Loading...

10 Tokoh Alkitab Yang Melanggar HAM

Loading...

Artikel ini berisi tentang 10 tokoh Alkitab yang melanggar HAM (Hak Asasi Manusia).

Hak Asasi Manusia (HAM) saat ini merupakan isu-isu yang menjadi perhatian bagi banyak orang di seluruh dunia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri aktif mendorong pemerintah negara-negara anggotanya untuk memperjuangkan HAM di negaranya masing-masing.

Demikian juga dengan tokoh-tokoh atau para aktivis di berbagai negara, dengan giat mereka memperjuangkan HAM bagi setiap warganegaranya.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Yang Memperjuangkan Keadilan Dan HAM

Hak Asasi Manusia adalah hak paling mendasar/hakiki dari manusia, seperti: hak untuk hidup, hak untuk memiliki kekayaan pribadi, hak untuk mendapat upah yang layak dalam pekerjaan.

Lalu, hak untuk mendapat perlakuan yang setara dengan  orang lain/tidak mengalami diskriminasi, hak untuk diperlakukan secara adil di depan hukum, dan hak untuk menganut sebuah keyakinan/agama.

Alkitab juga banyak menyoroti Hak Asasi Manusia. Sebab Tuhan itu maha pengasih, yang menginginkan manusia ciptaanNya, khususnya orang yang percaya kepadaNya, untuk memperoleh hak asasinya serta diperlakukan secara adil.

Baca juga: 7 Tokoh Anti Korupsi Di Alkitab

Itulah sebabnya Alkitab banyak mengecam para penguasa dan orang kaya yang tidak adil, yang menindas dan memperkosa hak-hak orang lemah, seperti orang asing, orang miskin, janda, dan anak yatim-piatu.

Selain itu, Alkitab juga banyak mencatat para tokoh yang melanggar HAM. Mereka umumnya adalah para penguasa, seperti raja, ataupun para majikan.

Artikel kali ini akan membahas tentang 10 tokoh Alkitab yang melanggar HAM atau Hak Asasi Manusia.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Yang Tidak Taat

Mereka terdiri dari orang yang percaya Tuhan dan orang yang tidak percaya Tuhan, baik di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru.

Lalu siapa sajakah tokoh-tokoh Alkitab yang melanggar HAM tersebut? Berikut pembahasannya.

 

1. Abimelekh

Tokoh Alkitab pertama yang melanggar HAM adalah Abimelekh, raja orang Filistin.

Ketika terjadi kelaparan di Tanah Kanaan, Ishak anak Abraham pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin.

Di Gerar penyertaan dan pemeliharaan Tuhan sungguh nyata dalam hidup Ishak. Ishak mulai menabur di situ dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat!

Ishak mempunyai banyak ternak dan anak buah. Ishak bahkan menjadi orang yang lebih berkuasa di Gerar, sekalipun ia adalah seorang pendatang.

Hal ini membuat orang-orang Filistin iri hati kepada Ishak sehingga Abimelekh mengusirnya dari negeri mereka.

Jelas ini adalah sebuah pelanggaran HAM.

Sebab adalah hak setiap orang untuk mendapat kekayaan pribadi, yang diperolehnya secara benar.

Maka pergilah Ishak ke lembah Gerar.

Kendati di sini Ishak masih mendapat perlawanan dari orang-orang Gerar perihal sumur, Tuhan menyertai Ishak dan memberinya sumur yang lebih baik.

Bahkan kemudian Raja Abimelekh dan kepala pasukannya datang kepada Ishak setelah mereka mengusirnya. Sebab mereka telah melihat Tuhan menyertai dan memelihara hidup Ishak.

Mereka pun mengadakan perjanjian damai dengan Ishak serta tidak saling bermusuhan (Kejadian 26:1-31).

 

2. Laban

Tokoh Alkitab kedua yang melanggar HAM adalah Laban, saudara ipar Ishak.

Suatu ketika Ishak dan Ribka, adik perempuan Laban,  berpesan kepada Yakub anak mereka, agar ia pergi mencari seorang istri ke rumah Laban.

Yakub jatuh cinta kepada Rahel, anak perempuan Laban. Maka Laban berkata kepada Yakub agar ia bekerja padanya selama 7 tahun untuk mendapatkan Rahel.

Tetapi setelah Yakub bekerja pada Laban selama 7 tahun,  Laban justru memberikan Lea, kakak Rahel kepada Yakub sebagai istrinya. Padahal Yakub menginginkan Rahel, bukan Lea.

Maka Laban berkata kepada Yakub bahwa ia akan memberikan Rahel kepadanya asal ia bekerja selama 7 tahun lagi untuk Laban.

Yakub pun berbuat demikian, sehingga ia harus bekerja selama 14 tahun untuk Laban demi mendapat Rahel.

Namun ketika Yakub hendak pulang ke rumah ayahnya beserta kedua istri dan anak-anaknya, Laban tidak mengizinkannya.

Laban meminta Yakub untuk tinggal lagi padanya dan berjanji akan memberikan Yakub ternak.

Yakub terpaksa bekerja pada Laban 6 tahun lagi, sehingga total 20 tahun ia tinggal di negeri mertuanya itu. Dan selama itu kekayaan Laban bertambah-tambah karena Yakub.

Tetapi Laban berbuat curang dengan upah Yakub yang bekerja padanya. Sebab ia telah 10 kali mengubah-ubah upah Yakub yang telah mereka sepakati sebelumnya, yang jelas merugikan Yakub.

Namun selama di rumah mertuanya, Yakub bekerja keras sehingga ia menjadi kaya, sebab Tuhan menyertai Yakub.

Setelah mendapat sikap yang tidak baik dari Laban dan saudara-saudara iparnya, Yakub pun melarikan diri dari mertuanya dengan membawa kedua istri, anak-anak, budak, dan segala kekayaannya.

Laban pun pergi menyusul Yakub, tetapi akhirnya  mereka sepakat membuat perjanjian damai. (Kejadian 29-31).

Dengan mengubah-ubah upah Yakub dan menahannya untuk tidak pergi, Laban telah memperbudak Yakub, dan jelas ini adalah pelanggaran HAM.

 

3. Firaun

Tokoh Alkitab lainnya yang melanggar HAM adalah Firaun, raja Mesir.

Firaun adalah sebutan umum bagi raja Mesir, dan Firaun yang dimaksud di sini adalah raja Mesir pada zaman Musa.

Awalnya, ketika Yusuf anak Yakub berkuasa di Mesir, bangsa Israel diperlakukan oleh raja Mesir, Firaun, dengan baik.

Tetapi setelah Yusuf meninggal, dan raja Mesir yang baru tampil berkuasa (yang juga disebut sebagai Firaun), maka keadaan orang Israel menjadi memburuk.

Mereka ditindas oleh Firaun dengan sangat, serta diharuskan untuk bekerja paksa.

Dan karena orang Israel semakin bertambah banyak, maka Firaun berikhtiar untuk membunuh bayi laki-laki Israel agar mereka tidak bertambah banyak dan akibatnya memberontak kepada bangsa Mesir.

Jadi Firaun memerintahkan agar bidan-bidan yang membantu perempuan Ibrani/Israel melahirkan, langsung membunuh bayi-bayi tersebut jika mereka laki-laki.

Tetapi bidan-bidan itu, adalah orang-orang yang takut akan Tuhan, karena itu mereka tidak mau membunuh bayi-bayi Israel itu.

Hal ini membuat raja Firaun murka sehingga ia memerintahkan kepada seluruh rakyat Mesir untuk melemparkan seluruh bayi-bayi laki-laki Israel ke sungai Nil (Keluaran 1:15-22).

Jelas ini adalah pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia.

Sebab adalah hak bayi-bayi bangsa Israel untuk hidup, sekalipun di tanah perbudakan. Dan adalah tidak adil untuk membunuh bayi-bayi yang tidak berdosa, apalagi demi ambisi politik Firaun yang takut jika bangsa Israel akan memberontak kepadanya.

 

4. Ahab

Ahab adalah raja Israel Utara selama 22 tahun. Namun selama periode tersebut hanya kejahatan yang dilakukannya.

Alkitab berkata bahwa Ahab lebih jahat daripada semua raja Israel yang mendahuluinya (1 Raja-raja 16:29-34).

Kejahatan Ahab ini terutama dipengaruhi oleh istrinya, Izebel, yang merupakan perempuan Sidon penyembah dewa baal.

Salah satu kejahatan Ahab adalah membunuh Nabot (rakyat Ahab sendiri) secara licik karena menginginkan kebunnya. Ini pun karena dorongan istrinya, Izebel.

Ahab sangat menginginkan kebun anggur Nabot, yang berdekatan dengan istana Ahab. Ahab ingin membelinya atau menukarnya dengan kebun lain.

Tetapi Nabot tidak mau memberikannya kepada Ahab, sebab itu adalah milik pusaka nenek moyangnya.

Hal ini membuat Ahab sangat jengkel.

Ketika Ahab menceritakan hal itu kepada istrinya, Izebel, maka istrinya menyusun siasat busuk untuk membunuh Nabot dan mengambil kebun miliknya.

Izebel memerintahkan para tua-tua di Yizreel, di kotanya Nabot, untuk mengadili Nabot.

Mereka disuruhnya menyediakan dua saksi palsu melawan Nabot dengan tuduhan sebagai orang yang mengutuki Allah dan raja, lalu melemparinya hingga mati.

Para tua-tua di kota Nabot itu menuruti perintah istri raja yang jahat.

Setelah Nabot tewas, Ahab pun mengambil kebun anggur Nabot menjadi miliknya.

Jelas ini adalah pelanggaran HAM, menyerobot hak milik orang lain dengan kelicikan dan kekerasan.

Akibat dosanya ini, dan dosa-dosa yang lain, Ahab dan keluarganya pun mendapat hukuman yang sangat mengerikan, yang disampaikan oleh nabi Elia (1 Raja-raja 21).

Tuhan memunahkan keluarga Ahab melalui Yehu, yang kemudian menjadi raja Israel Utara (lihat poin 5 di bawah).

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!