10 Tokoh Pembaharu Di Alkitab

Artikel ini berisi tentang 10 Tokoh Pembaharu di Alkitab.

Banyak tokoh pembaharu di Alkitab yang perlu kita teladani.

Tokoh Pembaharu adalah orang yang membawa pembaharuan dalam suatu bidang tertentu, misalnya di bidang agama, budaya, sosial, politik, ekonomi, dll.

Pembaharuan tersebut kemudian membawa sebuah perubahan atau tatanan baru dalam masyarakat pada masa itu bahkan pada masa generasi berikutnya.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Yang Memperjuangkan Keadilan Dan HAM

Tokoh pembaharu adalah para pejuang dan pahlawan, yang memberi dampak positif pada masanya dan pada masa kemudian serta dikenang oleh masyarakat sebagai tokoh pembaharu.

Demikianlah dengan para tokoh pembaharu di Alkitab.

Mereka membawa sebuah perubahan atau tatanan baru dalam masyarakat pada masanya bahkan pada masa generasi berikutnya.

Itulah sebabnya para tokoh pembaharu di Alkitab patut untuk dikenang.

Alkitab banyak mencatat para tokoh pembaharu pada masanya.

Mereka melakukan suatu pembaharuan pada generasinya, yang membawa dampak positif bagi umat Tuhan pada masa itu bahkan pada masa selanjutnya.

Baca juga: 10 Tokoh Alkitab Yang Rela Berkorban Bagi Orang Lain

Artikel kali ini akan membahas tentang 10 tokoh pembaharu di Alkitab.

Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan, dari berbagai latar belakang yang berbeda, baik di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru.

Jumlah mereka sebenarnya lebih dari 10 orang, tetapi karena beberapa di antara mereka memperjuangkan “perkara” yang sama, maka mereka dianggap satu.

Lalu siapa sajakah tokoh-tokoh pembaharu di Alkitab tersebut?

Berikut pembahasannya.

 

1. Putri-Putri Zelafehad

Tokoh pembaharu di Alkitab yang pertama adalah putri-putri Zelafehad.

Putri-putri Zelafehad adalah 5 perempuan dari seorang laki-laki bernama Zelafehad dari suku Manasye (Yusuf).

Kelima putri Zelafehad ini adalah: Mahla, Noa, Hogla, Milka, dan Tirza.

Mereka berlima datang kepada Musa dan para pemimpin Israel lainnya untuk memperjuangkan hak-hak mereka sebagai perempuan.

Ayah mereka, Zelafehad, telah mati dan tidak meninggalkan anak laki-laki sehingga namanya terancam terhapus di antara kaum kerabatnya serta milik pusakanya akan beralih ke orang lain, bukan kepada anak perempuannya.

Sebab pada masa itu di antara bangsa Israel, orang yang meninggal tidak mempunyai anak laki-laki maka namanya akan terhapus dan milik pusakanya/tanah warisannya akan diberikan kepada orang lain, kerabat terdekatnya, sekalipun ia mempunyai anak perempuan.

Jadi anak-anak perempuan Zelafehad ini menuntut keadilan kepada Musa dan para pemimpin Israel. Mereka meminta agar milik pusaka ayah mereka (tanah) diberikan kepada mereka.

Musa menyampaikan perkara ini ke hadapan Tuhan, dan Tuhan mengabulkan permintaan putri-putri Zelafehad ini.

Tuhan kemudian memberikan sebuah hukum bahwa jika seorang laki-laki Israel meninggal dengan tidak mempunyai anak laki-laki, tetapi mempunyai anak perempuan, maka milik pusakanya akan diberikan kepada anak perempuannya.

Peraturan yang Tuhan berikan kepada Musa ini kemudian menjadi ketetapan bagi orang Israel turun temurun (Bilangan 27:1-11), yang memberi rasa keadilan bagi kaum perempuan.

Jelas kelima putri Zelafehad ini adalah para tokoh pembaharu di bidang hak-hak perempuan, bukan hanya untuk mereka sendiri, tetapi juga untuk seluruh kaum perempuan Israel turun temurun.

2. Kepala-Kepala Puak Manasye

Tokoh pembaharu di Alkitab yang kedua adalah para kepala puak suku Manasye.

Para kepala puak suku Manasye ini adalah kepala-kepala puak dari kaum bani Gilead. Gilead adalah anak Makhir, Makhir adalah anak Manasye, dan Manasye adalah anak Yusuf.

Para kepala puak kaum Gilead ini suatu ketika datang kepada Musa, pemimpin Israel, meminta agar hak-hak anak perempuan mereka dilindungi.

Sebelumnya Musa atas petunjuk Tuhan telah memperbolehkan para perempuan mendapatkan milik pusaka ayahnya jika ayahnya tersebut meninggal dengan tidak mempunyai anak laki-laki (lihat poin 1 di atas).

Maka para pemimpin puak Manasye ini berkata bahwa jika anak perempuan mereka menikah dengan para laki-laki dari suku-suku Israel di luar suku mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan kehilangan hak mereka atas tanah ayahnya, sebab akan terhitung menjadi milik suami mereka dari suku lain.

Dengan demikian, maka tanah warisan suku asal perempuan tersebut akan berkurang dan tanah milik suku suaminya akan bertambah, sehingga akan ada suku yang kehilangan tanah dan ada suku yang bertambah tanahnya.

Jadi para pemimpin puak Manasye ini menyarankan kepada Musa agar dibuat sebuah ketetapan yang mengatur bahwa anak-anak perempuan mereka akan menikah dengan laki-laki dari suku mereka juga. Dengan demikian tanah milik para perempuan tidak beralih ke suku lain/pihak suami.

Atas perintah Tuhan, Musa menyetujui usul para pemimpin puak suku Manasye ini, bahkan berlaku untuk seterusnya di antara suku-suku Israel.

Hal ini dimulai dari putri-putri Zelafehad, mereka semua menikah dengan para laki-laki dari suku mereka sendiri (Bilangan 36:1-13).

Menikah dengan para laki-laki dari suku sendiri mungkin terkesan “primitif”, tetapi dari segi keadilan adalah ide yang reformis.

 

3. Yosafat

Tokoh pembaharu di Alkitab berikutnya adalah Yosafat.

Yosafat adalah salah satu raja terbaik Yehuda (Israel Selatan) yang memerintah selama 25 tahun (2 Tawarikh 20:31).

Yosafat dikenal sebagai seorang raja yang saleh, yang mengikuti jejak kesalehan Daud, nenek moyangnya. Ia mencari Tuhan dengan segenap hatinya. (Baca: 7 Fakta Tentang Raja Yosafat Di Alkitab)

Salah satu terobosan yang dilakukan Yosafat semasa pemerintahannya adalah menata sistem pengadilan di Yehuda, yang sebelumnya tidak pernah terjadi di seluruh Israel dan Yehuda.

Pengadilan yang selama ini hanya terpusat di Yerusalem, sekarang ada di tiap wilayah atau kota di seluruh Yehuda.

Selain itu, Yosafat juga memisahkan hukum keagamaan dengan hukum sipil (2 Tawarikh 19:4-11).

Ini terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah bangsa Israel dan bangsa Yehuda, walaupun hal ini tetap berdasarkan aturan dalam Taurat yang telah diberikan Tuhan kepada Musa (Ulangan 17:9, 12).

Terobosan lain dari Yosafat adalah mengangkat para pengajar untuk mengajarkan firman Tuhan di seluruh wilayah Yehuda.

Ia tidak hanya menyerahkan tugas pengajaran ini kepada orang-orang Lewi atau imam-imam, yang jumlahnya sangat terbatas (2 Tawarikh 17:7-9).

Yosafat jelas adalah seorang tokoh pembaharu di Alkitab.

 

4. Hizkia 

Hizkia juga merupakan tokoh pembaharu di Alkitab.

Hizkia adalah salah satu raja Yehuda yang saleh dan paling banyak dicatat kisahnya di Alkitab.

Hizkia terkenal sebagai raja yang saleh dan takut akan Tuhan.

Ia juga dikenal sebagai reformator, yang melakukan reformasi keagamaan di kerajaan Yehuda.

Reformasi agama jugalah yang pertama dilakukan oleh Hizkia setelah ia dilantik menjadi raja Yehuda, menggantikan ayahnya, Ahas.

Ahas, ayah Hizkia, adalah seorang raja yang jahat. Ia menutup Bait Allah dan mendirikan mezbah-mezbah berhala di segala penjuru Yerusalem.

Karena itu Hizkia membuka kembali Bait Allah dan memerintahkan para imam dan orang-orang Lewi untuk menguduskannya. Mereka juga diperintahkannya untuk mempersembahkan kembali korban-korban di Bait Allah (2 Tawarikh 29:1-36).

Selain itu, Hizkia juga merayakan Hari Raya Paskah bersama seluruh rakyat Yehuda, yang sebelumnya sudah lama tidak terjadi.

Hizkia mengajak rakyat Yehuda percaya kepada Tuhan serta meninggalkan penyembahan berhala.

Dan seluruh rakyat yang hadir di hari Paskah ini merobohkan tugu-tugu berhala di seluruh Yehuda (2 Tawarikh 30:1-31:1).

Hizkia juga mengatur rombongan para imam dan orang-orang Lewi untuk melayani di Bait Allah, serta memperhatikan keperluan keuangan mereka (2 Tawarikh 31:2-21).

Hal ini menunjukkak bahwa Hizkia adalah seorang tokoh pembaharu di Alkitab. (Baca: 10 Raja Israel Terbesar Di Alkitab)

 

5. Yosia

Tokoh pembaharu di Alkitab yang kelima adalah Yosia.

Yosia adalah raja Yehuda terakhir yang saleh. Raja-raja Yehuda setelah dia tidak ada lagi yang saleh, hingga bangsa Babel datang menyerang Yehuda dan membuang penduduknya ke Babel.

Pada tahun ke-12 pemerintahannya, Yosia mulai mentahirkan Yehuda dari penyembahan berhala yang berkembang subur pada masa pemerintahan ayahnya, Amon.

Mezbah-mezbah para Baal dirobohkannya dan  pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya dihancurkan.

Ia juga meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan korban kepada berhala-berhala itu (2 Tawarikh 34:1-7).

Yosia memang dikenal sebagai tokoh pembaharu di Alkitab.

Ia melakukan reformasi keagamaan yang besar di kerajaan Yehuda. Reformasi yang dilakukannya jauh lebih luas dan lebih dalam daripada reformasi yang dilakukan oleh Hizkia.

Reformasi ini bermula saat imam besar Hilkia menemukan kitab Taurat di Bait Allah pada tahun ke-18 pemerintahan Yosia.

Ketika raja membaca hukuman Tuhan dalam kitab tersebut, maka ia pun merendahkan dirinya, berkabung dan menangis di hadapan Tuhan.

Lalu ia mengutus beberapa orang untuk meminta petunjuk Tuhan kepada nabiah Hulda, satu dari 7 Nabi Perempuan Di Alkitab.

Nabiah Hulda mengatakan bahwa Tuhan akan menghukum orang-orang Yehuda karena mereka telah meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala.

Tetapi raja Yosia tidak akan melihat hukuman Tuhan tersebut, sebab Yosia telah merendahkan diri di hadapanNya ketika ia membaca hukuman Tuhan dalam Taurat tersebut.

Mendengar jawaban nabiah Hulda ini, maka Yosia bersama rakyat Yehuda mengikat perjanjian dengan Tuhan, mereka berkomitmen untuk kembali kepada Tuhan, hidup menurut firmanNya, dan meninggalkan penyembahan berhala (2 Tawarikh 34:8-33).

Lalu, seperti halnya Hizkia, Yosia juga merayakan Paskah kembali dengan rakyat Yehuda. Ini adalah perayaan Paskah terbesar sejak zaman nabi Samuel (2 Tawarikh 35:1-19).

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!