10 Nabi Yang Bernubuat Tentang Yesus

Artikel ini berisi tentang 10 nabi yang bernubuat tentang Yesus di Perjanjian Lama.

Ada banyak nabi yang bernubuat tentang Yesus di Perjanjian Lama.

Ada banyak nubuat tentang Yesus di Perjanjian Lama, yakni kedatanganNya ke dunia sebagai manusia, kelahiranNya, penderitaan dan penyalibanNya, kematianNya, kebangkitanNya, kenaikanNya, bahkan kedatanganNya kedua kalinya.

Nubuat-nubuat tersebut sebagian besar telah digenapi, tetapi ada juga yang belum, yakni kedatanganNya kedua kalinya.

Nubuat-nubuat tersebut berasal dari banyak nabi dan terdapat di berbagai kitab Perjanjian Lama.

Memang, kedatanganYesus di dunia bukanlah terjadi secara mendadak dan secara kebetulan, hal itu sudah ada dalam rancangan Allah beribu-ribu tahun sebelumnya.

Dan telah dinubuatkan jauh sebelumnya, ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya.

Baca juga: 7 Nubuat Perjanjian Lama Yang Digenapi Saat Kelahiran Yesus

Tidak lama setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan telah menubuatkan bahwa suatu saat nanti Ia akan menghancurkan dosa dan iblis, sumber dosa, melalui salah seorang keturunan manusia/Hawa (Kejadian 3:15).

Nubuat itu jelas mengacu pada kedatangan Yesus Kristus, Sang Juru Selamat, ke dunia.

Hal ini kemudian dipertegasNya melalui Abraham, orang yang dipilihNya sebagai penyalur keselamatan itu ke seluruh bumi.

Lalu lewat nabi-nabiNya, atau orang-orang pilihanNya dari antara bangsa Israel, umat pilihanNya, yakni keturunan Abraham yang dipilihNya.

Nabi-nabi ini dalam rentang ribuan tahun, dalam berbagai cara dan kesempatan, telah bernubuat tentang kedatangan, penderitaan, bahkan penyaliban Sang Juru Selamat dunia, yang dalam konsep Perjanjian Lama lebih dikenal sebagai Mesias.

Baca juga: 10 Fakta Tentang Nubuat Menurut Alkitab

Artikel ini akan membahas tentang 10 nabi yang bernubuat tentang Yesus di Perjanjian Lama.

Siapa sajakah kesepuluh nabi yang bernubuat tentang Yesus di Perjanjian Lama?

Berikut pembahasannya.

 

1. Musa

Musa adalah nabi pertama secara normatif. Memang Abraham adalah nabi pertama yang disebut di Alkitab (Kejadian 20:7).

Tetapi Abraham bukanlah nabi dalam pengertian umum, Abraham tidak menyampaikan firman Tuhan kepada orang lain atau bernubuat kepada mereka. Musalah nabi pertama yang bertindak demikian.

Kebesaran Musa sebagai nabi tak perlu diragukan lagi. Dia lebih besar dari semua nabi di Perjanjian Lama, bahkan boleh dikatakan Musalah tokoh terbesar di Perjanjian Lama. Istilah “Hukum Musa” sering kali identik dengan seluruh Perjanjian Lama.

Tuhan sendiri mengakui keunggulan Musa di antara para nabi Israel. CaraNya berhadapan dengan Musa berbeda dengan caraNya berhadapan dengan semua nabi lainnya.

Jika dengan para nabi Tuhan berbicara melalui mimpi dan penglihatan, maka dengan Musa Ia berbicara secara langsung, muka dengan muka (Bilangan 12:6-8).

Nubuat Musa yang terkenal adalah tentang kedatangan seorang nabi seperti dia (Ulangan 18:15, 18-19), yang digenapi dalam diri Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 3:22-23).

 

2. Daud

Dalam Mazmur Daud, yakni Mazmur 69 dinubuatkan tentang makanan Mesias yang dicampur dengan racun.

Bahkan, mereka memberi aku makan racun,…. (Mazmur 69:22a)

Racun yang dimaksud di sini kemungkinan besar adalah berasal dari tumbuh-tumbuhan yang beracun, seperti umumnya terdapat di Israel pada masa itu.

Nubuat tentang racun ini digenapi tatkala para prajurit Romawi yang hendak menyalibkan Yesus memberiNya minum anggur yang dicampur dengan tumbuhan beracun tersebut.

“Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya.” (Matius 27:34)

Dalam ayat di atas racun itu disebut empedu, mungkin karena rasanya yang pahit. Tetapi maksudnya adalah semacam tumbuhan yang beracun itu.

Namun berbeda dengan racun dalam Mazmur 69  yang bermaksud untuk membunuh/mencelakai, “racun” yang dicampur anggur ini fungsinya adalah untuk menghilangkan kesadaran dan rasa sakit.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus menolak meminumnya, Ia mau menghadapi penderitaanNya secara sadar.

Memang “racun” seperti ini biasa diberikan oleh para prajurit Romawi kepada orang-orang yang disalibkan untuk menghilangkan kesadaran mereka sehingga mereka mudah dikendalikan.

Salah satu dari nubuat Daud juga berbicara tentang penderitaan penyaliban yang dialami sang Mesias.

Pemazmur mengatakan,

“Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. (Mazmur 22:17)

Istilah “menusuk tangan dan kakiku” tak lain tak bukan adalah menunjuk pada penyaliban.

Yesus sebagai Mesias jelas disalibkan di Golgota (secara harfiah berarti “tengkorak”).

Artinya, tangan dan kakiNya ditusuk, sebagaimana umumnya dengan penyaliban pada masaNya.

“Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ…. (Lukas 23:33a).

Dengan demikian penyaliban Yesus ini jelas merupakan penggenapan dari Mazmur 22:17.

 

3. Yesaya

Mesias atau Juru Selamat akan dilahirkan oleh seorang anak dara atau anak gadis, yang belum mempunyai suami.

Bagaimanakah hal itu bisa terjadi? Dengan campur tangan Allah secara langsung, yakni melalui kuasa Roh Kudus.

Hal ini dikatakan oleh malaikat Tuhan kepada Yusuf, bahwa Maria, tunangannya, yang masih gadis, akan melahirkan bayi Yesus, sang Juru Selamat dunia.

Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel– yang berarti: Allah menyertai kita. (Matius 1:20-23)

Yesus Kristus lahir bukan dari hubungan antara Yusuf dengan Maria, melainkan atas campur tangan ilahi, dari kuasa supranatural Roh Kudus.

Bahwa Sang Juru Selamat akan lahir dari seorang perempuan muda /anak gadis telah dinubuatkan 700 tahun sebelumnya oleh Nabi Yesaya,

Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. (Yesaya 7:14)

 

4. Daniel

Daniel bernubuat tentang kedatangan Yesus pada akhir zaman.

“Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya.

Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya.

Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.” (Daniel 7:13-14)

Anak Manusia yang dimaksud nabi Daniel dalam ayat di atas adalah Tuhan Yesus, sementara Yang Lanjut Usianya adalah Allah Bapa.

Jadi Allah Bapa memberikan pemerintahan kepada putraNya, Yesus Kristus.

Inilah yang disebut dengan Kerajaan Seribu Tahun.

Kerajaan seribu tahun atau kerajaan milenium adalah masa pemerintahan Tuhan Yesus bersama umatNya di bumi yang terjadi selama seribu tahun (baik secara harfiah maupun secara kiasan).

Istilah kerajaan seribu tahun memang hanya disebut dalam Kitab Wahyu pasal 20, tetapi jelas konsep ini didukung oleh bagian-bagian lain di Alkitab dengan istilah-istilah yang berbeda.

Kerajaan Seribu Tahun adalah masa keemasan pemerintahan mesias di masa depan, masa pemerintahan yang adil dan damai (Yesaya 9:6-7; Yeremia 23:5-6).

Menurut 1 Korintus 15:24-25, setelah segala sesuatu ditaklukkan di bawah kaki Kristus, Ia akan menaklukkan diriNya sendiri kepada BapaNya.

Artinya Dia menyerahkan kerajaanNya itu kembali kepada Bapa, sekalipun kerajaan seribu tahun juga adalah kerajaan Allah Bapa.

 

5.  Mikha

Kota kelahiran Yesus telah dinubuatkan secara tepat oleh nabi Mikha.

Ketika orang-orang majus dari timur datang ke Yerusalem, Israel, setelah dituntun oleh sebuah bintang, mereka bertanya-tanya di manakah raja Yahudi yang baru lahir itu.

Mendengar hal itu raja raj Herodes Agung sangat terkejut. Sebab ia merasa tersaingi oleh kelahiran seorang “Raja Yahudi”. Ia kemudian bertanya kepada para ahli taurat Yahudi di mana Kristus dilahirkan.

Para ahli taurat itu menjawab di Betlehem, sesuai nubuat nabi Mikha.

Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” (Matius 2:5-6).

Kitab nabi yang dimaksud oleh para ahli taurat Yahudi adalah kitab nabi Mikha.

Nabi Mikha memang telah menubuatkan kelahiran Sang Mesias di kota kecil Betlehem,

Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. (Mikha 5:1)

Meskipun Yusuf dan Maria tinggal Di kota Nazaret, bukan di kota Betlehem, namun oleh campur tangan Allah, Yesus akan lahir di Betlehem, sesuai dengan nubuat nabi Mikha.

Hal ini terjadi ketika Kaisar Agustus, kaisar Romawi yang memerintah ketika Kristus lahir, mengeluarkan titah agar semua orang di seluruh kerajaan Romawi yang dipimpinnya mendaftarkan diri.

Maka semua orang pulang ke kampung halamannya untuk mendaftarkan diri. Demikianlah Yusuf bersama Maria yang telah hamil besar, pergi ke kampungnya di Betlehem untuk mendaftarkan diri.

Ketika tiba di Betlehem maka Maria pun melahirkan.

Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, – karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daudsupaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. (Lukas 2:4-7)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!