10 Firman Allah Dan Maknanya

Sebagian besar orang percaya pasti sudah pernah mendengar ataupun membaca tentang 10 Firman Allah di Perjanjian Lama. Kesepuluh Firman ini tertulis dalam Keluaran 20:3-17 dan dalam Ulangan 5:7-21.

Kesepuluh Firman Allah itu terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, yakni Firman ke-1 sampai Firman ke-4, berbicara tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan. Bagian kedua, yakni Firman ke-5 hingga Firman ke-10, berbicara tentang hubungan antara manusia dengan sesamanya.

Baca juga: 7 Hakim Israel Terbesar Di Alkitab

Jika diperhatikan, kebanyakan dari 10 Firman Allah itu bersifat negatif atau berupa larangan, hanya sedikit yang bersifat positif, atau berupa perintah. Hal ini rupanya untuk menunjukkan kecenderungan hati manusia untuk melakukan dosa.

Kesepuluh Firman ini, yang juga disebut sebagai Sepuluh Hukum atau Sepuluh Perintah, atau biasa juga disebut dengan istilah Dasa Titah, adalah 10 Firman yang ditulis oleh jari-jari Allah sendiri dalam dua loh batu dan diberikan kepada Musa di gunung Sinai untuk diteruskan kepada bangsa Israel (Keluaran 31:18; 32:15-16).

Baca juga: 5 Kerajaan Dalam Penglihatan Daniel Dan Penjelasannya

Ketika Musa masih di gunung Sinai, maka bangsa Israel membuat patung lembu emas dan sujud menyembahnya. Ketika Musa kembali dari gunung Sinai, maka ia sangat murka kepada bangsa Israel sehingga ia memecahkan kedua loh batu berisi 10 Firman Tuhan yang ada di tangannya (Keluaran 32:19).

Kemudian Tuhan menyuruh Musa naik kembali ke gunung Sinai dengan membawa dua loh batu agar Tuhan menuliskan kembali kesepuluh Firman di dalamnya (Keluaran 34:1, 28).

Baca juga: 10 Nabi Terbesar Di Perjanjian Lama

Kesepuluh Firman ini boleh dikatakan merupakan inti sari dan garis besar dari seluruh  Hukum Taurat. Tetapi dalam arti lain, Dasa Titah ini boleh juga dipandang sebagai bagian dari sistem Hukum Taurat Israel.

10 Firman adalah bagian dari perjanjian Tuhan dengan umatNya, bangsa Israel. Karena itu sebelum 10 Firman ini diberikan, terdapat bagian “pendahuluan” (Keluaran 20:1-2), sebagaimana lazimnya sebuah perjanjian antara seorang raja dengan rakyatnya di antara bangsa-bangsa pada zaman itu.

Tetapi kesepuluh Firman tersebut tidak diberikan untuk membenarkan bangsa Israel di hadapan Tuhan, sebab mereka telah dibenarkanNya; tetapi kesepuluh Firman tersebut diberikan sebagai penuntun/pedoman bagi bangsa Israel untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Paling Kaya

Sebagian orang percaya masa kini berpikir bahwa 10 Firman ini sudah kadaluwarsa atau ketinggalan zaman sehingga tidak relevan lagi bagi orang percaya di Perjanjian Baru. Karena itulah hal ini agak jarang dibahas atau dikhotbahkan oleh mereka. Namun hal itu tentu adalah pemikiran yang keliru.

Di sisi lain, sebagian gereja Tuhan bahkan memasukkan Dasa Titah menjadi liturgi  tetap dalam ibadah mingguan mereka, dengan membacakan kesepuluh Firman tersebut dalam setiap ibadah Minggu mereka.

Baca juga: 10 Hukuman Tuhan Terbesar Kepada Manusia

Perlu diketahui, Dasa Titah ini, sekalipun awalnya diberikan kepada bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah, masih tetap berlaku bagi gereja Tuhan/umat pilihan Tuhan Perjanjian Baru. Tentu dengan makna dan penafsiran yang baru, dalam terang Perjanjian Baru.

Karena 10 Firman Tuhan ini sangat penting dan masih relevan bagi kita yang hidup di bawah Perjanjian Baru, maka perlu bagi kita untuk mempelajarinya.

Artikel di bawah ini akan membahas kesepuluh Firman Tuhan ini dengan memberinya makna yang baru dari perspektif Perjanjian Baru. Berikut pembahasannya.

 

1. Larangan Untuk Menduakan Tuhan

“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:3)

Tuhan adalah Allah pencemburu. Dia tidak ingin diduakan oleh apa pun dan dengan siapa pun. Karena memang hanya Dia saja yang layak dipuji dan disembah oleh manusia. Sebab Dialah satu-satunya Allah, Pencipta manusia. Apalagi dalam konteks umat Israel pada masa itu, Dialah yang membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir.

Karena itu, orang Israel tidak boleh memanggil atau menyebut-nyebut nama allah lain, nama mereka tidak boleh keluar dari mulut orang Israel (Keluaran 23:13).

Tentu saja Allah yang esa dan monoteis ini tidak bertentangan dengan ajaran Tritunggal Allah dalam Perjanjian Baru. Sebab Allah yang dimaksud di sini pastilah mencakup tiga Pribadi Allah: Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus, yang baru jelas bagi kita setelah mengerti Perjanjian Baru.

Dalam koteks saat ini, Firman pertama ini punya makna bahwa kita tidak boleh menduakan Tuhan dengan pekerjaan, uang, hobi kita sendiri, apalagi sampai kesenangan atau ketertarikan kita akan hal-hal itu semua melebihi kesenangan dan ketertarikan kita akan Tuhan.

Dengan demikian, maka Tuhan “yang lebih utama dalam segala sesuatu.” (Kolose 1:18).

Jadi “allah lain” masa kini bukanlah dewa atau sesembahan berhala lainnya, melainkan yang berkaitan dengan uang, pekerjaan, prestasi, kekayaan, popularitas, dan kesenangan-kesenangan yang menduakan atau bahkan melebihi Tuhan.

 

2. Larangan Untuk Membuat Patung Dan Menyembahnya

“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.” (Keluaran 20:4-6)

Firman kedua ini masih berkaitan dengan Firman yang pertama. Selain tidak boleh menyembah pada allah atau ilah lain, kita pun tidak boleh membuat patung apa pun dan sujud menyembahnya, ini adalah kekejian bagi Tuhan.

Pada masa itu memang bangsa-bangsa di sekitar umat Israel suka membuat patung ilah-ilah mereka dan sujud kepada mereka. Dan Tuhan tidak ingin umatNya berlaku seperti bangsa-bangsa penyembah berhala tersebut.

Tetapi Firman ini juga mencakup larangan untuk membuat patung Tuhan sendiri. Sebab Allah adalah Roh, kita harus menyembahNya dalam roh (Yohanes 4:24), bukan dalam wujud benda tertentu sepeti halnya patung. Allah selalu hadir di tengah umatNya, walau tak dapat dilihat secara kasat mata, jadi tidak perlu membuat patungNya untuk menggambarkan diriNya.

Sekalipun awalnya baik, membuat suatu benda/patung sebagai wujud penyembahan kepada Tuhan yang digambarkan oleh patung tersebut (bukan menyembah patung itu sendiri), dapat dengan mudah beralih menjadi penyembahan terhadap patung itu sendiri.

Contohnya adalah patung ular yang dibuat oleh Musa di padang gurun sebagai pengingat akan penyembuhan Tuhan atas gigitan ular (Bilangan 21:9), menjadi objek penyembahan bangsa Israel di kemudian hari – yang disebut Nehustan – sehingga dihancurkan oleh raja Hizkia yang saleh (2 Raja-raja 18:1-4)

Membuat patung dan menyembahnya adalah dosa besar di hadapan Tuhan, yang harus ditanggung oleh keturunan ketiga hingga keturunan keempat dari orang-orang pembuat dan penyembah patung tersebut.

 

3. Larangan Untuk Menyebut Nama Tuhan Dengan Sembarangan

“Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” (Keluaran 20:7)

Firman ketiga ini terutama berkaitan dengan sumpah. Kadang orang yang bersumpah hanya menyebut nama Tuhan dalam sumpahnya, tetapi tidak sungguh-sunggh melakukan sumpahnya tersebut. Dia hanya memperalat nama Tuhan. Ini adalah menyebut nama Tuhan dengan sembarangan.

Tuhan tidak melarang umat Israel untuk bersumpah dengan menyebut nama Tuhan, asal mereka melakukan apa yang disumpahkannya. Tetapi Tuhan melarang mereka bersumpah palsu, tidak menepati sumpahnya, sehingga melanggar kekudusan nama Tuhan (Imamat 19:12).

Tetapi larangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan tidak terbatas hanya pada sumpah palsu. Firman ini juga mencakup penyebutan nama Tuhan untuk mendukung pemikiran dan perbuatan kita yang melanggar firmanNya, seperti untuk sumpah serapah, kutuk, dan mantera.

Zaman sekarang ini menyebut nama Tuhan dengan sembarangan dapat mencakup keteledoran menyebut nama Yesus secara latah atau membawa-bawa nama Tuhan dalam urusan pribadi kita, yang sebenarnya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

 

4. Perintah Untuk Menguduskan Hari Sabat

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.” (Keluaran 20:8-11)

Sabat bukan sekedar hari untuk beristirahat dari kesibukan beraktivitas, tetapi juga merupakan hari untuk beribadah kepada Tuhan. Inilah hari perkumpulan kudus (Imamat 23:1-3).

Sabat itu didasarkan pada prinsip penciptaan, di mana Tuhan beristirahat pada hari ketujuh, setelah Ia selesai menciptakan alam semesta dan isinya pada hari pertama sampai hari keenam (Kejadian 2:1-3).

Karena Sabat adalah bagian dari Hukum Taurat, maka Sabat sudah digenapi oleh kematian Yesus di kayu salib, sehingga tidak lagi mengikat orang Kristen. Salah satu tujuan kematian Yesus di kayu salib adalah untuk menggenapi seluruh Hukum Taurat Yahudi (Matius 5:17), termasuk Sabat.

Rasul Paulus juga dengan jelas mengatakan bahwa berbagai aturan-aturan Taurat, termasuk Sabat di dalamnya, adalah “bayangan”, sedangkan wujudnya adalah Kristus (Kolose 2:16-17).

Jika Yesus telah menggenapi Sabat, maka kita orang Kristen tak perlu lagi merayakannya dan mengikuti aturan-aturannya.

Orang Kristen di Alkitab Perjanjian Baru (termasuk yang berlatar belakang Yahudi) beribadah pada hari Minggu, bukan pada hari Sabat (Sabtu). Sudah pasti mereka tidak lagi menganggap Sabat berlaku bagi mereka dan bahwa hari kebangkitan Yesus lebih penting untuk dipakai sebagai hari beribadah.

Tentu saja prinsip Sabat, yakni sebagai hari beristirahat dan hari beribadah kepada Tuhan, masih bisa diterapkan pada hari Minggu. Tetapi hal itu bukanlah Sabat, sehingga tidak merupakan kewajiban yang membebani, tetapi sebagai rasa syukur dan sukacita dalam beribadah kepada Tuhan.

Untuk lebih jelas tentang Firman Allah keempat ini, silakan baca artikel berjudul: 10 Fakta Tentang Sabat Yang Perlu Anda Tahu.

 

5. Perintah Untuk Menghormati Orang Tua

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.”  (Keluaran 20:12)

Orang Israel, sebagaimana umumnya orang Timur, sangat menghormati orang yang lebih tua, termasuk orang tua sendiri. Hal ini selaras dengan ajaran Alkitab Perjanjian Lama yang mengajarkan penghormatan kepada orang tua sendiri.

Karena itu orang yang membunuh orang tuanya pasti dihukum mati (Keluaran 21:17). Bahkan orang yang “hanya” mengutuki ayah dan ibunya pun harus dihukum mati juga (Imamat 20:9).

Tujuan menghormati orang tua salah satunya adalah agar diberi panjang umur. Tetapi hal ini tentu tidak berarti bahwa setiap orang yang menghormati orang tuanya pasti panjang umur, atau bahwa setiap orang yang tidak panjang umur pasti karena ia tidak menghormati orang tuanya; apalagi dalam konteks Perjanjina Baru.

Perjanjian Baru pun mengajarkan kita untuk menghormati orang tua. Bahkan rasul Paulus mengutip langsung Firman Allah kelima ini (Efesus 6:1-3). Penghormatan orang tua yang dimaksud di sini adalah menaati mereka.

Sedangkan Tuhan Yesus mengajarkan kita bahwa penghormatan kita terhadap orang tua kita sendiri jauh melebihi bantuan keuangan yang dapat kita berikan kepada mereka (Matius 15:3-6).

 

6. Larangan Untuk Membunuh

“Jangan membunuh.” (Keluaran 20:13)

Manusia adalah ciptaan Tuhan paling mulia. Karena itu, Tuhan melarang pembunuhan terhadap manusia ciptaanNya, yang diciptakanNya sesuai dengan gambar dan rupaNya sendiri. Bunuh diri sudah pasti tercakup dalam firman Allah ini. Bunuh diri jelas adalah perbuatan membunuh, sekalipun hal itu adalah membunuh diri sendiri. (Baca: 7 Tokoh Alkitab Yang Mati Bunuh Diri)

Namun larangan ini tidak mencakup semua pembunuhan. Ini tidak mencakup pembunuhan tanpa disengaja dan tanpa perencanaan (Keluaran 21:13). Dan orang yang membunuh sesamanya tanpa sengaja mendapat perlindungan resmi di kota-kota perlindungan suku Lewi (Bilangan 35).

Pembunuhan terhadap orang yang melakukan dosa tertentu juga tidak dilarang (dengan aturan tertentu). Misalnya terhadap orang yang kedapatan berzinah (Imamat 20:10), lihat poin 7 di bawah.

Tuhan sendiri berkata bahwa barangsiapa membunuh/menumpahkan darah orang lain, maka darahnya sendiri akan tertumpah (Kejadian 9:6).

Demikian juga pembunuhan dalam kondisi peperangan adalah sah bagi umat Israel (Ulangan 20).

Jadi mengutip Firman Tuhan keenam ini untuk menentang hukuman mati yang dilakukan oleh pemerintah suatu negara adalah salah. Seperti telah disebut, pembunuhan terhadap orang berdosa adalah sah secara hukum, yang dijalankan oleh para pemimpin/hakim Israel.

Dalam Perjanjian Baru pun, secara tersirat, hukuman mati terhadap orang yang bersalah adalah sah, jika dilakukan oleh pihak pemerintah yang sah, yang pada dasarnya ditetapkan oleh Tuhan sendiri (Roma 13:1-4).

Kendati demikian, dalam urusan pribadi (bukan urusan pemerintah), pembunuhan sangat ditentang dalam Perjanjian Baru. Bukan saja membunuh tidak boleh, bahkan marah dan menyebut seseorang dengan “kafir!” pun sudah termasuk membunuh dan karenanya patut dihukum. Ini ajaran Tuhan Yesus sendiri (Matius 5:21-22).

Demikian juga praktek yang mengkerdilkan nilai manusia, menyiksa, membuatnya menderita, terbelenggu, memberangus hak-haknya dan kebebasannya, dapat dikategorikan sebagai pembunuhan.

Selain itu, Firman Tuhan keenam ini juga mencakup larangan terhadap aborsi.

 

7. Larangan Untuk Berzinah

“Jangan berzinah.”  (Keluaran 20:14)

Larangan dalam Firman Tuhan ketujuh ini aslinya adalah untuk para lelaki (baik yang sudah menikah ataupun yang belum) agar tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang sudah menikah, dan bukan pasanganya. Orang-orang yang melakukan hal seperti ini pasti dihukum mati, baik laki-lakinya maupun perempuannya (Imamat 20:10).

Kendati demikian, Firman Tuhan ini juga mencakup perempuan yang belum menikah. Jadi ini adalah larangan terhadap segala perbuatan hubungan seksual dengan orang yang bukan pasangannya, entah masing-masing mereka sudah menikah atau belum.

Hubungan seksual di antara laki-laki lajang dengan perempuan lajang, antara laki-laki yang sudah menikah dengan perempuan lajang, antara laki-laki lajang dengan perempuan yang sudah menikah, dan antara laki-laki yang sudah menikah dengan perempuan yang sudah menikah, yang bukan pasangannya.

Bahkan lebih jauh Tuhan Yesus mengatakan bahwa seorang laki-laki yang memandang seorang perempuan (demikian juga sebaliknya) dan menginginkannya, sudah termasuk berzinah dengan dia di dalam hatinya, karena itu telah melanggar Firman ketujuh ini (Matius 5:27-28).

Memang, seperti kata Tuhan Yesus, dosa juga mencakup keinginan, bukan hanya perbuatan. Dan keinginan yang berdosa, seperti berzinah, dimulai dari hati atau pikiran (Matius 5:19).

 

8. Larangan Untuk Mencuri

“Jangan mencuri.”  (Keluaran 20:15)

Firman Tuhan kedelapan ini memberi penghormatan atas hak milik pribadi seseorang. Dan mencuri yang dimaksud di sini pastilah menyangkut barang/benda ataupun uang.

Pencurian akan dihukum dengan memberi ganti rugi terhadap apa yang dicuri. Dan apabila si pencuri kedapatan mencuri lalu dipukul hingga mati, maka orang yang memukul tidak dianggap bersalah, asalkan hal itu terjadi sebelum matahari terbit (Keluaran 22:1-4).

Ada kaitan antara kemiskinan dengan mencuri, dan juga sifat buruk. Untuk mengatasi hal ini, rasul Paulus menasihatkan agar orang percaya bekerja keras sehingga mendapat penghasilan, bahkan bisa membantu orang lain, dan tidak lagi mencuri (Efesus 4:28).

Pada masa kini Firman kedelapan ini dapat mencakup pencurian hak milik negara atau perusahaan, dengan kata lain, perbuatan korupsi.

Pencurian zaman sekarang juga dapat mencakup pencurian waktu, di mana seseorang bekerja dengan waktu yang tidak semestinya, datang lebih lambat atau pulang lebih cepat dari waktu yang seharusnya.

 

9. Larangan Untuk Bersaksi Dusta Tentang Orang Lain

“Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” (Keluaran 20:16)

Firman kesembilan ini aslinya adalah bentuk dusta di persidangan pengadilan atau di hadapan para hakim/tetua bangsa Israel.

Tuhan melarang orang Israel untuk membenarkan orang yang salah atau menyalahkan orang yang benar. Mereka tidak boleh bersaksi bohong terhadap orang benar, ataupun membantu orang yang salah dengan ketidakbenaran (Keluaran 23:1).

Orang yang kedapatan bersaksi bohong untuk mencelakakan orang lain, maka ia harus dihukum dengan maksud jahatnya itu (Ulangan 19:16-21). Artinya, kalau ia bersaksi dusta agar seseorang dihukum mati, maka orang yang berdusta itu yang harus dihukum mati.

Di Perjanjian Baru ada banyak contoh tentang kesaksian palsu yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, yakni terhadap Tuhan Yesus (Markus 14:55-59), Stefanus (Kisah Para Rasul 6:11-14), dan rasul Paulus (Kisah Para Rasul 25:6-7).

Dengan berbuat demikian, sebenarnya orang-orang Yahudi itu telah melanggar Firman Allah kesembilan yang mereka terima dari Tuhan! Mereka hendak menegakkan Hukum Taurat dengan cara melanggar Hukum Taurat!

Dalam zaman sekarang, bersaksi dusta ini mencakup penyebaran berita hoax tentang seseorang, memfitnah seseorang, mencemarkan nama baik seseorang, atau membunuh karakter seseorang, yang dalam hukum sipil pun dilarang. Seperti menuduh seseorang sebagai PKI, melakukan perzinahan, atau terlibat korupsi, tanpa ada bukti nyata.

Tetapi tentu saja Firman Tuhan kesembilan ini juga mencakup larangan segala bentuk dusta atau kebohongan.

 

10. Larangan Untuk Mengingini Milik Sesama

 “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.” (Keluaran 20:17)

Firman Tuhan kesepuluh ini adalah larangan terhadap segala keinginan akan harta atau milik orang lain. Firman kesepuluh ini merupakan motif dasar atas Firman kelima sampai Firman kesembilan.

Dalam Alkitab, dosa bukan hanya sekedar melakukan, tetapi juga mengingini. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, apa yang akan dilakukan oleh seseorang bermula di dalam hati. Karena itu keinginan berdosa di dalam hati atau pikiran sudah termasuk dosa (lihat poin 7 di atas).

Demikian juga mengingini milik sesama, sudah termasuk dosa yang dilarang oleh Tuhan.

Keinginan yang dimaksud di sini mecakup harta benda dan manusia. Larangan mengingini istri sesama yang disebut dalam Firman kesepuluh ini tentu juga mencakup larangan untuk mengingini suami sesama. Sedangkan keinginan untuk memiliki hamba-hamba mungkin berarti menjadikannya sebagai budak ataupun memperistrinya.

Keinginan akan harta atau pasangan orang lain bisa juga merupakan ketamakan atau kerakusan. Atau bisa juga bentuk ketidak-puasan atas apa yang telah dimiliki. Karena itu kita membutuhkan rasa cukup dan rasa puas atas apa yang dimiliki. Atau jika tidak, carilah dengan cara yang benar, bukan mengingini milik orang lain.

Rasul Paulus berkata bahwa kasih adalah kegenapan Hukum Taurat. Kasih tidak berbuat jahat terhadap orang lain, termasuk tidak mengingini istri/suami atau harta milik mereka (Roma 13:9-10).

 

Itulah 10 Firman Allah dan maknanya.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

 

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!