10 Perumpamaan Yesus Terpopuler Sepanjang Masa

sower

Artikel ini akan membahas tentang perumpamaan-perumpamaan Yesus.

Semasa hidup dan melayani di bumi, Yesus kerap kali memakai ilustrasi atau perumpamaan ketika mengajar orang banyak tentang Kerajaan Allah. Sesungguhnya, Yesus tidak mengajarkan apa pun kepada orang bayak tanpa melalui perumpamaan (Matius 13:34-35).

Maksud perumpamaan-perumpamaan tersebut adalah agar orang banyak lebih mudah mengerti firman Tuhan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, khususnya tentang Kerajaan Allah yang diberitakanNya.

Baca juga: 10 Mujizat Yesus Terpopuler Sepanjang Masa

Perumpamaan-perumpamaan Yesus diambilNya dari kehidupan sehari-hari orang Israel pada masa itu. Jadi sekalipun perumpamaan-perumpamaan tersebut bukan sebuah kisah nyata, namun hal tersebut boleh dianggap sebagai sebuah kenyataan, karena memang diambil dari kisah nyata yang lazim terjadi dalam kehidupan sehari-hari para pendengarNya.

Ada puluhan perumpamaan Yesus yang pernah disampaikanNya ketika Ia mengajar orang banyak. Dari sekian banyak perumpamaan tersebut, beberapa di antaranya sangat populer bagi orang percaya di sepanjang sejarah hingga pada zaman sekarang.

Baca juga: 10 Gelar Yesus Terpopuler Di Alkitab

Hal tersebut tampak dari seringnya perumpamaan itu dikutip, diajarkan dan dikhotbahkan. Perumpamaan-perumpamaan tersebut dianggap paling bermakna dan berkesan bagi banyak orang. Tentu semua perumpamaan Yesus itu sangat bagus dan berguna bagi gereja sepanjang zaman. Tetapi faktanya ada beberapa perumpamaanNya yang paling populer bagi orang percaya sehingga selalu dikenang.

Di sini dicatat 10 perumpamaan Yesus terpopuler di sepanjang masa. Perumpamaan-perumpamaan apa sajakah itu? Berikut daftarnya.

 

1. Penabur (Matius 13:1-9; 18-23)

Perumpamaan Yesus pertama yang terpopuler adalah perumpamaan tentang seorang penabur.

Seorang petani menaburkan benih di ladangnya. Sebagian dari benih itu jatuh di pinggir jalan sehingga burung memakannya sampai habis. Sebagian lagi jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan karena tanahnya tipis ia segera tumbuh, tetapi ketika matahari terbit maka ia menjadi layu.

Sebagian lagi benih itu jatuh di tengah semak duri, dan ketika semak duri itu semakin besar maka ia menghimpitnya. Tetapi sebagian benih itu jatuh di tempat yang subur, lalu tumbuh dan berbuah, ada yang 100 kali lipat, 60 kali lipat dan 30 kali lipat.

Tuhan Yesus menjelaskan bahwa benih yang jatuh di pinggir jalan itu adalah orang yang menerima firman Tuhan tentang Kerajaan Sorga atau Injil tetapi dia tidak mengertinya. Maka datanglah iblis merampasnya dari orang itu.

Benih yang jatuh di tempat berbatu-batu menggambarkan orang yang menerima Injil dengan gembira, tetapi Injil itu tidak berakar di hatinya. Ketika cobaan dan penganiayaan datang dalam hidupnya ia menjadi murtad.

Benih yang tumbuh di semak duri menggambarkan orang yang menerima Injil tetapi kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpitnya sehingga tidak berbuah.

Sedangkan benih yang tumbuh di tanah yang subur dan menghasilkan buah 100 kali lipat, 60 kali lipat dan 30 kali lipat menggambarkan Injil yang ditanam dalam hati orang yang menerimanya dan dapat mengertinya.

Perumpamaan ini menggambarkan bagaimana Injil diberitakan kepada semua orang, tetapi sikap dan respon mereka berbeda-beda dan hasilnya pun berbeda. Bagaimana Injil tumbuh dalam hidup kita tergantung pada sikap kita terhadapnya.

Apakah kita membiarkan iblis, pencobaan atau kekuatiran dan kekayaan dunia ini merenggutnya dari kita; ataukah kita bertekun di dalamnya sehingga menghasilkan buah dalam kehidupan kita?

 

2. Lalang Di Antara Gandum (Matius 13:24-30; 36-43)

Perumpamaan Yesus lainnya yang terpopuler adalah perumpamaan tentang lalang di antara gandum.

Seseorang menanam gandum di ladangnya. Lalu orang jahat menanam lalang di antara gandum tersebut.

Ketika hamba orang yang menanam gandum itu melihat lalang yang tumbuh di antara gandum tuannya, ia melaporkannya kepada tuannya tersebut. Hamba itu bertanya kepada tuannya apakah ia perlu mencabutnya. Tetapi tuannya melarangnya, karena – menurut tuannya – jika lalang tersebut dicabut maka gandum juga akan ikut tercabut.

Jadi lalang tersebut akan dibiarkan hidup bersama-sama gandum hingga musim panen gandum tiba. Pada saat itu gandum akan dicabut dan dikumpulkan ke lumbung. Saat itu juga lalang akan dicabut, dikumpulkan dan akan dibakar habis.

Perumpamaan ini menggambarkan keberadaan orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus dengan mereka yang “kelihatannya percaya” kepadaNya. Pada masa ini kita tidak selalu bisa mengetahui siapa orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus dan siapa yang hanya sekedar ikut-ikutan percaya kepadaNya.

Jadi orang-orang yang sama-sama ada di gereja belum tentu semuanya gandum, bisa saja di antaranya ada lalang. Tentu kita tidak bisa menilai hal itu sekarang, dan kita tidak berhak untuk itu. Untuk menetapkan apakah seseorang “gandum” ataukah ia hanya “lalang” adalah urusan Tuhan sebagai hakim manusia.

Alkitab sendiri dengan jelas berkata bahwa dari dalam gereja sendiri pun akan muncul guru-guru palsu yang menyesatkan anggota jemaat (Kisah Para Rasul 20:29-30).

Tetapi kelak pada akhir zaman perbedaan itu akan menjadi terang. Akan ada pemisahan yang jelas untuk selamanya antara orang percaya dengan orang yang tidak percaya. Orang percaya akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, orang yang tidak percaya akan masuk ke neraka.

 

3. Orang-Orang Upahan Di Kebun Anggur (Matius 20:1-16)

Perumpamaan Yesus berikutnya yang terpopuler adalah perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur.

Seorang tuan memanggil beberapa orang untuk bekerja di kebun anggurnya. Ia memanggil mereka di jam-jam yang berbeda. Ada yang dipanggilnya sekitar pukul 6 pagi, pukul 9 pagi, pukul 12 siang, pukul 3 sore, dan pukul 5 sore, satu jam sebelum waktu kerja ditutup pada pukul 6 sore.

Mereka yang dipanggil pada pukul 6 pagi berarti bekerja selama 12 jam, hingga jam 6 sore (jam istirahat tidak dihitung di sini). Mereka sepakat dibayar tuan itu sebesar satu dinar.

Mereka yang dipanggil pukul 9 pagi berarti bekerja selama 9 jam. Sedangkan mereka yang dipanggil pada pukul 12 siang bekerja selama 6 jam. Mereka yang dipanggil pada pukul 3 sore berarti bekerja hanya 3 jam. Dan mereka yang dipanggil pada pukul 5 sore hanya bekerja selama 1 jam. Tuan itu menjanjikan upah bagi mereka.

Kemudian para pekerja itu menerima upah pada pukul 6 sore di hari itu, dimulai dari yang bekerja pada pukul 5 sore hingga yang bekerja sejak pukul 6 pagi. Tetapi ternyata mereka semua menerima upah yang sama, tidak ada yang lebih banyak atau lebih sedikit. Tidak ada perbedaan upah bagi yang bekerja 12 jam penuh dengan mereka yang bekerja hanya 1 jam.

Hal ini dirasa kurang adil oleh para pekerja yang bekerja seharian, yang menerima upah yang sama dengan orang yang hanya bekerja beberapa jam, bahkan hanya satu jam. Karena itu mereka mengajukan protes kepada tuannya.

Kemudian tuan itu menjelaskan kepada mereka bahwa mereka telah sepakat tentang jumlah upah bekerja mereka. Dan jika ia memberi upah yang sama kepada mereka yang bekerja hanya sejam maka yang lain tidak boleh protes. Karena hal itu merupakan kemurahan hati tuan tersebut dan tidak merugikan orang lain.

Mengakhiri perumpamaanNya, Tuhan Yesus mengatakan perkataan yang kemudian menjadi terkenal: orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.

Maksud perumpamaan ini adalah bahwa ada perbedaan upah di antara orang percaya dalam Kerajaan Sorga nanti. Dan hanya Tuhan yang dapat menilai hal itu secara tepat dan adil, bukan manusia.

Ada orang Kristen “yang terdahulu” (rajin beribadah dan melayani, hidup benar, bahkan membawa jiwa bagi Tuhan) semasa hidup di dunia ternyata nanti akan menjadi orang “yang terakhir” dalam kerajaan Sorga.

Demikian juga sebaliknya, ada orang Kristen selama hidup di bumi tergolong orang “yang terakhir” (menurut penilaian manusia) ternyata nanti akan menjadi “orang yang terdahulu” dalam Kerajaan Sorga.

Benarlah yang dikatakan oleh seorang teolog, “Sorga akan penuh dengan kejutan.” Dan manusia tidak berhak memprotesnya.

 

4. Perjamuan Kawin (Matius 22:1-14)

Perumpamaan Yesus lainnya yang terpopuler adalah perumpamaan tentang perjamuan kawin.

Seorang raja mengadakan pesta pernikahan anaknya. Lalu ia menyuruh hamba-hambanya untuk mengundang orang-orang yang telah diundang ke pesta tersebut (jadi ada dua kali undangan sesuai tradisi pesta Yahudi). Tetapi semua orang itu menolaknya dengan berbagai alasan. Bahkan mereka menganiaya dan membunuh sebagian orang yang mengundang mereka itu.

Ketika raja tersebut mendengar hal itu maka sangat marahlah dia. Ia menyuruh pasukannya untuk membunuh orang-orang yang menolak undangannya tersebut dan membakar kota mereka.

Lalu ia menyuruh hamba-hambanya itu untuk pergi ke persimpangan-persimpangan jalan dan mengundang orang-orang di situ, orang-orang yang (secara moral) baik maupun orang-orang yang jahat.

Ketika perjamuan dimulai, ternyata di antara orang yang diundang itu terdapat juga orang yang tidak memakai pakaian pesta (sebagai syarat mengikuti perjamuan itu). Lalu marahlah raja itu kepadanya dan menghukumnya.

Tuhan Yesus menutup perumpamaanNya dengan ungkapan yang sangat terkenal: banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih.

Perumpamaan ini punya makna bahwa Tuhan telah mengundang semua orang untuk menerima Injil. Tuhan mengundang mereka untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Tetapi sayang, banyak orang yang menolak undangan tersebut, sekalipun undangan itu gratis dan tidak perlu membayarnya.

Ada juga orang yang berpakaian tidak layak sekalipun telah menerima undangan tersebut. Artinya, sekalipun seseorang telah menerima Injil, dia tetap tidak layak masuk ke dalam Kerajaan Sorga, karena tidak memakai “pakaian kebenaran”. Ini menunjukkan pentingnya cara hidup yang benar yang sesuai dengan Injil, bukan hanya sekedar percaya saja.

Selain percaya Yesus, kita perlu hidup di dalamNya, iman itu harus disertai dengan perbuatan. Perbuatan itu sendiri tidak menyelamatkan, tetapi harus ada bersama dengan iman.

 

5. Gadis-Gadis Bijaksana Dan Gadis-Gadis Bodoh (Matius 25:1-13)

Perumpamaan Yesus selanjutnya yang terpopuler adalah perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh.

Para gadis ini adalah mereka yang menyertai mempelai wanita untuk menantikan mempelai pria di rumah orang tua mempelai wanita tersebut. Dalam tradisi orang Yahudi, mempelai wanita dijemput mempelai pria di rumah orang tua mempelai wanita, sebelum dibawa ke rumah orang tua mempelai pria.

Dalam perumpamaan ini tidak disebutkan tentang mempelai wanita, tetapi jelas mempelai wanita tersebut pasti ada di situ, karena untuk menjemput itulah mempelai pria itu datang. Dia tidak disebut karena yang menjadi fokus utamanya adalah para gadis yang menemani mempelai wanita dalam menantikan mempelai pria.

Biasanya mempelai wanita Yahudi akan mempersiapkan diri di kamarnya untuk menantikan mempelai prianya datang dan membawanya ke rumahnya. Dan mempelai wanita akan disertai oleh teman-teman wanitanya. Demikian juga dalam perumpamaan Yesus ini, si mempelai wanita ditemani oleh 10 gadis.

Ketika mempelai pria belum juga datang, maka para gadis itu pun mulai mengantuk dan akhirnya tertidur, semuanya tanpa terkecuali. Lalu kedengaranlah pengumuman yang memberitahukan bahwa mempelai pria sudah datang.

Tiba-tiba para gadis itu pun terbangun dan masing-masing membereskan pelita yang mereka bawa. Karena mempelai datang pada malam hari jadi butuh penerangan.

Lima dari antara gadis itu mulai menyadari bahwa ternyata mereka tidak membawa minyak yang cukup untuk pelita mereka. Mereka pun mulai panik, mereka meminta kepada lima gadis lain yang membawa persediaan minyak bagi pelita mereka. Tetapi mereka berkata bahwa minyak yang mereka miliki hanya cukup bagi mereka. Jika dibagi dua menjadi tidak cukup, baik bagi gadis bijak maupun bagi gadis bodoh itu.

Mereka menyarankan kelima gadis yang tak membawa minyak pelita itu untuk membeli minyak. Mereka pun pergi mencari minyak bagi pelita mereka. Tetapi ketika mereka datang kembali, pintu sudah ditutup dan mereka tidak bisa masuk. Inilah akibat kelalaian mereka yang tidak ada kesiapan untuk berjaga-jaga.

Perumpamaan ini mengajarkan agar kita selalu siap sedia dan berjaga-jaga dalam menantikan kedatangan Kristus kedua kali. Sebab kedatanganNya itu sangat mendadak dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Orang yang tidak berjaga-jaga dengan cara hidup yang benar di mata Tuhan, akan ketinggalan dan tidak akan bisa masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

 

6. Talenta (Matius 25:14-30)

Perumpamaan Yesus lainnya yang terpopuler adalah perumpamaan tentang talenta.

Seorang tuan ingin pergi ke negeri jauh dan ia mempercayakan sejumlah uangnya kepada tiga orang hambanya, agar mereka menggandakannya dan memberi keuntungan kepada tuan tersebut ketika ia telah pulang.

Hamba pertama diberi 5 talenta; hamba kedua diberi 2 talenta dan hamba ketiga diberi 1 talenta.

Talenta merupakan nilai uang yang sangat besar pada masa Yesus. Nilainya adalah sebesar 6000 dinar. Satu dinar adalah upah buruh sehari pada zaman Yesus (lihat poin 3 di atas). Jadi satu talenta adalah sebesar 6000 hari upah pekerja.

Jika upah buruh sehari saat ini adalah 100 ribu rupiah, maka 1 talenta adalah 600 juta rupiah. Jika 2 talenta, berarti 1,2 milyar, dan jika 5 talenta setara dengan 3 milyar rupiah.

Maka hamba yang mendapat 5 talenta itu bekerja dan mendapat untung 5 talenta atau seratus persen. Uangnya bertambah menjadi 10 talenta. Hamba yang mendapat 2 talenta juga bekerja dan berhasil menggandakan uangnya menjadi 4 talenta atau seratus persen.

Tetapi hamba yang mendapat 1 talenta itu justru menyembunyikan talentanya dan tidak menggandakannya, sehingga tidak mendapat untung sedikit pun atau nol persen.

Setelah tuan mereka pulang, mereka mengadakan perhitungan. Maka hamba yang diberi 5 talenta itu mendapat pujian dari tuannya serta beroleh upah yang besar. Demikian juga dengan hamba yang diberi 2 talenta itu, ia mendapat pujian dari tuannya serta memperoleh upah yang besar darinya. Tetapi hamba yang mendapat 1 talenta itu mendapat celaan dan hukuman yang berat dari tuannya.

Talenta itu menggambarkan segala sumber daya yang kita miliki, yang diberikan Tuhan kepada kita: waktu, harta kekayaan, keahlian, karunia, bakat, dan kemampuan yang kita miliki. Semuanya ini harus dipakai dan dimaksimalkan untuk membawa keuntungan bagi Kerajaan Sorga.

Jika tidak, maka kita pun tidak luput dari hukuman kekal. Cara hidup yang benar, yang berpadanan dengan Injil (yang digambarkan dengan menggandakan talenta), mutlak diperlukan untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga (lihat poin 4 di atas).

 

7. Orang Samaria Yang Murah Hati (Lukas 10:25-37)

Perumpamaan Yesus lainnya yang terpopuler adalah perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati.

Tuhan Yesus menceritakan tentang seseorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Di tengah jalan ia dirampok dan dianiaya serta ditinggalkan begitu saja dalam keadaan hampir mati.

Kemudian lewatlah seorang imam, dia melihat orang yang dirampok itu, tetapi dia tidak menolongnya, ia malah mengambil jalan lain dan menghindari orang itu. Lalu lewatlah seorang Lewi, dia melihat orang yang tak berdaya itu, tetapi ia juga membiarkannya, tidak menolongnya. Seperti imam itu, ia juga mengambil jalan lain untuk menghindari orang yang dirampok itu.

Lalu datanglah seorang Samaria yang berjalan melewati tempat itu. Ketika dilihatnya orang yang dirampok itu maka tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia menolong orang tersebut.

Ia mengobati luka-lukanya dan menaikkannya ke keledainya lalu membawanya ke rumah penginapan. Ia menitipkan orang tersebut di situ dan menjaminkan uangnya sendiri sebagai biaya pengobatan orang tersebut. Dan ia menjamin bahwa jika sekiranya uang tersebut kurang dia akan membayarnya ketika ia datang kembali .

Makna perumpamaan ini adalah pentingnya kasih, kemurahan dan kepedulian kepada sesama tanpa memandang latar belakangnya.

Sekalipun tidak disebutkan, dapat diartikan bahwa orang yang menjadi korban perampokan itu adalah seorang Israel.

Orang pertama yang lewat dari dekat orang yang tergeletak itu adalah seorang imam. Imam adalah orang yang biasa berhubungan dengan Tuhan, sebab ia adalah seorang yang selalu mempersembahkan korban-korban bagi Tuhan demi umat Israel. Dia adalah rohaniwan.

Orang Lewi adalah orang yang hidupnya hanya mengurusi peralatan Bait Suci dan membantu para imam dalam tugas-tugas mereka. Jadi orang Lewi juga adalah orang yang hidupnya hanya fokus dalam melayani Tuhan, seperti halnya para imam.

Kendati demikian, imam dan orang Lewi itu tidak berbelas kasihan kepada sesamanya yang tergeletak di jalan tak berdaya, apalagi orang tersebut adalah seorang Israel.

Walau mereka sangat taat beragama bahkan pelayan Tuhan, mereka sama sekali tak memiliki rasa simpati dan empati terhadap orang yang sedang menderita dan butuh pertolongan.

Orang ketiga adalah seorang Samaria. Secara etnik, orang Samaria merupakan campuran antara orang Israel dengan orang non-Israel, jadi dia tidak asli lagi berdarah Israel atau keturunan Abraham, bapa orang beriman.

Secara keagamaan, orang Samaria juga berbeda dari orang Israel, sebab mereka punya tempat ibadah di gunung Gerizim, bukan di Bait Suci di Yerusalem seperti halnya orang Israel (Yohanes 4:20). Agamanya jelas berbeda dengan agama orang Israel. Karena itulah orang Israel biasanya memandang rendah orang Samaria, dan mereka tidak bergaul dengan orang Samaria (Yohanes 4:9).

Kendati demikian, orang Samaria ini justru punya sikap yang berbeda bahkan bertolak belakang dengan sikap kedua orang Israel itu. Orang Samaria ini, yang dipandang rendah oleh orang Israel karena etnik dan agamanya, justru punya belas kasihan terhadap orang yang menderita. Bahkan sekalipun orang yang menderita itu bukan dari golongannya, tapi dari golongan mereka yang memandangnya rendah.

Perumpamaan ini menjadi kritik yang berharga bagi setiap orang percaya, khususnya pada zaman sekarang, di mana banyak orang yang hidup berkesusahan dan menderita yang perlu ditolong, terlepas dari latar belakang agama dan etnik mereka.

 

8. Anak Yang Hilang (Lukas 15:11-32)

Perumpamaan Yesus lainnya yang terpopuler adalah perumpamaan tentang anak yang hilang.

Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Lukas. Dan ada dua lagi perumpamaan yang mirip dengan ini dalam Injil tersebut, yakni perumpamaan tentang domba yang hilang dan perumpamaan tentang dirham yang hilang, yang dicatat tepat sebelum perumpamaan tentang anak yang hilang ini. Ketiga perumpamaan ini punya tema yang sama, yakni kasih Allah yang begitu besar bagi orang yang terhilang.

Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, diceritakan bahwa seorang ayah mempunyai dua orang anak. Lalu si bungsu meminta bagian warisannya kepada ayahnya sebelum ayahnya tersebut meninggal. Ketika ayahnya memberikannya maka ia pergi merantau dan ia memboroskan hartanya itu dengan hidup berfoya-foya bersama para pelacur.

Setelah itu uang anak bungsu tersebut pun habis dan ia menjadi bangkrut. Maka ia bekerja pada seorang yang kaya untuk menjaga babi-babinya, suatu penghinaan bagi seorang Israel. Sebab bagi orang Israel, babi adalah binatang yang najis.

Anak bungsu tersebut begitu miskinnya sehingga membeli makanan saja dia tidak sanggup. Ketika perutnya lapar ia hanya bisa memuaskan laparnya dengan ampas makanan babi yang dijaganya. Ia benar-benar berada pada titik nadir.

Kemudian ia mulai menyadari keberadaannya yang terpuruk. Ia membandingkan keberadaannya yang sangat malang dengan kehidupannya yang berkecukupan ketika masih berada di rumah orang tuanya. Karena itu ia pun memutuskan untuk kembali kepada ayahnya, bahkan rela jika hanya sebagai hamba ayahnya, bukan sebagai anak lagi.

Maka dia pun pulang ke rumah ayahnya. Ketika ayahnya melihatnya dari jauh, ayahnya berlari mendapatkannya serta memeluk dan menciumnya. Ia dibawa masuk ke rumah ayahnya, dan ayahnya membuat perjamuan yang besar baginya, serta memberinya cincin, sepatu, dan jubah yang terbaik.

Ketika si sulung melihat hal tersebut, ia menjadi marah kepada ayahnya. Karena ia merasa diabaikan. Padahal selama ini ia setia bekerja untuk ayahnya, tetapi ia belum pernah dibuatkan pesta semeriah itu. Sementara adiknya, yang telah memboroskan harta ayahnya, justru dibuatkan pesta yang meriah.

Ayahnya menjawab bahwa anaknya yang hilang telah ketemu dan patutlah mereka bersukacita dan merayakannya. Sementara si sulung selalu bersama ayahnya, dan segala milik ayahnya adalah miliknya juga, jadi tidak perlu dibuat pesta.

Perumpamaan ini menggambarkan kasih Bapa sorgawi kita yang begitu besar bagi orang berdosa. Ia mengharapkan agar kita kembali kepadaNya dari jalan-jalan kita yang jahat. Ketika kita insyaf akan keadaan kita yang berdosa dan jauh dari Tuhan, serta bertekad untuk bertobat, maka Tuhan selalu siap menyambut kita.

 

9. Orang Kaya Dan Lazarus (Lukas 16:19-31)

Perumpamaan Yesus selanjutnya yang termasuk terpopuler adalah perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin. Inilah satu-satunya perumpamaan Tuhan Yesus yang nama tokohnya disebutkan.

Lazarus (bukan Lazarus yang pernah dibangkitkan dari kematian) adalah seorang miskin yang hanya mengharapkan remah-remah yang jatuh dari meja si orang kaya. Ia selalu berbaring di depan pintu orang kaya itu untuk menghilangkan laparnya. Bahkan anjing-anjing pun datang menjilati boroknya.

Tetapi orang kaya itu tidak pernah mempedulikan Lazarus, sekalipun ia orang kaya dan punya banyak makanan.

Kemudian orang kaya itu mati dan masuk ke syeol atau dunia orang mati, karena ia sudah pasti masuk neraka maka ia digambarkan berada di dalam api. (Baca: 10 Fakta Tentang Neraka Yang Perlu Anda Ketahui).

Lazarus juga mati dan masuk ke syeol, tetapi karena dipastikan sudah masuk sorga maka dibayangkan dia dibawa ke pangkuan Abraham atau firdaus, yakni sorga. (Baca: 10 Fakta Tentang Sorga Yang Perlu Anda Ketahui).

Orang kaya itu merasa tersiksa dalam api, sementara Lazarus hidup bahagia bersama Abraham, bapa orang beriman. Ia meminta agar Lazarus memberinya air, tetapi Abraham menjawab bahwa ia sudah hidup bahagia di dunia, dan jarak di antara mereka juga tak terseberangi.

Perumpamaan ini punya makna bahwa nasib seseorang apakah ia ada di sorga atau neraka, ditentukan ketika ia masih hidup di dunia ini, yakni: apakah ia percaya kepada Yesus yang diwujudkan dengan kasih kepada sesama, atau tidak percaya kepadaNya, yang diwujudkan dengan ketidakpedulian terhadap sesama seperti orang kaya ini.

Karena itulah, untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga tidak cukup hanya percaya kepada Yesus, tetapi juga harus dibarengi dengan perbuatan nyata, sebab iman tanpa perbuatan tidak ada artinya. Dan hal itu dapat dilakukan hanya ketika seseorang masih hidup di dunia ini, sebab ketika seseorang sudah mati, semuanya sudah terlambat.

 

10. Orang Farisi Dan Pemungut Cukai (Lukas 18:9-14)

Perumpamaan Yesus terakhir yang terpopuler adalah perumpamaan tentang orang farisi dengan pemungut cukai.

Dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa, yang seorang pemungut cukai yang seorang lagi orang farisi. Dalam doanya orang  farisi itu menyombongkan dirinya karena telah merasa melakukan firman Allah dan rajin beribadah. Pertama-tama doanya itu masih bagus, karena ia mengakui apa yang dilakukannya adalah dari Tuhan: “Aku mengucap syukur kepadaMu”.

Tetapi selanjutnya doanya itu adalah meninggikan dirinya sendiri, bukan Tuhan lagi, dengan sering berkata: “Aku”. Apalagi ia mengakui bahwa ia tidak sama seperti “semua orang lain”. Bahkan dengan lebih sombong lagi ia berkata bahwa ia bukan seperti “pemungut cukai ini”, pemungut cukai yang sedang berdoa dengan dia saat itu.

Orang farisi itu dengan sombongnya membandingkan dirinya dengan pemungut cukai yang berdosa. Dan Tuhan tidak mengabulkan doanya.

Sebaliknya, pemungut cukai itu merendahkan dirinya di hadapan Tuhan, bahkan melihat ke atas pun dia tidak berani. Dia hanya menyesali dirinya dan meminta belas kasihan Tuhan. Dan Tuhan mengabulkan doanya.

Tuhan Yesus mengakhiri perumpamaanNya dengan perkataan yang terkenal: barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.

Sesungguhnya, Tuhan lebih menyukai orang yang mengakui kelemahan dan kekurangannya serta meminta belas kasihan dan pengampunan dariNya, daripada orang yang merasa dirinya benar sekalipun ia giat dalam melakukan firman Tuhan.

 

Itulah 10 perumpamaan Yesus terpopuler sepanjang masa.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!