20 Jenderal Terbaik Indonesia Beragama Kristen

luhut kopassus

Sepanjang sejarahnya, sebelum dan setelah kemerdekaan, Republik Indonesia (RI) telah banyak menghasilkan jenderal terbaik, baik jenderal bintang satu (Brigadir Jenderal), jenderal bintang dua (Mayor Jenderal), jenderal bintang tiga (Letnan Jenderal), maupun Jenderal bintang empat (Jenderal penuh).

Mereka adalah para pemimpin di tubuh Tentara Nasional Angkatan Darat (TNI-AD), yang memimpin TNI atau sebuah kesatuan/pasukan di tubuh TNI/AD, serta berprestasi dan mendapat sejumlah penghargaan atas tugas dan karya mereka.

Baca juga: 7 Menteri Jokowi Beragama Kristen

Dari sekian banyak jenderal tersebut, banyak juga jenderal yang beragama Kristen ataupun Katholik.

Di sini didaftarkan 20 di antaranya, yang dianggap sebagai jenderal terbaik Kristen/Katholik di Indonesia, sejak pra-kemerdekaan RI hingga pada masa kini.

Baca juga: 20 Universitas Kristen Terbaik Di Indonesia

Para jenderal ini dianggap terbaik karena mereka pernah berprestasi/mendapat penghargaan (baik sebelum maupun sesudah berpangkat jenderal), atau menduduki posisi/jabatan strategis di kesatuan Angkatan Darat, di tubuh TNI secara umum, bahkan di pemerintahan (tentu karena dianggap pantas).

Mereka semua minimal berpangkat Letnan Jenderal (bintang tiga), tetapi semuanya kini sudah pensiun dari dinas militer. Sebagian di antara mereka sudah meninggal, dan sebagian lagi masih hidup, bahkan ada yang masih menduduki suatu jabatan strategis di dalam pemerintahan.

Siapa sajakah mereka? Berikut pembahasannya.

 

1. Jenderal (Purn) Urip Sumoharjo

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik pertama adalah Jenderal Urip Sumoharjo.

Jenderal Urip lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 22 Februari 1893.
Urip berhenti sekolah untuk mengikuti pelatihan militer di Batavia (Jakarta). Setelah lulus pada tahun 1914, ia menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara pemerintah kolonial Belanda. Bertugas selama hampir 25 tahun, ia ditempatkan di tiga pulau berbeda dan dipromosikan beberapa kali, dan akhirnya menjadi perwira pribumi dengan pangkat tertinggi di KNIL.

Urip mengundurkan diri dari jabatannya sekitar tahun 1938 setelah berselisih dengan Bupati Purworejo, tempat ia ditempatkan. Tetapi setelah Jerman Nazi menginvasi Belanda pada bulan Mei 1940, Urip dipanggil kembali untuk bertugas.

Pada tanggal 14 Oktober 1945, beberapa bulan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Urip ditetapkan sebagai kepala staff dan pemimpin sementara angkatan perang yang baru dibentuk. Artinya, dialah pemimpin tertinggi Angkatan Bersenjata RI pada masa itu, atau Panglima TNI pertama RI.

Urip berupaya untuk menyatukan kekuatan kelompok-kelompok militer yang terpecah-pecah di Indonesia.

Ketika Jenderal Sudirman terpilih sebagai panglima Angkatan Perang, Urip tetap menjabat sebagai kepala staff, dan mereka berdua sama-sama mengawasi pembangunan Angkatan Perang pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Urip mengajukan pengunduran dirinya dari militer, namun tetap bertugas sebagai penasihat Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Presiden, Muhammad Hatta.

Urip wafat di Yogyakarta pada 17 November 1948 dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Secara anumerta pangkatnya dinaikkan menjadi Jenderal.

Urip telah menerima banyak tanda kehormatan dari pemerintah. Ia juga merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia dan termasuk di antara 20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler.

 

2. Letnan Jenderal (Purn) T.B. Simatupang

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik selanjutnya adalah Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama T.B. Simatupang.

Letjen T.B. Simatupang lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, pada 28 Januari 1920. Ia lulus dari Koninlijke Militaire Academie (KMA) pada tahun 1942 dengan mendapatkan gelar taruna mahkota dengan mahkota perak karena dinilai berprestasi khususnya di bidang teori.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Simatupang bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), dan kemudian turut bergerilya bersama Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman melawan pasukan Belanda yang berniat menguasai kembali bekas koloninya tersebut

Selama perang kemerdekaan Indonesia tersebut, ia pun diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang (WAKSAP) RI pada tahun 1948 hingga 1949.

Ketika Jenderal Sudirman wafat pada tahun 1950, Simatupang diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI/KSAP (saat ini disebut Panglima TNI) dengan pangkat Mayor Jenderal hingga tahun 1953. Waktu itu ia masih berusia 29 tahun!

Setelah Presiden Sukarno menghapuskan jabatan KSAP pada tahun 1953, Simatupang diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI, tahun 1954-1959.

Setelah non aktif dari kemiliteran, T.B. Simatupang menyibukkan diri dengan menulis buku dan mengajar di SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, sekarang Seskoad, dan Akademi Hukum Milter/AHM).

Akhirnya dia resmi pensiun dari dinas militer pada tanggal 21 Juli 1959 dalam usia 39 tahun dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal.

Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

T.B. Simatupang meninggal dunia pada 1 Januari 1990 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Dia adalah seorang Pahlwan Nasional RI dan namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

 

3. Jenderal (Purn) Maraden Panggabean

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik berikutnya adalah Jenderal Maraden Panggabean.

Jenderal Saur Halomoan Maraden Panggabean lahir di Tarutung, Sumatera Utara, pada 29 Juni 1922.

Jenderal Maraden mendapat jenjang karier yang sempurna di militer serta memiliki jabatan bergengsi di pemerintahan pada zaman Presiden Suharto.

Ia menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada tahun 1968-1969, Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) tahun 1969–1973, Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan Menteri Pertahanan dan Keamanan tahun 1971–1978.

Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam) tahun 1978-1983, dialah Menkopolkam pertama Indonesia.

Selanjutnya pada tahun 1983-1988, Maraden menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Kini lembaga DPA diganti dengan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Maraden aktif dalam kegiatan organisasi di Golongan Karya (Golkar) dan pernah menjadi anggota Dewan Pembina (1973), Ketua Dewan Pembina (1974-1978), dan Ketua Presidium Harian Dewan Pembina Golkar (1979-1988).

Jenderal Maraden Panggabean meninggal di Jakarta, pada 28 Mei 2000 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta dengan upacara militer.

 

4. Jenderal (Purn) Benny Moerdani

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Jenderal Benny Moerdani.

Jenderal Leonardus Benyamin Moerdani atau biasa disingkat Benny Moerdani atau L.B. Moerdani, lahir pada 2 Oktober 1932 di Cepu, Blora, Jawa Tengah dari pasangan R.G. Moerdani Sosrodirjo dan Jeanne Roech, keturunan Jerman.

L.B. Moerdani merupakan perwira yang ikut terjun langsung di operasi militer penanganan pembajakan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand pada tanggal 28 Maret 1981, peristiwa pembajakan pesawat pertama dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia dan terorisme bermotif jihad pertama di Indonesia (lihat poin 7 di bawah).

Dalam posisi pemerintahan, selain sebagai Panglima ABRI, ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan dan juga Pangkopkamtib (sekarang jabatan ini sudah tidak ada lagi).

Sebagai anggota RPKAD (kini Kopassus), Moerdani menjadi bagian dari pertempuran untuk menekan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), kelompok separatis yang berbasis di Sumatera.

Tugas Moerdani berikutnya adalah untuk mengurus Piagam Perjuangan Semesta (Permesta), kelompok separatis lain di Sulawesi. Mirip dengan apa yang dia lakukan di Sumatera, Moerdani dan pasukannya meletakkan dasar bagi semua serangan terhadap Permesta yang kemudian menyerah pada bulan Juni 1958.

Moerdani memimpin pasukan dalam pertempuran-pertempuran melawan anggota Angkatan Laut Belanda sampai PBB ikut campur pada bulan Agustus 1962 dan memutuskan memberikan Irian Barat ke Indonesia.

Pada tahun 1984 bersama-sama dengan Panglima Kodam V/Jaya, Try Sutrisno, ia memerintahkan untuk menggunakan tindakan keras terhadap demonstran Islam di Tanjung Priok, Jakarta yang mengakibatkan kematian. Moerdani mengklaim bahwa para demonstran telah terprovokasi dan tidak bisa dikendalikan secara damai dan sebagai hasilnya ia memerintahkan tindakan keras.

Karena hal ini, banyak kelompok Islam membencinya, namun Moerdani bersikeras bahwa dia tidak pernah ingin menganiaya Muslim dan melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah Muslim di seluruh Jawa untuk meningkatkan citranya dengan Muslim.

Sebagai Panglima ABRI (Panglima TNI) saat itu, Moerdani dianggap sebagai orang terkuat kedua di Indonesia saat, setelah Presiden Soeharto.

Moerdani cukup tegas mengkritik Soeharto soal korupsi dan nepotisme dalam rezimnya, sehingga hubungannya dengan Soeharto memburuk.

Benny Moerdani meninggal di Jakarta pada 29 Agustus 2004 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

 

5. Letnan Jenderal (Purn) Bambang Sugeng

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Bambang Sugeng.

Letjen Bambang Sugeng lahir di Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, pada 31 Oktober 1913.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Bambang diangkat menjadi Komandan Resiman TKR (kini TNI) di Wonosobo, Jawa Tengah, dengan pangkat Letnan Kolonel. Ia juga memimpin pasukan TKR pada saat Agresi Militer Belanda I (1947) dan Agresi Militer Belanda II (1948).

Selain itu ia juga termasuk perwira yang terlibat dalam perencanaan Serangan Umum 1 Maret 1949. Sebagai penguasa teritorial, Bambang mengendalikan jalannya pertempuran di wilayah Divisi III Jawa Tengah dan Yogyakarta pada masa 1948-1949.

Dengan posisinya yang senior kemudian Pemerintah menunjuknya untuk menjadi wakil Panglima Besar Sudirman atau Wakil 1 Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) mulai 21 September 1944 hingga 27 Desember 1949.

Pada bulan Juni 1950 Bambang diangkat menjadi Panglima Divisi I/TT V Jawa Timur. Lalu menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ke-3 yang menjabat dari tanggal 22 Desember 1952 hingga 8 Mei 1955.

Bambang-lah yang memprakarsai pencatatan setiap prajurit TNI atau Nomor Registrasi Pusat (NRP) yang kemudian ditiru oleh pencatatan organisasi sipil atau Nomor Induk Pegawai (NIP).

Setelah berhasil menyatukan kembali para perwira TNI Angkatan Darat melalui Piagam Djogja 1955, Bambang mengundurkan diri sebagai KSAD pada tanggal 8 Mei 1955.

Setelah berhenti dari dinas militer, Bambang diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Vatikan (1956 – 1960), Duta Besar Indonesia untuk Jepang (1960-1964), dan Duta Besar Indonesia untuk Brasil (1964-1966).

Bambang Sugeng meninggal di Jakarta pada 22 Juni 1977 dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Tegalrejo, Magelang. Saat itu pangkatnya adalah Mayor Jenderal. Pemerintah Indonesia kemudian menaikkan pangkatnya menjadi Letnan Jenderal (Kehormatan).

 

6. Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Jenderal Luhut Panjaitan.

Jenderal Luhut Binsar Panjaitan lahir di Simargala, Huta Namora, Silaen, Toba Samosir, Sumatera Utara, pada tanggal 28 September 1947.

Luhut adalah lulusan terbaik dari Akademi Militer Nasional angkatan tahun 1970.

Karier militernya banyak dihabiskan di Kopassus TNI AD. Di kalangan militer dikenal sebagai Komandan pertama Detasemen 81. Berbagai medan tempur dan jabatan penting telah disandangnya: Komandan Grup 3 Kopassus, Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif), hingga Komandan Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI Angkatan Darat.

Ketika menjadi perwira menengah, pengalamannya berlatih di unit-unit pasukan khusus terbaik dunia memberinya bekal untuk mendirikan sekaligus menjadi komandan pertama Detasemen 81 (sekarang Sat-81/Gultor) kesatuan baret merah Kopassus, menjadi salah satu pasukan khusus penanggulangan terorisme terbaik di dunia.

Dia juga dikenal sebagai Pendiri dan Komandan Pertama Proyek Rajawali Pada Pusat Intelijen Strategis BAIS ABRI serta Pendiri Dan Komandan Pertama Sekolah Pertempuran Khusus Detasemen-81/Anti-Terror Kopassus Pada Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus).

Selama berkarier di militer, ia telah mendapat banyak prestasi dan penghargaan. Antara lain: Komandan Resort Militer (Danrem) Terbaik se-Indonesia, ketika ia menjadi DanKorem di Madiun, Jawa Timur, serta Komandan Satgas Tempur Terbaik Di Timor-Timur.

Dia juga merupakan lulusan terbaik Kursus Dasar Kecabangan Infanteri, lulusan terbaik Kursus Komando, dan lulusan terbaik Kursus Lintas Udara.

Pada Tahun 1999 Presiden B.J. Habibie mengangkatnya menjadi Duta Besar Indonesia Untuk Singapura. Lalu Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mempercayakannya sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian, pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi Jenderal penuh (bintang empat).

Jenderal Luhut adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia saat ini, dan menjadi salah satu dari 7 Menteri Jokowi Yang Beragama Kristen.

 

7. Letnan Jenderal (Purn) Sintong Panjaitan

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Sintong Panjaitan.

Letjen Sintong Hamonangan Panjaitan lahir di Tarutung, Sumatera Utara, pada 4 September 1940.

Ia menerima 20 perintah operasi/penugasan di dalam dan luar negeri selama karier militernya.

Pada periode Agustus 1964-Februari 1965 Sintong menerima perintah operasi tempur pertamanya di dalam Operasi Kilat penumpasan gerombolan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Sintong berperan aktif dalam menggagalkan G30S/PKI. Sintong memimpin Peleton 1 untuk merebut stasiun / kantor pusat Radio Republik Indonesia (RRI), yang memungkinkan Kapuspen-AD, Brigjen TNI Ibnu Subroto menyiarkan amanat Mayjen TNI Soeharto (yang kelak menjadi presiden RI).

Sintong juga turut serta dalam mengamankan Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, dan memimpin anak buahnya dalam penemuan sumur tua tempat jenazah para Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya.

Setelah itu Sintong menerima tugas operasi pemulihan keamanan dan ketertiban di Jawa Tengah, untuk memimpin Peleton 1 memberantas pendukung G30S/PKI di Semarang, Demak, Blora, Kudus, Cepu, Salatiga, Boyolali, Yogyakarta hingga lereng timur Gunung Merapi.

Nama Sintong melambung ketika berhasil memimpin operasi pembebasan kontra terorisme dalam peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla tanggal 31 Maret 1981 di Thailand. Walau terdapat dua korban jiwa (Pilot dan satu anggota Sintong), namun seluruh awak dan penumpang pesawat selamat, sehingga ia beserta timnya dianugerahi Bintang Sakti dan dinaikkan pangkatnya satu tingkat.

Berbagai prestasi Sintong di kesatuan khusus TNI-AD ini mengantarkannya ke kursi Danjen Kopassus (1985-1987), yakni pasukan elit di tubuh Angkatan Darat.

Keterlibatannya dalam operasi militer di daerah Timor Timur kemudian menjadi salah satu penyebab diangkatnya Sintong menjadi Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IX/Udayana yang mencakup Provinsi Timor Timur.

Namun jabatannya sebagai pangdam dicopot akibat Insiden Dili di pemakaman Santa Cruz, pada 11 November 1991.

Setelah “menganggur” beberapa tahun, ia kemudian bersinar pada zaman B.J. Habibie. Habibie menunjuk Sintong sebagai penasihat bidang militer di kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1994. Sejak saat itu Sintong menjadi penasihat kepercayaan Habibie hingga Habibie menjadi Presiden Indonesia pada tahun 1998 di mana Sintong duduk sebagai penasihat Presiden di bidang Militer.

Pada Maret 2009, wartawan perang Hendro Subroto menerbitkan sebuah buku tentang Sintong yang berjudul “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”. Buku tersebut menuai kontroversi karena menuduh Prabowo Subianto yang pada Maret 1983 berpangkat kapten hendak melakukan upaya kudeta dengan menculik beberapa perwira tinggi ABRI, tetapi berhasil digagalkan Luhut Panjaitan (lihat poin 6 di atas), yang saat itu merupakan atasan Prabowo Subianto.

 

8. Letnan Jenderal (Purn) T.B. Silalahi

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik berikutnya adalah Letnan Jenderal T.B. Silalahi.

Letjen Tiopan Benhard Silalahi lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada tanggal 17 April 1938. Ia merupakan lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1961.

Pengabdian di bidang militer diawali sebagi Danton Yonkav 4 Siliwangi dalam operasi Kamdagri di Jawa Barat (1962),Wadanki dalam operasi Kamdagri di Sulawesi Selatan (1963-1965) bersamaan dengan operasi Dwikora, serta Danyonkav 8 Tank Kostrad (1972).

Ia kemudian ditugaskan ke Timur Tengah sebagai pasukan PBB pada perang Oktober 1973 antara Israel dan Mesir sebagai Camp Commandant UNEF Middle East di Kairo.

Lalu ia menjadi Dosen Sesko AD (1974), Asops Kasdam XVI Hasanuddin di Ujung Pandang (1978), Kasdam IV Diponegoro (1984) dan Asisten Perencanaan dan Anggaran KASAD (1986) dengan pangkat Mayor Jenderal.

Karier militernya dilanjutkan dengan tugas karya sebagai Sekretaris Jenderal Departemen (Kementerian) Pertambangan dan Energi (1988). Lalu pada tahun 1993-1998, ia diangkat sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Jenderal.

Selama mengikuti pendidikan militer, ia sering menjadi lulusan terbaik di angkatannya dan mendapat penghargaan. Antara lain, Kupaltu Kav (setingkat Kursus Dan Ki), Kursus Guru Perang Nuklir Biologi dan Kimia, Suslapa Kav (Kursus Dan Yon), Sesko ABRI, dan Lemhannas KRA XVI.

Setelah lama tidak aktif di pemerintahan, ia kemudian diangkat menjadi anggota (kemudian ketua) Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah hingga saat ini.

Hingga kini ia masih menjadi Dosen Senior di Lemhannas, Dosen Tamu SESKOAD, SESKOAL, SESKOAU, SESPIM POLRI, dan Komisaris Utama di berbagai perusahaan Nasional dan Internasional.

 

9. Letnan Jenderal (Purn) Johny Lumintang

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik berikutnya adalah Letnan Jenderal Johny Lumintang.

Letjen Johny Josephus Lumintang lahir di Desa Noongan, Minahasa, Sulawesi Utara, pada 28 Juni 1947.

Ia adalah lulusan AKABRI Angkatan 1970 dan berasal dari kesatuan Infanteri – Baret Hijau.

Ia turut berperan dalam operasi pembebasan sandera Mapenduma Team Ekspedisi Lorenz di Irian Jaya, lewat Operasi Rajawali, saat ia menjadi Kepala Staf Kodam VIII/Trikora (1996).

Ia juga memimpin langsung pembebasan sandera 14 orang karyawan PT. Jayanti yang disandera GPK di Kamuna Raya Camp, Timika tanggal 14 Agustus 1996. Tanggal 18 September 1996 sandera berhasil dibebaskan walaupun akhirnya 2 sandera meninggal dunia.

Beberapa jabatan penting yang pernah diembannya antara lain: Komandan Resimen Induk Kodam Jaya, Komandan Resort Militer (Danrem) 164 Wira Dharma Dili, Timor-Timur, Panglima Divisi Infanteri I Kostrad, Kepala Staf Daerah Militer VIII/Trikora, Panglima Daerah Militer VIII/Trikora, Asisten Operasi KASUM ABRI, serta Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (walau hanya 17 jam!).

Kemudian ia menjadi Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI sekaligus sebagai Anggota Fraksi ABRI MPR-RI, lalu Gubernur Lemhanas, bahkan menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat.

Sebelum pensiun dari dinas militer, ia memangku jabatan sebagai Sekretaris Jenderal Departemen (Kementerian) Pertahanan RI (Dephan).

Ia adalah alumnus Sesko TNI (1991-1992) Angkatan 18, Sus Staf Senior (1992) serta Lemhanas (1995). Ia juga mengikuti pendidikan militer di Infantry Officer Advanced Course, di Fort Benning, USA (1978), serta International Defence Management Course, di Monterey, USA (1989).

Setelah pensiun dari dinas militer, Johny kemudian menjadi Duta Besar Indonesia untuk Filipina sejak 14 Februari 2014.

 

10. Letnan Jenderal (Purn) Arie J. Kumaat

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Arie J. Kumaat.

Letjen Arie Jeffry Kumaat lahir di Lansot, Minahasa, Sulawesi Utara, pada 20 Mei 1944.

Beberapa jabatan yang pernah diembannya adalah: Komandan Batalyon Brigade Infanteri I Jaya Sakti, Jakarta, Komandan Komando Distrik Militer (Kodim), Jakarta Selatan, Komandan Komando Resort Militer 163/Wirasatya, Bali, Komandan Resimen Taruna Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, Kepala Staf Garnisun I Ibukota, Jakarta.

Kemudian ia menjadi Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA), Direktur D Badan Intelijen Strategis (BAIS), Panglima Kodam (Pangdam) I/Bukit Barisan, Medan (1994-1995), Asisten Teritorial Kasum ABRI (1995-1997), Komandan Sekolah Staf dan Komando (Dansesko) ABRI (1997-1998).

Jabatan terakhirnya di militer adalah Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Kabakin) (1999-2001), yang sekarang dikenal sebagai Badan Intelijen Negara (BIN).

Arie Kumaat merupakan lulusan terbaik Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Angkatan Darat, serta lulusan terbaik Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS).

Arie Kumaat meninggal di Jakarta, pada 13 Januari 2002 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

 

11. Letnan Jenderal (Purn) Suryo Prabowo

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Suryo Prabowo.

Letjen Johannes Suryo Prabowo lahir di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada 15 Juni 1954.

Ia adalah alumni AKABRI (sekarang Akmil) tahun 1976, dengan penghargaan Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama sebagai taruna lulusan terbaik.

Selama berstatus Taruna Akabri pada tahun 1974 ditugaskan dalam ‘pertukaran taruna’ dengan Taruna dari RMC (Royal Military College) Duntroon, Australia.

Setelah menyelesaikan pendidikan di AKABRI, dia mengikuti berbagai pendidikan/kursus, di antaranya kursus spesialisasis Nubika (Nuklir Biologi dan Kimia), kursus penjinakan bahan peledak, kursus dasar para dan kursus pandu udara, Suslapa, Seskoad dan Lemhanas KRA 14. Hampir seluruhnya diselesaikannya dengan predikat terbaik.

Ia banyak bertugas di Timor-Timur bahkan pernah menjadi Wakil Gubernur Timor Timur (1998).

Jabatan yang pernah dipegangnya, antara lain: Sekretaris Pribadi Kasum ABRI, Wadan Pasukan Pengamanan Presiden, Kepala Staf Kodam III/Siliwangi, Pangdam I/Bukit Barisan, Pangdam Jaya/Jayakarta, Wakil Kepala Staf TNI AD, dan Kepala Staf Umum TNI.

Ketika menjadi Wakil Kepala Staf TNI AD dengan pangkat Letnan Jenderal, Suryo Prabowo banyak berkreasi untuk membenahi sistem pendidikan dan latihan dijajaran TNI AD, terutama yang difokuskan pada bidang Kepemimpinan Militer dan taktik bertempur.

Selama 36 tahun masa pengabdiannya di TNI, Suryo Prabowo dianugerahi 17 tanda kehormatan.

Suryo Prabowo juga telah menulis beberapa buku di seputar pertahanan /militer.

Ia kemudian bergabung ke Partai Gerindra dan menjadi pendukung utama Prabowo Subianto ketika maju sebagai calon presiden pada pilpres 2014 silam.

 

12. Letnan Jenderal (Purn) Sahala Rajagukguk

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Sahala Rajagukguk.

Letjen Adolf Sahala Rajagukguk lahir di Muara, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 31 Desember 1938.

Sahala Rajagukguk mempunyai banyak penugasan di Timor Timur (TimTim). Antara lain menjadi Komandan Korem 164/Wira Dharma/Timor Timur, Panglima Kolakops TNI Timor Timur, dan Panglima Koopskam TNI Timor Timur.

Kemudian ketika berpangkat Mayor Jenderal (bintang dua) ia menjadi Panglima Kodam XIII Merdeka, Wakil Komandan Seskoad, Asisten Operasi KSAD, dan Panglima Kodam IX/Udayana.

Jabatannya terus naik hingga ia menjadi Panglima Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) tahun 1987-1988, suatu jabatan yang sangat strategis di tubuh TNI Angkatan Darat. Di sini pangkatnya naik menjadi Letnan Jenderal (bintang tiga).

Ia mencapai puncak karier militernya ketika dilantik menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad). Jabatan inilah yang diembannya hingga ia pensiun dari dinas militer.

Setelah pensiun dari dinas militer, ia diangkat menjadi Duta Besar RI untuk India.

Letjen Sahala meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil di Pangururan, Sumatera Utara, pada 16 November 2002. Ia meninggal bersama istri dan iparnya.

 

13. Letnan Jenderal (Purn) Erwin Sudjono

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Erwin Sudjono.

Letjen Erwin Sudjono lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 5 Februari 1951.

Erwin merupakan lulusan Akabri tahun 1975.

Sejumlah tugas operasi pernah dijalani Erwin. Antara lain, dua kali bertugas dalam Operasi Timor Timur (1976), Operasi Perdamaian PBB (1992), dan Operasi Aceh (2003).

Beberapa jabatan penting yang pernah diembannya adalah: Danrem 121/Alambhana Wanawai Kodam VI/Tanjung Pura (Kolonel), Kasdivif 1/Kostrad, Kasdam III/Siliwangi (Brigadir Jenderal), Pangdivif 2 Kostrad, Pangdam Tanjungpura (Mayor Jenderal), Pangkostrad (2006 -2007), dan Kasum TNI (2007), dengan pangkat Letnan Jenderal.

Selama berkarier di militer sejumlah tanda jasa dan bintang penghargaan pernah disandangnya, di antaranya Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Satya Lencana (SL) Seroja, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, SL Dwija Sistha, Tanda Jasa Pemerintah Kamboja, SL UNTAC/PBB, dan SL Santi Dharma.

Letjen Erwin Sudjono merupakan saudara ipar dari mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

 

14. Letnan Jenderal (Purn) H.B.L. Mantiri

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik berikutnya adalah Letnan Jenderal H.B.L. Mantiri.

Letjen Herman Bernhard Leopold Mantiri lahir di Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 11 September 1939, sebagai keturunan Minahasa, Sulawesi Utara.

Jabatan terakhirnya di militer adalah Kepala Staf Umum ABRI (Kasum ABRI), yang sekarang dikenal sebagai Kepala Staf Umum TNI (Kasum TNI), dengan pangkat Letnan Jenderal.

Sebelum menjadi kepala staf umum ABRI/TNI, Mantiri menjabat sebagai Pangdam Udayana (berkedudukan di Denpasar), menggantikan Letjen Sintong Panjaitan.

Setelah pensiun dari militer, ia menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura.

Namanya sempat mencuat sebagai calon duta besar Indonesia untuk Australia pada tahun 1995, namun akhirnya pencalonannya dibatalkan pemerintah karena sebuah komentarnya mengenai aksi militer di Timor Timur pada 1991 kurang disukai pemerintah Australia.

Ia juga pernah menjadi Wakil Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Letjen Mantiri sangat aktif dalam dunia pelayanan gereja, antara lain di Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) dan di Full Gospel.

 

15. Letnan Jenderal (Purn) Cornel Simbolon

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Cornel Simbolon.

Letjen Cornel Simbolon lahir di Pangururan, Samosir, Sumatera Utara, pada 14 Juli 1951.

Cornel merupakan alumnus Akademi Militer tahun 1973 dan berasal dari kecabangan infanteri.
Jabatan yang pernah diembannya antara lain: Komandan Brigade Infanteri 13/ Kostrad, Wakil Asisten Operasi KASAD, Asisten Operasi KASAD, Panglima Daerah Militer IV/Diponegoro, Komandan Kodiklat TNI.
Jabatan militer terakhir Cornel adalah sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) dari tahun 2007 hingga 2008.

Setelah pensiun dari dinas milier, Cornel terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Partai Demokrat. Ia adalah salah satu jenderal pendukung Prabowo Subianto pada pilpres 2014 silam.

 

16. Letnan Jenderal (Purn) Hotmangaraja Panjaitan

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Hotmangaraja Panjaitan.

Letjen Hotmangaraja M.P. Panjaitan lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada14 Oktober 1953.

Ia berasal dari kesatuan Infanteri – Baret Merah (Kopassus) angkatan 1977.

Jabatan yang pernah diembannya antara lain: Asintel Kopassus, Dan Grup 3 Sandhi Yudha/Kopassus, Danrem 163/Wirasatya.

Ketika berpangkat Brigadir Jenderal (bintang satu) ia menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad) dan Waaspam Kasad.

Pangkatnya naik menjadi Mayor Jenderal ketika ia menjabat sebagai Danpusterad, Aster Kasad, dan Pangdam IX/Udayana.

Pangkat terakhirnya di militer adalah Letnan Jenderal TNI dengan jabatan sebagai Sekretaris Kementerian Politik, Hukum, dan Keamanan (SesMenkoPolhukam) RI.

Ia pernah mendapat pelatihan di US Army Airborne, Pathfinder, Ranger Course, Fort Benning dan US Army Special Forces, Fort Bragg, Amerika Serikat, serta bertugas sebagai Atase Militer di Republik Federal Jerman.

Hotmangaraja merupakan putera dari Pahlawan Revolusi, Mayjen TNI Anumerta D.I. Panjaitan.

Saat ini Hotmangaraja menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Perancis, Andorra, Monako, serta UNESCO.

 

17. Letnan Jenderal (Purn) Romulo Simbolon

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik berikutnya adalah Letnan Jenderal Romulo Simbolon.

Letjen Romulo Robert Simbolon merupakan angkatan 1973 Akademi Militer, seangkatan dengan Letjen Cornel Simbolon dan tokoh militer terkemuka lainnya, antara lain dengan mantan presiden SBY.

Romulo pernah menjabat sebagai Kasdam Jaya, dan jabatan terakhirnya di militer adalah Sektretaris Kementerian Politik Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam), ketika ia berpangkat Letnan Jenderal.

Dia dianggap paling cemerlang di angkatannya dan digadang-gadang memiliki karier yang cemerlang di TNI. Namun faktanya jabatannya “mentok” di Seskemenpohulkam dan pangkat terakhirnya “hanya” sampai Letnan Jenderal.

Bersama Letjen Suryo Prabowo dan Letjen Cornel Simbolon, Letjen Romulo merupakan jenderal pendukung Prabowo Subianto pada pilpres 2014 silam.

 

18. Letnan Jenderal (Purn) Leo Lopulisa

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Leo Lopulisa.

Letjen Leo Lopulisa, merupakan keturunan Maluku, lahir di Bandung pada tanggal 23 November 1926.

Leo pernah menjadi Panglima Kodam I/Bukit Barisan, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) dari 4 Januari 1975 hingga 19 Januari 1978, dan Panglima Kowilhan III/Sulawesi-Kalimantan (jabatan ini sudah tidak ada lagi saat ini) tahun 1978-1981.

Setelah pensiun dari dinas militer, ia menjadi Duta Besar Indonesia untuk Filipina dari tahun 1981 sampai 1983.

Leo Lopulisa meninggal di Jakarta pada tanggal 14 September 2009.

Leo cukup aktif dalam pelayanan Kristen, antara lain sebagai penasehat Persekutuan Injili Indonesia (PII), yang kini berubah nama menjadi Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII).

 

19. Letnan Jenderal (Purn) G.H. Mantik

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal G.H. Mantik.

Letjen Gustaf Hendrik Mantik lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 26 April 1928 dari keturunan Minahasa.

Ketika revolusi fisik masih bergolak G.H. Mantik menjadi Komandan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) wilayah Bandung-Jakarta. Ia juga turut aktif dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun, penumpasan pemberontakan APRA di Bandung, penumpasan pemberontakan RMS di Maluku, dan berbagai operasi militer lainnya.

G.H. Mantik pernah menjabat Asisten II Kodam V/Jaya, Kepala Staf Garnizun Jakarta, Pangdam IX/Mulawarman, dan Pangdam V/Jaya. Lalu dengan pangkat Letnan Jenderal, ia dilantik menjadi Pangkowilhan I, yang merupakan jabatan terakhirnya di kemiliteran.

Ia kemudian menjadi Gubernur Sulawesi Utara selama 7 tahun (1978-1985).

G.H. Mantik merupakan ayah mertua dari Letjen Arie J. Kumaat (lihat poin 10 di atas). Ia meninggal di Jakarta pada 8 Agustus 2001.

 

20. Letnan Jenderal (Purn) Amir Sembiring

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik terakhir adalah Letnan Jenderal Amir Sembiring.

Letjen Amir Sembiring lahir di Pancur Batu, Sumatera Utara, pada 3 Agustus 1947.

Jabatan yang pernah diembannya antara lain adalah Sekretaris Utama Lemhanas, Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XVII/Cenderawasih (1998-1999), dan Komandan Kodiklat TNI-AD (2000-2001).

Ia cukup aktif dalam pelayanan gerejawi, khususnya di lingkungan gereja GBKP. Antara lain dengan terlibat sebagai penasehat Panitia Sidang Sinode dan Jubileum 125 tahun GBKP Tahun 2015, satu dari 25 Sinode Gereja Terbesar Di Indonesia.

 

Itulah 20 Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah.

 

Ikuti juga Halaman Rubrik Kristen di facebook dengan cara mengklik tombol facebook “ikuti” di bagian bawah artikel ini sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

29 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!