Loading...
Loading...

10 Tokoh Minoritas Alkitab Yang Berkuasa Di Tengah Kaum Mayoritas

joseph-2

Artikel ini membahas tentang 10 tokoh minoritas Alkitab yang berkuasa di tengah  kaum mayoritas.

Mempunyai kekuasaan atau jabatan di negeri orang, di mana masyarakatnya mayoritas memiliki etnis dan agama yang berbeda dengan kita, tidaklah mudah. Selain dituntut punya integritas dan kemampuan di atas rata-rata, kita juga kerap menjadi sasaran tembak dari orang-orang yang tidak menyukai kita karena agama dan etnis kita.

Tidak jarang kesalahan kita akan dicari-cari, dan sekecil apa pun kesalahan kita yang ditemukan, akan dipakai sebagai “pintu masuk” untuk menyerang kita.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Yang Terpaksa Mengungsi Ke Negeri Orang

Kendati demikian, tidak berarti mustahil bagi kita berkuasa di negeri orang. Faktanya, ada banyak orang dari kalangan yang dianggap “minoritas” dari segi etnis dan agama, namun dapat berkuasa atau punya jabatan di bidang politik, pemerintahan, dan militer di negeri orang, di tengah-tengah masyarakat yang disebut kaum “mayoritas”.

Hal seperti ini banyak ditemukan bukan hanya dalam zaman sekarang, tetapi juga pada zaman Alkitab.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Paling Kaya

Sekalipun harus menghadapi rintangan perbedaan bahasa, budaya, agama, dan adat-istiadat, banyak tokoh Alkitab yang berkuasa di negeri orang, dengan berhasil menduduki posisi penting. Mereka berhasil mencapai suatu jabatan atau posisi tinggi di bidang politik, pemerintahan, dan militer.

Tetapi hal ini bukan semata-mata karena kemampuan mereka beradaptasi, kerja keras mereka, ataupun kemampuan dan prestasi mereka, melainkan juga adalah karena penyertaan Tuhan dalam hidup mereka.

Baca juga: 7 Tokoh Alkitab Yang Mati Bunuh Diri

Di sini didaftarkan 10 tokoh minoritas Alkitab yang berkuasa di tengah kaum mayoritas. Kesepuluh tokoh ini semuanya adalah orang Israel.

Siapa sajakah 10 tokoh minoritas Alkitab yang berkuasa di tengah kaum mayoritas tersebut? Berikut pembahasannya.

 

1. Yusuf

Tokoh minoritas Alkitab yang berkuasa di tengah kaum mayoritas yang pertama adalah Yusuf (Baca: 10 Pria Paling Tampan Di Alkitab).

Yusuf adalah anak kesayangan Yakub, sebab Yusuf lahir di masa tua Yakub dari istri kesayangannya, Rahel. Karena itulah Yakub memanjakan Yusuf. Ia membelikan Yusuf jubah yang sangat indah.

Hal ini membuat saudara-saudara Yusuf menjadi cemburu. Apalagi setelah Yusuf menceritakan mimpinya kepada mereka yang menggambarkan keunggulan Yusuf atas saudara-saudaranya itu, makin bencilah mereka kepada Yusuf.

Karena itulah Yusuf mereka jual kepada seorang Ismael yang kemudian membawa Yusuf ke Mesir. Yusuf dijual kepada seorang pegawai istana Firaun yang bernama Potifar. Yusuf kemudian menjadi kepala rumah tangga Potifar dan orang kepercayaannya (Kejadian 39:4, 6).

Karena Yusuf difitnah oleh istri Potifar dengan berkata bahwa Yusuf ingin memperkosanya, maka Yusuf dimasukkan ke penjara. Di penjara, Yusuf berhasil menafsirkan mimpi juru minum dan juru roti Firaun, yang saat itu sama-sama dipenjarakan dengan Yusuf. Hal ini membuat Yusuf dipanggil untuk menafsirkan mimpi raja Firaun, raja Mesir.

Akhirnya, raja Firaun mengangkat Yusuf sebagai pempimpin tertinggi di Mesir di bawah kuasa Firaun. Jadi Yusuf menjadi orang kedua di kerajaan Mesir. Dialah yang dipercayakan oleh Firaun untuk mengelola pemerintahan Mesir, termasuk logistik, yang berpengaruh kepada bangsa-bangsa lain pada masa itu (Kejadian 41:39-44).

Yusuf berhasil menyelamatkan banyak bangsa dari bahaya kelaparan, termasuk keluarganya sendiri di Tanah Kanaan, yang datang ke Mesir untuk membeli gandum.

 

2. Daud

Tokoh minoritas Alkitab yang berkuasa di tengah kaum mayoritas yang kedua adalah Daud.

Daud adalah raja kedua Israel setelah Saul dan merupakan raja terbesar Israel. Raja-raja di Israel/Yehuda turun-temurun merupakan keturunan Daud. Selain itu, Daud juga menurunkan raja di atas segala raja, yakni Mesias (Baca: 10 Fakta Tentang Mesias Menurut Alkitab).

Ketika Saul selalu mengejar Daud untuk membunuhnya, maka Daud pergi mengungsi ke negeri orang Filistin, kepada Akhis, raja kota Gat. Akibatnya Saul pun tidak lagi memburu Daud. Daud tinggal di negeri orang Filistin selama 1 tahun 4 bulan.

Hal ini sebenarnya sangat ironis. Sebab sebagai orang yang dikenal saleh, Daud tidak lagi mengandalkan Tuhan untuk melindunginya dari Saul. Apalagi orang Filistin adalah musuh bebuyutan bangsa Israel. Daud sendiri menjadi pahlawan Israel ketika ia berhasil mengalahkan Goliat, pahlawan Filistin!

Di Filistin, Daud menjadi pengawal dan orang kepercayaan raja Akhis. Daud dan keluarganya serta seluruh pasukannya yang berjumlah 600 orang, tinggal tersendiri di Ziklag, terpisah dari orang-orang Filistin.

Namun Daud tidaklah berkhianat terhadap bangsanya. Ia tidak pernah berperang melawan orang Israel. Ia hanya berperang melawan bangsa-bangsa lain, yang merupakan musuh orang Filistin, sekaligus musuh bangsa Israel (1 Samuel 27:1-12).

Karena takut bahwa Daud akan berbalik memerangi orang Filistin, maka raja-raja orang Filistin pun meminta Daud pulang ke negerinya, Israel. Raja Akhis dengan berat hati terpaksa menuruti permintaan raja-raja orang Filistin tersebut, sekalipun ia sangat senang dengan pribadi dan prestasi Daud (1 Samuel 29:1-11).

Jelas Daud “berkuasa” di negeri Filistin, yang mayoritas beretnis dan beragama yang berbeda dengan Daud. Akhis bisa saja mengambil pengawal pribadinya dari antara orang Filistin, namun faktanya Daudlah yang menjadi pengawal pribadinya dan orang kepercayaannya.

 

3. Daniel

Tokoh minoritas Alkitab yang berkuasa di tengah kaum mayoritas yang ketiga adalah Daniel.

Daniel adalah seorang pemuda Yahudi ketika ia, bersama orang-orang Yahudi lainnya, dibuang ke Babel akibat pemberontakan mereka kepada Allah.

Raja Babel, Nebukadnezar, memilih beberapa pemuda cerdas untuk dididik selama tiga tahun tentang budaya dan bahasa orang Kasdim (Babel) sehingga mereka bisa bekerja untuk raja. Di antara para pemuda yang terpilih tersebut terdapat Daniel berserta tiga temannya. Dan Daniel beserta tiga temannya lebih cerdas sepuluh kali dari para pemuda yang bersama-sama dididik dengan mereka! (Daniel 1:1-21).

Karena Daniel berhasil menafsirkan mimpi Nebukadnezar, ia kemudian diangkat sebagai penguasa atas seluruh wilayah Babel di bawah raja Nebukadnezar. Namun Daniel menyerahkan jabatan tersebut kepada ketiga temannya, sedangkan ia sendiri tinggal di istana raja (Daniel 2:48-49).

Dan atas anugerah Tuhan, karier pemerintahan Daniel terus berlanjut. Setelah beberapa lama (di usianya yang sudah tua, 80 tahun!), Daniel menjadi satu dari tiga orang yang menjadi pejabat tertinggi di bawah raja Darius. Tetapi Daniel melebihi dua pejabat tertinggi raja tersebut dan para pejabat yang lainnya.

Para pejabat lain menjadi iri kepada Daniel. Mereka mencari-cari kesalahannya, namun mereka tidak mendapati satu pun perbuatan tercela dalam diri Daniel. Sebab Daniel mempraktekkan ibadah agama Yahudi yang menyembah Allah Israel, dan hidupnya tidak tercela dalam hal apa pun.

Karena itu mereka menghasut raja agar dikeluarkan undang-undang yang melarang siapa pun untuk menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa/Allah atau manusia lain selain kepada raja Darius (agar mereka dapat menjerat Daniel).

Ketika Daniel mendengar hal tersebut, ia pun berdoa kepada Allahnya. Tetapi justru ketika berdoa itulah Daniel dijerat oleh lawan-lawanpolitiknya dan mengadukannya kepada raja.

Daniel akhirnya dihukum dengan melemparkannya ke gua singa. Tetapi Tuhan menyertai Daniel sehingga singa-singa itu tidak memakannya. Akhirnya raja Darius pun menyelamatkan Daniel dari gua singa tesebut.

Ketika Babel takluk kepada Persia, Daniel masih menjabat pada pemerintahan Koresh, raja Persia (Daniel 6:1-29). Baca: 5 Kerajaan Dalam Penglihatan Daniel Dan Penjelasannya).

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!