Loading...
Loading...

10 Fakta Tentang Sabat Menurut Alkitab

 

4. Selain Sabat Mingguan, Alkitab Juga Mencatat Sabat 7 Tahunan Dan Sabat 50 Tahunan (Tahun Yobel)

Selain Sabat harian, Tuhan juga memerintahkan tentang Sabat tujuh tahunan, yang diperingati selama tujuh tahun sekali. Jika dalam Sabat harian, orang Israel beristirahat selama satu hari, maka dalam Sabat tujuh tahunan ini mereka beristirahat selama satu tahun.

Jadi orang Israel hanya boleh bekerja selama 6 tahun, pada tahun ketujuh mereka harus berhenti dan membiarkan tanah mereka “beristirahat” selama setahun. Mereka tidak boleh mengolah dan menanami tanah tersebut.

Tumbuh-tumbuhan yang tumbuh sendiri di tanah tersebut, bukan karena ditanam, akan menjadi makanan orang miskin, dan sisanya akan menjadi makanan hewan.

Sabat tujuh tahunan ini akan berpuncak setiap tujuh kali (angka sempurna). Jadi pada tahun kelima puluh, akan ada Sabat yang lebih besar yang merupakan hari sukacita besar. Pada saat ini, bukan saja orang Israel tidak bekerja, mereka juga harus melepaskan budak-budak mereka dan melunaskan piutang-piutang mereka.

Tahun kelima puluh ini disebut tahun Yobel, yang berasal dari kata Ibrani Yobel atau Yovel, yang berarti tanduk domba jantan. Ini mengacu pada sangkakala (yang terbuat dari tanduk domba jantan) yang ditiup pada perayaan tersebut. Dalam bahasa Latin, tahun Yobel disebut Jubilaeus atau Jubileum.

Sama seperti dalam Sabat mingguan, dalam Sabat tahunan juga Tuhan akan memberkati orang Israel berkali lipat di tahun keenam, sehingga di tahun ketujuh mereka tidak bekerja dan tanpa berkekurangan (Imamat 25:1-22).

 

5. Sabat Merupakan Bagian Dari Hukum Taurat Dan Identitas Bangsa Israel Sebagai Umat Pilihan Tuhan

Sabat dimasukkan ke dalam sistem Hukum Taurat yang harus ditaati oleh orang Israel, seperti umumnya peraturan-peraturan lainnya dalam Hukum Taurat.

Sabat termasuk salah satu peraturan/hukum dalam “Dasa Titah” atau “10 Firman”, yakni titah keempat, perintah untuk menguduskan hari Sabat (Keluaran 20:8-11). Hal ini menunjukkan bahwa Sabat itu sangat penting dalam sistem hukum umat Israel.

Sabat merupakan hukum yang integral dan esensial dalam sistem Hukum Taurat bangsa Israel. Hukum Sabat terdapat di empat Kitab Pentateukh (lima kitab Musa, yakni Kejadian-Ulangan), kecuali di dalam kitab Kejadian.

Seperti umumnya hukum-hukum lain dalam Taurat, Sabat juga hanya diberikan Tuhan kepada bangsa Israel (Mazmur 147:19-20). Peraturan Sabat tidak diberikanNya kepada bangsa-bangsa lainnya.

Dan Sabat menjadi identitas orang Israel, yang membedakannya dari bangsa-bangsa lainnya di dunia.

 

6. Pada Dasarnya Sabat Diciptakan Demi Kebaikan Manusia, Tetapi Rabi-Rabi Yahudi Kemudian Menjadikan Sabat Sebagai Beban

Dalam perkembangannya, orang-orang Israel melalui rabi-rabinya, memperberat aturan Taurat, termasuk Sabat. Mereka menafsirkan Sabat secara kaku, sehingga memberatkan umat.

Hal ini sering terjadi pada masa pelayanan Yesus. Sebagai contoh, ketika murid-murid Yesus lapar, mereka memetik bulir gandum pada hari Sabat, sehingga orang-orang Farisi memprotesNya.

Memang, menurut Hukum Taurat, memetik bulir gandum di ladang orang diperbolehkan (Ulangan 23:25). Tetapi melakukannya di Hari Sabat dilarang dalam tradisi Israel yang kemudian, karena para rabi Yahudi menafsirkannya sebagai “bekerja”, sehingga melanggar Keluaran 31:14, larangan tentang bekerja di hari Sabat.

Dalam menanggapi hal ini Tuhan Yesus memberi dua contoh kasus dari hidup bangsa Israel. Pertama, tentang Daud, yang memakan roti sajian yang sebenarnya hanya boleh dimakan oleh para imam (1 Samuel 21:1-6), namun orang Israel tidak menganggap Daud bersalah.

Kedua, kasus imam-imam Israel yang senantiasa “bekerja” di Bait Suci, termasuk pada hari Sabat (Bilangan 28:9-10), tidak dipandang oleh orang-orang Israel sebagai pelanggaran.

Jadi menurut Yesus, memetik bulir gandum pada hari Sabat seperti yang dilakukan oleh murid-muridNya tidaklah salah (Matius 12:1-8).

Dalam beberapa kasus lain, di mana Yesus sering menyembuhkan orang sakit di hari Sabat, yang menurut orang-orang Israel pada zamanNya tidak diperbolehkan, Yesus mengatakan bahwa berbuat baik di hari Sabat boleh saja (Lukas 14:1-6).

Bagi Yesus Sabat adalah hari kelegaan, hari beristirahat dan beribadah, bukan hari yang menjadi beban bagi umat Tuhan. Hari Sabat dijadikan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat (Markus 2:27).

Dari kasus-kasus ini terlihat, bahwa Sabat yang awalnya Tuhan tetapkan untuk kebaikan manusia, yakni hari beristirahat dan beribadah, telah dirusak oleh tradisi Yahudi yang tidak alkitabiah.

 

7. Sebagai Orang Yahudi, Yesus Juga Menaati Hukum Sabat

Ketika Yesus hidup dan melayani di bumi, Ia juga menaati hukum Sabat dan setia beribadah setiap hari Sabat (Lukas 4:16).

Hal ini terjadi karena ketika berinkarnasi menjadi manusia, Yesus lahir di dalam keluarga Yahudi. Jadi Dia melakukan apa yang sudah sepatutnya dilakukan oleh seorang Yahudi, termasuk menaati hari Sabat.

Loading...
4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!