Loading...
Loading...

10 Hukuman Tuhan Terbesar Kepada Manusia

babel

Artikel ini membahas tentang 10 hukuman Tuhan terbesar kepada manusia sebagaimana dicatat di Alkitab.

Tuhan adalah maha kasih, yang penuh rahmat terhadap semua manusia yang diciptakanNya. Tetapi Ia juga adalah maha adil, yang menghukum mereka yang berdosa dan memberontak kepadaNya.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Yang Tidak Taat Dan Akibatnya

Tuhan telah menetapkan aturanNya bagi manusia. Barangsiapa yang tidak menaatinya akan Dia hukum. Dan dosa serta pemberontakan adalah bentuk ketidaktaatan kepada Tuhan.

Di sepanjang sejarah, sejak penciptaannya, Tuhan telah banyak menghukum manusia, baik manusia secara universal maupun umat pilihanNya sendiri, Israel. Hal ini terjadi karena dosa dan pemberontakan mereka kepada Tuhan.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Yang Mati Seketika Karena Dosanya

Di sini dicantumkan 10 hukuman Tuhan terbesar kepada manusia ciptaanNya, sebagaimana dicatat di Alkitab. Kesepuluh hukumanNya ini mencakup seluruh manusia di bumi, beberapa bangsa, satu bangsa tertentu, atau beberapa kota sekaligus.

Hukuman apa sajakah yang termasuk ke dalam 10 hukuman Tuhan terbesar kepada manusia? Berikut pembahasannya.

 

1. Manusia Mengalami Kematian Dan Berbagai Penderitaan

Hukuman Tuhan terbesar kepada manusia yang pertama adalah kematian jasmani dan berbagai penderitaan dalam hidup.

Setelah Tuhan menciptakan manusia, Adam dan Hawa, dan memberkati mereka, Ia menempatkan mereka di Taman Eden. Ia memberi perintah kepada mereka  bahwa semua yang ada di taman itu boleh mereka makan buahnya. Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang terdapat di tengah-tengah taman itu, tidak boleh mereka makan. Sebab pada waktu mereka memakannya, mereka pasti akan mati.

Peringatan Tuhan ini ternyata tidak diindahkan oleh Adam dan Hawa.  Iblis dalam bentuk ular datang untuk menggoda Hawa. Iblis berkata bahwa tentu Tuhan melarang mereka memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Tetapi jika mereka memakannya sebenarnya mereka tidak akan mati, melainkan mereka akan menjadi sama dengan Tuhan, tahu akan yang baik dan yang jahat.

Hawa tergoda dengan omongan iblis tersebut, ia melihat buah pohon terlarang itu sangat menarik. Lalu ia mengambil buah pohon itu, memakannya dan memberikannya kepada  suaminya, Adam. Ketika mereka memakannya, tahulah mereka bahwa mereka sedang telanjang. Mereka mengambil daun-daun pohon ara untuk menutupi aurat mereka.

Ternyata, setelah memakan buah terlarang itu, mereka tidak menjadi sama dengan Allah, malahan semakin sadar akan perbedaan mereka yang sangat mencolok denganNya. Mereka adalah orang berdosa, sedangkan Tuhan itu maha kudus. Omongan iblis tidak benar, dia memang pendusta bahkan bapa segala dusta.

Ketidaktaatan Hawa dan Adam membuat Tuhan menghukum mereka dengan tiga macam hukuman.

Pertama, kematian rohani. Kematian manusia seperti yang Tuhan katakan jika mereka memakan buah pohon terlarang, terbukti di sini. Mereka memang tidak mati seketika secara jasmani, tetapi mereka telah mati secara rohani. Artinya, mereka terpisah dari Tuhan. Mereka punya rasa bersalah dan takut berhadapan denganNya (keterpisahan secara kiasan) serta diusir dari Taman Eden (keterpisahan secara harfiah).

Kedua, kematian jasmani. Kematian rohani kemudian juga diikuti oleh kematian secara jasmani. Setelah hidup bertahun-tahun, akhirnya Adam dan Hawa mati secara fisik. Jika mereka tidak memakan buah pohon terlarang tentu mereka akan hidup selamanya.

Ketiga, berbagai penderitaan dalam hdup. Tuhan menghukum Hawa bahwa ia akan mengandung dan melahirkan anak dengan sakit, dan ia akan berada dalam kuasa suaminya. Sementara Adam dihukumnya dengan sangat susah mencari nafkah dari tanah yang dikelolanya (Kejadian 3:1-24).

Hukuman yang ditimpakan kepada Adam dan Hawa bukan hanya untuk mereka berdua, tetapi untuk seluruh keturunan mereka kelak, dengan kata lain, untuk semua manusia di bumi, yang adalah keturunan Adam dan Hawa. Jadi cakupan hukuman ini sangat luas. Inilah yang disebut dengan istilah dosa asali atau dosa warisan, yang hanya ada dalam ajaran kekristenan (Roma 5:12-21).

Semua manusia terkena “virus” dosa Adam dan Hawa, sehingga manusia pun pasti berbuat dosa dalam hidupnya. Sebab di darahnya mengalir darah dosa, yang “ditularkan” dari darah Adam. Itulah sebabnya tidak ada manusia yang tidak berbuat dosa, sebab tidak ada lagi kemampuannya untuk itu.

Semua manusia telah terpisah dari Allah yang hidup. Semua manusia akan mengalami kematian jasmani, dan semua manusia di bumi akan mengalami berbagai penderitaan, penyakit, cobaan, malapetaka, dll.

Kematian Yesus di kayu salib memulihkan manusia pada keadaannya semula di Taman Eden ketika belum jatuh ke dalam dosa, yakni hubungan yang harmonis dengan Tuhan, tanpa mengalami penyakit, berbagai penderitaan, dan kematian. Ketika seseorang percaya Yesus, hubungan yang baik dengan Allah dapat dialaminya  ketika ia masih hidup di dunia ini.

Tetapi terlepas dari berbagai penyakit, penderitaan dan kematian jasmani, baru akan dialaminya pada dunia yang akan datang. (Baca: 10 Peristiwa Terpenting Yang Akan Terjadi Pada Akhir Zaman).

 

2. Air Bah Melanda Seluruh Bumi

Hukuman Tuhan terbesar kepada manusia berikutnya adalah air bah yang melanda seluruh bumi.

Ketika jumlah manusia semakin banyak di bumi, semakin lama kelakuan mereka semakin jahat di mata Tuhan dan kecenderungan hatinya hanyalah melakukan kejahatan. Bukan hanya keturunan Adam dari garis keturunan Kain, keturunan Adam dari garis Set pun jahatnya sama. Padahal Tuhan telah memilih garis keturunan Adam dari Set, setelah Kain berdosa di hadapanNya dengan membunuh adiknya, Habel.

Salah satu kejahatan manusia yang sangat menyesakkan bagi Tuhan adalah perkawinan anak-anak Allah dengan anak-anak manusia. Anak-anak Allah yang dimaksud di sini adalah keturunan Set yang saleh, yang mengawini anak-anak Kain dengan cara poligami. Hal ini berarti keturunan Set yang saleh bercampur dengan keturunan Kain yang jahat. Padahal Tuhan berharap keturunan Set berbeda dengan keturunan Kain.

(Seluruh konteks ayat firman Tuhan ini melulu membicarakan manusia. Pandangan yang mengatakan bawa anak-anak Allah itu adalah para malaikat, sebagaimana dikatakan sebagian teolog, mendapat bantahan dari Alkitab. Tuhan Yesus menegaskan bahwa malaikat tidak kawin. Selain itu, malaikat tidak sedikit pun disinggung dalam konteks ayat ini. Lagipula, sebagaimana dapat dilihat selanjutnya, Tuhan menghukum manusia, bukan malaikat, yang mengindikasikan bahwa manusialah yang berdosa, bukan malaikat).

Karena itu Tuhan menyesal (ini adalah istilah manusia yang dipakai untuk Tuhan) telah menciptakan manusia. Karena itu Ia ingin memusnahkan seluruh manusia yang diciptakanNya itu dengan air bah yang melanda seluruh bumi. Namun Tuhan menyelamatkan satu keluarga dari seluruh manusia yang akan dimusnahkanNya itu sehingga manusia tetap ada di hadapanNya. Dialah Nuh, seorang yang saleh di hadapan Tuhan. Nuh sekeluarga tidak akan tertimpa air bah yang akan didatangkan Tuhan.

Untuk itu, Tuhan menyuruh Nuh membuat sebuah bahtera di atas gunung yang mampu menampung Nuh sekeluarga dan sejumlah spesies hewan di bumi sehingga hewan-hewan tersebut tidak punah. Hal ini ditertawakan oleh orang banyak, karena mereka mengira Nuh sebagai orang yang tidak waras, membangun bahtera di atas gunung padahal tidak ada banjir. Mereka tidak sadar bahwa Tuhan telah merancangkan hukuman dahsyat atas bumi.

Setelah Nuh selesai membuat bahtera, Tuhan menyuruh Nuh berserta seluruh keluarganya masuk ke dalamnya. Lalu Tuhan mendatangkan air bah yang melanda seluruh bumi. Seluruh manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan menjadi mati. Hanya Nuh sekeluarga (istri dan ketiga anaknya) yang selamat.

Lamanya air bah menggenangi bumi adalah 150 hari. Setelah itu Nuh sekeluarga diperintahkan oleh Tuhan untuk keluar dari bahtera itu. Tuhan kemudian berjanji bahwa Ia tidak akan memusnahkan bumi lagi seperti yang dilakukanNya dengan mendatangkan air bah, sekalipun hati manusia itu semata-mata jahat.

Tuhan memberi tanda di langit, yakni busurNya (pelangi), sebagai bukti dari janjiNya tersebut (Kejadian 6-8).

Dari Nuh inilah seluruh umat manusia berkembang biak di bumi. Ketiga anak Nuh, yakni Sem, Ham, dan Yafet menjadi nenek moyang seluruh bangsa di bumi. (Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Berusia 600 Tahun Ke Atas).

 

3. Pembangunan Menara Babel Digagalkan

Hukuman Tuhan terbesar kepada manusia selanjutnya adalah pembangunan menara Babel yang digagalkanNya.

Setelah peristiwa air bah terjadi, yang menewaskan segala mahluk di bumi, kecuali Nuh sekeluarga, kejahatan manusia di bumi tidak berkurang, malahan semakin bertambah. Salah satu contohnya adalah kisah menara Babel, di mana manusia bersatu untuk meninggikan diri dengan cara membuat patung yang tingginya mencapai langit, seakan-akan ingin menyamai Allah.

Mereka tidak ingin terpisah dan tetap bersatu, walau tanpa campur tangan Allah. mereka juga ingin mencari nama, artinya ingin dikenal dan populer; bukan mencari kemuliaan bagi Tuhan tetapi mencari kemuliaan bagi diri sendiri; bukan meninggikan Tuhan tetapi meninggikan diri sendiri. Inilah dosa mereka.

Hal ini dipandang Tuhan sebagai suatu kejahatan yang sangat besar, sehingga bahasa mereka dikacaukanNya. Bahasa yang kacau, yang tidak dimengerti satu sama lain, tentu tidak akan mampu berkomunikasi dengan baik sehingga tidak mampu juga untuk bekerja sama dalam membangun menara Babel tersebut. akhirnya rencana mereka pun gagal total. Selain itu, Tuhan juga menyerakkan mereka ke berbagai penjuru bumi (Kejadian 11:1-9).

Kejahatan manusia ini membuat Tuhan kemudian memanggil Abraham untuk mengadakan perjanjian dengannya. Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya dan pergi ke suatu negeri yang akan ditunjukkanNya. Ia berjanji akan memberkati Abraham dan membuat namanya masyhur. (Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Yang Terpaksa Mengungsi Ke Negeri Orang).

Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa oleh Abraham seluruh bangsa di muka bumi akan diberkati Tuhan, hal ini terutama melalui Yesus Kristus, keturunan Abraham, yang akan menyelamatkan seluruh dunia.

Kini Tuhan lebih memfokuskan kasihNya kepada sekelompok kecil manusia, yakni keturunan Abraham (umat Israel), dan memberi hukumNya kepada mereka tanpa mengabaikan bangsa-bangsa lain, hingga tiba saatnya Yesus datang ke bumi untuk menyelamatkan seluruh manusia yang berdosa, baik orang Israel, maupun bangsa-bangsa lain di luar Israel.

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!