10 Raja Israel Terbesar Di Alkitab

 

Sebagai sebuah bangsa, pemimpin pertama Israel adalah Musa. Musa memimpin bangsa Israel selama 40 tahun, sejak mereka keluar dari perbudakan di Mesir menuju Tanah Perjanjian atau Tanah Kanaan.

Musa hanya mengantarkan bangsa Israel sampai perbatasan Tanah Perjanjian. Ia meninggal di gunung Nebo, di puncak Pisga, dan tidak bisa memasuki Tanah Kanaan, dikarenakan ia tidak taat kepada Tuhan.

Musa kemudian digantikan oleh Yosua, abdi Musa, sebagai pemimpin Israel. Ia membawa bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian dan berperang melawan bangsa-bangsa asli Tanah Kanaan. Lalu Yosua membagi tanah tersebut di antara suku-suku Israel.

Baca juga: 10 Nabi Terbesar Di Perjanjian Lama

Setelah Yosua mati, maka bangsa Israel selanjutnya dipimpin oleh para hakim. Hakim yang dimaksud di sini bukanlah hakim di pengadilan, seperti yang kita pahami saat ini, melainkan pemimpin tertinggi bangsa Israel di bidang politik dan pemerintahan.

Setelah masa pemerintahan para hakim, maka bangsa Israel seterusnya dipimpin oleh seorang raja, termasuk ketika kerajaan Israel terpecah menjadi dua: Israel (di Utara) yang terdiri dari 10 suku, dan Yehuda (Selatan) yang terdiri dari 2 suku.

Baca juga: 10 Nabi Terbesar Di Perjanjian Baru

Sepanjang sejarahya, kerajaan Israel, baik ketika masih bersatu, maupun setelah pecah menjadi kerajaan Israel Utara dan kerajaan Israel Selatan (Yehuda), telah menghasilkan banyak raja.

Sebagian di antara mereka adalah raja-raja yang hebat, yang memberi pengaruh yang kuat bagi rakyat yang mereka pimpin, memperluas wilayah Israel, melakukan pembangunan besar-besaran, serta menaklukkan musuh-musuh Israel.

Baca juga: 7 Hakim Israel Terbesar Di Alkitab

Pasca pecahnya kerajaan Israel menjadi dua, kerajaan Yehuda hanya dipimpin oleh raja dari suku Yehuda, yakni dinasti Daud. Sedangkan kerajaan Israel Utara dipimpin oleh raja-raja dari berbagai suku, sekalipun terdapat juga beberapa dinasti yang memerintah dalam kurun waktu tertentu.

Artikel kali ini akan membahas 10 raja terbesar Israel di Alkitab, yakni Kerajaan Israel bersatu, Kerajaan Israel Selatan (Yehuda) dan Kerajaan Israel Utara.

Siapa sajakah 10 raja terbesar Israel/Yehuda di Alkitab? Berikut pembahasannya.

 

1. Daud (Raja Israel Bersatu)

Daud adalah raja kedua Israel setelah Saul.

Awalnya Daud hanyalah seorang gembala kambing domba ayahnya.

Namun, ketika Saul telah ditolak oleh Tuhan sebagai raja Israel (lihat poin 10 di bawah), maka Daud diurapi oleh nabi Samuel menjadi raja Israel menggantikan Saul. Daud diurapi secara rahasia, tanpa sepengetahuan Saul (1 Samuel 16:1-13).

Saat itu Daud masih sangat muda, diperkirakan sekitar 20 tahun.

Lalu Daud menjadi hamba Saul di istana. Ia bermain kecapi setiap kali roh jahat menghinggapi Saul, sebab sejak Roh Allah undur dari Saul, roh jahat menghinggapinya. Dan roh jahat itu keluar dari Saul setiap kali Daud bermain kecapi (1 Samuel 16:14-23).

Daud kemudian tampil sebagai pembela bagi Israel, tatkala Goliat, pahlawan Filistin, datang menakut-nakuti bangsanya.

Saat itu tidak ada seorang pun dari antara bangsa Israel yang berani menghadapi ancaman Goliat. Dan dengan sebuah pengumban di tangan, serta keyakinan akan pertolongan Tuhan, Daud pun berhasil mengalahkan Goliat (1 Samuel 17:1-58).

Sejak itu Daud menjadi terkenal dan mendapat simpati dari rakyat Israel. Hal ini membuat Saul iri hati kepadanya. Bahkan Saul berusaha untuk membunuh Daud lewat perantaraan orang Filistin, ketika Saul dengan licik menginginkan Daud menjadi menantunya (1 Samuel 18:6-30).

Sejak itu dan seterusnya, hingga kematian Saul, Daud selalu diburu oleh Saul. Tetapi Daud selalu luput, sebab Tuhan menyertai Daud.

Karena itulah, selama Saul masih hidup, Daud tidak bisa langsung merasakan empuknya kursi kerajaan, sekalipun ia telah diurapi menjadi raja Israel. Dan Saul belum mau turun tahta, sekalipun ia telah ditolak Tuhan sebagai raja umatNya, Israel.

Barulah setelah Saul mati Daud bisa menjadi raja bangsa Israel sepenuhnya.

Awalnya Daud memerintah di Hebron atas suku Yehuda, sukunya sendiri. Lalu ia memerintah atas seluruh suku-suku Israel. Ia merebut Yerusalem dari tangan orang Yebus dan menjadikannya sebagai ibu kota Israel (Baca: 10 Fakta Tentang Yerusalem Yang Perlu Anda Tahu)

Selama pemerintahan Daud selama 40 tahun, Israel menjadi sebuah bangsa yang besar dan jaya serta disegani oleh musuh-musuh mereka/bangsa-bangsa lain. Bangsa-bangsa tersebut semua berhasil dikalahkan Daud (2 Samuel 8:1-14).

Namun Daud tidaklah sempurna. Ia pernah melakukan dosa besar di hadapan Tuhan, terutama perzinahannya dengan Batsyeba yang mendatangkan hukuman Tuhan baginya (2 Samuel 11-12).

Tetapi pertobatannya yang sungguh-sungguh dapat memulihkan kebesarannya kembali sebagai raja Israel.

Itulah sebabnya, Daud adalah seorang raja yang diperkenan Tuhan sehingga Dia menjadikan Daud sebagai “patokan raja yang benar” bagi raja-raja Israel/Yehuda berikutnya.

Seorang raja Israel/Yehuda dianggap benar jika ia hidup seperti Daud, dan dianggap tidak benar jika ia tidak hidup seperti Daud (misalnya, 1 Raja-raja 15:3, 11).

Hingga kini orang Israel masih menantikan kejayaan bangsa Israel seperti pada masa pemerintahan raja Daud zaman dulu. Hal ini mereka harapkan dalam pemerintahan Sang Mesias yang disebut sebagai Anak Daud. (Baca: 10 Fakta Tentang Mesias Yang Perlu Anda Tahu)

Tuhan memang telah mengikat perjanjianNya dengan Daud, dan akan mendudukkan keturunannya menjadi raja Israel turun-temurun, terutama lewat pribadi Mesias (2 Samuel 7:1-29).

Tidak diragukan lagi, Daud adalah raja terbesar yang pernah dimiliki oleh bangsa Israel, umat pilihan Allah.

 

2. Salomo (Raja Israel Bersatu)

Salomo adalah raja Israel ketiga setelah Saul dan Daud. Salomo diurapi menjadi raja menggantikan ayahnya, Daud, menjelang kematian Daud.

Salomo dikenal terutama karena hikmatnya.

Ketika Tuhan memberi Salomo kesempatan untuk meminta apa pun kepadaNya, maka Salomo meminta hikmat kepadaNya. Tuhan mengabulkan permintaan Salomo dan memberinya hikmat (1 Raja-raja 3:1-15).

Hikmat Salomo ini sangat terkenal hingga ke bangsa-bangsa lain. Sampai-sampai ratu negeri Syeba datang dari negerinya mengunjungi Salomo untuk “melihat” hikmatnya. (Baca: 10 Tokoh Besar Alkitab Tetapi Lebih Kecil Dari Yesus)

Selain memberinya hikmat, Tuhan juga memberkati Salomo secara berlimpah-limpah. Alkitab berkata bahwa Salomo lebih kaya daripada seluruh raja di bumi pada masanya, yang bisa ditafsirkan bahwa dialah orang terkaya di bumi pada masa itu. (Baca: 10 Tokoh Alkitab Paling Kaya)

Salomo jugalah yang membangun Bait Allah di Yerusalem (1 Raja-raja 6:1-38). Sebelumnya, ayahnya, Daud, yang ingin membangun Rumah Allah tersebut, namun Tuhan menolaknya karena tangannya berlumuran darah. (Baca: 7 Tokoh Alkitab Yang Doanya Tidak Dikabulkan)

Seperti ayahnya Daud, Salomo memerintah selama 40 tahun. Selama masa pemerintahannya, Israel dalam keadaan aman, makmur, dan sangat disegani oleh bangsa-bangsa lain.

Salomo berhasil mengalahkan raja-raja di bumi, yang menjadi musuh bangsanya, Israel. Mereka takluk kepadanya dan memberi upeti kepada sang raja (1 Raja-raja 4:21-34).

Namun sayang, di kemudian hari Salomo justru jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala dan meninggalkan Tuhan yang telah begitu memberkatinya. Hal ini terjadi karena Salomo pada masa tuanya dipengaruhi oleh istri-istrinya yang adalah penyembah berhala.

Hal ini terjadi karena Salomo punya “hoby” menikah, khususnya dengan perempuan dari bangsa lain yang tidak menyembah Allah Israel. Salomo mempunyai 700 istri sah dan 300 gundik sehingga total ia punya 1000 istri!

Akibat dosa Salomo ini, kerajaan Israel dipecah Tuhan menjadi dua: Israel utara dan Israel Selatan/Yehuda (1 Raja-raja 11:1-13).

Tetapi hal ini baru terjadi pada masa pemerintahan anak Salomo, Rehabeam (1 Raja-raja 12:1-24).

Namun sangat mungkin – walau tidak disebut di Alkitab – bahwa Salomo akhirnya bertobat menjelang kematiannya.

Secara tradisional diakui bahwa Salomo merupakan penulis tiga kitab di Perjanjian Lama, yakni kitab Amsal (bersama beberapa penulis lainnya), Pengkhotbah, dan Kidung Agung.

 

3. Uzia (Raja Yehuda)

Raja Uzia dikenal juga sebagai raja Azarya.

Uzia merupakan salah satu raja Yehuda terbesar, setelah kerajaan Israel terpecah menjadi dua: Israel dan Yehuda.

Raja Uzia menjadi raja ketika ia berusia 16 tahun, ia menggantikan ayahnya, Amazia, yang mati dibunuh. Uzia memerintah kerajaan Yehuda sangat lama, 52 tahun.

Setelah menjadi raja, Uzia berhasil mengalahkan musuh-musuh bangsa Yehuda: bangsa Filistin, Arab, Meunim, dan bangsa Amon. Nama Uzia termasyhur hingga ke Mesir.

Pada masa raja Uzia, Yehuda ada dalam kemakmuran yang besar.

Uzia banyak melakukan pembangunan di Yehuda. Ia membangun banyak menara di Yerusalem dan bahkan di padang gurun.

Uzia juga menggali banyak sumur, di dataran tinggi dan di dataran rendah. Sebab ia mempunyai banyak ternak.

Selain itu, raja Uzia juga sangat suka pertanian. Ia memiliki perkebunan anggur yang luas, baik di pegunungan maupun di tanah-tanah yang subur. Dan ia mempekerjakan banyak orang di perkebunan-perkebunan tersebut.

Raja Uzia juga mempunyai angkatan perang yang besar, yang diperlengkapi dengan peralatan perang yang paling lengkap. Bahkan ia mempunyai para ahli yang bisa menciptakan alat-alat perang.

Secara umum Uzia termasuk raja yang saleh, dengan percaya sepenuhnya kepada Allah Israel dan tidak menyembah berhala. Karena itulah Tuhan menyertai dan memberkatinya.

Namun setelah Uzia menjadi kuat, ia mulai sombong dan berubah setia kepada Tuhan.

Raja Uzia melakukan pelanggaran dengan masuk ke Bait Suci serta membakar ukupan, yang sebenarnya hanya boleh dilakukan oleh para imam.

Dan ketika para imam menegurnya, Uzia sangat marah. Namun Tuhan menghukumnya seketika. Ia terkena penyakit kusta! Dengan segera para imam mengusirnya dari Bait Suci, sebab orang kusta tidak boleh masuk ke Bait Suci.

Raja Uzia berpenyakit kusta hingga kematiannya, dan ia harus tinggal di rumah pengasingan. Ketika meninggal, ia juga dikuburkan secara terpisah dari nenek moyangnya, raja-raja Yehuda (2 Tawarikh 26:1-23).

 

4. Omri (Raja Israel Utara)

Omri mungkin adalah raja tersukses yang pernah dimiliki oleh kerajaan Israel Utara.

Sebelum menjadi raja, Omri adalah panglima tentara Ela, raja Israel Utara.

Suatu ketika, Zimri, panglima raja Ela atas setengah pasukan kereta, memberontak dan membunuh raja Ela, lalu menggantikannya sebagai raja Israel.

Ketika rakyat Israel mendengar hal itu, mereka pun menobatkan Omri menjadi raja Israel yang baru. Kemudian mereka berperang melawan Zimri di Tirza, ibu kota Israel Utara pada masa itu.

Sadar ia dikepung, dan akan mati dibunuh, Zimri pun memutuskan untuk bunuh diri dengan cara membakar istananya sendiri.

Sepeninggal Zimri, Omri masih mendapat saingan dari Tibni bin Ginat, yang hendak dinobatkan oleh sebagian rakyat Israel menjadi raja. Tetapi pengikut Omri lebih banyak daripada pengikut Tibni.

Setelah Tibni mati, maka Omri menjadi raja Israel yang kuat, tanpa saingan.

Omri memerintah selama 12 tahun. Ia memerintah di Tirza selama 6 tahun. Kemudian Omri membeli gunung Samaria dan membangun kota di atasnya, yang disebutnya kota Samaria. Ia menjadikan Samaria sebagai ibu kota Israel Utara, menggantikan Tirza.

Ini adalah sebuah strategi yang jitu dari Omri, mengingat letak Samaria yang sangat strategis.

Sejak raja Omri, dan raja-raja Israel berikutnya, ibu kota Israel utara berada di Samaria, hingga kerajaan tersebut runtuh. (Baca: 10 Hukuman Tuhan Terbesar Kepada Manusia)

Alkitab tidak banyak mencatat masa pemerintahan Omri, tetapi tampaknya ia memerintah dengan baik dan membuat Israel menjadi sebuah kerajaan yang disegani bangsa lain.

Pada saat kematiannya, Omri mewariskan kerajaan yang makmur bagi anaknya, Ahab, yang meneruskannya menjadi raja Israel Utara.

Raja Omri membentuk satu dinasti di Israel. Dinasti ini dalam kepemimpinan Israel utara bertahan hingga empat generasi sebelum akhirnya digantikan oleh raja-raja dari keluarga lain.

Namun Omri terkenal sebagai raja Israel yang sangat jahat, ia merupakan penyembah berhala. Karena itulah dinasti kerajaannya di Israel dipunahkan (1 Raja-raja 16:15-28).

Sekalipun kisah Omri hanya sedikit disebut di Alkitab, tetapi cukup sering disinggung dalam tulisan-tulisan di luar Alkitab.

Dalam prasasti Moab, Omri disebut menaklukkan Moab tetapi kemudian memberontak pada zaman anak Omri. Sementara dalam prasasti Aram, Israel utara disebut sebagai “rumah Omri”.  Sedangkan dalam prasasti Asyur, Yehu, raja Israel setelah Omri, disebut sebagai “anak  Omri”, sekalipun tidak demikian halnya. Ini berarti bahwa bagi orang Asyur, raja-raja Israel kemudian hanyalah penerus Omri, raja tersukses Israel.

Hal-hal ini semua menunjukkan pengaruh dan kebesaran Omri, yang dikenal luas oleh bangsa-bangsa lain di luar Israel.

 

5. Yerobeam II (Raja Israel Utara)

Yerobeam adalah raja Israel utara dari keturunan Yehu, salah satu pendiri dinasti kerajaan Israel utara.

Dia disebut Yerobeam II untuk membedakannya dengan raja pertama Israel Utara, yang juga bernama Yerobeam. Dan Yerobeam raja pertama Israel Utara ini juga sering disebut sebagai Yerobeam I.

Yerobeam II menjadi raja Israel menggantikan ayahnya, Yoas.

Yerobeam II adalah raja Israel Utara tersukses bersama dengan Omri. Ia memerintah di Samaria cukup lama, 41 tahun. Dengan demikian, Yerobeam adalah raja Israel utara paling lama memerintah.

Alkitab hanya mencatat sedikit kisah Yerobeam. Namun di situ dicatat tentang satu pencapaian penting bangsa Israel di bawah kepemimpinan raja Yerobeam.

Dikatakan bahwa pada masa pemerintahan Yerobeam, wilayah kerajaan Israel berhasil dikembalikannya dari jalan masuk ke Hamat sampai ke Laut Araba, sesuai dengan firman Tuhan yang disampaikanNya melalui hambaNya, nabi Yunus bin Amitai.

Hal ini berarti bahwa wilayah Israel menjadi sama seperti pada saat Tuhan janjikan kepada Musa (Bilangan 34:7-8).

Tentu hal ini dilakukan oleh raja Yerobeam melalui jalan peperangan yang berhasil mengalahkan musuh-musuhnya.

Namun seperti ayah dan nenek moyangnya, Yerobeam adalah seorang raja yang jahat, yang terlibat dalam penyembahan berhala dan yang mengakibatkan rakyat Israel turut dalam kejahatannya itu.

Setelah Yerobeam mati, maka kedudukannya sebagai raja Israel digantikan oleh anaknya, Zakharia (2 Raja-raja 14:23-29).

Ketika Zakharia mati, maka dinasti Yehu pun berhenti memerintah di Israel. Pemerintahan kemudian beralih ke raja-raja dari keluarga lain. Hal itu sesuai dengan firman Tuhan, bahwa pemerintahan dinasti Yehu akan berhenti pada keturunannya yang keempat (2 Raja-raja 15:8-12).

 

6. Yosafat (Raja Yehuda)

Yosafat berusia 35 tahun saat ia menjadi raja Yehuda dan ia memerintah selama 25 tahun (2 Tawarikh 20:31).

Ketika Yosafat menjadi raja Yehuda menggantikan ayahnya, Asa, hal pertama yang dilakukannya adalah memperkuat wilayah Yehuda dari serangan musuh. Ia menempatkan tentara di semua kota yang berkubu di Yehuda dan pasukan-pasukan pendudukan di tanah Yehuda serta di kota-kota Efraim yang direbut oleh ayahnya dari orang Israel.

Yosafat juga membangun benteng-benteng dan kota-kota perbekalan di seluruh kerajaan Yehuda, sehingga stok makanan di wilayah kerajaannya tetap terjamin (2 Tawarikh 17:1-2, 12-19).

Salah satu terobosan yang dilakukan Yosafat semasa pemerintahannya adalah menata sistem pengadilan di Yehuda, yang sebelumnya tidak pernah terjadi di seluruh Israel dan Yehuda. Pengadilan yang selama ini hanya terpusat di Yerusalem, sekarang ada di tiap wilayah atau kota di seluruh Yehuda.

Yosafat juga memisahkan hukum keagamaan dan hukum sipil (2 Tawarikh 19:4-11). Ini terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah bangsa Israel dan bangsa Yehuda, walaupun hal ini tetap berdasarkan aturan dalam Taurat yang telah diberikan Tuhan kepada Musa (Ulangan 17:9, 12).

Terobosan lain dari Yosafat adalah mengangkat para pengajar untuk mengajarkan firman Tuhan di seluruh wilayah Yehuda. Ia tidak hanya menyerahkan tugas pengajaran ini kepada orang-orang Lewi atau imam-imam, yang jumlahnya sangat terbatas (2 Tawarikh 17:7-9).

Yosafat dikenal sebagai seorang raja yang saleh, yang mengikuti jejak kesalehan Daud, nenek moyangnya. Ia mencari Tuhan dengan segenap hatinya, seperti ayahnya, Asa (2 Tawarikh 20:32).

Karena kesalehannya, maka Yosafat diberkati Tuhan dengan luar biasa. Tuhan mengokohkan kerajaannya. Bahkan orang Filistin dan orang Arab membawa upeti kepada Yosafat (2 Tawarikh 17:10-11).

(untuk selengkapnya, silakan baca: 7 Fakta Tentang Raja Yosafat)

 

7. Hizkia (Raja Yehuda)

Hizkia adalah salah satu raja Yehuda dan Israel utara yang paling banyak dicatat kisahnya di Alkitab. Karenanya kita mendapat banyak informasi seputar hidup Hizkia dan masa pemerintahannya.

Hizkia terkenal sebagai raja yang saleh dan takut akan Tuhan. Ia juga dikenal sebagai reformator, yang melakukan reformasi keagamaan di kerajaan Yehuda.

Reformasi agama jugalah yang pertama dilakukan oleh Hizkia setelah ia dilantik menjadi raja Yehuda, menggantikan ayahnya, Ahas.

Ahas, ayah Hizkia, adalah seorang raja yang jahat. Ia menutup Bait Allah dan mendirikan mezbah-mezbah berhala di segala penjuru Yerusalem.

Karena itu Hizkia membuka kembali Bait Allah dan memerintahkan para imam dan orang-orang Lewi untuk menguduskannya. Mereka juga diperintahkannya untuk mempersembahkan kembali korban-korban di Bait Allah (2 Tawarikh 29:1-36).

Selain itu, Hizkia juga merayakan Hari Raya Paskah bersama seluruh rakyat Yehuda. Ia mengajak rakyat Yehuda percaya kepada Tuhan serta meninggalkan penyembahan berhala. Dan seluruh rakyat yang hadir di hari Paskah ini merobohkan tugu-tugu berhala di seluruh Yehuda (2 Tawarikh 30:1-31:1).

Hizkia juga mengatur rombongan para imam dan orang-orang Lewi untuk melayani di Bait Allah, serta memperhatikan keperluan keuangan mereka (2 Tawarikh 31:2-21).

Karena kesalehannya ini, maka Hizkia selalu disertai Tuhan.

Tatkala Hizkia dan Yehuda diancam oleh Sanherib, raja Asyur, maka Hizkia berdoa kepada Tuhan sehingga Yehuda diluputkanNya (2 Tawarikh 32:1-23).

Dan ketika Hizkia jatuh sakit dan divonis nabi Yesaya akan mati, Hizkia berdoa kepada Tuhan sambil menangis agar ia disembuhkanNya. Tuhan menyembuhkan Hizkia dan memperpanjang umurnya 15 tahun lagi (2 Raja-raja 20:1-11).

Hizkia juga diberkati Tuhan dengan kekayaan, sehingga ia adalah salah satu dari 10 Tokoh Alkitab Paling Kaya.

Namun sayang, kekayaan yang diperoleh Hizkia dari Tuhan, justru menjadi sumber kehancurannya di kemudian hari.

Hal ini terjadi ketika Hizkia memamerkan segala harta kekayaannya di dalam istananya kepada utusan-utusan raja Babel yang datang menemuinya.

Maksud Hizkia menunjukkan harta kekayaannya kepada utusan-utusan raja Babel adalah untuk membuktikan kepada raja Babel bahwa ia adalah sekutu yang layak diperhitungkan oleh raja Babel.

Dengan demikian Hizkia telah mengandalkan kekuatan Babel dalam menghadapi musuh, bukan lagi mengandalkan Tuhan.

Itulah sebabnya Tuhan murka kepada Hizkia, Ia mengatakan bahwa orang-orang Babel akan datang menyerang Yehuda dan mengangkut segala harta kekayaan Hizkia (2 Raja-raja 20:12-21).

Setelah Hizkia mati, ia digantikan oleh anaknya, Manasye, salah satu raja Yehuda paling jahat.

 

8. Asa (Raja Yehuda)

Raja Asa adalah ayah raja Yosafat (lihat poin 3 di atas).

Asa memerintah selama 41 tahun.

Asa termasuk raja yang banyak melakukan pembangunan di Yehuda. Ia membangun kota-kota benteng dan mengelilinginya dengan menara-menara beserta pintu-pintunya dan palang-palangnya (2 Tawarikh 14:6-7).

Awalnya Asa adalah raja yang saleh, yang hidup mengandalkan Tuhan. Ia merobohkan tugu-tugu berhala di seluruh Yehuda, bahkan ia memecat neneknya dari permaisuri karena ikut menyembah berhala.

Ia juga melakukan reformasi agama di Yehuda, seperti yang dilakukan oleh Hizkia, dengan mengajak rakyat Yehuda untuk percaya kepada Tuhan sepenuhnya. Apalagi raja Asa didorong oleh nabi Oded (2 Tawarikh 15:1-19).

Suatu ketika orang Etiopia datang menyerang Yehuda dengan laskar yang sangat besar, 1 juta orang!

Raja Asa menghadapi orang Etiopia itu dengan jumlah laskar Yehuda dan Benyamin, hanya separoh dari jumlah laskar Etiopia. Namun atas pertolongan Tuhan, bangsa Yehuda bisa mengalahkan bangsa Etiopia dan menimbulkan kekalahan yang sangat besar di pihak musuh (2 Tawarikh 14:8-15).

Namun ketika kerajaan Israel utara datang hendak menyerbu Yehuda, raja Asa melakukan blunder.  Asa tidak mencari pertolongan Tuhan, tetapi justru menyogok raja Aram dengan emas dari Bait Allah agar ia menyerang Israel utara.

Raja Aram menyerang Israel sehingga bangsa Israel akhirnya tidak jadi menyerang Yehuda. Yehuda pun aman dari ancaman Israel.

Namun Tuhan marah atas tindakan raja Asa tersebut. Lewat nabiNya, Hanani, Ia menegur Asa. Namun Asa bukannya sadar, ia malah memenjarakan nabi Hanani (2 Tawarikh 16:1-10).

Asa menderita sakit di kedua kakinya hingga ia meninggal. Sangat mungkin hal itu merupakan hukuman Tuhan kepadanya. Namun, alih-alih mencari pertolongan Tuhan, raja Asa justru mencari pertolongan para dukun (2 Tawarikh 16:11-12).

Kendati demikian, raja Asa tetaplah raja Yehuda yang hebat. Ketika ia meninggal, orang Yehuda membaringkannya di atas petiduran yang penuh dengan rempah-rempah, lalu menyalakan api yang besar untuk menghormatinya (2 Tawarikh 16:13-14).

Hal ini bisa dibandingkan dengan raja Yoram, yang ketika matinya tidak dinyalakan api sebagai bentuk dari ketidakhormatan rakyat kepadanya (2 Tawarikh 21:19-20).

 

9. Yosia (Raja Yehuda)

Yosia adalah raja Yehuda yang saleh. Ia adalah anak Amon, raja Yehuda yang sangat jahat.

Yosia menjadi raja Yehuda ketika ia masih berusia 8 tahun! Dan ia memerintah selama 31 tahun.

Pada tahun ke-12 pemerintahannya, Yosia mulai mentahirkan Yehuda dari penyembahan berhala yang berkembang subur pada masa pemerintahan ayahnya, Amon.

Mezbah-mezbah para Baal dirobohkan di hadapannya; ia menghancurkan pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya; ia meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan korban kepada berhala-berhala itu (2 Tawarikh 34:1-7).

Yosia memang dikenal sebagai tokoh pembaharu. Ia melakukan reformasi keagamaan yang besar di kerajaan Yehuda. Reformasi yang dilakukannya jauh lebih luas dan lebih dalam daripada reformasi yang dilakukan oleh Hizkia dan Asa.

Reformasi ini bermula saat imam besar Hilkia menemukan kitab Taurat di Bait Allah pada tahun ke-18 pemerintahan Yosia. Ketika raja membaca hukuman Tuhan dalam kitab tersebut, maka ia pun merendahkan dirinya, berkabung dan menangis di hadapan Tuhan.

Lalu ia mengutus beberapa orang untuk meminta petunjuk Tuhan kepada nabiah Hulda, satu dari 7 Nabi Perempuan Di Alkitab.

Nabiah Hulda mengatakan bahwa Tuhan akan menghukum orang-orang Yehuda karena mereka telah meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala. Tetapi raja Yosia tidak akan melihat hukuman Tuhan tersebut, sebab Yosia telah merendahkan diri di hadapanNya ketika ia membaca hukuman Tuhan dalam Taurat tersebut.

Mendengar jawaban nabiah Hulda ini, maka Yosia bersama rakyat Yehuda mengikat perjanjian dengan Tuhan, mereka berkomitmen untuk kembali kepada Tuhan, hidup menurut firmanNya, dan meninggalkan penyembahan berhala (2 Tawarikh 34:8-33).

Lalu, seperti halnya Hizkia, Yosia juga merayakan Paskah kembali dengan rakyat Yehuda. Ini adalah perayaan Paskah terbesar sejak zaman nabi Samuel (2 Tawarikh 35:1-19).

Pemerintahan Yosia jarang disebut, di luar reformasi keagamaan yang dilakukannya. Kendati demikian, dari Yeremia 22:15-16 dapat disimpulkan bahwa Yosia memerintah Yehuda secara adil dan benar.

Namun sayang, cara mati Yosia dianggap cukup konyol untuk raja saleh seperti dia.

Raja Mesir, Nekho, datang ke sungai Efrat untuk berperang melawan raja Asyur. Dan Yosia mendatanginya, seolah-olah ingin menantang. Mungkin ia salah paham sehingga mengira Mesir ingin menyerangnya.

Kendati telah diperingatkan oleh raja Mesir, Yosia tetap nekat maju ke medan tempur sehingga ia tewas dipanah di Megido. Raja yang saleh itu pun seolah mati sia-sia.

Kematian Yosia menimbulkan dukacita mendalam bagi bangsa Yehuda. Nabi Yeremia sendiri menulis satu ratapan khusus atas kematian Yosia. Dan orang-orang Israel selalu menyanyikan ratapan tersebut untuk mengenang Yosia (2 Tawarikh 35:20-27).

Yosia adalah raja Yehuda terakhir yang saleh. Raja-raja Yehuda setelah dia tidak ada lagi yang saleh, hingga bangsa Babel datang menyerang Yehuda dan membuang penduduknya ke Babel.

 

10. Saul (Raja Israel Bersatu)

Saul adalah raja pertama Israel. Ia memerintah selama 40 tahun (Kisah Para Rasul 13:21), seperti halnya Daud dan Salomo.

Pada awal pemerintahannya sebagai raja Israel, Saul terlihat menjanjikan. Ia memimpin pasukan Israel untuk memerangi bani Amon ketika mereka mengancam Yabesh-Gilead. Dan Saul berhasil mengalahkan bangsa Amon tersebut (1 Raja-raja 11:1-15).

Kemudian kebesaran Saul sebagai raja Israel digambarkan dalam 1 Samuel 14:47,

“Setelah Saul mendapat jabatan raja atas Israel, maka berperanglah ia ke segala penjuru melawan segala musuhnya: melawan Moab, bani Amon, Edom, raja-raja negeri Zoba dan orang Filistin. Dan ke mana pun ia pergi, ia selalu mendapat kemenangan.”

Setelah itu, hidup Saul mulai memasuki antiklimaks, yang dialaminya hingga kematiannya.

Hal ini bermula dari ketidak-taatannya kepada Tuhan, sehingga ia ditolakNya sebagai raja Israel. Ia terbukti dua kali tidak taat kepada Tuhan.

Pertama, tentang barang jarahan dari bangsa Amalek serta raja Amalek yang tidak dihabisinya sebagaimana diperintahkan Tuhan (1 Samuel 13).

Kedua, ketika ia tidak sabar menunggu nabi Samuel untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, ketika orang Filistin datang meyerang Saul dan Israel (1 Samuel 15).

Setelah Saul Tuhan tolak sebagai raja Israel, maka Ia pun mengurapi Daud menjadi raja menggantikannya, sekalipun secara de facto, Saul tetap menjadi raja Israel seumur hidupnya.

Sisa hidup Saul sangat memprihatinkan. Ia lebih banyak melakukan pengejaran kepada Daud, raja Israel yang baru, sementara ia terus berperang melawan orang Filistin.

Akhir hidup raja Saul sangat tragis, ia harus mati bunuh diri di dalam pertempuran melawan orang Filistin karena Tuhan telah meninggalkannya. (Baca: 7 Tokoh Alkitab Yang Mati Bunuh Diri)

Segala kebesaran Saul yang pernah dicapainya seperti hilang seketika.

Kendati demikian, terlepas dari dosa dan ketidak-ketaannya kepada Tuhan, harus diakui bahwa Saul masih termasuk sebagai salah satu raja terbesar yang pernah dimiliki oleh bangsa Israel.

 

Itulah 10 raja Israel/Yehuda terbesar di Alkitab.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

 

 

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!