10 Peristiwa Terpenting Yang Terjadi Di Perjanjian Lama

Artikel ini berisi peristiwa-peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Lama.

Ada banyak kisah atau peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Lama. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan peristiwa-peristiwa terbesar dan paling berpengaruh yang dicatat di Alkitab Perjanjian Lama, baik dalam hal positif maupun negatif.

Peristiwa-peristiwa tersebut mencakup peristiwa dalam sejarah manusia pada umumnya serta peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah bangsa Israel, umat pilihan Tuhan.

Baca juga: 10 Peristiwa Terpenting Yang Akan Terjadi Pada Akhir Zaman

Sebagai informasi, pasal-pasal pertama Alkitab Perjanjian Baru, yakni Kitab Kejadian, mencatat tentang sejarah manusia pada umumnya.

Setelah itu, pada pasal-pasal berikutnya dalam Kitab Kejadian hingga seluruh kitab-kitab di Perjanjian Lama, lebih fokus mencatat tentang peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sejarah bangsa Israel sendiri.

Baca juga: 10 Hukuman Tuhan Terbesar Kepada Manusia

Dalam artikel ini akan dibahas 10 peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Lama.

Peristiwa-peristiwa apa sajakah itu? Berikut pembahasannya.

 

1. Kejatuhan Manusia Ke Dalam Dosa

Setelah Tuhan menciptakan manusia, Adam dan Hawa, dan memberkati mereka, Ia menempatkan mereka di Taman Eden.

Ia memberi perintah kepada mereka bahwa semua yang ada di taman itu boleh mereka makan buahnya.

Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang terdapat di tengah-tengah taman itu tidak boleh mereka makan. Sebab pada waktu mereka memakannya, mereka pasti akan mati.

Peringatan Tuhan ini ternyata tidak ditaati oleh Adam dan Hawa.  Iblis dalam bentuk ular datang untuk menggoda Hawa.

Hawa tergoda dengan perkataan iblis, ia melihat buah pohon itu sangat menarik, sedap dilihat. Lalu ia mengambil buah pohon itu, memakannya dan memberikannya kepada suaminya, Adam.

Ketidaktaatan Hawa dan Adam membuat mereka jatuh ke dalam dosa serta mengalami kematian rohani, yakni terpisah dari Tuhan. Mereka punya rasa bersalah dan takut berhadapan denganNya.

Mereka juga mengalami kematian jasmani. Kematian rohani kemudian juga diikuti oleh kematian secara jasmani. Setelah hidup bertahun-tahun, akhirnya Adam dan Hawa mati secara fisik.

Selain itu, mereka juga mengalami berbagai penderitaan hidup (Kejadian 3:1-24).

Hukuman yang ditimpakan kepada Adam dan Hawa ternyata bukan hanya untuk mereka berdua, tetapi berdampak kepada seluruh keturunan mereka kelak, yakni semua manusia di bumi. Inilah yang disebut dengan istilah dosa asali atau dosa warisan, yang hanya ada dalam ajaran kekristenan (Roma 5:12-21).

 

2. Pemilihan Nuh Dan Air Bah Yang Melanda Bumi

Ketika jumlah manusia semakin banyak di bumi, semakin lama kelakuan mereka semakin jahat di mata Tuhan dan kecenderungan hatinya hanyalah melakukan kejahatan.

Karena itu Tuhan ingin memusnahkan seluruh manusia yang diciptakanNya itu dengan air bah yang melanda seluruh bumi.

Namun Tuhan menyelamatkan satu keluarga dari seluruh manusia yang akan dimusnahkanNya itu sehingga manusia tetap ada di hadapanNya. Dialah Nuh, seorang yang saleh di hadapan Tuhan. Nuh sekeluarga tidak akan tertimpa air bah yang akan didatangkan Tuhan.

Untuk itu, Tuhan menyuruh Nuh membuat sebuah bahtera di atas gunung yang mampu menampung Nuh sekeluarga dan sejumlah spesies hewan di bumi sehingga hewan-hewan tersebut tidak punah.

Setelah Nuh selesai membuat bahtera, Tuhan menyuruh Nuh berserta seluruh keluarganya masuk ke dalamnya. Lalu Tuhan mendatangkan air bah yang melanda seluruh bumi. Seluruh manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan menjadi mati. Hanya Nuh sekeluarga (istri dan ketiga anaknya) yang selamat.

Lamanya air bah menggenangi bumi adalah 150 hari. Setelah itu Nuh sekeluarga diperintahkan oleh Tuhan untuk keluar dari bahtera itu.

Tuhan kemudian berjanji bahwa Ia tidak akan memusnahkan bumi lagi seperti yang dilakukanNya dengan mendatangkan air bah, sekalipun hati manusia itu semata-mata jahat.

Tuhan memberi tanda di langit, yakni busurNya (pelangi), sebagai bukti dari janjiNya tersebut (Kejadian 6-8).

Dari Nuh inilah seluruh umat manusia berkembang biak di bumi. Ketiga anak Nuh, yakni Sem, Ham, dan Yafet menjadi nenek moyang seluruh bangsa di bumi. (Baca: 10 Orang Paling Panjang Usianya Di Alkitab).

 

3. Pemanggilan Abraham Dan Perjanjian Tuhan Dengannya

Setelah peristiwa air bah terjadi, yang menewaskan segala mahluk di bumi, kecuali Nuh sekeluarga, kejahatan manusia di bumi ternyata tidak berkurang, malahan semakin bertambah.

Salah satu contohnya adalah kisah menara Babel, di mana manusia bersatu untuk meninggikan diri dengan cara membuat patung yang tingginya mencapai langit, seakan-akan ingin menyamai Allah. Hal ini dipandang Tuhan sebagai suatu kejahatan, sehingga bahasa mereka itu dikacaukannya dan mereka diserakkannya (Kejadian 11).

Kemudian Allah memanggil Abraham untuk mengadakan perjanjian dengannya. Abraham tadinya belum dikenal, bahkan ayahnya, Terah, adalah seorang penyembah berhala.

Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya dan pergi ke suatu negeri yang akan ditunjukkanNya. Ia berjanji akan membuat nama Abraham masyhur, dan oleh Abraham seluruh bangsa di muka bumi akan diberkati. Siapa yang memberkati Abraham akan diberkati Tuhan dan siapa yang mengutuknya akan dikutuk Tuhan.

Abraham menaati panggilan Tuhan tersebut. Ia meninggalkan negerinya di Ur-Kasdim dan pergi ke negeri yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya. Ia membawa istrinya, Sara, dan keponakannya, Lot serta segala hartanya dan orang-orangnya. Maka sampailah mereka di Tanah Perjanjian, Tanah Kanaan, di dekat Sikhem (Kejadian 12).

Di Tanah Perjanjian Tuhan menampakkan diri kepada Abraham. Ia berjanji akan memberikan negeri itu kepada keturunannya. Tuhan berjanji akan membuat keturunannya sebanyak bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut (Baca: 10 Tokoh Alkitab Terbesar Di Perjanjian Lama).

Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa oleh Abraham seluruh bangsa di muka bumi akan diberkati Tuhan, hal ini terutama melalui Yesus Kristus, keturunan Abraham, yang akan menyelamatkan seluruh dunia dari akibat dosa Adam (lihat poin 1 di atas).

Kini Tuhan lebih memfokuskan kasihNya kepada sekelompok kecil manusia, yakni keturunan Abraham (umat Israel), dan memberi hukumNya kepada mereka tanpa mengabaikan bangsa-bangsa lain, hingga tiba saatnya Yesus datang ke bumi untuk menyelamatkan seluruh manusia yang berdosa, baik orang Israel, maupun bangsa-bangsa lain di luar Israel.

 

4. Keluarnya Bangsa Israel Dari Mesir Menuju Tanah Perjanjian

Setelah Abraham meninggal, maka Tuhan mengikat perjanjianNya dengan Ishak, anak Abraham dan Sara.

Tuhan juga memilih Yakub, anak Ishak, sebagai saluran kasih karuniaNya. Dan Ia mengkikat perjanjianNya dengan Yakub dan mengganti namanya menjadi Israel.

Salah satu anak Yakub, adalah anak kesayangannya, yakni Yusuf. Yusuf diperlakukannya secara istimewa. Karena itu saudara-saudara Yusuf menjadi iri kepada Yusuf lalu menjualnya ke Mesir.

Lama kemudian Yusuf menjadi orang kepercayaan Firaun, Raja Mesir. Dan melalui mimpi Firaun, Yusuf mengumpulkan banyak gandum di Mesir, karena akan ada tujuh tahun masa kelimpahan di Mesir dan tujuh tahun lagi akan ada masa paceklik.

Ketika masa paceklik itu tiba, maka anak-anak Yakub di Tanah Kanaan (Tanah Perjanjian) pergi ke Mesir untuk membeli gandum.

Setelah Yusuf memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya, maka Yakub pun datang ke Mesir, beserta seluruh keluarganya, sebanyak 75 jiwa. Mereka menjadi pendatang di Mesir yang ditempatkan di satu tempat khusus yang terpisah dari bangsa Mesir.

Ketika Yusuf mati, dan Firaun yang lain bangkit, yang tidak mengenal Yusuf, maka dia mulai memperlakukan bangsa Israel dengan begitu keras. Apalagi ketika jumlah orang Israel semakin bertambah banyak di Mesir, raja Firaun yang baru membuat kebijakan untuk membasmi orang Israel dengan cara membunuh bayi-bayi mereka. Mereka juga diharuskan kerja paksa di Mesir.

Tuhan kemudian memanggil Musa dan memerintahkannya untuk membawa umatNya keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian yang telah Ia janjikan kepada nenek moyang mereka, Abraham, Ishak dan Yakub. Setelah sempat menolak, Musa akhirnya pergi menemui teman sebangsanya.

Tetapi raja Mesir, Firaun, tidak mengizinkan bangsa Israel pergi dari Mesir, sebab mereka adalah budak-budak yang dipekerjakan Firaun, kepergian mereka akan menjadi kerugian bagi dia dan bangsa Mesir. Namun Tuhan mendatangkan banyak tulah kepada Firaun dan bangsanya sehingga Firaun melepaskan bangsa Israel dari perbudakannya (Keluaran 6-12).

Di padang gurun menuju Tanah Perjanjian bangsa Israel memberontak kepada Tuhan. Sebab ketika Ia mengutus 12 pengintai ke Tanah Perjanjian, 10 orang dari pengintai itu memberi kabar buruk kepada orang Israel, dan sebagian besar orang Israel mempercayainya sehingga mereka menolak pergi ke tanah perjanjian dan ingin kembali ke Mesir.

Karena itu Tuhan sangat murka ke bangsa Israel, Ia membunuh semua orang yang tak percaya itu, laki-laki yang berusia 20 tahun ke atas, kecuali Kaleb dan Yosua yang tidak ikut memberontak kepadaNya.

Jadi yang akan masuk ke Tanah Perjanjian hanya mereka yang berusia 20 tahun ke bawah serta perempuan dan anak-anak. Namun mereka harus berputar selama 40 tahun di padang gurun sebelum masuk ke tanah perjanjian, sampai semua para pemberontak tersebut mati di padang gurun (Bilangan 13-14).

Bahkan Musa sendiri, pemimpin mereka, terpancing dengan tingkah laku orang Israel, yang dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk, keras kepala dan keras hati. Akibatnya Musa pun marah dan memukul gunung batu sebanyak dua kali, sehingga Tuhan murka kepadanya dan kepada Harun serta tidak mengizinkan mereka masuk ke Tanah Perjanjian.

 

5. Masuknya Bangsa Israel Ke Tanah Perjanjian

Tuhan telah berjanji kepada Abraham bahwa keturunan keempatnya akan kembali ke Tanah Perjanjian dengan membawa banyak harta benda, sebab pada saat itu kedurjanaan orang Amori di Tanah Kanaan sudah genap (Kejadian 15).

Hal ini menunjukkan bahwa dipunahkannya penduduk Tanah Kanaan, salah satunya bangsa Amori, adalah karena mereka telah mencapai puncak dosanya dan tak mungkin lagi bertobat.

Tuhan memberikan waktu sekitar 400 tahun (sejak zaman Abraham hingga bangsa Israel keluar dari Mesir) kepada bangsa-bangsa Kanaan untuk bertobat dari dosa-dosa mereka. Tetapi mereka tidak mau bertobat.

Ketidakmauan bangsa-bangsa Kanaan untuk bertobat telah diketahui oleh Tuhan 400 tahun sebelumnya (pada zaman Abraham).

Ada 10 bangsa penghuni asli Tanah Kanaan atau Tanah Perjanjian (Kej 15:18-21), tetapi yang terutama ada 7 bangsa,  yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus (Ulangan 7:1; Kisah Para Rasul 13:19).

Dua di antaranya paling sering disebut, yakni bangsa Amori dan bangsa Kanaan. Tetapi penyebutan kedua bangsa tersebut (bangsa Amori atau bangsa Kanaan), sering kali mewakili ketujuh bangsa Kanaan, seperti dalam Kejadian 15 di atas.

Dalam Ulangan 9:4-5 dikatakan bahwa alasan bangsa Kanaan dimusnahkan ada dua: pertama, karena kefasikan bangsa-bangsa Kanaan itu; kedua, supaya janji kepada Abraham digenapi.

Jadi Tuhan tidak memusnahkan bangsa-bangsa Kanaan serta memberikan tanah mereka kepada bangsa Israel secara sewenang-wenang, melainkan karena keberdosaan bangsa-bangsa Kanaan tersebut yang tidak mau bertobat meski telah diberi waktu selama 400 tahun.

Bangsa Israel masuk ke Tanah Kanaan di bawah pimpinan Yosua, setelah Musa ditolak Tuhan masuk Tanah Kanaan karena ketidaktaatannya kepadaNya. Mereka masuk ke Tanah Kanaan melalui sungai Yordan dan masuk ke kota Yerikho. Perebutan dan pembagian Tanah Kanaan terjadi pada masa Yosua.

Dengan masuknya bangsa Israel ke Tanah Kanaan, maka janjiNya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, bapa-bapa leluhur bangsa Israel, tergenapi. Tetapi mereka tidak memasuki Tanah itu dengan begitu saja, tetapi melalui peperangan dan ketaatan kepada Tuhan.

Tuhan berpesan agar pemusnahan bangsa Kanaan tidak terjadi secara serentak, tetapi secara bertahap (Ulangan 7:22). Penaklukan bangsa Kanaan ini secara geografis terjadi pada zaman Yosua (Yosua 21:43), tetapi orang-orang Kanaan, atau bangsa Filistin, masih berkuasa hingga zaman Daud.

 

6. Pemilihan Raja Daud Dan Perjanjian Tuhan Dengannya

Setelah Saul, raja Israel yang pertama, ditolak Tuhan sebagai raja, karena ketidaktaatan Saul kepadaNya, maka Dia mengangkat Daud sebagai raja atas Israel.

Daud adalah adalah seorang yang takut akan Tuhan. Sekalipun ia pernah jatuh ke dalam dosa, namun ia sungguh-sungguh bertobat di hadapan Tuhan sehingga Ia mengampuni dan memulihkannya.

Tuhan juga mengadakan perjanjian dengan Daud. Tuhan berjanji bahwa jika Daud sudah mati, maka Ia akan mengangkat anak kandungnya sendiri sebagai raja Israel, untuk menggantikan Daud.  Dialah yang akan membangun Bait Suci bagiNya. Dan dia akan dikasihi Tuhan.

Dan jika ia berdosa di hadapan Tuhan, maka Tuhan akan menghukumnya, tetapi tidak akan membinasakannya. Dialah raja Salomo, anak kandung Daud dan yang menggantikannya sebagai raja Israel serta membangun Bait Suci yang pertama di Yerusalem.

Tuhan juga berjanji bahwa keturuan Daud akan tetap ada di hadapanNya. Keluarga dan tahta Daud akan kokoh selama-lamanya. Artinya, keturunan Daud akan tetap menjadi raja-raja di Israel.

Dan puncaknya adalah ketika Mesias, raja di atas segala raja, memerintah di bumi. Mesias atau Tuhan Yesus merupakan keturunan Daud secara manusia (Baca: 10 Fakta Tentang Mesias Menurut Alkitab).

Jadi dalam perjanjian antara Tuhan dengan Daud ini, terdapat janji tentang Mesias, sekalipun tidak secara eksplisit. Sebab Tuhan berjanji bahwa kerajaan Daud akan kokoh selamanya, padahal keturunan Daud sekarang telah berhenti sebagai raja-raja, hanya Mesias yang kelak akan memerintah selamanya (2 Samuel 7).

Perjanjian Tuhan dengan Daud menunjukkan kesetiaanNya kepada Daud dan keluarganya, juga kesetiaanNya pada bangsa  Israel, sebab Mesias kelak akan datang menolong dan memulihkan mereka.

Tetapi perjanjian ini juga sebagai bukti kesetiaan Tuhan kepada seluruh umat manusia ciptaanNya, sebab Mesias datang untuk semua orang, bukan hanya kepada bangsa Israel, untuk menebus dosa mereka dan membawa mereka kepada Allah.

 

7. Pecahnya Kerajaan Israel Menjadi Dua Bagian

 Ketika raja Israel, Salomo, jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala, maka Tuhan murka kepadanya. Tuhan “mengoyakkan” 10 suku Israel dari pemerintahannya dan memberikannya kepada Yerobeam, yang ketika itu seorang pimpinan di bawah pemerintahan Salomo. Yerobeam akan menjadi raja atas 10 suku Israel, kecuali suku Yehuda dan Benyamin yang tetap di bawah keturunan Salomo.

Jadi Tuhan akan membagi dua kerajaan Israel, yakni kerajaan Israel di utara, yang akan dipimpin oleh Yerobeam, dan kerajaan Yehuda di selatan, di mana terdapat kota Yerusalem, yang akan dipimpin oleh keluarga Daud. Tetapi hal ini baru akan terjadi pada masa pemerintahan anak Salomo, Rehabeam (1 Raja-raja 11).

Setelah Salomo mati, jabatannya sebagai raja Israel digantikan oleh Rehabeam, putranya. Rehabeam memerintah orang Israel dengan tangan besi. Akibatnya banyak rakyat yang tidak puas dengan pemerintahannya. Mereka memilih Yerobeam sebagai pemimpin mereka untuk melawan kediktatoran Rehabeam.

Akhirnya kerajaan Israel pun pecah menjadi dua, kerajaan Israel di utara (terdiri dari 10 suku) dengan Yerobeam sebagai rajanya, dan kerajaan Yehuda di selatan (terdiri dari dua suku, yakni Yehuda dan Benyamin), dengan Rehabeam sebagai rajanya. (1 Raja-raja 12). Hal ini sesuai dengan apa yang telah Tuhan nyatakan sebelumnya, sebagaimana telah disebut di atas.

 

8. Pembuangan Bangsa Israel Utara Ke Asyur

Ternyata Yerobeam kemudian sangat jahat di mata Tuhan. Tuhan berharap Yerobeam tidak mengikuti dosa Salomo, dengan menjauh dari Tuhan dan menyembah dewa baal, tetapi ternyata Yerobeam justru lebih jahat dari Salomo. Yerobeam mendirikan banyak patung berhala dan beribadah kepadanya. Akhirnya Tuhan pun menghukum Yerobeam.

Kemudian Tuhan mengangkat raja lain di Israel utara untuk menggantikan Yerobeam, tetapi raja itu pun sangat jahat seperti halnya Yerobeam. Lalu diganti dengan raja-raja yang lain, tetapi semua raja tersebut juga jahat, sehingga rakyat Israel ikut  terseret dengan kejahatan mereka yang meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala.

Akhirnya Tuhan pun menghukum bangsa Israel utara. Atas seizinNya, bangsa Asyur menyerbu Israel serta menawan mereka, lalu membawa mereka ke pembuangan di Asyur. Hanya orang-orang yang lemah yang ditinggalkannya tetap di Israel, itu pun hanya sedikit jumlahnya.

Raja Asyur kemudian membawa bangsa-bangsa lain menduduki Israel dan kawin-mengawin dengan orang Israel tersebut, itulah yang disebut dengan orang Samaria (2 Raja-raja 17).

Orang-orang Israel yang telah dibuang itu tidak kembali lagi ke negerinya. Ketika bangsa Asyur musnah (sekarang tidak ada lagi bangsa Asyur), sebagian bangsa Israel itu juga ikut musnah. Tetapi sebagian lagi pergi mengembara ke negara-negara lainnnya, seperti Irak, Iran, Afghanistan, dan lain sebagainya.

Inilah yang sering disebut sebagai suku-suku Israel yang terhilang, yang diyakini ada di beberapa Negara.

Namun ada juga dari antara 10 suku Israel tersebut yang menggabungkan diri dengan kerajaan Yehuda.

 

9. Pembuangan Bangsa Israel Selatan (Yehuda) Ke Babel

Setelah Tuhan membuang bangsa Israel utara ke Asyur, maka Ia berharap bahwa bangsa Yehuda akan memetik pelajaran darinya. Dengan demikian mereka bertobat dari dosa-dosa mereka sehingga tidak Tuhan buang seperti halnya bangsa Israel utara.

Namun orang-orang Yehuda juga melakukan kejahatan seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel di utara. Bukan hanya rakyatnya, tetapi juga para pemimpinnya, para raja, para imam dan para nabinya.

Akibatnya Tuhan pun menghukum mereka dengan membuang mereka ke Babel. Raja Nebukadnezar dari Babel menyerbu Yerusalem dan menghancurkan Bait Suci yang dibangun oleh Salomo.

Lalu orang Yehuda ditawan dan dibawa ke Babel, termasuk raja mereka, Zedekia (2 Raja-raja 24-25). Pembuangan ini berlangsung secara bertahap, mulai tahun 597 SM hingga 538 SM.

 

10. Pemulangan Bangsa Yahudi Dari Pembuangan Ke Tanah Perjanjian

Tetapi berbeda dengan bangsa Israel di utara yang akhirnya “hilang” setelah dibuang, bangsa Yehuda Tuhan kembalikan ke negeri mereka di Israel ketika masa hukuman mereka selesai. Mereka dibuang ke Babel “hanya” selama 70 tahun.

Setelah 70 tahun di pembuangan, Tuhan memulangkan kembali orang Yahudi ke tanah airnya, termasuk membangun kembali Bait Suci mereka di Yerusalem. Hal ini terjadi melalui perintah raja Persia, Koresy (Ezra 1:1-4). Ketika itu Babel telah ditaklukkan oleh Persia (Baca: 5 Kerajaan Dalam Penglihatan Daniel Dan Penjelasannya).

Tuhan membuktikan diriNya setia, Ia memegang janjiNya untuk mengembalikan bangsa Yehuda ke negeri mereka. Melalui pembuangan, Ia tidak bertujuan untuk membinasakan bangsa Yehuda, umat pilihanNya, tetapi hanya mendisiplin mereka, agar mereka hidup lebih baik lagi di hadapanNya.

 

Itulah 10 peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Lama.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

 

Anda juga dapat memberikan komentar atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah.

 

 

Ikuti juga Halaman Rubrik Kristen di facebook dengan cara mengklik tombol facebook “ikuti” di bagian bawah artikel ini sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!