Paskah menurut Alkitab.

Apakah sebenarnya Paskah itu? Untuk apa kita merayakan Paskah? Bagaimanakah sebenarnya Paskah menurut Alkitab? Apakah Paskah di Perjanjian Baru berbeda dengan Paskah di Perjanjian Lama? Apakah Paskah Kristen memperingati kematian Yesus atau memperingati kebangkitanNya, atau memperingati keduanya?

Paskah menurut Alkitab sangat penting untuk kita ketahui. Sebab, bersama Hari Raya Natal, Paskah adalah perayaan terbesar umat kristiani di seluruh dunia (Baca: 7 Alasan Mengapa Orang Kristen Merayakan Natal).

Oleh karena itu, maka sudah sepatutnya orang Kristen mengerti tentang fakta-fakta penting seputar Paskah menurut Alkitab.

Artikel kali ini akan membahas 10 fakta penting tentang Paskah menurut Alkitab, yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan seperti yang telah disinggung di awal artikel ini.

Fakta-fakta apa sajakah tentang paskah menurut Alkitab yang perlu kita tahu? Berikut penjelasannya.

 

1. Paskah Berasal Dari Kata Ibrani Pesakh yang berarti “Melewati”

Istilah Paskah berasal dari kata Ibrani, Pesakh, yang artinya “melewati”. Hal ini menunjuk pada Tuhan yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir yang telah dibubuhi dengan darah anak domba, sehingga tidak mendapat tulah atau hukuman dari Tuhan (Keluaran 12:13).

Sedangkan rumah-rumah orang Mesir, karena tidak dibubuhi dengan darah, mendapat tulah dari Tuhan, yakni anak sulung mereka mati, mulai dari anak sulung para tawanan hingga anak sulung raja Mesir, Firaun.

 

2. Paskah Adalah Memperingati Keluarnya Umat Israel Dari Mesir Menuju Tanah Perjanjian

Paskah itu adalah memperingati keluarnya bangsa Israel, umat pilihan Allah, dari tanah perbudakan di Mesir menuju Tanah Perjanjian, yakni Tanah Kanaan. Keluarnya bangsa Israel dari Mesir menuju Tanah Perjanjian telah dinubuatkan sebelumnya di Alkitab.

Waktu itu Tuhan melepaskan umatNya dengan terlebih dahulu menulahi bangsa Mesir sampai sepuluh kali. Tulah terakhir, yakni kematian anak-anak sulung bangsa Mesir, membuat Fiarun terpaksa membiarkan umat Israel keluar dari tanah mereka setelah sebelumnya memperbudak bangsa Israel itu selama 430 tahun (Baca: 10 Hukuman Tuhan Terbesar Kepada Manusia).

Untuk mengenang peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir ini, maka Tuhan memerintahkan agar mereka merayakan Paskah. Dengan demikian mereka selalu mengingat perbuatan Tuhan tersebut turun-menurun (Keluaran 12:1-42).

 

3. Paskah Adalah Salah Satu Perayaan Terpenting Dari 7 Perayaan Tahunan Bangsa Israel

Menurut Imamat 23:1-44, ada 7 hari raya tahunan orang Israel yang semuanya diperintahkan secara langsung oleh Tuhan untuk mereka lakukan. Ketujuh hari raya tersebut adalah Paskah, Roti Tidak Beragi, Pentakosta, Pondok Daun, Buah Sulung, Peniupan Serunai (Tahun Baru), dan Pendamaian. (Baca: 10 Hari Raya Israel Di Alkitab)

Ketujuh hari raya ini pada dasarnya diharapkan untuk diikuti oleh para pria Israel setiap tahunnya. Namun demikian, dari ketujuh hari raya tersebut ada tiga yang wajib diikuti oleh para pria Israel, yakni Paskah (bersamaan dengan Roti Tidak Beragi), Pentakosta dan Pondok Daun. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga hari raya inilah yang paling penting bagi mereka saat itu.

Ketujuh hari raya ini diadakan di Bait Suci di Yerusalem. Jadi setiap laki-laki Israel (atau bersama keluarganya) harus datang ke Yerusalem untuk merayakan perayaan tahunan ini, khususnya tiga perayaan yang disebut di atas.

 

4. Paskah Dirayakan Di Rumah-rumah Atau Di Bait Suci

Paskah pertama kali diadakan di Mesir di dalam rumah-rumah orang Israel sebelum mereka dibebaskan Tuhan dari tanah perbudakan tersebut.

Paskah ini dirayakan di dalam setiap keluarga yang dipimpin oleh kepala keluarga (ayah). Sembari makan Paskah, mereka juga harus menceritakan kepada anak-anak mereka apa makna Paskah tersebut, yakni bagaimana Tuhan membunuh setiap anak sulung di rumah-rumah orang Mesir, tetapi “melewati” anak-anak sulung di rumah-rumah bangsa Israel yang diolesi dengan darah anak domba.

Ketika Bait Suci dibangun di Yerusalem, maka perayaan itu dilakukan di Bait Suci, dan anak domba Paskah itu disembelih di Bait Suci (Ulangan 16:2). Tetapi ketika Bait Suci Israel tidak ada lagi (terakhir dihancurkan bangsa Romawi pada tahun 70 Masehi), maka Paskah kembali dirayakan di rumah-rumah hingga saat ini.

Hanya orang Israel asli yang boleh makan Paskah, tidak boleh orang asing, kecuali mereka yang telah menganut agama Yahudi (proselit) dan disunat (Keluaran 12:43-49).

 

5. Menyembelih Dan Memakan Anak Domba Adalah Unsur Utama Dalam Perayaan Paskah

Menyembelih dan memakan anak domba adalah unsur utama dari perayaan Paskah Israel. Mereka menyembelih dan memasak anak domba itu dengan cara dipanggang. Lalu mereka memakannya pada perayaan Paskah, itulah yang disebut dengan anak domba Paskah.

Anak domba yang disembelih pada setiap hari Paskah bukanlah anak domba sembarangan, tetapi harus anak domba yang tidak bercacat dan masih muda. Sekalipun kambing atau lembu juga diperbolehkan, tetapi anak domba adalah yang paling umum dipakai dalam Paskah orang Israel hingga saat ini.

Anak domba tersebut dimakan bersama roti yang tidak beragi dan sayur pahit. Roti, yang terbuat dari gandum, adalah makanan pokok orang Israel (Keluaran 12:1-11).

 

6. Dalam Perkembangannya, Anggur Juga Menjadi Unsur Utama Paskah Dan Dapat Dirayakan Selain Di Dalam Keluarga

Dalam perkembangannya kemudian (tidak diketahui kapan secara pasti), unsur anggur ditambahkan dalam Paskah orang Israel. Sebagaimana dengan roti adalah makanan pokok orang Israel, anggur adalah minuman pokok orang Israel.

Selain dalam penambahan unsur Paskah, dalam perkembangannya kemudian, Paskah juga dapat dilaksanakan di dalam sebuah komunitas non-keluarga. Misalnya dalam komunitas seorang guru dengan murid-muridnya, dan hal ini dapat dianggap sebagai sebuah unit keluarga.

Dalam hal ini sang guru bertindak sebagai kepala keluarga yang memimpin perayaan Paskah tersebut (lihat poin 7 di bawah).

 

7. Sebagai Orang Yahudi, Yesus Merayakan Paskah Pada ZamanNya

Selama Yesus hidup dan melayani di dunia, sebagai orang Yahudi secara manusia, Ia beberapa kali merayakan Paskah (misalnya, Yohanes 2:23).

Dan sehari sebelum Dia wafat, Yesus dan murid-muridNya merayakan Paskah. Seperti disebut di atas (poin 6), Yesus dan murid-muridNya dapat dianggap sebagai unit keluarga sehingga dapat merayakan Paskah sendiri layaknya satu keluarga. Dalam hal ini, Yesus bertindak sebagai kepala keluarga.

Sebagaimana Paskah orang Israel pada zaman itu, Yesus dengan murid-muridNya merayakan Paskah dengan memakan roti dan meminum anggur. Tetapi tidak dijelaskan apakah mereka menyembelih anak domba atau tidak.

(Mungkin ada anak domba, seperti umumnya Paskah Yahudi, tetapi mungkin juga tidak ada, dengan alasan Yesus ingin menunjukkan kepada murid-muridNya bahwa Ia adalah anak dombanya).

Dan di hari Paskah ini jugalah Yesus berbicara banyak tentang kematian dan kebangkitanNya kepada murid-murdNya, termasuk pengkhianatan yang dilakukan oleh salah satu muridNya, Yudas Iskariot (Matius 26:17-25).

 

8. Yesus Menggenapi Paskah Yahudi Dan Menahbiskan Paskah Kristen

Tuhan Yesus bukan hanya sekedar merayakan Paskah orang Israel/Paskah Yahudi, yakni mengingat keluarnya mereka dari tanah perbudakan di Mesir menuju Tanah Perjanjian. Dia juga menahbiskan Paskah baru atau Paskah Kristen.

Jadi ketika Ia bersama murid-muridNya merayakan Paskah Yahudi, dengan makan roti dan minum anggur, Tuhan Yesus menyatakan bahwa roti tersebut adalah lambang tubuhNya yang diserahkan bagi manusia dan anggur itu adalah lambang darahNya yang ditumpahkan bagi pengampunan dosa manusia.

Tuhan Yesus menyebut hal ini sebagai Perjanjian Baru, yang sebelumnya telah dinubuatkan oleh Nabi Yerema (Yeremia 31:31-34).

Tuhan Yesus juga memerintahkan murid-muridNya melakukan hal itu untuk mengingat Dia (Lukas 22:14-20). Perintah yang sama diberikanNya kepada rasulNya yang lain, Paulus (1 Korintus 11:23-26).

Jadi di sini Paskah Yahudi telah digenapi oleh Yesus dan digantiNya dengan Paskah Kristen. Dengan demikian, orang Kristen merayakan Paskah tidak lagi dalam rangka memperingati keluarnya umat Israel dari perbudakan Mesir, tetapi memperingati keluarnya orang percaya dari perbudakan dosa melalui kematian Yesus.

Dengan demikian, darah anak domba yang dioleskan pada tiap ambang pintu rumah bangsa Israel adalah lambang darah Yesus yang “dioleskan” dalam diri setiap orang percaya. Barangsiapa mempunyai darah itu maka ia selamat, dilewati (Pesakh) oleh Tuhan dan tidak dihukum.

Demikian juga dengan anak domba yang mereka sembelih setiap Hari Raya Paskah, adalah lambang Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang tak bercacat. Dalam hal inilah Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). Dan rasul Paulus menyebut Yesus sebagai “anak domba Paskah kita.” (1 Korintus 5:7).

 

9. Orang Kristen Di Perjanjian Baru Merayakan Paskah Lewat Perjamuan Kudus

Orang Kristen pada zaman Perjanjian Baru merayakan Paskah lewat Perjamuan Kudus, yang terdiri dari roti dan anggur. Sebab Paskah yang dirayakan Yesus juga hanya memakai roti dan anggur (setidaknya yang dicatat di Alkitab).

Namun bukan hanya karena itu, tetapi karena kedua unsur itulah yang dipakai Yesus sebagai sarana untuk meresmikan Paskah Kristen, yakni untuk mengingat kematianNya.

Jadi orang Kristen di Alkitab Perjanjian Baru tidak merayakan Paskah Yahudi, untuk memperingati keluarnya bangsa Israel dari Mesir, tetapi Paskah Kristen, untuk memperingati keluarnya orang percaya dari dosa melalui kematian Yesus di kayu salib. (Baca juga: 10 Fakta Tentang Sunat Yang Perlu Anda Tahu).

Dan karena orang percaya tidak lagi memperingati Paskah Yahudi setahun sekali, maka Perjamuan Kudus pun tidak harus dilakukan setahun sekali, tetapi bisa dilakukan lebih sering. Sebab tujuannya adalah untuk mengingat kematian Yesus, yang tentu lebih baik jika dilakukan lebih sering, bukan hanya setahun sekali.

Gereja mula-mula tampaknya melakukan Perjamuaan Kudus setiap kali beribadah pada hari Minggu (Kisah Para Rasul 20:7).

 

10. Di Perjanjian Baru, Paskah Kristen Juga Memperingati Kebangkitan Kristus, Bukan Hanya KematianNya

Sekalipun Paskah Kristen awalnya adalah untuk mengingat kematian Yesus, Paskah Kristen di Perjanjian Baru ternyata juga untuk memperingati kebangkitanNya.

Hal ini tampak dari hari ibadah mereka yang diadakan pada hari Minggu, di mana Perjamuan Kudus diadakan (Kisah Para Rasul 20:7). Hari Minggu adalah hari kebangkitan Yesus (Matius 28:1). Sedangkan hari kematian Yesus adalah hari Jumat (Markus 15:42).

Jika orang Kristen Perjanjian Baru hanya ingin mengingat kematian Yesus, maka tentu mereka akan melakukan Perjamuan Kudus pada hari Jumat, yakni hari kematian Yesus, bukan hari Minggu. Faktanya mereka melakukan Perjamuan Kudus pada hari Minggu, hari kebangkitan Yesus.

Orang Kristen sendiri mengadakan ibadah pada hari Minggu karena Yesus bangkit pada hari Minggu, artinya, untuk memperingati kebangkitan Yesus.

Jadi orang Kristen Perjanjian Baru menggabungkan peringatan kematian Yesus dan peringatan kebangkitanNya dalam satu hari ibadah (yang disertai Perjamuan Kudus), yakni pada hari Minggu.

Hal ini berarti bahwa orang Kristen di Perjanjian Baru (yang menjadi acuan kita orang percaya masa kini) menganggap bahwa Perjamuan Kudus juga memperingati kebangkitan Yesus, bukan hanya memperingati kematianNya.

Memang, kematian Kristus tidak bisa dipisahkan dari kebangkitanNya. KematianNya tanpa kebangkitanNya adalah sia-sia (1 Korintus 15:17-19). Sementara kebangkitanNya tidak mungkin ada tanpa kematianNya.

 

Itulah 10 fakta tentang paskah menurut Alkitab yang perlu kita ketahui.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!