Loading...
Loading...

10 Fakta Tentang Puasa Menurut Pandangan Kristen

 

Artikel ini membahas tentang puasa menurut pandangan Kristen, sebagaimana dicatat di Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Apakah sebenarnya puasa menurut pandangan Kristen? Apa kata Alkitab tentang puasa?

Apakah Perjanjian Baru mengajarkan orang Kristen berpuasa? Apakah tujuan puasa menurut Alkitab?

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh orang-orang Kristen.

Baca juga: 7 Alasan Mengapa Doa Penting Bagi Orang Kristen

Puasa menurut pandangan Kristen adalah naluri keagamaan yang universal, yang dipraktekkan oleh berbagai agama/kepercayaan, sekalipun makna, tujuan dan tata-caranya berbeda-beda antara satu agama/kepercayaan dengan agama/kepercayaan lainnya.

Dalam pandangan Kristen puasa sangat penting. Di seluruh Alkitab kita bisa melihat bahwa perihal puasa sangat banyak disinggung, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru.

Baca juga: 7 Cara Berdoa Yang Benar Menurut Alkitab

Artikel kali ini akan membahas 10 fakta tentang puasa menurut pandangan Kristen, sebagaimana dapat kita lihat di Alkitab, yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan, seperti disinggung di awal artikel ini.

Fakta-fakta apa sajakah tentang puasa menurut pandangan Kristen yang perlu kita tahu? Berikut penjelasannya.

 

1. Puasa Pertama Kali Tuhan Perintahkan Kepada Bangsa Israel, Yakni Puasa Keagamaan, Setahun Sekali

Fakta pertama tentang puasa menurut pandangan Kristen sebagaimana dicatat di Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah: puasa pertama kali Tuhan perintahkan kepada bangsa Israel.

Puasa pertama kali disebutkan di dalam Kitab Imamat 16:29-31, yang disingung kembali dalam Imamat 23:27-32 dan Bilangan 29:7.

Puasa ini diperintahkan oleh Tuhan kepada bangsa Israel untuk dijalankan di setiap Hari Pendamaian. Jadi puasa ini dilakukan setahun sekali, yakni pada Hari Pendamaian, pada tanggal 10 bulan yang ke-7 setiap tahunnya.

Hari Pendamaian, satu dari 7 hari raya tahunan Israel, bertujuan untuk mengingatkan umat Israel akan dosa-dosa mereka di hadapan Tuhan.

Pada hari itu, Imam Besar akan masuk ke ruang Maha Kudus Bait Suci dengan membawa darah hewan untuk dipercikkan ke Tabut Perjanjian sebagai lambang penyucian dosa umat Israel.

Upacara penyucian dosa ini adalah lambang penyucian dosa umat manusia oleh darah Yesus, yang digenapi ketika Ia wafat di kayu salib.

Puasa tahunan orang Israel ini disinggung satu kali di Perjanjian Baru, yakni di dalam Kisah Para Rasul 27:9.

 

2. Sejak Zaman Pembuangan, Hari-Hari Puasa Orang Israel Menjadi 4 Kali Setahun

Fakta kedua tentang puasa menurut pandangan Kristen sebagaimana dicatat di Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah: Sejak zaman pembuangan puasa orang Israel bertambah menjadi 4 kali setahun.

Puasa orang Israel yang sebelumnya hanya terjadi sekali setahun pada Hari Pendamaian, yakni pada tanggal 10 bulan yang ke-7 dalam kalender Yahudi, bertambah menjadi 4 kali setahun, yakni bulan ke-4, ke-5, ke-7, dan bulan ke-10 (Zakharia 8:19).

Tidak jelas kapan penambahan hari puasa ini dimulai, yang jelas pada zaman nabi Zakharia melayani di Yehuda, hal ini sudah terjadi. Artinya, baru terjadi setelah orang Israel (Yehuda) dibuang ke Babel.

Menurut Talmud (dokumen berisi ajaran rabi-rabi Yahudi), puasa-puasa rutin tersebut muncul untuk mengenang berbagai malapetaka yang terjadi di sepanjang sejarah Israel.

Mungkin sama halnya dengan masa puasa yang ditetapkan sebagai acara seremonial umat Yahudi pada zaman Ester (Ester 9:31).

 

3. Sebagian Besar Puasa Di Alkitab Adalah Puasa Sukarela, Bukan Puasa Keagamaan

Fakta ketiga tentang puasa menurut pandangan Kristen sebagaimana dicatat di Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah: sebagian besar puasa di Alkitab adalah puasa sukarela, bukan puasa keagamaan.

Sekalipun awalnya yang Tuhan perintahkan adalah puasa seremonial/religius, namun faktanya di Alkitab kebanyakan puasa yang dicatat merupakan puasa sukarela.

Jadi mereka berpuasa bukan karena diperintahkan Tuhan, dalam rangka Hari Raya tertentu, tetapi lebih kepada kebutuhan mendesak orang percaya itu sendiri.

Misalnya, ketika seseorang atau sekelompok orang percaya sedang membutuhkan pertolongan Tuhan, sedang melakukan pertobatan atas dosa-dosa mereka, atau ketika merendahkan diri di hadapan Tuhan (lihat poin 6 di bawah), mereka melakukan puasa secara sukarela.

Puasa sukarela ini bisa dilakukan sendirian, dan bisa juga dilakukan secara bersama-sama (untuk contoh-contoh puasa sendirian/puasa pribadi dan puasa bersama di Alkitab, lihat ayat-ayat yang dikutip dalam poin 6 di bawah).

 

4. Dalam Perkembangannya, Banyak Orang Israel Yang Berpuasa 2 Kali Seminggu, Bahkan Setiap Hari

Fakta keempat tentang puasa menurut pandangan Kristen sebagaimana dicatat di Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah: banyak orang Israel yang kemudian berpuasa 2 kali seminggu atau bahkan setiap hari.

Puasa sukarela Yahudi di kemudian hari berkembang menjadi sebuah kebiasaan yang rutin dan lebih sering dilakukan.

Jika puasa seremonial hanya terjadi sekali setahun (pada Hari Raya Pendamaian), atau beberapa kali dalam setahun (bulan ke-4, ke-5, ke-7, dan ke-10), maka banyak orang Yahudi yang melakukan puasa dua kali seminggu atau bahkan setiap hari.

Misalnya, orang-orang farisi berpuasa dua kali dalam seminggu (Lukas 18:12), yakni pada hari Senin dan hari Kamis.

Alasan mengapa mereka memilih hari Senin dan hari Kamis, dan bukan hari lain, adalah karena mereka meyakini bahwa Musa naik ke Gunung Sinai (dengan berpuasa selama 40 hari!), pada hari Senin dan kembali dari gunung tersebut pada hari Kamis.

Orang-orang saleh seperti Hana malah biasa berpuasa setiap hari sebagai bentuk pengabdian dirinya kepada Tuhan (Lukas 2:36-37). (Baca: 7 Pendoa Di Alkitab)

 

5. Puasa Umumnya Diikuti Oleh Doa, Walau Tidak Selalu Demikian

Fakta kelima tentang puasa menurut pandangan Kristen sebagaimana dicatat di Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah: puasa di Alkitab umumnya diikuti oleh doa.

Puasa di Alkitab sangat erat kaitannya dengan doa. Artinya, setiap kali puasa disebut di Alkitab, umumnya disertai dengan doa, yang biasa disebut sebagai doa puasa.

Hal ini tentu tidaklah mengherankan, sebab bukankah puasa itu bertujuan untuk menyatakan pertobatan, memohon pertolongan Tuhan, merendahkan diri di hadapan Tuhan dan berduka atas apa yang dialami? (lihat poin 6 dan poin 7 di bawah).

Tentu hal-hal seperti ini sangat membutuhkan doa.

Kendati demikian, tidak semua puasa disertai dengan doa, dalam hal ini puasa itu sendiri boleh dikatakan sebagai bentuk lain dari doa, atau “Doa tanpa kata-kata”.

Di Alkitab juga sering puasa disebut tanpa menyinggung doa sama sekali.

Sebagai contoh adalah kisah yang ada di dalam kitab Ester, di mana orang-orang Yahudi di pembuangan berpuasa bersama-bersama agar luput dari pemusnahan yang dirancangkan oleh Haman (Ester 4:3, 16). (Baca: 10 Tokoh Minoritas Alkitab Yang Berkuasa Di Tengah Kaum Mayoritas)

Dalam kisah tersebut tidak dikatakan mereka berdoa, sekalipun bisa saja mereka juga berdoa, hanya tidak diceritakan oleh penulis Kitab Ester.

Loading...
6 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!