10 Fakta Tentang Paskah Menurut Alkitab

 

6. Dalam Perkembangannya, Anggur Juga Menjadi Unsur Utama Paskah Dan Dapat Dirayakan Selain Di Dalam Keluarga

Dalam perkembangannya kemudian (tidak diketahui kapan secara pasti), unsur anggur ditambahkan dalam Paskah orang Israel. Sebagaimana dengan roti adalah makanan pokok orang Israel, anggur adalah minuman pokok orang Israel.

Selain dalam penambahan unsur Paskah, dalam perkembangannya kemudian, Paskah juga dapat dilaksanakan di dalam sebuah komunitas non-keluarga. Misalnya dalam komunitas seorang guru dengan murid-muridnya, dan hal ini dapat dianggap sebagai sebuah unit keluarga.

Dalam hal ini sang guru bertindak sebagai kepala keluarga yang memimpin perayaan Paskah tersebut (lihat poin 7 di bawah).

 

7. Sebagai Orang Yahudi, Yesus Merayakan Paskah Pada ZamanNya

Selama Yesus hidup dan melayani di dunia, sebagai orang Yahudi secara manusia, Ia beberapa kali merayakan Paskah (misalnya, Yohanes 2:23).

Dan sehari sebelum Dia wafat, Yesus dan murid-muridNya merayakan Paskah. Seperti disebut di atas (poin 6), Yesus dan murid-muridNya dapat dianggap sebagai unit keluarga sehingga dapat merayakan Paskah sendiri layaknya satu keluarga. Dalam hal ini, Yesus bertindak sebagai kepala keluarga.

Sebagaimana Paskah orang Israel pada zaman itu, Yesus dengan murid-muridNya merayakan Paskah dengan memakan roti dan meminum anggur. Tetapi tidak dijelaskan apakah mereka menyembelih anak domba atau tidak.

(Mungkin ada anak domba, seperti umumnya Paskah Yahudi, tetapi mungkin juga tidak ada, dengan alasan Yesus ingin menunjukkan kepada murid-muridNya bahwa Ia adalah anak dombanya).

Dan di hari Paskah ini jugalah Yesus berbicara banyak tentang kematian dan kebangkitanNya kepada murid-murdNya, termasuk pengkhianatan yang dilakukan oleh salah satu muridNya, Yudas Iskariot (Matius 26:17-25).

 

8. Yesus Menggenapi Paskah Yahudi Dan Menahbiskan Paskah Kristen

Tuhan Yesus bukan hanya sekedar merayakan Paskah orang Israel/Paskah Yahudi, yakni mengingat keluarnya mereka dari tanah perbudakan di Mesir menuju Tanah Perjanjian. Dia juga menahbiskan Paskah baru atau Paskah Kristen.

Jadi ketika Ia bersama murid-muridNya merayakan Paskah Yahudi, dengan makan roti dan minum anggur, Tuhan Yesus menyatakan bahwa roti tersebut adalah lambang tubuhNya yang diserahkan bagi manusia dan anggur itu adalah lambang darahNya yang ditumpahkan bagi pengampunan dosa manusia.

Tuhan Yesus menyebut hal ini sebagai Perjanjian Baru, yang sebelumnya telah dinubuatkan oleh Nabi Yerema (Yeremia 31:31-34).

Tuhan Yesus juga memerintahkan murid-muridNya melakukan hal itu untuk mengingat Dia (Lukas 22:14-20). Perintah yang sama diberikanNya kepada rasulNya yang lain, Paulus (1 Korintus 11:23-26).

Jadi di sini Paskah Yahudi telah digenapi oleh Yesus dan digantiNya dengan Paskah Kristen. Dengan demikian, orang Kristen merayakan Paskah tidak lagi dalam rangka memperingati keluarnya umat Israel dari perbudakan Mesir, tetapi memperingati keluarnya orang percaya dari perbudakan dosa melalui kematian Yesus.

Dengan demikian, darah anak domba yang dioleskan pada tiap ambang pintu rumah bangsa Israel adalah lambang darah Yesus yang “dioleskan” dalam diri setiap orang percaya. Barangsiapa mempunyai darah itu maka ia selamat, dilewati (Pesakh) oleh Tuhan dan tidak dihukum.

Demikian juga dengan anak domba yang mereka sembelih setiap Hari Raya Paskah, adalah lambang Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang tak bercacat. Dalam hal inilah Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). Dan rasul Paulus menyebut Yesus sebagai “anak domba Paskah kita.” (1 Korintus 5:7).

 

9. Orang Kristen Di Perjanjian Baru Merayakan Paskah Lewat Perjamuan Kudus

Orang Kristen pada zaman Perjanjian Baru merayakan Paskah lewat Perjamuan Kudus, yang terdiri dari roti dan anggur. Sebab Paskah yang dirayakan Yesus juga hanya memakai roti dan anggur (setidaknya yang dicatat di Alkitab).

Namun bukan hanya karena itu, tetapi karena kedua unsur itulah yang dipakai Yesus sebagai sarana untuk meresmikan Paskah Kristen, yakni untuk mengingat kematianNya.

Jadi orang Kristen di Alkitab Perjanjian Baru tidak merayakan Paskah Yahudi, untuk memperingati keluarnya bangsa Israel dari Mesir, tetapi Paskah Kristen, untuk memperingati keluarnya orang percaya dari dosa melalui kematian Yesus di kayu salib. (Baca juga: 10 Fakta Tentang Sunat Yang Perlu Anda Tahu).

Dan karena orang percaya tidak lagi memperingati Paskah Yahudi setahun sekali, maka Perjamuan Kudus pun tidak harus dilakukan setahun sekali, tetapi bisa dilakukan lebih sering. Sebab tujuannya adalah untuk mengingat kematian Yesus, yang tentu lebih baik jika dilakukan lebih sering, bukan hanya setahun sekali.

Gereja mula-mula tampaknya melakukan Perjamuaan Kudus setiap kali beribadah pada hari Minggu (Kisah Para Rasul 20:7).

 

10. Di Perjanjian Baru, Paskah Kristen Juga Memperingati Kebangkitan Kristus, Bukan Hanya KematianNya

Sekalipun Paskah Kristen awalnya adalah untuk mengingat kematian Yesus, Paskah Kristen di Perjanjian Baru ternyata juga untuk memperingati kebangkitanNya.

Hal ini tampak dari hari ibadah mereka yang diadakan pada hari Minggu, di mana Perjamuan Kudus diadakan (Kisah Para Rasul 20:7). Hari Minggu adalah hari kebangkitan Yesus (Matius 28:1). Sedangkan hari kematian Yesus adalah hari Jumat (Markus 15:42).

Jika orang Kristen Perjanjian Baru hanya ingin mengingat kematian Yesus, maka tentu mereka akan melakukan Perjamuan Kudus pada hari Jumat, yakni hari kematian Yesus, bukan hari Minggu. Faktanya mereka melakukan Perjamuan Kudus pada hari Minggu, hari kebangkitan Yesus.

Orang Kristen sendiri mengadakan ibadah pada hari Minggu karena Yesus bangkit pada hari Minggu, artinya, untuk memperingati kebangkitan Yesus.

Jadi orang Kristen Perjanjian Baru menggabungkan peringatan kematian Yesus dan peringatan kebangkitanNya dalam satu hari ibadah (yang disertai Perjamuan Kudus), yakni pada hari Minggu.

Hal ini berarti bahwa orang Kristen di Perjanjian Baru (yang menjadi acuan kita orang percaya masa kini) menganggap bahwa Perjamuan Kudus juga memperingati kebangkitan Yesus, bukan hanya memperingati kematianNya.

Memang, kematian Kristus tidak bisa dipisahkan dari kebangkitanNya. KematianNya tanpa kebangkitanNya adalah sia-sia (1 Korintus 15:17-19). Sementara kebangkitanNya tidak mungkin ada tanpa kematianNya.

 

Itulah 10 fakta tentang paskah menurut Alkitab dan menurut pandangan Kristen yang perlu kita ketahui.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

4 komentar untuk “10 Fakta Tentang Paskah Menurut Alkitab”

    1. Shalom Pingkan, telur paskah merupakan tradisi yang ditambahkan kemudian, yang melambangkan musim semi dan kehidupan. Gereja menerimanya dalam perayaan Paskah karena selain simbol kehidupan, juga karena Paskah kebetulan jatuh pada musim semi (antara bulan Maret-April) di negara-negara Barat yang mempunyai empat musim. Terima kasih, GBU.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!