Loading...
Loading...

10 Perintah Allah Dan Maknanya

Sebagian besar orang percaya pasti sudah pernah mendengar ataupun membaca tentang 10 Perintah Allah di Perjanjian Lama. 10 Perintah Allah ini tertulis dalam Keluaran 20:3-17 dan dalam Ulangan 5:7-21.

10 Perintah Allah itu terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, yakni perintah ke-1 sampai perintah ke-4, berbicara tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan. Bagian kedua, yakni perintah ke-5 hingga perintah ke-10, berbicara tentang hubungan antara manusia dengan sesamanya.

Baca juga: 10 Hari Raya Israel Di Alkitab

Jika diperhatikan, kebanyakan dari 10 Perintah Allah itu bersifat negatif atau berupa larangan, hanya sedikit yang bersifat positif, atau berupa perintah. Hal ini rupanya untuk menunjukkan kecenderungan hati manusia untuk melakukan dosa.

Kesepuluh Perintah ini, yang juga disebut sebagai Sepuluh Hukum atau Sepuluh Firman, atau biasa juga disebut dengan istilah Dasa Titah, adalah 10 Perintah yang ditulis oleh jari-jari Allah sendiri dalam dua loh batu dan diberikan kepada Musa di gunung Sinai untuk diteruskan kepada bangsa Israel (Keluaran 31:18; 32:15-16).

Baca juga: 10 Fakta Tentang Paskah Menurut Alkitab

Ketika Musa masih di gunung Sinai, maka bangsa Israel membuat patung lembu emas dan sujud menyembahnya. Ketika Musa kembali dari gunung Sinai, maka ia sangat murka kepada bangsa Israel sehingga ia memecahkan kedua loh batu berisi 10 Perintah Tuhan yang ada di tangannya (Keluaran 32:19).

Kemudian Tuhan menyuruh Musa naik kembali ke gunung Sinai dengan membawa dua loh batu agar Tuhan menuliskan kembali kesepuluh Perintah di dalamnya (Keluaran 34:1, 28).

Baca juga: 10 Fakta Tentang Sunat Menurut Pandangan Kristen

Kesepuluh Perintah ini boleh dikatakan merupakan inti sari dan garis besar dari seluruh  Hukum Taurat. Tetapi dalam arti lain, Dasa Titah ini boleh juga dipandang sebagai bagian dari sistem Hukum Taurat Israel.

10 Perintah adalah bagian dari perjanjian Tuhan dengan umatNya, bangsa Israel. Karena itu sebelum 10 Perintah ini diberikan, terdapat bagian “pendahuluan” (Keluaran 20:1-2), sebagaimana lazimnya sebuah perjanjian antara seorang raja dengan rakyatnya di antara bangsa-bangsa pada zaman itu.

Tetapi kesepuluh Perintah tersebut tidak diberikan untuk membenarkan bangsa Israel di hadapan Tuhan, sebab mereka telah dibenarkanNya; tetapi kesepuluh Perintah tersebut diberikan sebagai penuntun/pedoman bagi bangsa Israel untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Baca juga: 10 Fakta Tentang Makanan Halal Dan Haram Menurut Pandangan Kristen

Sebagian orang percaya masa kini berpikir bahwa 10 Perintah ini sudah kadaluwarsa atau ketinggalan zaman sehingga tidak relevan lagi bagi orang percaya di Perjanjian Baru. Karena itulah hal ini agak jarang dibahas atau dikhotbahkan oleh mereka. Namun hal itu tentu adalah pemikiran yang keliru.

Di sisi lain, sebagian gereja Tuhan bahkan memasukkan Dasa Titah ini menjadi liturgi  tetap dalam ibadah mingguan mereka, dengan membacakan kesepuluh Perintah tersebut dalam setiap ibadah Minggu mereka.

Baca juga: 10 Fakta Tentang Poligami Menurut Alkitab

Perlu diketahui, Dasa Titah ini, sekalipun awalnya diberikan kepada bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah, masih tetap berlaku bagi gereja Tuhan/umat pilihan Tuhan Perjanjian Baru. Tentu dengan makna dan penafsiran yang baru, dalam terang Perjanjian Baru.

Karena 10 Perintah Tuhan ini sangat penting dan masih relevan bagi kita yang hidup di bawah Perjanjian Baru, maka perlu bagi kita untuk mempelajarinya.

Artikel di bawah ini akan membahas kesepuluh Perintah Tuhan ini dengan memberinya makna yang baru dari perspektif Perjanjian Baru. Berikut pembahasannya.

 

1. Larangan Untuk Menduakan Tuhan

“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:3)

Tuhan adalah Allah pencemburu. Dia tidak ingin diduakan oleh apa pun dan dengan siapa pun. Karena memang hanya Dia saja yang layak dipuji dan disembah oleh manusia. Sebab Dialah satu-satunya Allah, Pencipta manusia. Apalagi dalam konteks umat Israel pada masa itu, Dialah yang membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir.

Karena itu, orang Israel tidak boleh memanggil atau menyebut-nyebut nama allah lain, nama mereka tidak boleh keluar dari mulut orang Israel (Keluaran 23:13).

Tentu saja Allah yang esa dan monoteis ini tidak bertentangan dengan ajaran Tritunggal Allah dalam Perjanjian Baru. Sebab Allah yang dimaksud di sini pastilah mencakup tiga Pribadi Allah: Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus, yang baru jelas bagi kita setelah mengerti Perjanjian Baru.

Dalam koteks saat ini, Firman pertama ini punya makna bahwa kita tidak boleh menduakan Tuhan dengan pekerjaan, uang, hobi kita sendiri, apalagi sampai kesenangan atau ketertarikan kita akan hal-hal itu semua melebihi kesenangan dan ketertarikan kita akan Tuhan.

Dengan demikian, maka Tuhan “yang lebih utama dalam segala sesuatu.” (Kolose 1:18).

Jadi “allah lain” masa kini bukanlah dewa atau sesembahan berhala lainnya, melainkan yang berkaitan dengan uang, pekerjaan, prestasi, kekayaan, popularitas, dan kesenangan-kesenangan yang menduakan atau bahkan melebihi Tuhan.

 

2. Larangan Untuk Membuat Patung Dan Menyembahnya

“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.” (Keluaran 20:4-6)

Firman kedua ini masih berkaitan dengan Firman yang pertama. Selain tidak boleh menyembah pada allah atau ilah lain, kita pun tidak boleh membuat patung apa pun dan sujud menyembahnya, ini adalah kekejian bagi Tuhan.

Pada masa itu memang bangsa-bangsa di sekitar umat Israel suka membuat patung ilah-ilah mereka dan sujud kepada mereka. Dan Tuhan tidak ingin umatNya berlaku seperti bangsa-bangsa penyembah berhala tersebut.

Tetapi Firman ini juga mencakup larangan untuk membuat patung Tuhan sendiri. Sebab Allah adalah Roh, kita harus menyembahNya dalam roh (Yohanes 4:24), bukan dalam wujud benda tertentu sepeti halnya patung. Allah selalu hadir di tengah umatNya, walau tak dapat dilihat secara kasat mata, jadi tidak perlu membuat patungNya untuk menggambarkan diriNya.

Sekalipun awalnya baik, membuat suatu benda/patung sebagai wujud penyembahan kepada Tuhan yang digambarkan oleh patung tersebut (bukan menyembah patung itu sendiri), dapat dengan mudah beralih menjadi penyembahan terhadap patung itu sendiri.

Contohnya adalah patung ular yang dibuat oleh Musa di padang gurun sebagai pengingat akan penyembuhan Tuhan atas gigitan ular (Bilangan 21:9), menjadi objek penyembahan bangsa Israel di kemudian hari – yang disebut Nehustan – sehingga dihancurkan oleh raja Hizkia yang saleh (2 Raja-raja 18:1-4)

Membuat patung dan menyembahnya adalah dosa besar di hadapan Tuhan, yang harus ditanggung oleh keturunan ketiga hingga keturunan keempat dari orang-orang pembuat dan penyembah patung tersebut.

Loading...
6 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!