Loading...
Loading...

10 Pokok Ajaran Yesus Menurut Alkitab

 

3. Kasih 

Pokok ajaran Yesus lainnya adalah kasih.

Kasih itu terdiri dari dua bagian, yakni kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia.

Tuhan Yesus mengatakan bahwa kedua hukum itulah yang terutama dari Hukum Taurat dan bahwa seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi tergantung kepadanya (Matius 22:34-40).

Kasih kepada Allah adalah yang utama dan menyangkut seluruh aspek hidup kita, yakni dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan.

Kasih kepada Allah harus melebihi kasih kita kepada siapa pun dan kepada apa pun.

Kasih yang kedua adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri.

Apa yang kita inginkan untuk dilakukan oleh orang lain kepada kita, hendaknya demikian juga kita memperlakukan orang lain.

Sebaliknya, apa yang tidak kita inginkan untuk dilakukan oleh orang lain kepada kita, maka hendaknya jangan kita melakukannya kepada orang lain (Matius 7:12).

Maksudnya, kita membuat standard yang sama kepada diri kita sendiri dan kepada orang lain/sesama.

Tuhan Yesus membuat cakupan kasih terhadap sesama ini sangat luas, bahkan musuh pun harus dikasihi (Matius 5:43-48).

 

4. Kekudusan Hidup

Pokok ajaran Yesus berikutnya adalah kekudusan hidup.

Dalam pengajaranNya yang terkenal kepada murid-muridNya dan orang banyak, yang dikenal sebagai Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus menegaskan pentingnya kekudusan hidup dan menjauhi dosa.

Dalam khotbahNya tersebut, beberapa pokok ajaran dalam Hukum Taurat Yahudi diperdalam oleh Tuhan Yesus.

Misalnya tentang pembunuhan. Bagi orang Yahudi pada masa itu pembunuhan dipahami sebagai menghilangkan nyawa orang lain.

Tetapi bagi Tuhan Yesus, marah terhadap sesama dan menyebutnya kafir! sudah dianggap pembunuhan sehingga termasuk dosa yang harus dihukum berat (Matius 5:21-22).

Demikian juga dengan perzinahan, yang pada masa itu dipahami sebagai hubungan seksual antara seseorang dengan yang bukan pasangannya.

Tetapi Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang melihat seorang perempuan (demikian juga sebaliknya) dan menginginkannya, sudah termasuk ke dalam perzinahan (Matius 5:27-28).

Karena itu, Tuhan Yesus mengatakan bahwa  jika mata kita menyebabkan kita berdosa maka lebih baik kita mencungkilnya, dan jika tangan kita menyebabkan kita berdosa maka lebih baik kita memotongnya agar kita tidak masuk neraka (Matius 5:29-30).

Tentu perkataan Tuhan Yesus tersebut adalah sebuah kiasan, tetapi hal itu menggambarkan betapa berbahayanya hidup dalam dosa dan betapa anak-anak Allah harus hidup kudus seperti Allah yang adalah kudus.

Itulah sebabnya orang-orang yang telah disembuhkan atau diampuniNya diperingatkanNya agar tidak lagi melakukan dosa (Yohanes 5:14; 8:11).

 

5. Kerendahan Hati

Pokok ajaran Yesus selanjutnya adalah kerendahan hati.

Tuhan Yesus adalah seorang yang rendah hati. Karena itu Ia juga banyak mengajar tentang kerendahan hati.

Salah satunya adalah tentang cara duduk di sebuah pesta, agar tidak duduk di bagian depan, tetapi di bagian belakang (Lukas 14:7-11).

Contoh lainnya adalah dalam perumpamaanNya tentang seorang farisi dan seorang pemungut cukai yang sama-sama berdoa di Bait Allah.

Orang farisi tersebut berdoa dengan menyombongkan dirinya yang rajin beribadah dan beramal serta merendahkan si pemungut cukai.

Sementara pemungut cukai tersebut, karena sadar akan dosa-dosanya, merendahkan diri di hadapan Tuhan serta memohon belas kasih dan pengampunanNya.

Dan doa pemungut cukai itu dikabulkan oleh Tuhan, sedangkan doa orang farisi tersebut tidak (Lukas 18:9-14).

Dalam dua kesempatan itu, Tuhan Yesus mengungkapkan “kata-kata mutiara” yang terkenal tentang kerendahan hati.

“Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

 

6. Doa

Pokok ajaran Yesus lainnya adalah doa.

Tuhan Yesus senang berdoa dan menjadikan doa sebagai gaya hidupNya sehari-hari.

Tetapi Dia juga – dalam berbagai kesempatan – mengajar murid-muridNya untuk berdoa.

Sehingga tidak heran bahwa doa menjadi salah satu dari pokok ajaran Tuhan Yesus.

Kita pasti sudah tahu bahwa Tuhan Yesus pernah mengajar murid-muridNya untuk berdoa, yang kita kenal sebagai doa “Bapa Kami”.

Ia juga mengajar murid-muridNya untuk berdoa secara pribadi di dalam kamar mereka, tanpa dilihat oleh orang lain, dan tanpa bertele-tele (Matius 6).

Dalam perumpamaanNya tentang seorang hakim yang tidak benar, Tuhan Yesus menekankan pentingnya berdoa secara bertekun dan tanpa jemu-jemu (Lukas 18:1-8).

Loading...
4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!