10 Fakta Tentang Sabat Menurut Alkitab

 

6. Pada Dasarnya Sabat Diciptakan Demi Kebaikan Manusia, Tetapi Rabi-Rabi Yahudi Kemudian Menjadikan Sabat Sebagai Beban

Dalam perkembangannya, orang-orang Israel melalui rabi-rabinya, memperberat aturan Taurat, termasuk Sabat. Mereka menafsirkan Sabat secara kaku, sehingga memberatkan umat.

Hal ini sering terjadi pada masa pelayanan Yesus. Sebagai contoh, ketika murid-murid Yesus lapar, mereka memetik bulir gandum pada hari Sabat, sehingga orang-orang Farisi memprotesNya.

Memang, menurut Hukum Taurat, memetik bulir gandum di ladang orang diperbolehkan (Ulangan 23:25). Tetapi melakukannya di Hari Sabat dilarang dalam tradisi Israel yang kemudian, karena para rabi Yahudi menafsirkannya sebagai “bekerja”, sehingga melanggar Keluaran 31:14, larangan tentang bekerja di hari Sabat.

Dalam menanggapi hal ini Tuhan Yesus memberi dua contoh kasus dari hidup bangsa Israel. Pertama, tentang Daud, yang memakan roti sajian yang sebenarnya hanya boleh dimakan oleh para imam (1 Samuel 21:1-6), namun orang Israel tidak menganggap Daud bersalah.

Kedua, kasus imam-imam Israel yang senantiasa “bekerja” di Bait Suci, termasuk pada hari Sabat (Bilangan 28:9-10), tidak dipandang oleh orang-orang Israel sebagai pelanggaran.

Jadi menurut Yesus, memetik bulir gandum pada hari Sabat seperti yang dilakukan oleh murid-muridNya tidaklah salah (Matius 12:1-8).

Dalam beberapa kasus lain, di mana Yesus sering menyembuhkan orang sakit di hari Sabat, yang menurut orang-orang Israel pada zamanNya tidak diperbolehkan, Yesus mengatakan bahwa berbuat baik di hari Sabat boleh saja (Lukas 14:1-6).

Bagi Yesus Sabat adalah hari kelegaan, hari beristirahat dan beribadah, bukan hari yang menjadi beban bagi umat Tuhan. Hari Sabat dijadikan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat (Markus 2:27).

Dari kasus-kasus ini terlihat, bahwa Sabat yang awalnya Tuhan tetapkan untuk kebaikan manusia, yakni hari beristirahat dan beribadah, telah dirusak oleh tradisi Yahudi yang tidak alkitabiah.

 

7. Sebagai Orang Yahudi, Yesus Juga Menaati Hukum Sabat

Ketika Yesus hidup dan melayani di bumi, Ia juga menaati hukum Sabat dan setia beribadah setiap hari Sabat (Lukas 4:16).

Hal ini terjadi karena ketika berinkarnasi menjadi manusia, Yesus lahir di dalam keluarga Yahudi. Jadi Dia melakukan apa yang sudah sepatutnya dilakukan oleh seorang Yahudi, termasuk menaati hari Sabat.

Namun Ia tidak menaati Sabat secara kaku, seperti yang umumnya dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada zamanNya. Seperti telah disebut di atas, Dia mengecam cara memperlakukan hari Sabat yang terlalu kaku, yang membuat Sabat bukan lagi hal yang melegakan, tetapi menjadi beban.

 

8. Sabat Telah Digenapi Oleh Yesus Melalui KematianNya Dan Tidak Lagi Mengikat Orang Kristen

Karena Sabat adalah bagian dari Hukum Taurat (lihat poin 5 di atas), maka Sabat sudah digenapi oleh kematian Yesus di kayu salib, sehingga tidak lagi mengikat orang Kristen.

Salah satu tujuan kematian Yesus di kayu salib adalah untuk menggenapi seluruh Hukum Taurat Yahudi (Matius 5:17), termasuk Sabat. (Baca juga: 10 Fakta Tentang Sunat Yang Perlu Anda Tahu)

Rasul Paulus juga dengan jelas mengatakan bahwa berbagai aturan-aturan Taurat, termasuk Sabat di dalamnya, adalah “bayangan”, sedangkan wujudnya adalah Kristus (Kolose 2:16-17).

Jika Yesus telah menggenapi Sabat, maka kita, orang Kristen, tak perlu lagi merayakannya dan mengikuti aturan-aturannya.

 

9. Orang Kristen Zaman Perjanjian Baru Beribadah Pada Hari Minggu, Bukan Pada Hari Sabat

Orang Kristen pada zaman Perjanjian Baru beribadah pada hari-hari biasa (Kisah Para Rasul 2:46). Tetapi yang terutama adalah pada hari Minggu, untuk memperingati kebangkitan Kristus yang terjadi pada hari Minggu, hari pertama dalam seminggu (Matius 28:1).

Jemaat mula-mula di Troas beribadah pada hari Minggu dan melakukan Perjamuan Kudus (Kisah Para Rasul 20:7). (Baca: 10 Fakta Tentang Paskah Yang Perlu Anda Tahu)

Rasul Paulus meminta agar jemaat di Korintus mengumpulkan persembahan mereka setiap hari pertama dalam satu Minggu, yakni Hari Minggu (1 Korintus 16:2). Hal ini berarti bahwa jemaat di Korintus pada masa itu beribadah pada hari Minggu dan pada saat itulah persembahan mereka dikumpulkan.

Dalam Wahyu 1:10, hari Minggu disebut sebagai “Hari Tuhan”, yang setara dengan pemakaian istilah “Perjamuan Tuhan” (1 Korintus 10:21).  Hal ini berarti bahwa Hari Minggu (Hari Tuhan) sudah menjadi hari yang tetap sebagai hari beribadah bagi umat Kristen pada masa itu (abad 1 Masehi).

Meskipun rasul Paulus sering menghadiri ibadah di Sinagoge orang Yahudi pada hari Sabat, tetapi tujuan utamanya bukanlah untuk beribadah, melainkan untuk memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 13:15; 16:13).

Tidak diketahui kapan persisnya orang Kristen mulai beribadah pada hari Minggu, mengingat saat itu hampir seluruhnya jemaat gereja mula-mula di Yerusalem adalah orang-orang Yahudi yang beribadah pada hari Sabat atau hari Sabtu.

Namun yang jelas, orang Kristen di Perjanjian Baru (termasuk yang berlatar belakang Yahudi) beribadah terutama pada hari Minggu, bukan pada hari Sabat/Sabtu (sekalipun boleh jadi mereka masih beribadah di hari Sabat selain hari Minggu). Sudah pasti mereka tidak lagi menganggap Sabat berlaku bagi mereka dan bahwa hari kebangkitan Yesus lebih penting untuk dipakai sebagai hari beribadah.

Tentu saja prinsip Sabat, yakni sebagai hari beristirahat dan hari beribadah kepada Tuhan, masih bisa diterapkan pada hari Minggu. Tetapi hal itu bukanlah Sabat, sehingga tidak merupakan kewajiban yang membebani, tetapi sebagai rasa syukur dan sukacita dalam beribadah kepada Tuhan.

 

10. Sabat Yang Sesungguhnya Adalah Sorga

Penulis Surat Ibrani berbicara tentang Sabat atau hari perhentian Tuhan yang menjadi tujuan akhir umat Tuhan (Ibrani 4:1-13).

Sabat ini belum dialami umat Tuhan saat ini, tetapi kelak setelah kematian dan kebangkitannya akan dialaminya bersama Tuhan.

Orang-orang Israel banyak yang tidak masuk ke tempat perhentianNya ini, yang mengacu pada Tanah Perjanjian di Tanah Kanaan, di mana sebagian besar umat Israel tidak masuk ke dalamnya, akibat pemberontakan mereka kepada Tuhan.

Tetapi hari perhentian Tuhan atau SabatNya, akan kelak dimasuki oleh mereka yang percaya dan taat kepada Tuhan Yesus. Itulah kehidupan kekal di sorga.

Inilah Sabat yang sesungguhnya. Di sini makna Sabat yang sejati dialami secara sempurna, yakni beristirahat dan beribadah. Di sini tidak ada lagi penderitaan, persoalan hidup, sakit-penyakit dan kematian. Yang ada hanyalah sukacita dan kebahagiaan yang sejati. (Baca: 10 Fakta Tentang Sorga Yang Perlu Anda Ketahui)

Di sini juga umat Tuhan beribadah siang malam kepadaNya. Ini bukanlah hal yang menjenuhkan (kalau menjenuhkan itu bukanlah sorga), tetapi sebagai kebahagiaan yang tak terbandingkan, sebab manusia akan bertemu langsung muka dengan muka dengan Tuhan, bukan seperti ketika masih berada di dunia ini.

 

Itulah 10 fakta tentang Sabat menurut Alkitab yang perlu kita ketahui.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

4 komentar untuk “10 Fakta Tentang Sabat Menurut Alkitab”

  1. Shalom. Mohon penjelasannya…
    1.Untuk zaman sekarang, apakah salah jika ada denominasi Kristen yang masih beribadah pada hari Sabat?
    2. Mengapa ada segelintir orang percaya yang mengomentari secara negatif tentang orang2 Kristen yang masih melakukan ibadah pada hari Sabat (Sabtu)?
    3. Pengumpulan hasil dilakukan pada hari pertama/Minggu (1 Kor. 16:2). Itu berarti pada hari pertama kita sudah mulai bekerja, tetapi pada hari Sabat (Sabtu) kita hendaknya beribadah, sebagaimana jemaat mula2.

    Maaf jika saya keliru. Mohon tanggapannya. Shalom

    1. Shalom.
      1. Kami tidak mengatakan salah. Tetapi kalau kita mau konsisten mengikuti ajaran Perjanjian Baru (yang merupakan norma utama bagi orang Kristen) maka seharusnya orang Kristen beribadah pada hari Minggu (bukan pada hari Sabtu) seperti para rasul dan gereja mula-mula, sebagaimana dijelaskan dalam artikel di atas.

      2. Karena mereka merasa seharusnya orang Kristen beribadah pada hari Minggu sebagaimana dengan gereja mula-mula di Perjanjian Baru, bukan hari Sabtu.

      3. Bukan demikian maksud ayat itu. Orang Kristen di Korintus mengumpulkan persembahan mereka di hari Minggu, justru karena hari itu adalah hari beribadah.

      Terima kasih. Gbu.

      1. Shalom,
        Bolehkah ditunjukkan ayat dari Perjanjian Baru yang konsisten mengandung ajaran untuk beribadah pada hari Minggu.
        Tuhan memberkati.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!