Loading...
Loading...

10 Karakter Tokoh Alkitab Perjanjian Baru Yang Patut Diteladani

 

4. Peduli Kepada Orang Lain (Perwira Romawi)

Karakter tokoh Alkitab Perjanjian Baru yang patut diteladani, yang keempat adalah peduli kepada orang lain.

Salah satu Tokoh Alkitab Perjanjian Baru yang peduli kepada orang lain adalah perwira Romawi.

Perwira ini adalah perwira Romawi yang bertugas di kota Kapernaum, markas tentara Romawi di wilayah Galilea.

Ia datang kepada Yesus melalui tua-tua Yahudi.

Tua-tua tersebut bersedia menolong perwira ini sebab ia ternyata adalah seorang yang peduli kepada orang lain.

Hal itu terbukti dari fakta bahwa ia membantu pendirian rumah ibadah (sinagoge) orang Yahudi, walau belum tentu ia seorang penganut Agama Yahudi (proselit).

Dia datang kepada Yesus dengan bantuan tua-tua Yahudi mungkin karena ia merasa bahwa seorang rabi Yahudi tidak akan mau menolong perwira Romawi (perwira Romawi biasanya jahat dan membenci orang Yahudi serta dibenci oleh orang Yahudi).

Perwira ini mempunyai seorang hamba yang sedang sakit keras. Dan dia meminta Yesus untuk menyembuhkannya.

Tampaklah di sini kepedulian perwira tersebut, yang sangat perhatian kepada hambanya. Sampai ia rela datang dan merendahkan dirinya di hadapan rabi Yahudi (Yesus), walau ia sadar bahwa belum tentu rabi tersebut mau menolongnya.

Dan ketika Yesus sudah dekat ke rumahnya, ia mengutus sahabat-sahabatnya kepada Yesus untuk mengatakan bahwa ia tidak layak menerima Yesus di rumahnya. Jadi dia memohon agar Yesus mengucapkan sepatah kata saja agar hambanya itu sembuh.

Ini adalah iman yang luar biasa, yang dipuji oleh Tuhan Yesus. Dan akhirnya hamba perwira ini pun sembuh (Lukas 7:1-10).

 

5. Tidak Mudah Menyerah (Perempuan Kanaan)

Karakter tokoh Alkitab Perjanjian Baru yang patut diteladani, yang kelima adalah tidak mudah menyerah atau tekun.

Salah satu Tokoh Alkitab Perjanjian Baru yang tidak mudah menyerah adalah perempuan Kanaan.

Perempuan Kanaan ini mempunyai seorang anak perempuan yang sedang kerasukan setan dan sangat menderita, dan dia memohon kepada Tuhan Yesus untuk menyembuhkan anaknya itu.

Awalnya Yesus enggan untuk menyembuhkan anak tersebut. Yesus berkata bahwa Ia datang hanya kepada orang-orang Israel.

(Maksud Yesus bukanlah bahwa Ia hanya datang kepada orang Israel saja, sebab Ia juga berkata bahwa Ia diberikan Bapa untuk seluruh dunia (Yohanes 3:16), termasuk untuk berbagai bangsa di luar Israel.

Tetapi Ia hanya bermaksud mengatakan bahwa prioritasNya memang adalah bangsa Israel, umat pilihan Tuhan, selama Ia ada di bumi).

Tetapi perempuan Kanaan ini tidak menyerah, ia kembali memohon sambil menyembah Yesus.

Yesus menjawabnya bahwa tidak layak mengambil roti dari anak-anak dan memberikannya kepada anjing.

Ini adalah sebuah kiasan, bukan perkataan yang kasar. Maksud Yesus adalah bahwa berkat yang diperuntukkan bagi bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan tidak layak diberikan kepada bangsa-bangsa lain.

Tetapi mendengar hal tersebut perempuan Kanaan ini tidak putus asa.

Perempuan ini belum menyerah. Ia menjawab bahwa perkataan Yesus benar, tetapi anjing pun mendapat remah-remah roti yang jatuh dari meja tuannya. Ini adalah bentuk iman sekaligus ketegaran hati yang luar biasa!

Melihat iman dan sikap yang pantang menyerah dari perempuan Kanaan ini, Yesus pun memujinya dan menyembuhkan anaknya. Seketika itu juga anaknya sembuh (Matius 15:21-28).

 

6. Rendah Hati (Barnabas)

Karakter tokoh Alkitab Perjanjian Baru yang patut diteladani, yang keenam adalah rendah hati.

Salah satu Tokoh Alkitab Perjanjian Baru yang rendah hati adalah Barnabas.

Barnabas adalah salah satu anggota jemaat di gereja Yerusalem. Ia seorang yang kaya namun murah hati. Ia termasuk anggota jemaat yang menjual hartanya dan memberikannya kepada para rasul untuk dijual dan dibagi-bagikan kepada jemaat (Kisah Para Rasul 4:36-37).

Barnabas berperan penting dalam “karier” pelayanan rasul Paulus. Ketika jemaat di Yerusalem menolak Paulus dan mencurigai pertobatannya, Barnabas menerimanya dan membawanya kepada rasul-rasul (Kisah Para Rasul 9:26-27).

Kemudian, ketika Barnabas diutus ke gereja Antiokhia yang baru berdiri, Barnabas menjemput Paulus ke kampung halamannya di Tarsus, dan membawanya bersamanya ke Antiokhia (Kisah Para Rasul 11:22-26).

Barnabas dan Paulus kemudian menjadi pemimpin gereja Antiokhia. Lalu Roh Kudus memilih mereka berdua untuk memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 13:1-3).

Di sinilah terjadi “pertukaran peran”.

Paulus semakin dominan dari Barnabas, kendati Barnabas lebih senior dan berjasa dalam membawa Paulus ke Antiokhia.

Sejak itu penyebutan nama Paulus dan Barnabas di Alkitab dibalik. Jika sebelumnya Barnabas dan Paulus, kini menjadi Paulus dan Barnabas.

Memang seterusnya nama Paulus lebih dikenal, sedangkan Barnabas hanya menjadi “pelengkap” Paulus.

Kendati demikian, kita tidak melihat protes Barnabas. Ia cukup puas menjadi orang kedua setelah Paulus. Inilah kerendahan hati Barnabas!

Dengan rendah hati Barnabas mengakui kelebihan Paulus dalam berkhotbah dan mengajar. Di mana-mana Paulus-lah yang lebih menonjol berbicara (Kisah Para Rasul 14:12).

 

7. Suka Mengampuni (Stefanus)

Karakter tokoh Alkitab Perjanjian Baru yang patut diteladani, yang ketujuh adalah suka mengampuni.

Salah satu Tokoh Alkitab yang suka mengampuni adalah Stefanus.

Stefanus adalah satu dari tujuh diaken gereja mula-mula di Yerusalem. Ia seorang yang penuh iman dan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 6:5).

Selain itu, ia juga penuh karunia dan kuasa, sehingga ia mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak (Kisah Para Rasul 6:8).

Dengan penuh iman, hikmat dan Roh Kudus, maka Tuhan memakai Stefanus sebagai pengkhotbah dan apologet (pembela agama) Kristen yang terkemuka.

Tugasnya tidak terbatas hanya pada pelayanan sosial (sebagai tugas utama para diaken), tetapi juga ambil bagian dalam pelayanan rohani (berkhotbah).

Stefanus terlibat dalam perdebatan dengan jemaat Sinagoge Yahudi, yang anggotanya berasal dari daerah Kirene dan Alexandria, bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan Asia.

Namun orang-orang ini tidak sanggup melawan hikmat Stefanus dan Roh Kudus yang mendorong dia berbicara. Akhirnya mereka pun menyeret  Stefanus ke Mahkamah Agama Yahudi.

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!