10 Tokoh Alkitab Yang Rendah Hati

  

Artikel ini membahas tentang 10 tokoh Alkitab yang rendah hati.

Alkitab mencatat banyak tokoh Alkitab yang rendah hati.

Rendah hati maksudnya adalah tidak suka menonjolkan diri, tidak menganggap diri lebih baik dari orang lain, tidak suka merendahkan orang lain, bersedia  memaafkan kesalahan orang lain, berani mengakui kesalahan dan kekurangan sendiri, bersedia mengakui kelebihan orang lain, bahkan mau belajar dari orang lain.

Para tokoh Alkitab yang rendah hati ini terdiri dari berbagai latar belakang profesi dan pekerjaan, baik kaya maupun miskin, baik para pejabat maupun orang awam, baik laki-laki maupun perempuan.

Baca juga: 15 Tokoh Alkitab Yang Murah Hati

Mereka disebut rendah hati sebab dalam satu atau beberapa ayat Alkitab dicatat tentang perkataan, sikap, dan perbuatan mereka yang rendah hati.

Karena itulah mereka dikenal sebagai orang-orang yang rendah hati/yang tidak sombong di Alkitab.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Yang Taat Kepada Tuhan

Tokoh-tokoh Alkitab yang rendah hati ini terdiri dari tokoh-tokoh Alkitab yang ada di Perjanjian Lama, maupun tokoh-tokoh Alkitab yang ada di Perjanjian Baru.

Tentu kerendahan hati adalah suatu sifat atau karakter yang perlu kita miliki sebagai anak-anak Tuhan. Tuhan Yesus sendiri menghendaki agar murid-muridNya menjadi orang-orang yang rendah hati (Matius 23:12).

Baca juga: 10 Karakter Tokoh Alkitab Yang Patut Diteladani

Lalu, siapa sajakah 10 tokoh Alkitab yang rendah hati tersebut?

Berikut pembahasannya.

1. Daud

Tokoh Alkitab yang rendah hati pertama adalah Daud.

Setelah Saul ditolak oleh Tuhan sebagai raja Israel, maka Daud diurapi menjadi raja menggantikan Saul.

Tetapi selama Saul masih hidup, Daud tidak bisa langsung merasakan empuknya kursi kerajaan, sekalipun ia telah diurapi menjadi raja Israel. Sebab Saul belum mau turun tahta, sekalipun ia telah ditolak Tuhan sebagai raja umatNya, Israel.

Sebaliknya, Daud menjadi hamba Saul di istana. Ia bermain kecapi setiap kali roh jahat menghinggapi Saul, sebab sejak Roh Allah undur dari Saul, roh jahat menghinggapinya. Dan roh jahat itu keluar dari Saul setiap kali Daud bermain kecapi (1 Samuel 16:14-23).

Bayangkanlah, seorang raja yang telah diurapi Tuhan masih bekerja sebagai pelayan dari raja yang telah dilengserkanNya!

Tetapi Daud tidak pernah memprotes Tuhan mengapa ia tidak langsung duduk di tahta kerajaan Israel. Dengan rendah hati ia menjalani hidupnya sebagai bawahan Saul, orang yang sebenarnya telah ia gantikan posisinya sebagai raja Israel.

Kerendahan hati Daud juga terlihat dari sikapnya yang tidak mau membalas Saul sekalipun ada kesempatan untuk itu. Daud tetap menghargai/menghormati Saul sebagai orang yang diurapi Tuhan, sekalipun Saul sudah Tuhan tolak (1 Samuel 24:7, 11; 26:9-11).

Juga ketika Daud dikutuki oleh Simei, bahkan melemparinya dengan batu, dan mengatainya secara kasar, Daud tidak menghiraukannya. Daud malah melihat “suara Tuhan” dalam kata-kata kutuk Simei tersebut.

Dengan rendah hati Daud merespons cacian dan kritik Simei (2 Samuel 16:5-13).

2. Yesaya

Tokoh Alkitab yang rendah hati kedua adalah Yesaya.

Pada tahun matinya Uzia, raja Yehuda, Nabi Yesaya melihat suatu penglihatan spektakuler tentang kemuliaan Tuhan. Ia melihat Tuhan duduk di tahta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahNya memenuhi Bait Suci.

Yesaya juga melihat para Serafim, yakni para malaikat, berdiri di sebelah atasNya.

Dan mereka berseru seorang kepada yang lain, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan oleh suara para Serafim tersebut, dan ruangan itu pun penuh dengan asap.

Mendapat penglihatan tentang kemuliaan dan kekudusan Tuhan yang spektakuler tersebut, Yesaya pun menjadi takut. Ia menganggap dirinya celaka dan binasa, sebab dia telah melihat Tuhan, padahal tidak ada seorang manusia pun yang boleh melihat Tuhan.

Di sisi lain, Yesaya juga menyadari keberadaan dirinya yang tidak kudus, apalagi jika dibandingkan dengan kekudusan Tuhan, seperti yang diserukan oleh para Serafim tersebut. Yesaya merasa dirinya adalah seorang yang berdosa, orang yang najis bibir serta tinggal di antara orang-orang yang najis bibir (Yesaya 6:1-7).

Tentu hal ini tidak berarti bahwa Yesaya adalah seorang yang jahat secara moral. Dia hanya menyadari kekudusan Tuhan yang luar biasa serta membandingkannya dengan kekudusan dirinya sendiri.

Kesadaran Nabi Yesaya akan keberdosaannya adalah bentuk kerendahan hatinya di hadapan Tuhan.

Perlu diketahui bahwa ketika melihat penglihatan ini Yesaya sudah melayani sebagai nabi Tuhan. Sebab ia sudah melayani pada masa pemerintahan raja Uzia (Yesaya 1:1) atau sebelum Uzia meninggal. Sementara penglihatan ini dilihatnya pada tahun kematian Uzia, atau setelah Uzia meninggal (Yesaya 6:1).

Sebagai seorang nabi Tuhan, sudah pasti Yesaya dekat dengan Tuhan serta sering mendapat pesan dariNya untuk disampaikan kepada umat. Namun hal itu tidak membuatnya menjadi sombong rohani, merasa lebih dekat dengan Tuhan dibanding orang-orang lainnya.

Sebaliknya, Yesaya menyadari kelemahannya sebagai nabi, yang merasa belum mencapai level kekudusan yang Tuhan inginkan.

3. Barzilai

Tokoh Alkitab yang rendah hati ketiga adalah Barzilai.

Barzilai adalah seorang yang sangat kaya, namun sangat murah hati. Ia menyediakan makanan bagi raja Daud selama ia dalam pelarian di Mahanaim.

Ketika itu Daud terpaksa melarikan diri dari Absalom, anak kandungnya, yang memberontak kepadanya dan menguasai kota Yerusalem.

Setelah Absalom mati dan Daud bersiap-siap untuk kembali ke Yerusalem, Barzilai juga pergi menjemput raja Daud dan mengantarkannya hingga ke sungai Yordan, walau saat itu Barzilai sudah sangat tua, 80 tahun!

Barzilai juga adalah seorang yang rendah hati. Ia tidak mengharapkan balasan atas perbuatan baiknya serta tidak mau merepotkan orang lain (Daud).

Ketika Daud meminta Barzilai ikut dia, yang berarti tinggal di istana raja, dan Daud berjanji menanggung makanannya, Barzilai dengan halus menolaknya.

Ia merasa sudah sangat tua dan tidak bisa lagi melakukan apa pun, malah nanti hanya akan menjadi beban bagi Daud.

Sebaliknya, Barzilai merekomendasikan hambanya, Kimhan, untuk mengikuti Daud (2 Samuel 19:31-39).

Barzilai begitu merendah di hadapan raja Daud, padahal dia masih bisa beraktivitas dengan baik, seperti yang terbukti dari bantuannya kepada Daud.

Apalagi sampai merekomendasikan orang lain tinggal di istana, Barzilai betul-betul orang yang rendah hati. Dia mengakui bahwa Kimhan lebih muda darinya, dan lebih layak menjadi teman raja.

4. Yohanes Pembaptis

Tokoh Alkitab yang rendah hati keempat adalah Yohanes Pembaptis.

Yohanes Pembaptis adalah seorang perintis jalan bagi kedatangan Mesias, yakni Tuhan Yesus. Yohanes berkhotbah di antara orang-orang Israel seraya menyerukan agar mereka bertobat dan memberi diri dibaptis.

Yohanes adalah nabi terakhir dari Perjanjian Lama. Ia jelas sangat dihormati. Ia datang dengan kuasa nabi Elia, nabi besar Perjanjian Lama.

Namun Yohanes juga seorang yang rendah hati. Dengan tegas ia berkata bahwa ia bukan Mesias, tetapi hanya pembuka jalan bagi Mesias.

Bahkan dengan merendah ia berkata bahwa membuka tali kasut Mesias pun ia tidak layak (Markus 1:7).

Yohanes juga mengatakan bahwa ia adalah ibarat teman dari mempelai laki-laki yang empunya mempelai perempuan dan yang sudah puas mendengar suara mempelai laki-laki tersebut.

Ia berkata bahwa Yesus akan semakin besar, dan ia semakin kecil (Yohanes 3:27-31).

Sesungguhnya, seiring perjalanan waktu dan selaras dengan tujuan dari pelayanan Yohanes dan Yesus, orang-orang akan mengikut Yesus dan “meninggalkan” Yohanes.

Jelas, tugas menjadi perintis jalan membutuhkan kerendahan hati yang tidak semua orang bisa melakukannya.

5. Yesus Kristus

Tokoh Alkitab yang rendah hati kelima adalah Tuhan Yesus.

Yesus adalah Tuhan, turun dari singgasanaNya di sorga dan datang ke bumi dengan cara berinkarnasi, mengambil rupa seorang manusia dan tinggal di antara manusia (Yohanes 1:1,14).

Dia adalah Tuhan atau Allah, yang pada hakekatnya setara dengan Allah Bapa, namun Ia rela mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang manusia/hamba agar bisa mati bagi dosa-dosa dunia (Filipi 2:5-8).

Ketika Yesus datang ke dunia, Ia lahir di kota kecil Betlehem, di dalam keluarga tukang kayu yang sederhana, Yusuf dan Maria.

Jika Dia mau, sebenarnya Ia bisa saja memilih lahir di kota besar saat itu, seperti Yerusalem atau Roma, atau lahir di keluarga kaya atau bangsawan, bukan di dalam keluarga tukang kayu yang sederhana. Namun Ia tidak melakukannya, karena Ia mau merasakan penderitaan manusia.

Yesus rela meninggalkan istanaNya yang paling mewah di sorga dan rela datang ke bumi untuk melayani dan berkorban bagi umatNya.

Dan dalam pelayananNya di bumi, Yeus lebih banyak menghabiskan waktuNya bersama orang-orang sederhana. Sebagian besar dari murid-muridNya adalah orang sederhana, seperti nelayan.

Yesus juga lebih banyak melayani orang-orang sederhana, miskin, dan terpinggirkan, seperti para janda, wanita sundal, pemungut cukai, dll.

Yesus menegaskan bahwa Ia lemah lembut dan rendah hati (Matius 11:29).

Hanya Tuhan Yesus yang bisa mengatakan seperti itu tanpa menjadi sombong, karena memang Ia rendah hati dan Ia tidak mungkin berbohong.

Jika ada manusia yang mengaku bahwa ia rendah hati, justru itulah kesombongannya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!