Loading...
Loading...

10 Fakta Tentang Sunat Menurut Pandangan Kristen

 

Artikel ini membahas tentang sunat menurut pandangan Kristen.

Istilah sunat pasti sudah tidak asing lagi bagi kita. Sunat adalah pemotongan kulit khatan laki-laki, baik untuk tujuan kesehatan, maupun untuk tujuan rohani/keagamaan.

Sunat adalah suatu hukum atau peraturan yang sangat penting dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Lama.

Sunat begitu identik dengan bangsa Israel pada zaman Perjanjian Lama, bahkan pada zaman Perjanjian Baru.

Baca juga: 10 Fakta Tentang Makanan Halal Dan Haram Menurut Alkitab

Namun bagi orang Kristen, sunat bukanlah suatu hal yang penting.

Faktanya, kebanyakan orang Kristen tidak disunat.

Hal ini menjadi pertanyaan bagi banyak orang, baik bagi orang-orang Kristen itu sendiri, maupun bagi orang-orang lain di luar Kristen.

Mereka kerap bertanya: Mengapa orang Kristen tidak disunat?

Bukankah Alkitab mengajarkan sunat?

Bukankah Yesus juga disunat?

Bagaimana pandangan Kristen  tentang sunat?

Baca juga: 10 Fakta Tentang Hukum Taurat Menurut Alkitab

Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini, dan banyak pertanyaan lain seputar sunat, diberikan dalam artikel ini.

Artikel ini akan menguraikan secara jelas fakta-fakta penting tentang sunat menurut pandangan Kristen, sebagaimana dicatat di Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Fakta-fakta apa sajakah yang perlu kita tahu tentang sunat menurut pandangan Kristen?

Berikut pembahasannya.

 

1. Di Alkitab Sunat Pertama Kali Disebut Pada Zaman Abraham

Alkitab pertama kali mencatat sunat pada zaman Abraham, di mana Tuhan memerintahkan Abraham dan anak-anaknya untuk disunat (Kejadian 17:10). Jadi sebelum perintah kepada Abraham, belum ada sunat disinggung di Alkitab.

Tetapi hal ini tidak berarti bahwa sunat belum ada sebelum Abraham. Sunat sudah banyak dipraktekkan di berbagai bangsa/budaya sebelum atau pada zaman Abraham. Hanya, Alkitab baru mencatatnya pada zaman Abraham. Dan Abraham-lah yang pertama kali menerima perintah tentang sunat dari Allah.

Jadi sekalipun sudah ada bangsa yang mempraktekkan sunat sebelum Abraham, baik untuk tujuan kesehatan maupun untuk tujuan ibadah/ritual keagamaan, pastilah itu tidak berasal dari perintah Tuhan.

 

2. Sunat Adalah Tanda Perjanjian Allah Dengan UmatNya

Sunat itu adalah tanda perjanjian di antara Allah dengan umatNya. Hal itu dimulai dari Abraham, yang dipanggil Tuhan untuk melakukan perjanjian denganNya. Abraham dan keturunannya akan menjadi umat perjanjianNya. Sebagai tanda perjanjian, Tuhan memerintahkan sunat bagi mereka.

Jadi Abraham dan seluruh keturunannya, bahkan orang-orang asing yang menggabungkan diri dengan mereka, wajib disunat. Hal ini Tuhan perintahkan kepada Abraham, sebagai “bapa” umatNya, dan kepada Musa, sebagai pemimpin utama umatNya. Barangsiapa yang tidak disunat di antara umat Allah, ia harus dibinasakan (Kejadian 17:10-14,23-27; Keluaran 12:48).

Tuhan memerintahkan bahwa upacara sunat itu dilakukan sedini mungkin, ketika seseorang baru berusia 8 hari. Selain mungkin karena kulit khatan seseorang masih lembut dan mudah dipotong/relatif kurang sakit, juga untuk menunjukkan bahwa seseorang sedini mungkin menjadi bagian dari umat Allah.

Jadi sunat di Alkitab pertama-tama dalam rangka tujuan rohani, yakni sebagai tanda perjanjian Allah dengan umatNya, bukan dalam rangka tujuan medis atau kesehatan (meskipun ini juga termasuk).

 

3. Sunat Menjadi Salah Satu Ciri Khas Bangsa Israel

Sekalipun banyak juga bangsa yang bersunat sebelum bangsa Israel (Yeremia 9:25-26), tetapi sunat lebih identik dengan bangsa Israel ketimbang dengan bangsa lain. Apalagi sunat Israel diperintahkan langsung oleh Tuhan, bukan seperti sunat bangsa-bangsa lain (lihat poin 1 di atas). Dengan demikian sunat menjadi salah satu ciri khas bangsa Israel.

Itulah sebabnya bangsa Israel sangat bangga sebagai bangsa yang bersunat serta kerap mengejek bangsa-bangsa lain yang tak bersunat (misalnya, Hakim-hakim 15:18; 1 Samuel 17:26).

Di antara orang-orang Yahudi pada zaman Perjanjian Baru, bahkan di antara orang-orang percaya, kebanggaan ini masih tampak (Kisah Para Rasul 11:2-3).

Akhirnya, sunat menjadi salah satu “pembeda utama” antara bangsa Israel dengan bangsa-bangsa lain. Istilah “orang bersunat” menjadi sebutan umum bagi bangsa Israel, dan “orang tidak bersunat” menjadi sebutan bagi bangsa-bangsa non-Israel (Galatia 2:7-9).

 

4. Sunat Yang Tuhan Inginkan Adalah Sunat Di Hati

Sebenarnya, sejak awal, sunat yang Tuhan kehendaki adalah sunat rohani, sunat di hati, bukan sunat jasmani (Roma 2:29). Sunat jasmani hanyalah sebagai lambang, tetapi substansinya adalah sunat rohani, yakni hidup yang berkenan kepada Tuhan.

Para nabi sering mengecam bangsa Israel yang bersunat secara lahiriah, tetapi tidak bersunat secara rohani. Mereka hanya menyunat tubuh mereka, tetapi tidak menyunat hati mereka.

Itulah sebabnya lewat nabi-nabiNya, Tuhan mengajak orang Israel untuk menyunat hati mereka (Yeremia 4:4). Dan Tuhan murka kepada umatNya yang bersunat jasmani namun tidak bersunat rohani (Yeremia 9:25).

Lewat hambaNya, Stefanus, Tuhan juga mengecam para pemimpin Yahudi yang berkeras kepala menolak Injil, yang hati dan telinganya tidak bersunat (Kisah Rara Rasul 7:51).

 

5. Sebagai Orang Yahudi, Yesus Juga Disunat

Ketika Yesus hidup dan melayani di bumi, Ia juga disunat (Lukas 2:21). Hal ini terjadi karena ketika berinkarnasi menjadi manusia, Yesus lahir di dalam keluarga Yusuf dan Maria, yang adalah orang Yahudi.

Yesus adalah seorang Yahudi sejati, Dia melakukan apa yang sudah sepatutnya dilakukan oleh orang Yahudi, termasuk sunat. Dalam kapasitasNya sebagai manusia, ia menaati seluruh perintah Allah, seperti halnya sunat. Tentu saja karena kedua orang tuaNya yang membawaNya untuk disunat ketika berusia 8 hari.

Dengan memberi diriNya disunat, Yesus mengidentifikasikan diriNya dengan umat manusia, khususnya orang Yahudi, yang harus menuruti kehendak Allah untuk disunat.

Loading...
3 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!