Loading...
Loading...

20 Jenderal Terbaik Indonesia Beragama Kristen

luhut kopassus

Artikel ini berisi tentang 20 jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katolik.

Sepanjang sejarahnya, sebelum dan setelah kemerdekaan, Republik Indonesia (RI) telah banyak menghasilkan jenderal terbaik, baik jenderal bintang satu (Brigadir Jenderal), jenderal bintang dua (Mayor Jenderal), jenderal bintang tiga (Letnan Jenderal), maupun Jenderal bintang empat (Jenderal penuh).

Mereka adalah para pemimpin di tubuh Tentara Nasional Angkatan Darat (TNI-AD), yang memimpin TNI atau sebuah kesatuan/pasukan di tubuh TNI/AD, serta berprestasi dan mendapat sejumlah penghargaan atas tugas dan karya mereka.

Baca juga: 7 Menteri Jokowi Beragama Kristen

Dari sekian banyak jenderal tersebut, banyak juga jenderal yang beragama Kristen ataupun Katholik.

Di sini akan dibahas tentang 20 jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katolik, yang dianggap sebagai jenderal terbaik Kristen/Katholik di Indonesia, sejak pra-kemerdekaan RI hingga pada masa kini.

Baca juga: 50 Jenderal Polri Terbaik Beragama Kristen

Para jenderal ini dianggap terbaik karena mereka pernah berprestasi/mendapat penghargaan (baik sebelum maupun sesudah berpangkat jenderal), atau menduduki posisi/jabatan strategis di kesatuan Angkatan Darat, di tubuh TNI secara umum, bahkan di pemerintahan (tentu karena dianggap pantas).

Mereka semua minimal berpangkat Letnan Jenderal (bintang tiga), tetapi semuanya kini sudah pensiun dari dinas militer. Sebagian di antara mereka sudah meninggal, dan sebagian lagi masih hidup, bahkan ada yang masih menduduki suatu jabatan strategis di dalam pemerintahan.

Siapa sajakah 20 jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katolik? Berikut pembahasannya.

 

1. Jenderal (Purn) Urip Sumoharjo

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik pertama adalah Jenderal Urip Sumoharjo.

Jenderal Urip lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 22 Februari 1893.
Urip berhenti sekolah untuk mengikuti pelatihan militer di Batavia (Jakarta). Setelah lulus pada tahun 1914, ia menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara pemerintah kolonial Belanda. Bertugas selama hampir 25 tahun, ia ditempatkan di tiga pulau berbeda dan dipromosikan beberapa kali, dan akhirnya menjadi perwira pribumi dengan pangkat tertinggi di KNIL.

Urip mengundurkan diri dari jabatannya sekitar tahun 1938 setelah berselisih dengan Bupati Purworejo, tempat ia ditempatkan. Tetapi setelah Jerman Nazi menginvasi Belanda pada bulan Mei 1940, Urip dipanggil kembali untuk bertugas.

Pada tanggal 14 Oktober 1945, beberapa bulan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Urip ditetapkan sebagai kepala staff dan pemimpin sementara angkatan perang yang baru dibentuk. Artinya, dialah pemimpin tertinggi Angkatan Bersenjata RI pada masa itu, atau Panglima TNI pertama RI.

Urip berupaya untuk menyatukan kekuatan kelompok-kelompok militer yang terpecah-pecah di Indonesia.

Ketika Jenderal Sudirman terpilih sebagai panglima Angkatan Perang, Urip tetap menjabat sebagai kepala staff, dan mereka berdua sama-sama mengawasi pembangunan Angkatan Perang pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Urip mengajukan pengunduran dirinya dari militer, namun tetap bertugas sebagai penasihat Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Presiden, Muhammad Hatta.

Urip wafat di Yogyakarta pada 17 November 1948 dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Secara anumerta pangkatnya dinaikkan menjadi Jenderal.

Urip telah menerima banyak tanda kehormatan dari pemerintah. Ia juga merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia dan termasuk di antara 20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler.

 

2. Letnan Jenderal (Purn) T.B. Simatupang

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik selanjutnya adalah Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama T.B. Simatupang.

Letjen T.B. Simatupang lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, pada 28 Januari 1920. Ia lulus dari Koninlijke Militaire Academie (KMA) pada tahun 1942 dengan mendapatkan gelar taruna mahkota dengan mahkota perak karena dinilai berprestasi khususnya di bidang teori.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Simatupang bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), dan kemudian turut bergerilya bersama Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman melawan pasukan Belanda yang berniat menguasai kembali bekas koloninya tersebut

Selama perang kemerdekaan Indonesia tersebut, ia pun diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang (WAKSAP) RI pada tahun 1948 hingga 1949.

Ketika Jenderal Sudirman wafat pada tahun 1950, Simatupang diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI/KSAP (saat ini disebut Panglima TNI) dengan pangkat Mayor Jenderal hingga tahun 1953. Waktu itu ia masih berusia 29 tahun!

Setelah Presiden Sukarno menghapuskan jabatan KSAP pada tahun 1953, Simatupang diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI, tahun 1954-1959.

Setelah non aktif dari kemiliteran, T.B. Simatupang menyibukkan diri dengan menulis buku dan mengajar di SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, sekarang Seskoad, dan Akademi Hukum Milter/AHM).

Akhirnya dia resmi pensiun dari dinas militer pada tanggal 21 Juli 1959 dalam usia 39 tahun dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal.

Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

T.B. Simatupang meninggal dunia pada 1 Januari 1990 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Dia adalah seorang Pahlwan Nasional RI dan namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

 

3. Jenderal (Purn) Maraden Panggabean

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik berikutnya adalah Jenderal Maraden Panggabean.

Jenderal Saur Halomoan Maraden Panggabean lahir di Tarutung, Sumatera Utara, pada 29 Juni 1922.

Jenderal Maraden mendapat jenjang karier yang sempurna di militer serta memiliki jabatan bergengsi di pemerintahan pada zaman Presiden Suharto.

Ia menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada tahun 1968-1969, Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) tahun 1969–1973, Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan Menteri Pertahanan dan Keamanan tahun 1971–1978.

Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam) tahun 1978-1983, dialah Menkopolkam pertama Indonesia.

Selanjutnya pada tahun 1983-1988, Maraden menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Kini lembaga DPA diganti dengan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Maraden aktif dalam kegiatan organisasi di Golongan Karya (Golkar) dan pernah menjadi anggota Dewan Pembina (1973), Ketua Dewan Pembina (1974-1978), dan Ketua Presidium Harian Dewan Pembina Golkar (1979-1988).

Jenderal Maraden Panggabean meninggal di Jakarta, pada 28 Mei 2000 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta dengan upacara militer.

 

4. Jenderal (Purn) Benny Moerdani

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Jenderal Benny Moerdani.

Jenderal Leonardus Benyamin Moerdani atau biasa disingkat Benny Moerdani atau L.B. Moerdani, lahir pada 2 Oktober 1932 di Cepu, Blora, Jawa Tengah dari pasangan R.G. Moerdani Sosrodirjo dan Jeanne Roech, keturunan Jerman.

L.B. Moerdani merupakan perwira yang ikut terjun langsung di operasi militer penanganan pembajakan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand pada tanggal 28 Maret 1981, peristiwa pembajakan pesawat pertama dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia dan terorisme bermotif jihad pertama di Indonesia (lihat poin 7 di bawah).

Dalam posisi pemerintahan, selain sebagai Panglima ABRI, ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan dan juga Pangkopkamtib (sekarang jabatan ini sudah tidak ada lagi).

Sebagai anggota RPKAD (kini Kopassus), Moerdani menjadi bagian dari pertempuran untuk menekan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), kelompok separatis yang berbasis di Sumatera.

Tugas Moerdani berikutnya adalah untuk mengurus Piagam Perjuangan Semesta (Permesta), kelompok separatis lain di Sulawesi. Mirip dengan apa yang dia lakukan di Sumatera, Moerdani dan pasukannya meletakkan dasar bagi semua serangan terhadap Permesta yang kemudian menyerah pada bulan Juni 1958.

Moerdani memimpin pasukan dalam pertempuran-pertempuran melawan anggota Angkatan Laut Belanda sampai PBB ikut campur pada bulan Agustus 1962 dan memutuskan memberikan Irian Barat ke Indonesia.

Pada tahun 1984 bersama-sama dengan Panglima Kodam V/Jaya, Try Sutrisno, ia memerintahkan untuk menggunakan tindakan keras terhadap demonstran Islam di Tanjung Priok, Jakarta yang mengakibatkan kematian. Moerdani mengklaim bahwa para demonstran telah terprovokasi dan tidak bisa dikendalikan secara damai dan sebagai hasilnya ia memerintahkan tindakan keras.

Karena hal ini, banyak kelompok Islam membencinya, namun Moerdani bersikeras bahwa dia tidak pernah ingin menganiaya Muslim dan melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah Muslim di seluruh Jawa untuk meningkatkan citranya dengan Muslim.

Sebagai Panglima ABRI (Panglima TNI) saat itu, Moerdani dianggap sebagai orang terkuat kedua di Indonesia saat, setelah Presiden Soeharto.

Moerdani cukup tegas mengkritik Soeharto soal korupsi dan nepotisme dalam rezimnya, sehingga hubungannya dengan Soeharto memburuk.

Benny Moerdani meninggal di Jakarta pada 29 Agustus 2004 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

 

5. Letnan Jenderal (Purn) Bambang Sugeng

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Bambang Sugeng.

Letjen Bambang Sugeng lahir di Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, pada 31 Oktober 1913.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Bambang diangkat menjadi Komandan Resiman TKR (kini TNI) di Wonosobo, Jawa Tengah, dengan pangkat Letnan Kolonel. Ia juga memimpin pasukan TKR pada saat Agresi Militer Belanda I (1947) dan Agresi Militer Belanda II (1948).

Selain itu ia juga termasuk perwira yang terlibat dalam perencanaan Serangan Umum 1 Maret 1949. Sebagai penguasa teritorial, Bambang mengendalikan jalannya pertempuran di wilayah Divisi III Jawa Tengah dan Yogyakarta pada masa 1948-1949.

Dengan posisinya yang senior kemudian Pemerintah menunjuknya untuk menjadi wakil Panglima Besar Sudirman atau Wakil 1 Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) mulai 21 September 1944 hingga 27 Desember 1949.

Pada bulan Juni 1950 Bambang diangkat menjadi Panglima Divisi I/TT V Jawa Timur. Lalu menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ke-3 yang menjabat dari tanggal 22 Desember 1952 hingga 8 Mei 1955.

Bambang-lah yang memprakarsai pencatatan setiap prajurit TNI atau Nomor Registrasi Pusat (NRP) yang kemudian ditiru oleh pencatatan organisasi sipil atau Nomor Induk Pegawai (NIP).

Setelah berhasil menyatukan kembali para perwira TNI Angkatan Darat melalui Piagam Djogja 1955, Bambang mengundurkan diri sebagai KSAD pada tanggal 8 Mei 1955.

Setelah berhenti dari dinas militer, Bambang diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Vatikan (1956 – 1960), Duta Besar Indonesia untuk Jepang (1960-1964), dan Duta Besar Indonesia untuk Brasil (1964-1966).

Bambang Sugeng meninggal di Jakarta pada 22 Juni 1977 dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Tegalrejo, Magelang. Saat itu pangkatnya adalah Mayor Jenderal. Pemerintah Indonesia kemudian menaikkan pangkatnya menjadi Letnan Jenderal (Kehormatan).

 

6. Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Jenderal Luhut Panjaitan.

Jenderal Luhut Binsar Panjaitan lahir di Simargala, Huta Namora, Silaen, Toba Samosir, Sumatera Utara, pada tanggal 28 September 1947.

Luhut adalah lulusan terbaik dari Akademi Militer Nasional angkatan tahun 1970.

Karier militernya banyak dihabiskan di Kopassus TNI AD. Di kalangan militer dikenal sebagai Komandan pertama Detasemen 81. Berbagai medan tempur dan jabatan penting telah disandangnya: Komandan Grup 3 Kopassus, Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif), hingga Komandan Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI Angkatan Darat.

Ketika menjadi perwira menengah, pengalamannya berlatih di unit-unit pasukan khusus terbaik dunia memberinya bekal untuk mendirikan sekaligus menjadi komandan pertama Detasemen 81 (sekarang Sat-81/Gultor) kesatuan baret merah Kopassus, menjadi salah satu pasukan khusus penanggulangan terorisme terbaik di dunia.

Dia juga dikenal sebagai Pendiri dan Komandan Pertama Proyek Rajawali Pada Pusat Intelijen Strategis BAIS ABRI serta Pendiri Dan Komandan Pertama Sekolah Pertempuran Khusus Detasemen-81/Anti-Terror Kopassus Pada Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus).

Selama berkarier di militer, ia telah mendapat banyak prestasi dan penghargaan. Antara lain: Komandan Resort Militer (Danrem) Terbaik se-Indonesia, ketika ia menjadi DanKorem di Madiun, Jawa Timur, serta Komandan Satgas Tempur Terbaik Di Timor-Timur.

Dia juga merupakan lulusan terbaik Kursus Dasar Kecabangan Infanteri, lulusan terbaik Kursus Komando, dan lulusan terbaik Kursus Lintas Udara.

Pada Tahun 1999 Presiden B.J. Habibie mengangkatnya menjadi Duta Besar Indonesia Untuk Singapura. Lalu Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mempercayakannya sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian, pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi Jenderal penuh (bintang empat).

Jenderal Luhut adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia saat ini, dan menjadi salah satu dari 7 Menteri Jokowi Yang Beragama Kristen.

 

7. Letnan Jenderal (Purn) Sintong Panjaitan

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Sintong Panjaitan.

Letjen Sintong Hamonangan Panjaitan lahir di Tarutung, Sumatera Utara, pada 4 September 1940.

Ia menerima 20 perintah operasi/penugasan di dalam dan luar negeri selama karier militernya.

Pada periode Agustus 1964-Februari 1965 Sintong menerima perintah operasi tempur pertamanya di dalam Operasi Kilat penumpasan gerombolan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Sintong berperan aktif dalam menggagalkan G30S/PKI. Sintong memimpin Peleton 1 untuk merebut stasiun / kantor pusat Radio Republik Indonesia (RRI), yang memungkinkan Kapuspen-AD, Brigjen TNI Ibnu Subroto menyiarkan amanat Mayjen TNI Soeharto (yang kelak menjadi presiden RI).

Sintong juga turut serta dalam mengamankan Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, dan memimpin anak buahnya dalam penemuan sumur tua tempat jenazah para Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya.

Setelah itu Sintong menerima tugas operasi pemulihan keamanan dan ketertiban di Jawa Tengah, untuk memimpin Peleton 1 memberantas pendukung G30S/PKI di Semarang, Demak, Blora, Kudus, Cepu, Salatiga, Boyolali, Yogyakarta hingga lereng timur Gunung Merapi.

Nama Sintong melambung ketika berhasil memimpin operasi pembebasan kontra terorisme dalam peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla tanggal 31 Maret 1981 di Thailand. Walau terdapat dua korban jiwa (Pilot dan satu anggota Sintong), namun seluruh awak dan penumpang pesawat selamat, sehingga ia beserta timnya dianugerahi Bintang Sakti dan dinaikkan pangkatnya satu tingkat.

Berbagai prestasi Sintong di kesatuan khusus TNI-AD ini mengantarkannya ke kursi Danjen Kopassus (1985-1987), yakni pasukan elit di tubuh Angkatan Darat.

Keterlibatannya dalam operasi militer di daerah Timor Timur kemudian menjadi salah satu penyebab diangkatnya Sintong menjadi Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IX/Udayana yang mencakup Provinsi Timor Timur.

Namun jabatannya sebagai pangdam dicopot akibat Insiden Dili di pemakaman Santa Cruz, pada 11 November 1991.

Setelah “menganggur” beberapa tahun, ia kemudian bersinar pada zaman B.J. Habibie. Habibie menunjuk Sintong sebagai penasihat bidang militer di kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1994. Sejak saat itu Sintong menjadi penasihat kepercayaan Habibie hingga Habibie menjadi Presiden Indonesia pada tahun 1998 di mana Sintong duduk sebagai penasihat Presiden di bidang Militer.

Pada Maret 2009, wartawan perang Hendro Subroto menerbitkan sebuah buku tentang Sintong yang berjudul “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”. Buku tersebut menuai kontroversi karena menuduh Prabowo Subianto yang pada Maret 1983 berpangkat kapten hendak melakukan upaya kudeta dengan menculik beberapa perwira tinggi ABRI, tetapi berhasil digagalkan Luhut Panjaitan (lihat poin 6 di atas), yang saat itu merupakan atasan Prabowo Subianto.

Loading...
46 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!