Loading...
Loading...

20 Jenderal Terbaik Indonesia Beragama Kristen

 

8. Letnan Jenderal (Purn) T.B. Silalahi

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik berikutnya adalah Letnan Jenderal T.B. Silalahi.

Letjen Tiopan Benhard Silalahi lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada tanggal 17 April 1938. Ia merupakan lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1961.

Pengabdian di bidang militer diawali sebagi Danton Yonkav 4 Siliwangi dalam operasi Kamdagri di Jawa Barat (1962),Wadanki dalam operasi Kamdagri di Sulawesi Selatan (1963-1965) bersamaan dengan operasi Dwikora, serta Danyonkav 8 Tank Kostrad (1972).

Ia kemudian ditugaskan ke Timur Tengah sebagai pasukan PBB pada perang Oktober 1973 antara Israel dan Mesir sebagai Camp Commandant UNEF Middle East di Kairo.

Lalu ia menjadi Dosen Sesko AD (1974), Asops Kasdam XVI Hasanuddin di Ujung Pandang (1978), Kasdam IV Diponegoro (1984) dan Asisten Perencanaan dan Anggaran KASAD (1986) dengan pangkat Mayor Jenderal.

Karier militernya dilanjutkan dengan tugas karya sebagai Sekretaris Jenderal Departemen (Kementerian) Pertambangan dan Energi (1988). Lalu pada tahun 1993-1998, ia diangkat sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Jenderal.

Selama mengikuti pendidikan militer, ia sering menjadi lulusan terbaik di angkatannya dan mendapat penghargaan. Antara lain, Kupaltu Kav (setingkat Kursus Dan Ki), Kursus Guru Perang Nuklir Biologi dan Kimia, Suslapa Kav (Kursus Dan Yon), Sesko ABRI, dan Lemhannas KRA XVI.

Setelah lama tidak aktif di pemerintahan, ia kemudian diangkat menjadi anggota (kemudian ketua) Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah hingga saat ini.

Hingga kini ia masih menjadi Dosen Senior di Lemhannas, Dosen Tamu SESKOAD, SESKOAL, SESKOAU, SESPIM POLRI, dan Komisaris Utama di berbagai perusahaan Nasional dan Internasional.

 

9. Letnan Jenderal (Purn) Johny Lumintang

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik berikutnya adalah Letnan Jenderal Johny Lumintang.

Letjen Johny Josephus Lumintang lahir di Desa Noongan, Minahasa, Sulawesi Utara, pada 28 Juni 1947.

Ia adalah lulusan AKABRI Angkatan 1970 dan berasal dari kesatuan Infanteri – Baret Hijau.

Ia turut berperan dalam operasi pembebasan sandera Mapenduma Team Ekspedisi Lorenz di Irian Jaya, lewat Operasi Rajawali, saat ia menjadi Kepala Staf Kodam VIII/Trikora (1996).

Ia juga memimpin langsung pembebasan sandera 14 orang karyawan PT. Jayanti yang disandera GPK di Kamuna Raya Camp, Timika tanggal 14 Agustus 1996. Tanggal 18 September 1996 sandera berhasil dibebaskan walaupun akhirnya 2 sandera meninggal dunia.

Beberapa jabatan penting yang pernah diembannya antara lain: Komandan Resimen Induk Kodam Jaya, Komandan Resort Militer (Danrem) 164 Wira Dharma Dili, Timor-Timur, Panglima Divisi Infanteri I Kostrad, Kepala Staf Daerah Militer VIII/Trikora, Panglima Daerah Militer VIII/Trikora, Asisten Operasi KASUM ABRI, serta Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (walau hanya 17 jam!).

Kemudian ia menjadi Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI sekaligus sebagai Anggota Fraksi ABRI MPR-RI, lalu Gubernur Lemhanas, bahkan menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat.

Sebelum pensiun dari dinas militer, ia memangku jabatan sebagai Sekretaris Jenderal Departemen (Kementerian) Pertahanan RI (Dephan).

Ia adalah alumnus Sesko TNI (1991-1992) Angkatan 18, Sus Staf Senior (1992) serta Lemhanas (1995). Ia juga mengikuti pendidikan militer di Infantry Officer Advanced Course, di Fort Benning, USA (1978), serta International Defence Management Course, di Monterey, USA (1989).

Setelah pensiun dari dinas militer, Johny kemudian menjadi Duta Besar Indonesia untuk Filipina sejak 14 Februari 2014.

 

10. Letnan Jenderal (Purn) Arie J. Kumaat

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Arie J. Kumaat.

Letjen Arie Jeffry Kumaat lahir di Lansot, Minahasa, Sulawesi Utara, pada 20 Mei 1944.

Beberapa jabatan yang pernah diembannya adalah: Komandan Batalyon Brigade Infanteri I Jaya Sakti, Jakarta, Komandan Komando Distrik Militer (Kodim), Jakarta Selatan, Komandan Komando Resort Militer 163/Wirasatya, Bali, Komandan Resimen Taruna Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, Kepala Staf Garnisun I Ibukota, Jakarta.

Kemudian ia menjadi Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA), Direktur D Badan Intelijen Strategis (BAIS), Panglima Kodam (Pangdam) I/Bukit Barisan, Medan (1994-1995), Asisten Teritorial Kasum ABRI (1995-1997), Komandan Sekolah Staf dan Komando (Dansesko) ABRI (1997-1998).

Jabatan terakhirnya di militer adalah Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Kabakin) (1999-2001), yang sekarang dikenal sebagai Badan Intelijen Negara (BIN).

Arie Kumaat merupakan lulusan terbaik Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Angkatan Darat, serta lulusan terbaik Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS).

Arie Kumaat meninggal di Jakarta, pada 13 Januari 2002 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

 

11. Letnan Jenderal (Purn) Suryo Prabowo

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Suryo Prabowo.

Letjen Johannes Suryo Prabowo lahir di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada 15 Juni 1954.

Ia adalah alumni AKABRI (sekarang Akmil) tahun 1976, dengan penghargaan Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama sebagai taruna lulusan terbaik.

Selama berstatus Taruna Akabri pada tahun 1974 ditugaskan dalam ‘pertukaran taruna’ dengan Taruna dari RMC (Royal Military College) Duntroon, Australia.

Setelah menyelesaikan pendidikan di AKABRI, dia mengikuti berbagai pendidikan/kursus, di antaranya kursus spesialisasis Nubika (Nuklir Biologi dan Kimia), kursus penjinakan bahan peledak, kursus dasar para dan kursus pandu udara, Suslapa, Seskoad dan Lemhanas KRA 14. Hampir seluruhnya diselesaikannya dengan predikat terbaik.

Ia banyak bertugas di Timor-Timur bahkan pernah menjadi Wakil Gubernur Timor Timur (1998).

Jabatan yang pernah dipegangnya, antara lain: Sekretaris Pribadi Kasum ABRI, Wadan Pasukan Pengamanan Presiden, Kepala Staf Kodam III/Siliwangi, Pangdam I/Bukit Barisan, Pangdam Jaya/Jayakarta, Wakil Kepala Staf TNI AD, dan Kepala Staf Umum TNI.

Ketika menjadi Wakil Kepala Staf TNI AD dengan pangkat Letnan Jenderal, Suryo Prabowo banyak berkreasi untuk membenahi sistem pendidikan dan latihan dijajaran TNI AD, terutama yang difokuskan pada bidang Kepemimpinan Militer dan taktik bertempur.

Selama 36 tahun masa pengabdiannya di TNI, Suryo Prabowo dianugerahi 17 tanda kehormatan.

Suryo Prabowo juga telah menulis beberapa buku di seputar pertahanan /militer.

Ia kemudian bergabung ke Partai Gerindra dan menjadi pendukung utama Prabowo Subianto ketika maju sebagai calon presiden pada pilpres 2014 silam.

 

12. Letnan Jenderal (Purn) Sahala Rajagukguk

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Sahala Rajagukguk.

Letjen Adolf Sahala Rajagukguk lahir di Muara, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 31 Desember 1938.

Sahala Rajagukguk mempunyai banyak penugasan di Timor Timur (TimTim). Antara lain menjadi Komandan Korem 164/Wira Dharma/Timor Timur, Panglima Kolakops TNI Timor Timur, dan Panglima Koopskam TNI Timor Timur.

Kemudian ketika berpangkat Mayor Jenderal (bintang dua) ia menjadi Panglima Kodam XIII Merdeka, Wakil Komandan Seskoad, Asisten Operasi KSAD, dan Panglima Kodam IX/Udayana.

Jabatannya terus naik hingga ia menjadi Panglima Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) tahun 1987-1988, suatu jabatan yang sangat strategis di tubuh TNI Angkatan Darat. Di sini pangkatnya naik menjadi Letnan Jenderal (bintang tiga).

Ia mencapai puncak karier militernya ketika dilantik menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad). Jabatan inilah yang diembannya hingga ia pensiun dari dinas militer.

Setelah pensiun dari dinas militer, ia diangkat menjadi Duta Besar RI untuk India.

Letjen Sahala meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil di Pangururan, Sumatera Utara, pada 16 November 2002. Ia meninggal bersama istri dan iparnya.

 

13. Letnan Jenderal (Purn) Erwin Sudjono

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Erwin Sudjono.

Letjen Erwin Sudjono lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 5 Februari 1951.

Erwin merupakan lulusan Akabri tahun 1975.

Sejumlah tugas operasi pernah dijalani Erwin. Antara lain, dua kali bertugas dalam Operasi Timor Timur (1976), Operasi Perdamaian PBB (1992), dan Operasi Aceh (2003).

Beberapa jabatan penting yang pernah diembannya adalah: Danrem 121/Alambhana Wanawai Kodam VI/Tanjung Pura (Kolonel), Kasdivif 1/Kostrad, Kasdam III/Siliwangi (Brigadir Jenderal), Pangdivif 2 Kostrad, Pangdam Tanjungpura (Mayor Jenderal), Pangkostrad (2006 -2007), dan Kasum TNI (2007), dengan pangkat Letnan Jenderal.

Selama berkarier di militer sejumlah tanda jasa dan bintang penghargaan pernah disandangnya, di antaranya Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Satya Lencana (SL) Seroja, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, SL Dwija Sistha, Tanda Jasa Pemerintah Kamboja, SL UNTAC/PBB, dan SL Santi Dharma.

Letjen Erwin Sudjono merupakan saudara ipar dari mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

 

14. Letnan Jenderal (Purn) H.B.L. Mantiri

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik berikutnya adalah Letnan Jenderal H.B.L. Mantiri.

Letjen Herman Bernhard Leopold Mantiri lahir di Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 11 September 1939, sebagai keturunan Minahasa, Sulawesi Utara.

Jabatan terakhirnya di militer adalah Kepala Staf Umum ABRI (Kasum ABRI), yang sekarang dikenal sebagai Kepala Staf Umum TNI (Kasum TNI), dengan pangkat Letnan Jenderal.

Sebelum menjadi kepala staf umum ABRI/TNI, Mantiri menjabat sebagai Pangdam Udayana (berkedudukan di Denpasar), menggantikan Letjen Sintong Panjaitan.

Setelah pensiun dari militer, ia menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura.

Namanya sempat mencuat sebagai calon duta besar Indonesia untuk Australia pada tahun 1995, namun akhirnya pencalonannya dibatalkan pemerintah karena sebuah komentarnya mengenai aksi militer di Timor Timur pada 1991 kurang disukai pemerintah Australia.

Ia juga pernah menjadi Wakil Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Letjen Mantiri sangat aktif dalam dunia pelayanan gereja, antara lain di Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) dan di Full Gospel.

Loading...
46 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!