10 Tokoh Pembaharu Di Alkitab

6. Nehemia

Nehemia juga adalah seorang tokoh pembaharu di Alkitab.

Nehemia adalah seorang pejabat Juru Minuman raja di kerajaan Persia yang kemudian diutus ke Yehuda untuk memperbaiki tembok Yerusalem yang sudah hancur (Nehemia 2:1-20).

Ketika tiba di Yerusalem, maka Nehemia pun mengerahkan orang-orang Yahudi, teman sebangsanya, untuk membangun tembok Yerusalem.

Sekalipun mendapat banyak perlawanan, akhirnya pembangunan tembok tersebut dapat mereka selesaikan.

Nehemia kemudian menjadi bupati Yehuda dan melakukan banyak pembaharuan di Yerusalem, di antara bangsa Yahudi.

Hal pertama, Nehemia memperjuangkan keadilan bagi orang-orang Yahudi yang miskin, yang telah menggadaikan ladang mereka hanya demi makanan serta harus membayar pajak ladang yang tinggi yang dikenakan oleh pemerintah setempat.

Nehemia meminta orang-orang Yahudi yang kaya dan para pejabat untuk memperhatikan orang yang lemah, dan mengembalikan anak-anak dan ladang gadaian mereka (Nehemia 1:15).

Nehemia juga memulihkan hak orang-orang Lewi yang dilanggar pada zaman Nehemia yang berlaku untuk seterusnya (Nehemia 13:10-13).

Nehemia juga memberantas korupsi yang merajalela di Yehuda pada masanya. Para pejabat yang korup ditindaknya dengan tegas. (Baca: 7 Tokoh Anti Korupsi Di Alkitab)

 

7. Tuhan Yesus

Tokoh pembaharu di Alkitab selanjutnya adalah Tuhan Yesus sendiri.

Tuhan Yesus ketika masih hidup dan melayani di dunia dikenal sebagai Orang yang melakukan reformasi agama dari tradisi yang merusaknya.

Misalnya kesalahan dalam mengerti firman Tuhan tentang hari Sabat.

Sebagai contoh, ketika murid-murid Yesus lapar, mereka memetik bulir gandum pada hari Sabat, sehingga orang-orang Farisi memprotesNya.

Padahal, menurut Hukum Taurat, memetik bulir gandum di ladang orang diperbolehkan (Ulangan 23:25).

Tetapi melakukannya di Hari Sabat dilarang dalam tradisi Israel yang kemudian, karena para rabi Yahudi menafsirkannya sebagai “bekerja”, sehingga melanggar Keluaran 31:14, larangan tentang bekerja di hari Sabat.

Dalam menanggapi hal ini Tuhan Yesus membela murid-muridNya. Ia memberi dua contoh kasus dari hidup bangsa Israel.

Pertama, tentang Daud, yang memakan roti sajian yang sebenarnya hanya boleh dimakan oleh para imam (1 Samuel 21:1-6), namun orang Israel tidak menganggap Daud bersalah.

Kedua, kasus imam-imam Israel yang senantiasa “bekerja” di Bait Suci, termasuk pada hari Sabat (Bilangan 28:9-10), tidak dipandang oleh orang-orang Israel sebagai pelanggaran.

Jadi menurut Tuhan Yesus, memetik bulir gandum pada hari Sabat seperti yang dilakukan oleh murid-muridNya tidaklah salah (Matius 12:1-8).

Dan ketika seorang perempuan yang datang untuk disembuhkan pada hari Sabat ditegur oleh orang-orang Yahudi, Yesus membelanya.

Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang Yahudi akan melepaskan lembunya dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman, sekalipun pada hari Sabat.

Demikian juga perempuan tersebut, ia harus dilepaskan dari ikatan iblis (yang membuatnya sakit), sekalipun pada hari Sabat, apalagi ia adalah keturunan Abraham (Lukas 13:10-17).

Tuhan Yesus mereformasi agama dari cara penafsiran Hukum Taurat yang kaku dari orang-orang Yahudi pada zamannya.

Tidak diragukan lagi, Tuhan Yesus adalah tokoh pembaharu terbesar di Alkitab.

 

8. Stefanus 

Tokoh pembaharu di Alkitab berikutnya adalah Stefanus.

Stefanus adalah salah seorang diaken gereja mula-mula di Yerusalem.

Tetapi Tuhan kemudian memakai Stefanus sebagai pengkhotbah dan apologet (pembela agama) Kristen yang terkemuka.

Orang Yahudi menghasut beberapa orang untuk menuduh Stefanus mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Tuhan.

Mereka mengadakan gerakan di antara orang banyak yang melibatkan tua-tua Yahudi dan ahli-ahli Taurat. Hal ini mengakibatkan Stefanus diseret ke Mahkamah Agama Yahudi.

Di Mahkamah Agama ini Stefanus harus menghadapi tuduhan saksi-saksi palsu.

Mereka menuduhkan kepada Stefanus bahwa Tuhan Yesus yang diberitakannya akan merubuhkan Bait Suci mereka dan mengubah hukum Taurat dan adat-istiadat yang diwariskan Musa kepada bangsa Yahudi.

Namun tanpa takut Stefanus melakukan pembelaannya serta berkhotbah dengan penuh kuasa di hadapan Mahkamah Agama Yahudi (Kisah Para Rasul 6:8-15).

Para penafsir Alkitab berkata bahwa Stefanuslah yang pertama-tama mengerti tentang arti korban Kristus yang telah menggenapi Taurat dan fungsi Bait Allah.

Khotbah Stefanus di hadapan Mahkamah Agama Yahudi dipandang sebagai awal “revolusi teologi” dalam gereja mula-mula.

Dalam khotbah pembelaannya di hadapan Mahkamah Agama Yahudi, Stefanus menyimpulkan dua hal.

Pertama, adanya Bait Allah tidak menjamin orang Israel beribadah kepada Tuhan. Sebaliknya, para bapa leluhur mereka tidak mempunyai Bait Allah di pengembaraan, tetapi tetap menyembah Tuhan.

Kedua, bangsa Israel, sejak zaman Musa, selalu memberontak kepada Tuhan dan menentang utusan-utusanNya, yang berpuncak pada penentangan mereka terhadap Tuhan Yesus.

Itulah sebabnya Stefanus mengecam keras sikap mereka tersebut (Kisah Para Rasul 7:1-53).

Stefanus kemudian mati martir dirajam dengan batu, ia adalah martir pertama Kristen. (Baca: 7 Martir Paling Terkenal Di Alkitab)

 

9. Filipus Penginjil 

Tokoh pembaharu di Alkitab yang kesembilan adalah Diaken Filipus atau Filipus si Penginjil (bukan rasul Filipus).

Tatkala Stefanus, salah satu dari tujuh diaken gereja mula-mula, dihukum mati oleh orang-orang Yahudi, maka mulailah timbul penganiayaan yang hebat terhadap jemaat gereja mula-mula atau gereja Yerusalem.

Hal ini membuat semua anggota jemaat gereja mula-mula, kecuali rasul-rasul, terpaksa pergi meninggalkan Yerusalem dan tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria untuk menghindari penganiayaan tersebut.

Demikian juga dengan Filipus, ia pergi ke salah satu kota di Samaria (Kisah Para Rasul 8:1b, 4, 5).

Ketika Filipus memberitakan Injil di Samaria, sebenarnya ia bukan sekadar melewati batas wilayah, ras dan agama, tetapi juga mendobrak tradisi nenek moyang bangsanya yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Orang Samaria adalah musuh orang Israel, dan orang Israel tidak bergaul dengan mereka (Yohanes 4:9).

Orang Samaria adalah campuran antara orang Israel dengan bangsa-bangsa lain yang didatangkan oleh Raja Asyur ke Samaria (2 Raja-raja 17:24-41).

Selain berbeda dalam hal ras, orang Israel juga berbeda dengan orang Samaria dalam hal agama.

Agama orang Samaria adalah campuran antara agama orang Israel dengan agama-agama kafir.

Mereka mempunyai tempat ibadahnya sendiri di Gunung Gerizim (Yohanes 4:20), berbeda dengan orang Israel yang mempunyai Bait Suci di Yerusalem.

Karena itulah orang Israel sangat membenci orang Samaria, dan hal ini sudah menjadi tradisi turun-temurun.

Tentu saja tradisi ini berasal dari nenek moyang orang Israel, bukan dari firman Tuhan.

Sebab firman Tuhan mengajarkan orang Israel untuk mengasihi sesama manusia seperti diri mereka sendiri (Imamat 19:18).

Itulah sebabnya Filipus mendobrak tradisi tersebut dan kembali kepada ajaran firman Tuhan.

Flipus menembus perbedaan dan menyudahi permusuhannya dengan orang Samaria.

Filipus menawarkan Injil kepada orang-orang Samaria sehingga mereka beroleh keselamatan yang kekal.

Seorang Yahudi yang menurut tradisi turun-temurun memusuhi orang Samaria, merangkul mereka demi Injil jelas adalah suatu kemajuan besar.

Sebab saat itu orang Yahudi masih beranggapan bahwa Injil ditujukan hanya bagi bangsa mereka sendiri, bukan untuk segala bangsa, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan.

Lihat saja misalnya rasul Petrus, ia harus “dipaksa” Tuhan pergi ke rumah Kornelius untuk menyampaikan Injil, karena dia bukan seorang Yahudi (Kisah Para Rasul 10:9-16).

Demikian juga dengan orang-orang Kristen Yahudi lainnya, yang menjelajah sangat jauh sampai ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia, hanya memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi saja! (Kisah Para Rasul 11:19).

Jadi perginya Filipus ke Samaria untuk memberitakan Injil bukanlah hal yang biasa, tetapi sebuah kemajuan yang luar biasa, yang mendobrak tradisi yang tidak alkitabiah.

Filipus adalah tokoh pembaharu di Alkitab!

10. Paulus

Tokoh pembaharu di Alkitab yang terakhir adalah rasul Paulus.

Paulus adalah tokoh pembaharu terbesar di Alkitab setelah Tuhan Yesus.

Paulus melakukan pembaharuan terhadap doktrin-doktrin Kristen yang banyak disalah mengerti oleh orang-orang sezamannya.

Paulus juga melakukan pembaharuan terhadap Injil yang disalah mengerti oleh orang-orang Kristen Yahudi pada masa itu.

Ia membebaskan Injil dari kungkungan Taurat Yahudi.

Bagi Paulus, orang Kristen tidak lagi terikat pada aturan-aturan Hukum Taurat, seperti Sabat, sunat, makanan halal dan haram, dll.

Karena itulah Paulus ditangkap ketika ia sedang beribadah di Bait Allah di Yerusalem (Kisah Para Rasul 21:27-36).

Paulus kemudian diadili di hadapan Mahkamah Agama Yahudi. Ia dituduh menentang bangsa Yahudi, Hukum Taurat, dan Bait Suci.

Kemudian Paulus dibawa ke Kaisarea, pusat pemerintahan Romawi di Israel (Israel saat itu dijajah bangsa Romawi) hingga ia tiba di Roma, di mana ia menurut tradisi mati martir. (Baca: 7 Fakta Tentang Rasul Paulus Di Alkitab)

 

Itulah 10 tokoh pembaharu di Alkitab.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!