10 Tokoh Alkitab Yang Terpaksa Mengungsi Ke Negeri Orang

elia

Artikel ini membahas tentang 10 tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang.

Banyak tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang dari kampung halamannya. Mereka mengungsi bukan karena kemauan mereka sendiri, tetapi karena terpaksa, untuk menghindari ketidak-sukaan, permusuhan, kelaparan, bahkan ancaman pembunuhan/kematian.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Paling Kaya

Tetapi para tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang ini, atau menjadi seorang pelarian, mengajarkan banyak hal kepada mereka. Tuhan menempa hidup mereka lewat masa-masa yang sulit, sehingga iman percaya mereka semakin dikuatkan serta kapasitas mereka semakin ditingkatkan. Dan Tuhan tidak meninggalkan mereka dalam pengungsian tersebut, Ia tetap memelihara hidup mereka.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Yang Berkuasa Di Negeri Orang

Bahkan ketika masa pengungsian mereka berakhir, para tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang ini kemudian tampil menjadi orang-orang yang lebih hebat, pribadi-pribadi yang tangguh, bahkan orang-orang yang dipakai Tuhan menjadi pemimpin, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Di sini didaftarkan 10 tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang.

Siapa sajakah mereka? Berikut pembahasannya.

 

1. Abraham

Tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang yang pertama adalah Abraham.

Abraham adalah nenek moyang bangsa Israel, umat pilihan Tuhan.

Allah memanggil Abraham untuk mengadakan perjanjian denganNya. Abraham tadinya belum dikenal, bahkan ayahnya, Terah, adalah seorang penyembah berhala. Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya, Ur-Kasdim, dan pergi ke suatu negeri yang akan ditunjukkanNya.

Ia berjanji akan memberkati Abraham, membuat nama Abraham masyhur, dan oleh Abraham seluruh bangsa di muka bumi akan diberkati. Siapa yang memberkati Abraham akan diberkati Tuhan dan siapa yang mengutuknya akan dikutuk Tuhan.

Abraham menaati panggilan Tuhan tersebut. Ia meninggalkan negerinya dan pergi ke negeri yang akan  ditunjukkan Tuhan kepadanya, yakni Tanah Kanaan. Ia membawa istrinya, Sara, dan keponakannya, Lot, serta segala hartanya dan orang-orangnya. Waktu itu Abraham berusia 75 tahun tetapi belum punya anak, dan Sara seorang perempuan yang mandul. Maka sampailah mereka di Tanah Perjanjian, Tanah Kanaan, di dekat Sikhem.

Tetapi, sekalipun Tanah Kanaan adalah Tanah Perjanjian, di sana terjadi juga kelaparan. Akibatnya, Abraham terpaksa mengungsi ke Mesir. Namun di Mesir Tuhan menyertai Abraham, sekalipun ia berbuat ceroboh dengan berbohong tentang istrinya kepada Firaun. Bahkan Abraham mendapat banyak ternak dari Firaun, raja Mesir (Kejadian 12:1-20).

Sekalipun harus mengalami masa sulit, mengalami kelaparan di Tanah Perjanjian dan terpaksa mengungsi ke negeri orang, Abraham tidak pernah Tuhan tinggalkan. Imannya justru semakin dikuatkan, sehingga tahan uji dalam menantikan janji Allah, khususnya tentang anak kandungnya (Ishak) sebagai ahli waris sehingga bisa menggenapi firmanNya bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut.

 

2. Ishak

Tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang lainnya adalah Ishak, anak Abraham dan Sara.

Ketika terjadi kelaparan di Kanaan, Ishak terpaksa pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Di situ Tuhan berfirman kepada Ishak agar ia tidak usah pergi ke Mesir, tetapi tetap tinggal di Gerar, sebab Ia akan menyertai dan memberkatinya. Rupanya saat itu Ishak hendak pergi ke Mesir untuk menghindari kelaparan di Kanaan itu. Dan Ishak taat kepada Tuhan, ia tinggal di Gerar.

Di Gerar penyertaan dan pemeliharaan Tuhan sungguh nyata dalam hidup Ishak. Ishak mulai menabur di situ dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat! Ia menjadi kaya dan makin lama makin kaya. Ia mempunyai banyak ternak dan anak buah. Ishak menjadi orang yang lebih berkuasa di Gerar, sekalipun ia adalah seorang pendatang.

Hal ini membuat orang-orang Filistin iri hati kepada Ishak sehingga mereka mengusirnya dari negeri mereka.

Maka pergilah Ishak ke lembah Gerar. Namun di sini Ishak masih mendapat perlawanan dari orang-orang Gerar. Sebab ketika hamba-hamba Ishak menggali sumur, para gembala Ishak bertengkar dengan para gembala orang Gerar. Gembala-gembala Gerar berkata bahwa sumur itu adalah milik mereka. Hal itu terjadi sampai dua kali, dan Ishak selalu mengalah.

Namun Tuhan memberi Ishak sumur yang lebih baik. Bahkan kemudian Raja Abimelekh dan kepala pasukannya datang kepada Ishak setelah mereka mengusirnya. Mereka telah melihat Tuhan menyertai dan memelihara hidup Ishak. Karena itu mereka mengadakan perjanjian dengan Ishak untuk tidak saling bermusuhan (Kejadian 26:1-33).

 

3. Yakub

Tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang lainnya adalah Yakub, anak Ishak.

Yakub adalah anak Ishak dan Ribka.  Yakub disebut juga Israel, yang merupakan ayah dari 12 anak laki-laki yang kemudian menjadi nenek moyang bangsa Israel.

Ishak dan Ribka berpesan kepada Yakub agar pergi mencari seorang istri ke rumah saudaranya, Laban (Kejadian 27:46). Ribka beralasan bahwa ia telah merasa jemu dengan Esau yang mengambil istri dua orang dari perempuan Het, yakni yang tidak menyembah Tuhan. Karena itu Ribka tidak mau lagi Yakub mengambil istri dari luar kaum mereka yang percaya kepada Tuhan.

Namun selain untuk mencari istri, kepergian Yakub ke rumah Laban, saudara ibunya, terutama adalah untuk menghindari Esau, saudara kembar Yakub, yang benci kepada Yakub dan ingin membunuhnya karena telah menipunya dengan “merebut” berkat dari Ishak, yang seharusnya hak Esau sebagai anak sulung (Kejadian 27:41-45).

Yakub rela bekerja selama 14 tahun untuk Laban, ayah Rahel, demi mendapatkan Rahel. Lalu 6 tahun lagi ia bekerja pada Laban, sehingga total 20 tahun ia tinggal di negeri mertuanya itu. Hal ini karena Laban berbuat curang pada Yakub.

Namun selama di rumah mertuanya, Yakub bekerja keras sehingga ia menjadi kaya. Sekalipun mertuanya berbuat curang kepadanya, Tuhan menyertai Yakub dan memberkatinya berlimpah-limpah hingga ia kembali ke rumah ayahnya, Ishak, di Tanah Kanaan (Kejadian 29-31).

Pelarian Yakub dari rumah ayahnya telah membentuk Yakub menjadi pribadi yang hebat, tulus, penuh kasih, sehingga pantas menjadi nenek moyang umat pilihan Tuhan. Selain itu, juga menjadikan Yakub lebih mengenal Tuhan yang menampakkan diri kepadanya, seperti yang terjadi di Bethel misalnya.

 

4. Musa

Tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang selanjutnya adalah Musa.

Musa lahir di Mesir, di mana orang Israel berada di bawah perbudakan orang Mesir. Ketika jumlah orang Israel semakin bertambah di Mesir, maka orang Mesir mulai takut, sebab mereka berpikir orang Israel akan memberontak dan memerangi mereka. Karena itu, raja Firaun membunuh semua bayi laki-laki Israel.

Tetapi ibu Musa menyembunyikannya selama tiga bulan agar ia tidak dibunuh oleh Firaun. Kemudian ia memasukkan Musa ke dalam sebuah peti pandan, lalu menaruhnya ke sungai Nil, di mana putri Firaun biasa mandi. Kakak Musa, Miryam, disuruhnya mengawasi bayi Musa. Ketika putri Firaun melihat bayi Musa, ia pun mengambilnya dan mengangkatnya sebagai anak hingga Musa dewasa.

Musa menjadi anak angkat putri Firaun hingga ia berusia 40 tahun. Setelah itu ia keluar istana Firaun untuk menemui teman sebangsanya. Ketika ia melihat seorang Mesir membunuh orang Israel, ia membunuh orang Mesir tersebut dan menyembunyikan mayatnya.

Lalu ketika dua orang sesama Israel berkelahi, Musa melerai mereka. Ia menegur orang yang bersalah, yang memukul temannya. Tetapi orang tersebut tidak mendengarkan Musa, malahan ia balik menantang Musa yang telah bertindak seperti hakim di antara mereka. Ia juga menyinggung pembunuhan yang dilakukan oleh Musa terhadap orang Mesir tersebut.

Mendengar hal itu, takutlah Musa lalu ia pergi ke Midian. Di Midian Musa menjadi seorang pelarian. Ia menikah di sana dan bekerja sebagai gembala kambing-domba mertuanya selama 40 tahun.

Kemudian Tuhan memanggilnya di Midian melalui sebuah penglihatan yang spektakuler tentang semak belukar yang menyala namun tidak terbakar. Musa dipanggil untuk membawa umatNya, orang Israel, keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian (Kisah Para Rasul 7:20-36).

Pengalaman Musa selama 40 tahun menggembalakan kambing-domba mertuanya rupanya memampukan Musa untuk menggembalakan umat Tuhan selama 40 tahun di padang gurun, sejak keluar dari Mesir hingga perbatasan Tanah Perjanjian.

 

5. Yefta 

Tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang lainnya adalah Yefta.

Yefta berasal dari keluarga yang tidak baik. Ia adalah anak dari seorang perempuan sundal. Ketika saudara-saudara tirinya besar, mereka mengusir Yefta dari rumah mereka, akibatnya ia pun pergi ke tanah Tob, negeri Aram. Di sana ia menjadi kepala para perampok.

Tetapi kemudian Tuhan punya rencana lain atas hidup Yefta. Ketika bangsa Israel berperang dengan bangsa Amon, para tua-tua Israel di Gilead, kampung halaman Yefta,  meminta Yefta untuk membantu mereka berperang melawan orang Amon, dan mereka berjanji bahwa jika mereka menang, mereka akan menjadikan Yefta sebagai pemimpin mereka.

Rupanya “pengalaman” Yefta sebagai kepala atau pemimpin para perampok, yang identik dengan kemampuan dalam perkelahian secara fisik, sangat dibutuhkan oleh orang-orang sebangsanya dalam menghadapi musuh mereka, orang Amon.

Setelah memastikan janji para tua-tua Gilead bahwa ia akan dijadikan mereka sebagai pemimpinnya, dan setelah masalah itu dibawa oleh Yefta ke hadapan Tuhan, ia pun menyetujuinya. Ia berangkat ke medan pertempuran bersama orang-orang Israel di Gilead, dengan Yefta sebagai pemimpinnya. Dan atas pertolongan Tuhan, mereka pun menang (Hakim-hakim 11:1-33).

Yefta kemudian menjadi pemimpin atau hakim Israel (Baca: 7 Hakim Israel Terbesar Di Alkitab).

Hakim adalah sebutan bagi pemimpin Israel setelah zaman Musa dan Yosua, sebelum timbulnya lembaga kerajaan di Israel. Jadi hakim yang dimaksud di sini bukanlah dalam arti pemimpin persidangan di pengadilan, tetapi pemimpin pemerintahan tertinggi di Israel pada zaman itu.

 

6. Naomi

Tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang selanjutnya adalah Naomi.

Naomi adalah seorang perempuan Israel yang pergi bersama keluarganya mengungsi dari kampung halamannya di Betlehem menuju Moab, karena kelaparan yang terjadi di Israel. Mereka pergi pada zaman hakim-hakim memerintah di Israel (ketika raja belum ada di Israel), tetapi tidak disebutkan pada zaman hakim siapa.

Naomi pergi ke Moab bersama suaminya, Elimelekh, dan kedua anaknya laki-laki, Mahlon dan Kilyon. Di Moab suami Naomi meninggal. Kedua anak Naomi menikah, yang pertama menikahi Orpa, anak kedua menikahi Rut, keduanya orang Moab yang tidak meyembah Tuhan Israel.

Kedua anak Naomi itu kemudian meninggal tanpa meninggalkan anak. Lalu Naomi bersiap pulang ke kampungnya, Betlehem di Israel, setelah masa kelaparan di Israel berlalu. Ia meminta kedua menantunya itu untuk kembali kepada orang tua mereka masing-masing. Walau dengan berat hati, Orpa akhirnya bersedia pulang ke orang tuanya. Tetapi Rut tidak, ia bersikeras ingin mengikuti mertuanya itu pulang ke Israel dan menyembah Tuhan Israel (Rut 1).

Naomi dan Rut pun kembali ke Betlehem, kampung halaman Naomi. Di Betlehem Rut akhirnya dinikahkan dengan Boas, seorang pria kaya namun baik hati dan takut akan Tuhan, yang masih merupakan kerabat Naomi. Rut melahirkan anak laki-laki bernama Obed. Dan Naomi mengasuh Obed seperti anaknya sendiri (Rut 4).

Obed adalah ayah Isai, ayah Daud, raja terbesar Israel, yang juga menjadi nenek moyang Mesias (Tuhan Yesus secara manusia).

Naomi memang tidak punya garis keturunan langsung kepada Yesus atau Daud, tetapi ia berjasa besar dalam membimbing Rut, menantunya, sehingga mengenal Tuhan Israel serta mendapat Boas, yang masih kerabatnya, yang akhirnya menurunkan sang Mesias.

 

7. Daud

Daud juga adalah tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang.

Daud adalah raja kedua Israel setelah Saul dan merupakan raja terbesar Israel (Baca: 10 Raja Israel Terbesar Di Alkitab).

Namun jalan hidup Daud untuk menggapai tahta kerajaan sangat terjal. Sekalipun ia sudah diurapi sebagai raja, ia belum bisa duduk enak di tahta kerajaannya di dalam istana. Ia justru harus menjadi seorang pelarian selama bertahun-tahun.

Hal ini terjadi karena Saul, raja Israel yang telah ditolak Tuhan, masih bertindak sebagai raja Israel, dan ia selalu mengejar Daud untuk membunuhnya, karena ia iri kepada Daud. Karena itulah Daud menjadi seorang pelarian, yang selalu berpindah-pindah tempat di seluruh Israel untuk menghindari kejaran Saul.

Ketika Daud merasa nyawanya terancam di Israel, ia pun pergi mengungsi ke negeri orang Filistin, kepada Akhis, raja kota Gat. Cara ini rupanya sangat efektif, sebab Saul tidak lagi memburu Daud. Daud tinggal di negeri orang Filistin selama 1 tahun 4 bulan.

Daud kembali dari Filistin ketika raja-raja Filistin mengusirnya, dan ketika ajal Saul sudah mendekat. Ketika Saul mati, maka Daud menjadi raja Israel sepenuhnya, pertama-tama atas suku Yehuda, suku Daud sendiri, kemudian atas seluruh Israel.

Pengembaraan Daud ternyata tidak berhenti sampai di situ. Daud juga bahkan terpaksa harus mengungsi dari Yerusalem ketika anaknya, Absalom, berusaha merebut kekuasaan dari Daud, ayahnya (2 Samuel 15:1-37). Tetapi Absalom akhirnya tewas dalam pertempuran.

 

8. Yerobeam

Tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang lainnya adalah Yerobeam.

Yerobeam adalah seorang yang masih muda namun cerdas, pada masa pemerintahan raja Salomo. Karena itu Salomo mengangkatnya sebagai pemimpin dalam pemerintahannya.

Ketika Salomo jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala, maka Tuhan murka dengan “mengoyakkan” 10 suku Israel dari pemerintahannya dan memberikannya kepada Yerobeam. Jadi Yerobeam dipilih Tuhan untuk menjadi raja atas 10 suku Israel, kecuali suku Yehuda dan Benyamin yang tetap di bawah keturunan Salomo.

Tuhan akan membagi dua kerajaan Israel, yakni kerajaan Israel di utara, yang akan dipimpin oleh Yerobeam dan kerajaan Yehuda di selatan, di mana terdapat kota Yerusalem, yang akan dipimpin oleh keluarga Daud. Tetapi hal ini baru terjadi pada masa pemerintahan anak Salomo, Rehabeam.

Namun ketika Yerobeam memberontak kepada Salomo, karena tidak setuju dengan kebijakan Salomo (mungkin juga karena merasa telah dipilih sebagai raja atas 10 suku Israel), maka Salomo pun ingin membunuhnya, lalu Yerobeam lari menyelamatkan diri ke Mesir.

Setelah Salomo mati ia pun kembali ke Israel. Ia menjadi raja atas 10 suku Israel, sedangkan dua suku Israel lainnya, yakni Yehuda dan Benyamin, diperintah oleh Rehabeam, anak Salomo (1 Raja-raja 11:26-40).

Namun sayang, kesempatan emas yang diberikan Tuhan untuk memerintah bangsa Israel, disia-siakan oleh Yerobeam. Sebab ternyata ia kemudian sangat jahat di mata Tuhan sehingga dihukumNya. Tuhan berharap Yerobeam tidak mengikuti dosa Salomo, dengan menjauh dari Tuhan dan menyembah dewa baal, tetapi ternyata Yerobeam justru lebih jahat dari Salomo.

 

9. Elia

Elia adalah salah satu tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang.

Elia adalah salah satu dari 10 Nabi Terbesar Di Perjanjian Lama.

Pada masa pemerintahan raja Ahab, terjadi kelaparan parah yang melanda Israel, di mana hujan tidak turun selama tiga setengah tahun di negeri itu. Hal ini terjadi karena dosa Ahab dan bangsa Israel kepada Tuhan, di mana mereka meninggalkan Tuhan dan menyembah dewa baal.

Karena itu nabi Elia diperintahkan oleh Tuhan bersembunyi di tepi sungai Kerit serta minum dari sungai itu. Dan setiap pagi dan sore burung gagak diperintahkanNya untuk membawa roti dan daging kepada Elia. Kemudian, ketika sungai itu kering, Tuhan menyuruh Elia pergi ke Sarfat, negeri Sidon, untuk memelihara hidupnya, melalui seorang janda di kota itu.

Menjelang akhir hukuman Israel, Elia mengajak bangsa Israel ke gunung Karmel beserta nabi-nabi baal, 450 orang banyaknya. Di sini Elia menunjukkan kepada bangsa Israel siapa sesungguhnya Allah, apakah Allah Yahwe, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, yang selama ini mereka tinggalkan ataukah allah baal. Elia juga menantang nabi-nabi baal siapa sesungguhnya Allah, Allah yang disembah Elia atau baal, yang mereka sembah.

Oleh karena itu Elia dan nabi-nabi baal harus memanggil Allah/allah mereka masing-masing, Elia memanggil Allah Yahwe dan nabi baal memanggil baal. Jika siapa yang datang ketika mereka memanggilnya maka itulah Allah yang benar. Elia menyuruh mereka terlebih dulu memanggil allah mereka, namun tidak ada jawaban hingga mereka kerasukan dan melukai diri mereka sendiri seperti yang biasa mereka lakukan.

Kemudian Elia berdoa dan memanggil Allah. Dan saat itu Allah menjawab doa Elia. Allah Yahwe menunjukkan bahwa Dialah Allah yang benar. Hal ini membuat orang Israel sujud sembah dan kembali kepada Allah mereka dengan meninggalkan baal.

Perbuatan Elia ini rupanya tidak disukai oleh Izebel, istri raja Ahab, yang merupakan perempuan Sidon penyembah dewa baal. Elia diancam Izebel sehingga Elia kembali terpaksa melarikan diri ke gunung Horeb, di mana Tuhan menampakkan diri kepadanya untuk memberi penghiburan dan kekuatan serta memberinya tugas baru (1 Raja-raja 17-19).

 

10. Paulus

Tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang yang terakhir adalah rasul Paulus.

Paulus adalah satu dari 7 Rasul Di Luar 12 Murid Yesus.

Rasul Paulus adalah tokoh besar Perjanjian Baru. Hampir separoh kitab-kitab Perjanjian Baru merupakan tulisan Paulus. Ia adalah seorang rasul Tuhan Yesus yang memberitakan Injil ke banyak bangsa dan banyak mendirikan gereja di mana-mana.

Paulus lahir di Tarsus, wilayah Yunani, tetapi dibesarkan di Yerusalem, Israel. Sebelum bertobat, Saulus  (Paulus) adalah seorang penganut agama Yahudi yang sangat fanatik serta telah membunuh dan menganiaya banyak orang Kristen.

Ketika sedang dalam perjalanan ke Damsyik, Siria, untuk menganiaya dan membunuh orang Kristen, dengan surat kuasa dari Imam Besar Yahudi di Yerusalem, maka Saulus pun bertobat setelah Yesus menampakkan diri kepadanya.

Kemudian, setelah menjadi Kristen, Paulus mulai memberitakan Injil di antara orang Yahudi di Damsyik. Tetapi banyak orang yang tidak suka kepadanya, karena itu mereka ingin membunuhnya. Akhirnya ia pun dibawa ke Yerusalem. Di Yerusalem Paulus kembali memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi, tetapi di situ pun ia mau dibunuh. Akhirnya ia pergi ke kampung halamannya di Tarsus (Kisah Para Rasul 9:1-30).

Dari Tarsuslah kemudian Paulus muncul menjadi seorang pemimpin gereja di Antiokhia (Kisah Para Rasul 11:25-26; 13:1-3) dan memberitakan Injil di berbagai tempat, yang membuatnya menjadi pemberita Injil terbesar dalam sejarah kekristenan.

Selain itu, Paulus juga pernah menceritakan bahwa setelah pertobatannya ia berada di tanah Arab (mungkin Petra) selama tiga tahun (Galatia 1:15-18). Tidak dijelaskan alasannya mengapa, tetapi sangat mungkin juga karena ancaman pembunuhan yang diterimanya.

 

Itulah 10 tokoh Alkitab yang terpaksa mengungsi ke negeri orang sebelum mereka akhirnya menjadi orang-orag yang berhasil dan menjadi berkat bagi banyak orang.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!