Loading...
Loading...

10 Tokoh Alkitab Yang Memperjuangkan Keadilan Dan HAM

Artikel ini berisi tentang 10 tokoh Alkitab yang memperjuangkan keadilan dan HAM atau Hak Asasi Manusia.

Keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM) saat ini merupakan isu-isu yang menjadi perhatian bagi banyak orang di seluruh dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri aktif mendorong pemerintah negara-negara anggotanya untuk memperjuangkan keadilan dan HAM di negaranya masing-masing.

Demikian juga dengan tokoh-tokoh atau para aktivis di berbagai negara dengan giat memperjuangkan keadilan dan HAM bagi setiap warganegara.

Keadilan dan Hak Asasi Manusia adalah dua hal yang sangat terkait. Keadilan terutama berbicara tentang masalah-masalah di bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, dan kesehatan. Setiap orang diharapkan dapat memperoleh keadilan dalam berbagai bidang kehidupan tersebut.

Baca juga: 12 Pahlawan Iman Dalam Alkitab

Sedangkan Hak Asasi Manusia adalah hak paling mendasar/hakiki dari manusia, seperti hak untuk hidup, hak untuk menyuarakan pendapat, dan hak untuk menganut sebuah keyakinan/agama tertentu serta beribadah sesuai dengan keyakinan tersebut dengan rasa aman dan nyaman.

Alkitab juga banyak menyoroti tentang keadilan dan Hak Asasi Manusia. Sebab Tuhan itu maha pengasih, yang menginginkan manusia ciptaanNya, khususnya orang yang percaya kepadaNya, untuk memperoleh hak asasinya serta diperlakukan secara adil.

Baca juga: 15 Tokoh Alkitab Yang Murah Hati

Itulah sebabnya Alkitab banyak mengecam para penguasa dan orang kaya yang tidak adil, yang menindas dan memperkosa hak-hak orang lemah, seperti orang miskin, janda, dan anak yatim/piatu.

Di sisi lain, Alkitab juga banyak mencatat para tokoh yang memperjuangkan keadilan dan HAM bagi sesamanya. Mereka memperjuangkan keadilan dan HAM terhadap orang-orang yang tidak adil, seperti para raja dan pengusa yang lalim.

Artikel kali ini akan membahas tentang 10 tokoh Alkitab yang memperjuangkan keadilan dan Hak Asasi Manusia.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Yang Mengampuni

Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan, dari berbagai latar belakang yang berbeda, baik di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru.

Jumlah mereka sebenarnya lebih dari 10 orang, tetapi karena beberapa di antara mereka memperjuangkan “perkara” yang sama, maka mereka dianggap 10 orang.

Lalu siapa sajakah tokoh-tokoh Alkitab yang memperjuangkan keadilan dan HAM tersebut? Berikut pembahasannya.

1. Sifra Dan Pua

Sifra dan Pua adalah bidan-bidan di Mesir yang menolong para perempuan Israel untuk bersalin.

Bangsa Israel diperbudak di Mesir selama 400 tahun dan mereka diperlakukan dengan tidak adil.

Awalnya, ketika Yusuf anak Yakub berkuasa di Mesir, bangsa Israel diperlakukan oleh raja Mesir, Firaun, dengan baik. Tetapi setelah Yusuf meninggal, dan raja Mesir yang baru tampil berkuasa (yang juga disebut sebagai Firaun), maka keadaan orang Israel menjadi memburuk.

Mereka diharuskan oleh raja Firaun untuk bekerja paksa.

Dan karena orang Israel semakin bertambah banyak, maka Firaun berikhtiar untuk membunuh bayi laki-laki Israel agar mereka tidak bertambah banyak dan akibatnya memberontak kepada bangsa Mesir.

Jadi Firaun memerintahkan agar bidan-bidan yang membantu perempuan Ibrani/Israel melahirkan, yakni Sifra dan Pua, langsung membunuh bayi-bayi tersebut jika mereka laki-laki.

Tetapi kedua bidan itu, yakni Sifra dan Pua, adalah orang-orang yang takut akan Tuhan, karena itu mereka tidak mau membunuh bayi-bayi Israel itu.

Ketika Firaun memanggil Sifra dan Pua serta mempertanyakan tindakan mereka tersebut, maka Sifra dan Pua berkata bahwa perempuan-perempuan Israel/Ibrani sangat kuat, tidak seperti perempuan-perempuan Mesir; sebelum bidan-bidan datang mereka sudah bersalin/melahirkan.

Hal ini membuat raja Firaun murka sehingga ia memerintahkan kepada seluruh rakyat Mesir untuk melemparkan seluruh bayi-bayi laki-laki Israel ke sungai Nil.

Karena tidak mau melakukan perintah Firaun untuk membunuh bayi-bayi Israel, maka n memberkati Sifra dan Pua serta membuat mereka berumah tangga (Keluaran 1:15-22).

Jelas Sifra dan Pua adalah para pejuang keadilan dan Hak Asasi Manusia.

Sebab adalah hak bayi-bayi bangsa Israel untuk hidup, sekalipun di tanah perbudakan. Dan adalah tidak adil untuk membunuh bayi-bayi yang tidak berdosa, apalagi demi ambisi politik Firaun yang takut jika bangsa Israel akan memberontak kepadanya.

Alkitab tidak menyebutkan apakah Sifra dan Pua adalah orang Israel atau orang Mesir. Yang jelas perbuatan mereka itu menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang takut akan Tuhan dan mengasihi sesama manusia.

2. Musa

Musa lahir di Mesir, di mana orang Israel berada di bawah perbudakan orang Mesir.

Karena Firaun telah memerintahkan agar bayi laki-laki Israel dilemparkan ke sungai Nil (lihat poin 1 di atas), maka orang tua Musa menyembunyikannya selama tiga bulan.

Kemudian, karena tidak dapat lagi menyembunyikan Musa lebih lama, maka orang tua Musa memasukkan bayi Musa di dalam sebuah peti dan menaruhnya ke sungai Nil. Dan kakaknya, Miryam, mengawasinya dari tempat yang agak jauh agar diambil oleh putri Firaun.

Ketika putri raja Firaun mandi di sungai Nil, maka ia melihat bayi Musa dan mengambilnya. Musa kemudian menjadi anak angkat putri Firaun hingga ia berusia 40 tahun.

Setelah itu Musa keluar istana Firaun untuk menemui teman sebangsanya yang sedang menjalankan kerja paksa.

Tampaklah di sini bahwa sekalipun Musa diangkat anak oleh putri Firaun di dalam istana, namun Musa sadar bahwa dia bukanlah orang Mesir, tetapi orang Israel yang sedang ditindas bangsa Mesir!

Jadi Musa punya rasa nasionalisme yang tinggi sehingga ia memperjuangkan keadilan bagi teman sebangsanya yang sedang diperbudak di negeri orang.

Karena itu, ketika Musa melihat seorang Mesir memukul seorang Israel, ia membelanya dengan membunuh orang Mesir tersebut dan menyembunyikan mayatnya di dalam pasir.

Lalu ketika dua orang sesama Israel berkelahi, Musa melerai mereka. Ia menegur orang yang bersalah, yang memukul temannya itu (di sini juga terlihat Musa ingin menegakkan keadilan!)

Tetapi orang tersebut tidak mendengarkan Musa, malahan ia menyinggung pembunuhan yang dilakukan oleh Musa terhadap orang Mesir tersebut.

Ketika Firaun mendengar hal tersebut, maka ia pun berikhtiar untuk membunuh Musa. Mendengar hal itu, takutlah Musa lalu ia pergi ke Midian (Keluaran 2:11-15).

Musa tinggal di Midian dan bekerja sebagai gembala kambing-domba mertuanya selama 40 tahun, hingga Tuhan memanggilnya untuk membawa umatNya, Israel, keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian.

3. Putri-Putri Zelafehad

Putri-putri Zelafehad adalah 5 perempuan dari seorang laki-laki bernama Zelafehad dari suku Manasye (Yusuf).

Kelima putri Zelafehad ini adalah: Mahla, Noa, Hogla, Milka, dan Tirza.

Mereka berlima datang kepada Musa dan para pemimpin Israel lainnya untuk memperjuangkan hak-hak mereka sebagai perempuan.

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!