12 Murid Yesus Dan Akhir Hidup Mereka (2)

judas-kiss

Artikel ini berisi tentang kisah 12 murid Yesus atau 12 rasul Yesus dan akhir hidup mereka seperti dicatat di Alkitab dan tradisi gereja.

Ketika Tuhan Yesus ada di dunia ini, Ia memilih 12 murid yang selalu bersama-sama dengan Dia. Ia mengajar mereka tentang Kerajaan Sorga dan melibatkan mereka dalam pelayananNya selama 3,5 tahun di dunia ini. Ia mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin-pemimpin gereja di kemudian hari, ketika kelak Ia telah naik ke Sorga.

Karena itu, mempelajari kehidupan 12 murid Tuhan Yesus adalah sesuatu yang sangat menarik, termasuk kisah pelayanan dan kematian mereka yang kebanyakan tidak dicatat di Alkitab, tetapi kita dapatkan dari tulisan bapa-bapa gereja dan tradisi gereja turun-temurun.

Berikut kisah kehidupan kedua belas murid Tuhan Yesus (bagian 2) yang juga disebut sebagai rasul-rasul.

[Artikel ini hanya memuat kisah hidup 6 murid Tuhan Yesus (dari Tomas hingga Yudas Iskariot). Untuk kisah hidup 6 murid lainnya (dari Petrus hingga Bartolomeus), silakan membaca artikel yang berjudul 12 Murid Yesus Dan Akhir Hidup Mereka (1) ].

 

7. Tomas

Nama Tomas dalam bahasa Yunani adalah Thomas, berasal dari bahasa Ibrani, t’hom, yang dalam bahasa Aram disebut t’oma’, yang artinya “anak kembar”.

Injil Yohanes tiga kali memakai terjemahan Yunaninya, yakni Didymos atau Didimus. Alkitab tidak memberitahu kita siapa nama kembaran Tomas, namun tradisi Siria dan Mesir menyebut namanya Yudas.

Demikian juga dengan pemanggilan Tomas sebagai murid Tuhan Yesus, tidak dijelaskan kapan hal itu terjadi atau apa pekerjaannya sebelum ia menjadi murid. Namun, setelah kematian Tuhan Yesus, Tomas bersama enam murid lainnya pergi ke danau Tiberias untuk menangkap ikan (Yohanes 21:1-3). Mungkin hal ini membuktikan bahwa Tomas sebelumnya bekerja sebagai nelayan.

Selain dalam peristiwa di atas, Tomas disebut dalam tiga peristiwa lain di dalam Injil Yohanes.

Pertama, ketika Tuhan Yesus hendak kembali ke daerah Yudea, murid-muridNya memperingatkanNya agar Ia tidak kembali ke sana, sebab masyarakat setempat benci kepadaNya. Lalu Tomas berkata, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” (Yohanes 11:16).

Kedua, Tomas bertanya kepada Tuhan Yesus ke mana Ia akan pergi, tatkala Ia mempersiapkan murid-muridNya perihal kepergianNya kepada BapaNya (Yohanes 14:5).

Ketiga, peristiwa yang membuatnya terkenal, yakni ketidakpercayaannya bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit. Waktu Tuhan Yesus menampakkan diri kepada murid-muridNya, Tomas tidak hadir (Yohanes 20:24). Tidak diceritakan mengapa Tomas tidak hadir saat itu. Dan ketika murid-murid lain memberitahukannya bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit, ia tidak percaya. Hal ini kemudian membuatnya disebut sebagai “Tomas yang tidak percaya.”

Seminggu kemudian, Tuhan Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-muridNya, termasuk kepada Tomas, dan memberi kesempatan kepada Tomas untuk meraba bekas paku di tanganNya dan bekas tombak di lambungNya. Tomas pun mengaku, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28).

Keraguan Tomas atas kebangkitan Tuhan Yesus sebenarnya bukanlah hal yang negatif, sebab Tuhan Yesus pun tidak mencelanya. Itulah sebabnya para bapa gereja zaman dahulu sangat menghargai contoh yang diberikan oleh Tomas. Misalnya Agustinus (354-430 Masehi), ia mengatakan tentang Tomas bahwa “Ia telah meragukan agar kita bisa percaya.”

Tomas adalah salah satu murid yang paling banyak disebut di dalam tradisi gereja perihal pelayanan, karya dan kematiannya. Namun tradisi yang paling bisa dipercaya adalah yang menyebutkan bahwa Tomas menjadi misionaris di India. Konon ia mati sebagai martir di sana dan dikuburkan di Mylapore (sekarang pinggiran kota Madrash).

Nama Tomas terus dikenang oleh sebuah gereja di sana yang bernama Mar Thoma, yang berarti “Tuan Tomas”.

Ada banyak buku yang diklaim ditulis oleh Rasul Tomas, yang paling terkenal adalah Injil Tomas. Namun semua buku tersebut ternyata adalah palsu.

 

8. Matius

Nama Matius dalam bahasa Yunani adalah Matthaios, berasal dari bahasa Ibrani Mattityahu, disingkat Mattay, yang artinya “Pemberian Tuhan”. Ia adalah seorang pemungut cukai yang kemudian dipanggil Tuhan Yesus menjadi muridNya (Matius 9:9).

Hal ini menimbulkan sungut-sungut di kalangan orang Yahudi. Sebab saat itu para pemungut cukai dianggap sebagai pengkhianat, dikarenakan oleh hubungan mereka yang erat dengan penjajah Romawi.

Namun, sekalipun Matius adalah mantan pemungut cukai, ia tidak toleran terhadap para pemungut cukai. Di dalam Injil yang ditulisnya kemudian, ia menggolongkan para pemungut cukai sebagai orang-orang berdosa (Matius 9:10).

Matius mempunyai dua nama. Di dalam Injil lain, Matius juga disebut Lewi (Markus 2:14). Banyak pakar Alkitab yang menganggap bahwa nama asli Matius adalah Lewi, kemudian Tuhan Yesus memberinya nama baru, yakni Matius. Namun para pakar lainnya beranggapan bahwa Matius adalah anggota suku Lewi, sehingga ia dinamai dengan nama sukunya tersebut.

Tampaknya Matius adalah orang yang cukup berada, sebab ia mengadakan perjamuan yang besar untuk Tuhan Yesus di rumahnya, serta mengundang banyak orang untuk ikut di dalam perjamuan tersebut (Lukas 5:29).

Hal ini memang tidak terlalu mengherankan, sebab para pemungut cukai adalah orang yang terbiasa memungut pajak rakyat melebihi yang ditentukan pemerintah Romawi (bandingkan dengan Lukas 3:12-13).

Tidak diragukan lagi bahwa Matius adalah penulis Injil yang disebut menurut namanya, yakni Injil Matius. Hal ini sesuai dengan tradisi gereja. Papias (70-155 Masehi), salah satu bapa gereja yang banyak menulis tentang tradisi Kristen, mengatakan dengan jelas bahwa Matius adalah penulis Injil Matius.

Hal ini sangat masuk akal, sebab sebagai mantan pemungut cukai, Matius pasti mampu membaca dan menulis, serta terampil dalam hitung-menghitung.

Dalam bukunya Book of Martyrs, John Foxe menulis bahwa Matius menghabiskan sisa umurnya untuk memberitakan Injil di Partia dan Etiopia. Menurut Foxe, Matius meninggal sebagai martir di kota Nadabah pada tahun 60 M. Namun karena Foxe memperoleh informasi dari sumber-sumber Yunani abad pertengahan, maka agak sulit untuk memastikan apakah pernyataannya itu layak dipercaya.

 

9. Yakobus Anak Alfeus

Kitab-kitab Injil hanya menyebut nama Yakobus anak Alfeus dalam daftar para rasul (Matius 10:3). Sebagian pakar menduga bahwa ia memiliki hubungan dengan Rasul Matius, sebab mereka masing-masing disebut sebagai “anak Alfeus” (Markus 2:14). Sementara pakar lainnya beranggapan bahwa Yakobus adalah sama dengan Yakobus Muda (Markus 15:40).

Sebutan “muda” ditambahkan mungkin untuk membedakannya dari rasul lain, Yakobus anak Zebedeus. Atau mungkin karena Yakobus anak Alfeus ini lebih muda ataupun perawakannya lebih kecil dibanding Yakobus anak Zebedeus.

Jika benar Yakobus anak Alfeus sama dengan Yakobus muda, maka bisa jadi ia adalah sepupu Tuhan Yesus (bandingkan dengan Matius 27:56; Yohanes 19:25).

Beberapa penafsir Alkitab berteori bahwa murid ini memiliki banyak kesamaan fisik dengan Tuhan Yesus, yang bisa menjelaskan mengapa Yudas Iskariot harus memperkenalkan Tuhan Yesus melalui ciuman kepada orang-orang yang menangkapNya pada malam Ia dikhianati (Markus 14:43-45).

Cerita legenda mengatakan bahwa Yakobus anak Alfeus mengabarkan Injil di Persia dan disalibkan di sana. Tetapi hal ini belum dapat dipastikan.

 

10. Tadeus

Nama Tadeus dalam bahasa Yunani adalah Thaddaios, disebut di dalam Injil Matius dan Injil Markus. Di dalam Injil Lukas ia disebut sebagai “Yudas anak Yakobus” (Lukas 6:16). Sedangkan di dalam Injil Yohanes ia disebut “Yudas, yang bukan Iskariot” (Yohanes 14:22), untuk membedakannya dari Yudas Iskariot.

Ada yang berpandangan bahwa Tadeus tidak disebut sebagai Yudas di Injil Matius dan Injil Markus disebabkan oleh nama Yudas saat itu mempunyai konotasi yang jelek, akibat perbuatan Yudas Iskariot yang mengkhianati Gurunya.

Kemungkinan, Tadeus adalah nama kecil bagi Theudas. Tadeus berasal dari bahasa Aram, tad, yang artinya “payudara”. Jadi, Tadeus bisa jadi merupakan nama kecil yang secara harfiah berarti “yang dekat dengan payudara”, atau “yang dicintai”.

Dalam beberapa naskah Injil Matius, Tadeus disebut Lebbeus, yang berasal dari bahasa Ibrani leb, artinya “hati”. Itulah sebabnya Yerome (347-420 Masehi), seorang bapa gereja, menjuluki Tadeus sebagai Trionius atau “seorang dengan tiga nama”, yakni Tadeus, Lebbeus, dan Yudas.

Tidak diketahui siapa sesungguhnya Yakobus, ayah Tadeus atau Yudas ini. Ada yang menyebut bahwa ia adalah Yakobus saudara Tuhan Yesus. Sementara yang lain menyebut Yakobus anak Zebedeus. Namun ini hanyalah dugaan yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

Selain muncul di dalam daftar para rasul di dalam kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul, singgungan terhadap Tadeus atau Yudas hanya disebut di dalam Injil Yohanes, ketika ia bertanya kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Yohanes 14:22).

Sejarawan Eusebius (260-340 Masehi) mengatakan bahwa Tuhan Yesus suatu kali mengutus Tadeus kepada Raja Abgar dari Mesopotamia untuk berdoa bagi kesembuhan raja tersebut. Menurut cerita ini, Tadeus pergi kepada Abgar setelah kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga, dan ia tetap berada di sana, berkhotbah di beberapa kota di Mesopotamia.

Sementara tradisi lainnya menyebutkan bahwa Tadeus dibunuh oleh ahli-ahli sihir di kota Suanir di Persia, dengan menggunakan pentungan dan lemparan batu.

 

11. Simon Orang Zelot

Di dalam naskah bahasa Yunani, Injil Matius dan Injil Markus menyebutkan seorang murid bernama Simon orang Kanani. Di dalam Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Lama, nama inilah yang dipakai. Tetapi di dalam Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Baru, yang dipakai adalah Simon orang Zelot (Matius 10:4).

Sedangkan dalam naskah bahasa Yunani Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (Kisah Para Rasul juga ditulis oleh Lukas), disebut Simon orang Zelot, sebagaimana di Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Baru. Kedua nama itu mengacu kepada orang yang sama.

Zelotes, adalah kata Yunani yang artinya “orang yang penuh semangat”. Sedangkan Kanani berasal dari kata Aram, Kanna’ah, yang juga berarti “orang yang penuh semangat”. Karena itu murid ini kemungkinan besar adalah mantan anggota kelompok orang Zelot, suatu golongan orang Yahudi yang berusaha melawan penjajahan Romawi dengan cara peperangan.

Alkitab tidak menceritakan kapan Simon orang Zelot ini pertama kali diajak bergabung dengan para murid Tuhan Yesus. Tetapi ada tradisi yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus memanggil Simon pada saat yang sama ketika Ia memanggil Andreas dan Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yudas Iskariot dan Tadeus.

Nikephorus dari Konstantinopel (758-828 Masehi), seorang penulis dan rohaniwan Kristen, menulis,

“Simon, yang lahir di Kana, Galilea, yang juga disebut orang Zelot, setelah menerima Roh Kudus dari Sorga, mengadakan perjalanan ke Mesir dan Afrika, lalu Mauritania dan Libia, untuk memberitakan Injil. Dan ajaran yang sama dia ajarkan juga di seputar Samudera Atlantik dan kepulauan yang dikenal sebagai Britania.”

 

12. Yudas Iskariot

Nama Yudas dalam bahasa Yunani adalah Iudaeos, yang berasal dari bahasa Ibrani, y’huda atau Yehuda, yang artinya, “bersyukur”. Sedangkan kata Iskariot berasal dari bahasa Ibrani, ‘isy q’riyot, yang secara harfiah berarti “orang dari Keriot”. Keriot yang dimaksud di sini kemungkinan adalah sebuah kota di dekat Hebron (Yosua 15:25).

Seandainya benar demikian, maka Yudas merupakan satu-satunya orang Yudea di antara murid-murid Tuhan Yesus. Selain Yudas Iskariot, semua muridNya berasal dari Galilea. Orang-orang Yudea sering kali mengejek penduduk Galilea sebagai penduduk perbatasan yang kasar. Hal ini mungkin membuat Yudas terasing dari kalangan para murid.

Seluruh Injil serta Kisah Para Rasul menempatkan Yudas Iskariot di urutan terakhir dari daftar murid-murid Tuhan Yesus. Tidak diragukan lagi, ini mencerminkan reputasi buruk Yudas Iskariot sebagai pengkhianat Gurunya. Lagipula, namanya biasanya disertai keterangan dengan kesan buruk, seperti: “Yang mengkhianati Dia” atau “Yang kemudian menjadi pengkhianat”.

Tidak sebutkan secara pasti kapan Tuhan Yesus memanggil Yudas Iskariot untuk bergabung dengan kelompok pengikutNya. Kemungkinan pada saat yang sama ketika Ia memanggil Andreas, Petrus, Yakobus, Yohanes, Simon orang Zelot dan Tadeus.

Nama Yudas Iskariot cukup sering disinggung di dalam kitab-kitab Injil, tetapi bukan karena perbuatannya yang baik, tetapi justru karena sifatnya yang buruk dan pengkhianatannya kepada Gurunya sendiri.

Pengkhianatan Yudas Iskariot terhadap Tuhan Yesus adalah malam yang paling mengerikan, sehingga hal ini dilestarikan dalam tradisi Perjamuan Kudus yang berasal dari zaman Rasul Paulus, “Pada malam waktu Ia diserahkan” (1 Korintus 11:23).

Yudas Iskariot bertugas sebagai bendahara para rasul, dan sedikitnya dalam satu kesempatan ia menunjukkan sikap kikir terhadap pekerjaan mereka, ketika Maria datang untuk mengurapi kaki Tuhan Yesus dengan minyak narwastu yang sangat mahal harganya.

Yudas bersikap seolah-olah memperhatikan nasib orang-orang miskin, tetapi sebenarnya karena ia adalah seorang pencuri, yang biasa mencuri uang dari kas yang dipegangnya (Yohanes 12:1-8).

Para pakar Alkitab memberikan beberapa teori mengenai alasan pengkhianatan Yudas Iskariot terhadap Tuhan Yesus.

Pertama, Yudas sakit hati ketika Tuhan Yesus menegurnya pada waktu Maria mengurapiNya dengan minyak narwastu yang sangat mahal harganya.

Kedua, Yudas tertarik dengan tawaran uang dari musuh-musuhNya, walaupun uang sebesar 30 perak bukanlah jumlah yang cukup besar pada masa itu.

Ketiga, Yudas kecewa terhadap misi Tuhan Yesus, yang gagal sebagai pemimpin gerakan massa untuk melawan penjajah Romawi.

Namun, apa pun alasannya, yang jelas Yudas telah memberikan dirinya dikuasai oleh Iblis untuk mengkhianati Tuhan Yesus (Lukas 22:3; Yohanes 13:27), dan ia berkeras hati terhadap peringatanNya yang berulang-ulang.

Setelah Tuhan Yesus dijatuhi hukuman mati, maka Yudas pun menyesal atas perbuatannya menjual Gurunya, dan ia mengembalikan uang penjualanNya kepada imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi, lalu bunuh diri (Matius 27:3-10).

Menurut sebuah cerita rakyat, ia menggantung diri di sebuah pohon yang kuncupnya merah, yang kemudian disebut “pohon Yudas”.

Menurut Agustinus (354-430 Masehi), seorang bapa gereja terkemuka, tali yang dipakai Yudas gantung diri putus, lalu ia terjatuh dan mati. Hal ini cocok dengan kematian Yudas yang jatuh tertelungkup, lalu perutnya terbelah dan semua isi perutnya tertumpah keluar (Kisah Para Rasul 1:18-19).

Akhir hidup Yudas Iskariot yang sangat tragis itu adalah akibat langsung dari perbuatannya yang keji dengan mengkhianati Gurunya sendiri. Alkitab dengan gamblang berkata bahwa Yudas “jatuh ke tempat yang wajar baginya.” (Kisah Para Rasul 1:25).

 

Matias: Pengganti Yudas Iskariot

Setelah kematian Yudas Iskariot, Rasul Petrus mengusulkan untuk memilih pengganti pengkhianat tersebut, sehingga jumlah rasul tetap 12 orang. Lalu Petrus memberikan beberapa persyaratan tertentu yang harus dimiliki oleh rasul yang baru, yakni harus mengenal Tuhan Yesus “mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke Sorga.”

Ia juga harus menjadi “saksi dengan kami tentang kebangkitanNya.” (Kisah Para Rasul 1:15-22). Para rasul menemukan dua orang yang memenuhi persyaratan demikian, yakni Yusuf, yang juga dikenal sebagai Yustus, dan Matias. Mereka kemudian membuang undi untuk menentukan pilihan, dan pilihan jatuh pada Matias, sehingga ia ditambahkan pada bilangan para rasul (Kisah Para Rasul 1:23-26).

Nama Matias dalam bahasa Yunani adalah Matthias, merupakan varian dari nama Ibrani, Mattityahu, yang artinya “pemberian Tuhan”. Alkitab tidak mencatat pelayanan Matias, seperti kebanyakan rasul lain. Tetapi menurut sejarawan gereja mula-mula, Eusebius (260-340 Masehi), Matias termasuk salah seorang dari 70 murid Tuhan Yesus (Lukas 10:1).

Sebuah tradisi menceritakan bahwa Matias memberitakan Injil kepada suku kanibal di Mesopotamia; yang lainnya mengatakan bahwa ia dilempari batu sampai mati oleh orang-orang Yahudi.

 

Itulah 12 murid Tuhan Yesus dan akhir hidup mereka (bagian 2).

 

Perhatian:

Artikel ini merupakan saduran dari artikel yang berjudul “12 Murid Tuhan Yesus (2)”, aslinya adalah tulisan saya yang sudah dimuat di renungan harian Manna Sorgawi.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!