10 Tokoh Alkitab Yang Memperjuangkan Keadilan Dan HAM

Ayah mereka, Zelafehad, telah mati dan tidak meninggalkan anak laki-laki sehingga namanya terancam terhapus di antara kaum kerabatnya serta milik pusakanya akan beralih ke orang lain, bukan kepada anak perempuannya.

Sebab pada masa itu di antara bangsa Israel, orang yang meninggal tidak mempunyai anak laki-laki maka namanya akan terhapus dan milik pusakanya/tanah warisannya akan diberikan kepada orang lain, kerabat terdekatnya, sekalipun ia mempunyai anak perempuan.

Jadi anak-anak perempuan Zelafehad ini menuntut keadilan kepada Musa dan para pemimpin Israel. Mereka meminta agar milik pusaka ayah mereka (tanah) diberikan kepada mereka.

Musa menyampaikan perkara ini ke hadapan Tuhan, dan Tuhan mengabulkan permintaan putri-putri Zelafehad ini.

Tuhan kemudian memberikan sebuah hukum bahwa jika seorang laki-laki Israel meninggal dengan tidak mempunyai anak laki-laki, tetapi mempunyai anak perempuan, maka milik pusakanya akan diberikan kepada anak perempuannya.

Kecuali jika orang tersebut tidak mempunyai anak perempuan, maka barulah warisannya diberikan kepada kerabat terdekatnya, seperti saudara-saudaranya laki-laki atau saudara-saudara ayahnya.

Peraturan yang Tuhan berikan kepada Musa ini kemudian menjadi ketetapan bagi orang Israel turun temurun (Bilangan 27:1-11), yang jelas memberi rasa keadilan bagi kaum perempuan.

Jelas kelima putri Zelafehad ini adalah para pejuang keadilan dan hak-hak perempuan, bukan hanya untuk mereka sendiri, tetapi juga untuk seluruh kaum perempuan di Israel.

4. Kepala-Kepala Puak Manasye

Para kepala puak dari suku Manasye juga termasuk para pejuang keadilan dan HAM  di Alkitab.

Para kepala puak suku Manasye ini adalah kepala-kepala puak dari kaum bani Gilead. Gilead adalah anak Makhir, dan Makhir adalah anak Manasye, dan Manasye adalah anak Yusuf.

Para kepala puak kaum Gilead ini datang kepada Musa, pemimpin Israel, meminta agar hak-hak anak perempuan mereka dilindungi.

Sebelumnya Musa atas petunjuk Tuhan telah memperbolehkan para perempuan mendapatkan milik pusaka ayahnya jika ayahnya tersebut meninggal dengan tidak mempunyai anak laki-laki (lihat poin 3 di atas).

Para pemimpin puak Manasye ini berkata bahwa jika anak perempuan mereka menikah dengan para laki-laki dari suku-suku Israel di luar suku mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan kehilangan hak mereka atas tanah ayahnya, sebab akan terhitung menjadi milik suami mereka dari suku lain.

Dengan demikian, maka tanah warisan suku asal perempuan tersebut akan berkurang dan tanah milik suku suaminya akan bertambah, sehingga akan ada suku yang kehilangan tanah dan ada suku yang bertambah tanahnya.

Jadi mereka menyarankan kepada Musa agar dibuat sebuah ketetapan yang mengatur bahwa anak-anak perempuan mereka akan menikah dengan laki-laki dari suku mereka juga. Dengan demikian tanah milik para perempuan tidak beralih ke suku lain/pihak suami.

Atas perintah Tuhan, Musa menyetujui usul para pemimpin puak suku Manasye ini, bahkan berlaku untuk seterusnya di antara suku-suku Israel.

Hal ini dimulai dari putri-putri Zelafehad, mereka semua menikah dengan para laki-laki dari suku mereka sendiri (Bilangan 36:1-13).

 

 5. Amos

Amos adalah salah satu nabi Israel. Ia adalah seorang peternak domba dan pemungut pohon ara hutan dari Tekoa, Yehuda, yang kemudian mendapat panggila sebagai nabi.

Meski berasal dari Israel Selatan (Yehuda), namun nabi Amos melayani di kerajaan Israel Utara.

Nabi Amos adalah satu dari dua nabi berkitab (bersama nabi Hosea) yang melayani di kerajaan Israel utara, bukan di kerajan Israel selatan atau Yehuda.

Amos melayani pada masa pemerintahan raja Yerobeam, anak Yoas, salah satu raja Israel yang jahat.

Salah satu yang menonjol dari pelayanan nabi Amos adalah perhatiannya terhadap ketidak-adilan sosial yang terjadi pada masa itu di Israel.

Perbuatan-perbuatan mereka yang tidak adil antara lain adalah: memeras orang yang lemah dan menginjak orang miskin (Amos 4:1), menerima suap (Amos 5:12), dan berbuat curang dengan neraca palsu (Amos 8:4-6).

Amos dengan berani menegur para penguasa dan orang-orang kaya di Israel atas hal ini. Amos menyebut para penguasa Israel telah mengubah keadilan menjadi ipuh dan racun serta menghempaskan kebenaran ke tanah! (Amos 5:7; 6:12b)

Dan atas ketidakadilan yang terjadi ini maka Amos menubuatkan bahwa Tuhan akan menghukum mereka.

Boleh dikatakan bahwa Amos adalah nabi Israel yang paling gencar dalam memperjuangkan keadilan di tengah-tengah bangsa Israel.

 

 6. Mordekhai Dan Ester

Mordekhai adalah seorang Yahudi yang berada di pembuangan di Persia (Babel, ke mana orang Yahudi dibuang, telah ditaklukkan oleh Persia).

Sedangkan Ester adalah saudara sepupu Mordekhai, yang kemudian mengangkat Ester sebagai anak.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!