10 Fakta Tentang Sabat Menurut Alkitab

 

Sabat sering kali menimbulkan banyak pertanyaan orang percaya. Apakah itu Sabat menurut Alkitab? Apakah orang Kristen masih mengikuti Sabat? Sabat itu hari Sabtu atau hari Minggu? Mengapa sebagian besar orang Kristen tidak beribadah di hari Sabat, tetapi beribadah pada hari Minggu?

Lalu bagaimana dengan orang-orang Kristen yang dicatat di Perjanjian Baru, apakah mereka beribadah di hari Sabat atau beribadah di hari Minggu?

Hal-hal ini semua dan banyak hal lain seputar Sabat, akan dijelaskan dalam artikel berjudul “10 Fakta Tentang Sabat Menurut Alkitab” ini. (Baca juga: 10 Fakta Tentang Puasa Yang Perlu Anda Tahu)

Di sini dicantuman 10 fakta-fakta penting seputar Sabat menurut Alkitab. Fakta-fakta apa sajakah yang perlu kita tahu tentang Sabat menurut Alkitab? Berikut pembahasannya.

 

1. Sabat Merupakan Saat Untuk Beristirahat Dari Pekerjaan

Kata “sabat” berasal dari bahasa Ibrani, syabbat, yang artinya “berhenti”. Maksudnya, berhenti atau beristirahat dari segala pekerjaan atau aktivitas.

Sabat pertama kali diperintahkan Tuhan kepada bangsa Israel, umat pilihanNya. Mereka tidak boleh bekerja pada hari Sabat. Mereka hanya boleh bekerja selama enam hari dalam seminggu, yakni hari pertama hingga hari keenam (Minggu sampai Jumat).

Tetapi pada hari ketujuh, yakni hari Sabtu atau hari Sabat, mereka harus beristirahat. Mereka tidak boleh beraktivitas. Bahkan memasang api pun tidak boleh. Pelanggaran terhadap hal ini adalah hukuman mati (Keluaran 35:1-3).

Untuk memenuhi keperluan bangsa Israel, maka Tuhan memberkati mereka pada hari keenam dua kali lipat, sehingga mereka tidak berkekurangan pada hari ketujuh atau hari Sabat ketika mereka beristirahat (Keluaran 16:29).

Kendati demikian, faktanya, Sabat sering dilanggar oleh umat Israel dan tidak mendapat hukuman, karena para pemimpin yang seharusnya menghukum, juga melanggar Sabat. Misalnya pada zaman Nehemia (Nehemia 13:15-22).

 

2. Sabat Juga Merupakan Hari Beribadah Kepada Tuhan

Sabat bukan sekedar hari untuk beristirahat dari kesibukan beraktivitas, tetapi juga merupakan hari untuk beribadah kepada Tuhan. Inilah hari perkumpulan kudus (Imamat 23:1-3).

Di Alkitab tidak dijelaskan bagaimana ibadah orang Israel berlangsung di hari Sabat. Namun dalam perkembangannya kemudian, sebagaimana dapat dilihat dalam ibadah di Sinagoge (rumah ibadah orang Israel), kita sedikit banyak mendapat gambaran.

Sinagoge dimulai ketika bangsa Israel dibuang ke negeri Babel selama 70 tahun karena dosa-dosa mereka kepada Tuhan.

Karena Bait Suci orang Israel di Yerusalem sudah dihancurkan bangsa Babel, dan mereka berada di negeri orang yang tak mungkin membangun Bait Suci (karena Tuhan hanya mengizinkan membangun Bait Suci di Yerusalem, dan bangsa Babel tak mungkin mengizinkan mereka membangun Bait Suci di Babel), maka mereka membangun tempat ibadah atau Sinagoge.

Ketika mereka kembali dari pembuangan ke tanah Israel, maka mereka pun membangun kembali Bait Suci kedua, tetapi Sinagoge tetap mereka pakai untuk beribadah setiap minggunya, yakni pada hari Sabat. Sedangkan Bait Suci mereka pakai sebagai tempat ibadah setiap hari.

Dari Perjanjian Baru kita dapat mengetahui bahwa di dalam ibadah Sinagoge, terdapat pembacaan Kitab Suci, ulasan/khotbah/pengajaran, dan tanya jawab atau diskusi (Lukas 4:16-21; Kisah Para Rasul 13:15).

Jadi kemungkinan seperti itulah yang dilakukan oleh orang Israel ketika mereka beribadah di Sinagoge pada hari Sabat, khususnya pasca-pembuangan.

 

3. Sabat Didasarkan Pada Hari “Istirahat” Tuhan Dari Segala PekerjaanNya Dalam Mencipta

Sabat itu didasarkan pada prinsip penciptaan, di mana Tuhan beristirahat pada hari ketujuh, setelah Ia selesai menciptakan alam semesta dan isinya pada hari pertama sampai hari keenam (Kejadian 2:1-3).

Jadi karena Tuhan hanya “bekerja” selama enam hari dalam mencipta, dan beristirahat pada hari ketujuh, maka demikianlah umatNya harus bekerja selama enam hari serta harus beristirahat pada hari ketujuh (Keluaran 20:8-11).

Tentu saja hal ini tidak bisa ditafsirkan secara harfiah, sebab Tuhan maha kuasa dan Ia tidak memerlukan istirahat, karena Ia tidak pernah keletihan. Namun maksudnya adalah bahwa Tuhan sudah berhenti mencipta, dan sejak itu hingga sekarang Ia “beristirahat”.

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!