10 Tokoh Alkitab Yang Memperjuangkan Keadilan Dan HAM

 6. Mordekhai Dan Ester

Mordekhai adalah seorang Yahudi yang berada di pembuangan di Persia (Babel, ke mana orang Yahudi dibuang, telah ditaklukkan oleh Persia).

Sedangkan Ester adalah saudara sepupu Mordekhai, yang kemudian mengangkat Ester sebagai anak.

Setelah ratu Wasti dibuang, maka diadakanlah sebuah kontes untuk mencari penggantinya. Setelah melalui seleksi yang ketat, dan dengan campur tangan Tuhan, Ester akhirnya terpilih sebagai ratu baru di Persia. Tetapi, atas saran Mordekhai, Ester menyembunyikan asal-usulnya sebagai seorang Yahudi (Ester 2:1-18).

Suatu waktu, ketika Haman, pejabat tertinggi di bawah raja Ahasyweros lewat, semua orang memberi hormat dan sujud kepadanya. Tetapi Mordekhai tidak memberi hormat kepada Haman dan tidak sujud kepadanya (karena sebagai orang Yahudi Mordekhai merasa tidak boleh sujud kepada manusia).

Akibatnya, Haman sangat benci kepada Mordekhai. Haman berencana untuk membunuh Haman, bahkan segenap bangsanya, orang Yahudi! (Ester 3:1-15).

Jelas orang Yahudi dalam bahaya. Orang Yahudi terancam punah di seluruh kerajaan Persia. Maka Mordekhai pun berkabung.

Kemudian Mordekhai bangkit. Ia berusaha untuk melakukan pembelaan bagi bangsanya, agar terhindar dari rencana jahat Haman.

Mordekhai memberi pesan kepada Ester di istana agar ia meminta campur tangan raja Persia, Ahasyweros, untuk menggagalkan rencana Haman tersebut.

Ester mengatakan kepada Mordekhai bahwa siapa pun tidak boleh menghadap raja tanpa dipanggil terlebih dahulu, karena hukuman mati adalah ganjarannya. Dan Ester berkata bahwa sudah satu bulan ia belum pernah dipanggil oleh raja.

Mendengar hal itu Mordekhai pun menjawab Ester bahwa sekalipun Ester berada di istana, dia pun akan binasa, sementara pertolongan akan datang kepada Yahudi.

Merespons perkataan Mordekhai itu Ester pun ambil resiko. Ia rela menghadap raja Ahasyweros biar pun tidak dipanggil. Ester sudah siap mati seandainya raja tidak berkenan kepadanya. Ester hanya meminta agar Mordekhai dan orang-orang Yahudi berpuasa baginya, Ester sendiri pun akan berpuasa selama tiga hari.

Pada hari ketiga Ester pun masuk menghadap raja. Dan ternyata raja berkenan kepadanya, bahkan berjanji akan mengabulkan apa pun permintaan Ester.

Lalu Ester memberitahu rencana jahat Haman terhadap orang Yahudi. Maka Ahasyweros menjadi marah dan menghukum mati Haman. Dengan demikian orang Yahudi pun bisa tetap hidup di seluruh kerajaan Persia. (Ester 5-7).

Mordekhai dan Ester adalah para pejuang keadilan dan HAM/kemanusiaan. Mereka sadar bahwa tidak ada satu ras/bangsa pun di dunia yang boleh dimusnahkan dengan alasan apa pun, apalagi hanya oleh alasan sakit hati kepada satu orang dari ras tersebut, seperti sakit hati Haman terhadap Mordekhai.

7. Nehemia

Nehemia adalah seorang pejabat Juru Minuman raja di kerajaan Persia. Juru Minuman raja merupakan suatu jabatan yang tinggi pada masa itu, sebab semua minuman raja harus diseleksi dulu oleh Juru Minuman raja.

Nehemia adalah seorang yang saleh dan punya kepedulian yang besar kepada bangsanya dan Yerusalem.

Tatkala ia mendengar kabar bahwa saudara-saudara sebangsanya di Yehuda ada dalam kesukaran yang besar dan tembok Yerusalem telah roboh, ia mengoyakkan bajunya sebagai tanda perkabungan serta memohon pengampunan dan pertolongan Allah (Nehemia 1:1-11).

Nehemia juga memberanikan diri menghadap raja Artahsasta, agar ia diutus ke Yehuda untuk memperbaiki tembok Yerusalem yang sudah rusak. Dan raja mengijinkan ia pergi ke Yehuda untuk melakukan tugas tersebut, bahkan memberinya surat kuasa yang mempermudahnya dalam perjalanannya (Nehemia 2:1-20).

Ketika tiba di Yerusalem, maka Nehemia pun mengerahkan orang-orang Yahudi, teman sebangsanya, untuk membangun tembok Yerusalem. Sekalipun mendapat banyak perlawanan, akhirnya pembangunan tembok tersebut dapat mereka selesaikan.

Nehemia kemudian membenahi banyak ketidak-adilan yang terjadi di Yerusalem, di antara sesama orang-orang Yahudi.

Hal pertama, Nehemia memperjuangkan keadilan bagi orang-orang Yahudi yang miskin, yang telah menggadaikan ladang mereka hanya demi makanan. Bahkan anak-anak mereka pun telah menjadi budak sebagai ganti uang yang mereka pinjam.

Mereka juga harus membayar pajak ladang yang tinggi yang dikenakan oleh pemerintah setempat.

Mendengar hal itu maka Nehemia pun marah dan melakukan sidang. Ia meminta orang-orang Yahudi yang kaya dan para pejabat untuk memperhatikan orang yang lemah, dan mengembalikan anak-anak dan ladang gadaian mereka.

Dan mereka menuruti perkataan Nehemia tersebut (Nehemia 1:15).

Nehemia juga memperjuangkan keadilan bagi orang-orang Lewi agar hak-hak mereka terpenuhi.

Tuhan telah memerintahkan agar suku Lewi dibebaskan dari pekerjaan mereka, karena mereka Tuhan tunjuk untuk melayani di Bait Suci, dan sebagai imbalannya adalah mereka menerima persepuluhan dari 11 suku Israel.

Namun peraturan ini dilanggar pada zaman Nehemia. Orang-orang Israel tidak membawa persepuluhan mereka kepada orang-orang Lewi sehingga orang-orang Lewi tersebut meninggalkan pelayanannya dan pergi ke ladang.

Nehemia kemudian memerintahkan orang-orang Yahudi untuk memberikan persepuluhan mereka kepada orang Lewi dan mengembalikan orang-orang Lewi pada tempatnya di Bait Allah (Nehemia 13:10-13).

8. Tuhan Yesus

Tuhan Yesus ketika masih berada di dunia, hidup dan melayani, dikenal sebagai Orang yang membela orang-orang yang lemah, seperti orang-orang yang dicap berdosa (perempuan sundal, pemungut cukai), orang miskin dan para janda.

Tuhan Yesus juga memperjuangkan keadilan bagi orang-orang yang diperlakukan tidak adil, karena mereka dianggap tidak menghormati Hukum Taurat.

Sebagai contoh, ketika murid-murid Yesus lapar, mereka memetik bulir gandum pada hari Sabat, sehingga orang-orang Farisi memprotesNya.

Memang, menurut Hukum Taurat, memetik bulir gandum di ladang orang diperbolehkan (Ulangan 23:25). Tetapi melakukannya di Hari Sabat dilarang dalam tradisi Israel yang kemudian, karena para rabi Yahudi menafsirkannya sebagai “bekerja”, sehingga melanggar Keluaran 31:14, larangan tentang bekerja di hari Sabat.

Dalam menanggapi hal ini Tuhan Yesus membela murid-muridNya. Ia memberi dua contoh kasus dari hidup bangsa Israel. Pertama, tentang Daud, yang memakan roti sajian yang sebenarnya hanya boleh dimakan oleh para imam (1 Samuel 21:1-6), namun orang Israel tidak menganggap Daud bersalah.

Kedua, kasus imam-imam Israel yang senantiasa “bekerja” di Bait Suci, termasuk pada hari Sabat (Bilangan 28:9-10), tidak dipandang oleh orang-orang Israel sebagai pelanggaran.

Jadi menurut Yesus, memetik bulir gandum pada hari Sabat seperti yang dilakukan oleh murid-muridNya tidaklah salah (Matius 12:1-8).

Dan ketika seorang perempuan yang datang untuk disembuhkan pada hari Sabat ditegur oleh orang-orang Yahudi, Yesus membelanya. Yesus mengatakan bahwa orang Yahudi akan melepaskan lembunya dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman, sekalipun pada hari Sabat.

Demikian juga perempuan tersebut, ia harus dilepaskan dari ikatan iblis (yang membuatnya sakit), sekalipun pada hari Sabat, apalagi ia adalah keturunan Abraham (Lukas 13:10-17).

Tuhan Yesus memperjuangkan keadilan dan kebebasan bagi orang-orang lemah dari cara penafsiran Hukum Taurat yang kaku dari orang-orang Yahudi.

9. Petrus

Petrus dan para rasul lainnya, juga termasuk para pejuang keadilan dan HAM.

Petrus dan Yohanes dengan getol memperjuangkan hak-hak dan kebebasan mereka dalam memberitakan Injil di depan sidang Mahkamamah Agama Yahudi.

Bahkan Petrus dengan gagah berani berkata bahwa mereka harus lebih taat kepada Tuhan – untuk memberitakan Injil – daripada kepada para pemimpin Yahudi yang melarang memberitakan Injil  (Kisah Para Rasul 4:19-20).

Dan ketika jumlah anggota jemaat gereja Yerusalem (gereja pertama di dunia) semakin bertambah, timbullah sungut-sungut dari jemaat (berbahasa) Yunani terhadap jemaat (berbahasa) Ibrani. Penyebabnya adalah karena pelayanan sosial diabaikan terhadap janda-janda jemaat Yunani.

Jelas ini adalah bentuk ketidak-adilan di dalam gereja.

Karena itu para rasul mengusulkan penambahan pemimpin baru sebanyak 7 orang, dengan syarat-syarat yang telah ditentukan, untuk membantu mereka dalam pelayanan sosial jemaat.

Kemudian terpilihlah 7 orang pemimpin baru dari antara jemaat, yang menurut tradisi dinamai diaken (Kisah Para Rasul 6:1-6).

Inilah bentuk “perjuangan” Petrus dan para rasul terhadap hak-hak para janda jemaat berbahasa Yunani yang sempat terabaikan.

10. Paulus

Rasul Paulus juga merupakan tokoh Alkitab yang memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia.

Perjuangan Paulus terbesar kepada keadilan dan hak asasi manusia adalah perjuangannya bagi kasus yang sedang menimpanya.

Karena Paulus memberitakan Injil kepada banyak orang, termasuk kepada orang Yahudi, teman sebangsa Paulus sendiri, maka Paulus ditangkap ketika ia sedang beribadah di Bait Allah di Yerusalem (Kisah Para Rasul 21:27-36).

Paulus kemudian diadili di hadapan Mahkamah Agama Yahudi. Ia dituduh menentang bangsa Yahudi, Hukum Taurat, dan Bait Suci.

Kemudian Paulus dibawa ke Kaisarea, pusat pemerintahan Romawi di Israel (Israel saat itu dijajah bangsa Romawi).

Di sini Paulus melakukan pembelaannya di hadapan perwakilan pemerintah Romawi. Pertama-tama di hadapan Feliks. Kemudian di hadapan Festus, pengganti Feliks.

Merasa tidak puas dengan penanganan kasusnya, akhirnya Paulus meminta banding kepada kaisar di Roma, ibu kota kekaisaran Romawi. Dan permintaan Paulus dikabulkan (Kisah Para Rasul 25).

Maka Paulus pun pergi ke Roma naik kapal beserta teman-temannya dengan dikawal oleh sejumlah prajurit Romawi.

Kitab Kisah Para Rasul membahas panjang lebar kisah Paulus dalam memperjuangkan keadilan, dan menjadi bagian penutup dari kitab tersebut.

Kitab Kisah Para Rasul berakhir ketika Paulus tiba di Roma dan memberitakan Injil di kota tersebut selama dua tahun (Kisah Para Rasul 28:11-31).

Tidak diketahui bagaimana nasib perkara Paulus ini, karena Alkitab tidak mencatatnya. Tetapi yang jelas, sebagaimana dikatakan tradisi gereja, Paulus kemudian mati martir di Roma pada masa pemerintahan kaisar Nero, salah satu kaisar Romawi paling jahat.

Tetapi perlu diketahui bahwa tujuan utama Paulus melakukan pembelaan dan memperjuangkan keadilan terutama bukanlah agar ia dibebaskan dari segala tuduhan.

Sebab sesungguhnya, Palus tidak takut dipenjara bahkan dihukum mati sekalipun demi Injil, karena sejak lama ia sudah siap untuk mati demi Injil Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 21:13).

Tujuan Paulus melakukan pembelaan dan memperjuangkan keadilan adalah demi kebebasan orang Kristen dalam memberitakan Injil kepada orang lain!

Itulah tokoh-tokoh Alkitab yang memperjuangkan keadilan dan HAM (Hak Asasi Manusia).

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!