Loading...

20 Jenderal Terbaik Indonesia Beragama Kristen

Loading...

 

6. Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Jenderal Luhut Panjaitan.

Jenderal Luhut Binsar Panjaitan lahir di Simargala, Huta Namora, Silaen, Toba Samosir, Sumatera Utara, pada tanggal 28 September 1947.

Luhut adalah lulusan terbaik dari Akademi Militer Nasional angkatan tahun 1970.

Karier militernya banyak dihabiskan di Kopassus TNI AD. Di kalangan militer dikenal sebagai Komandan pertama Detasemen 81. Berbagai medan tempur dan jabatan penting telah disandangnya: Komandan Grup 3 Kopassus, Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif), hingga Komandan Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI Angkatan Darat.

Ketika menjadi perwira menengah, pengalamannya berlatih di unit-unit pasukan khusus terbaik dunia memberinya bekal untuk mendirikan sekaligus menjadi komandan pertama Detasemen 81 (sekarang Sat-81/Gultor) kesatuan baret merah Kopassus, menjadi salah satu pasukan khusus penanggulangan terorisme terbaik di dunia.

Dia juga dikenal sebagai Pendiri dan Komandan Pertama Proyek Rajawali Pada Pusat Intelijen Strategis BAIS ABRI serta Pendiri Dan Komandan Pertama Sekolah Pertempuran Khusus Detasemen-81/Anti-Terror Kopassus Pada Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus).

Selama berkarier di militer, ia telah mendapat banyak prestasi dan penghargaan. Antara lain: Komandan Resort Militer (Danrem) Terbaik se-Indonesia, ketika ia menjadi DanKorem di Madiun, Jawa Timur, serta Komandan Satgas Tempur Terbaik Di Timor-Timur.

Dia juga merupakan lulusan terbaik Kursus Dasar Kecabangan Infanteri, lulusan terbaik Kursus Komando, dan lulusan terbaik Kursus Lintas Udara.

Pada Tahun 1999 Presiden B.J. Habibie mengangkatnya menjadi Duta Besar Indonesia Untuk Singapura. Lalu Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mempercayakannya sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian, pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi Jenderal penuh (bintang empat).

Jenderal Luhut adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia saat ini, dan menjadi salah satu dari 7 Menteri Jokowi Yang Beragama Kristen.

 

7. Letnan Jenderal (Purn) Sintong Panjaitan

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Sintong Panjaitan.

Letjen Sintong Hamonangan Panjaitan lahir di Tarutung, Sumatera Utara, pada 4 September 1940.

Ia menerima 20 perintah operasi/penugasan di dalam dan luar negeri selama karier militernya.

Pada periode Agustus 1964-Februari 1965 Sintong menerima perintah operasi tempur pertamanya di dalam Operasi Kilat penumpasan gerombolan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Sintong berperan aktif dalam menggagalkan G30S/PKI. Sintong memimpin Peleton 1 untuk merebut stasiun / kantor pusat Radio Republik Indonesia (RRI), yang memungkinkan Kapuspen-AD, Brigjen TNI Ibnu Subroto menyiarkan amanat Mayjen TNI Soeharto (yang kelak menjadi presiden RI).

Sintong juga turut serta dalam mengamankan Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, dan memimpin anak buahnya dalam penemuan sumur tua tempat jenazah para Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya.

Setelah itu Sintong menerima tugas operasi pemulihan keamanan dan ketertiban di Jawa Tengah, untuk memimpin Peleton 1 memberantas pendukung G30S/PKI di Semarang, Demak, Blora, Kudus, Cepu, Salatiga, Boyolali, Yogyakarta hingga lereng timur Gunung Merapi.

Nama Sintong melambung ketika berhasil memimpin operasi pembebasan kontra terorisme dalam peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla tanggal 31 Maret 1981 di Thailand. Walau terdapat dua korban jiwa (Pilot dan satu anggota Sintong), namun seluruh awak dan penumpang pesawat selamat, sehingga ia beserta timnya dianugerahi Bintang Sakti dan dinaikkan pangkatnya satu tingkat.

Berbagai prestasi Sintong di kesatuan khusus TNI-AD ini mengantarkannya ke kursi Danjen Kopassus (1985-1987), yakni pasukan elit di tubuh Angkatan Darat.

Keterlibatannya dalam operasi militer di daerah Timor Timur kemudian menjadi salah satu penyebab diangkatnya Sintong menjadi Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IX/Udayana yang mencakup Provinsi Timor Timur.

Namun jabatannya sebagai pangdam dicopot akibat Insiden Dili di pemakaman Santa Cruz, pada 11 November 1991.

Setelah “menganggur” beberapa tahun, ia kemudian bersinar pada zaman B.J. Habibie. Habibie menunjuk Sintong sebagai penasihat bidang militer di kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1994. Sejak saat itu Sintong menjadi penasihat kepercayaan Habibie hingga Habibie menjadi Presiden Indonesia pada tahun 1998 di mana Sintong duduk sebagai penasihat Presiden di bidang Militer.

Pada Maret 2009, wartawan perang Hendro Subroto menerbitkan sebuah buku tentang Sintong yang berjudul “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”. Buku tersebut menuai kontroversi karena menuduh Prabowo Subianto yang pada Maret 1983 berpangkat kapten hendak melakukan upaya kudeta dengan menculik beberapa perwira tinggi ABRI, tetapi berhasil digagalkan Luhut Panjaitan (lihat poin 6 di atas), yang saat itu merupakan atasan Prabowo Subianto.

 

8. Letnan Jenderal (Purn) T.B. Silalahi

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik berikutnya adalah Letnan Jenderal T.B. Silalahi.

Letjen Tiopan Benhard Silalahi lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada tanggal 17 April 1938. Ia merupakan lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1961.

Pengabdian di bidang militer diawali sebagi Danton Yonkav 4 Siliwangi dalam operasi Kamdagri di Jawa Barat (1962),Wadanki dalam operasi Kamdagri di Sulawesi Selatan (1963-1965) bersamaan dengan operasi Dwikora, serta Danyonkav 8 Tank Kostrad (1972).

Ia kemudian ditugaskan ke Timur Tengah sebagai pasukan PBB pada perang Oktober 1973 antara Israel dan Mesir sebagai Camp Commandant UNEF Middle East di Kairo.

Lalu ia menjadi Dosen Sesko AD (1974), Asops Kasdam XVI Hasanuddin di Ujung Pandang (1978), Kasdam IV Diponegoro (1984) dan Asisten Perencanaan dan Anggaran KASAD (1986) dengan pangkat Mayor Jenderal.

Karier militernya dilanjutkan dengan tugas karya sebagai Sekretaris Jenderal Departemen (Kementerian) Pertambangan dan Energi (1988). Lalu pada tahun 1993-1998, ia diangkat sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Jenderal.

Selama mengikuti pendidikan militer, ia sering menjadi lulusan terbaik di angkatannya dan mendapat penghargaan. Antara lain, Kupaltu Kav (setingkat Kursus Dan Ki), Kursus Guru Perang Nuklir Biologi dan Kimia, Suslapa Kav (Kursus Dan Yon), Sesko ABRI, dan Lemhannas KRA XVI.

Setelah lama tidak aktif di pemerintahan, ia kemudian diangkat menjadi anggota (kemudian ketua) Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah hingga saat ini.

Hingga kini ia masih menjadi Dosen Senior di Lemhannas, Dosen Tamu SESKOAD, SESKOAL, SESKOAU, SESPIM POLRI, dan Komisaris Utama di berbagai perusahaan Nasional dan Internasional.

 

9. Letnan Jenderal (Purn) Johny Lumintang

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik berikutnya adalah Letnan Jenderal Johny Lumintang.

Letjen Johny Josephus Lumintang lahir di Desa Noongan, Minahasa, Sulawesi Utara, pada 28 Juni 1947.

Ia adalah lulusan AKABRI Angkatan 1970 dan berasal dari kesatuan Infanteri – Baret Hijau.

Ia turut berperan dalam operasi pembebasan sandera Mapenduma Team Ekspedisi Lorenz di Irian Jaya, lewat Operasi Rajawali, saat ia menjadi Kepala Staf Kodam VIII/Trikora (1996).

Ia juga memimpin langsung pembebasan sandera 14 orang karyawan PT. Jayanti yang disandera GPK di Kamuna Raya Camp, Timika tanggal 14 Agustus 1996. Tanggal 18 September 1996 sandera berhasil dibebaskan walaupun akhirnya 2 sandera meninggal dunia.

Beberapa jabatan penting yang pernah diembannya antara lain: Komandan Resimen Induk Kodam Jaya, Komandan Resort Militer (Danrem) 164 Wira Dharma Dili, Timor-Timur, Panglima Divisi Infanteri I Kostrad, Kepala Staf Daerah Militer VIII/Trikora, Panglima Daerah Militer VIII/Trikora, Asisten Operasi KASUM ABRI, serta Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (walau hanya 17 jam!).

Kemudian ia menjadi Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI sekaligus sebagai Anggota Fraksi ABRI MPR-RI, lalu Gubernur Lemhanas, bahkan menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat.

Sebelum pensiun dari dinas militer, ia memangku jabatan sebagai Sekretaris Jenderal Departemen (Kementerian) Pertahanan RI (Dephan).

Ia adalah alumnus Sesko TNI (1991-1992) Angkatan 18, Sus Staf Senior (1992) serta Lemhanas (1995). Ia juga mengikuti pendidikan militer di Infantry Officer Advanced Course, di Fort Benning, USA (1978), serta International Defence Management Course, di Monterey, USA (1989).

Setelah pensiun dari dinas militer, Johny kemudian menjadi Duta Besar Indonesia untuk Filipina sejak 14 Februari 2014.

 

10. Letnan Jenderal (Purn) Arie J. Kumaat

Jenderal terbaik Indonesia beragama Kristen/Katholik lainnya adalah Letnan Jenderal Arie J. Kumaat.

Letjen Arie Jeffry Kumaat lahir di Lansot, Minahasa, Sulawesi Utara, pada 20 Mei 1944.

Beberapa jabatan yang pernah diembannya adalah: Komandan Batalyon Brigade Infanteri I Jaya Sakti, Jakarta, Komandan Komando Distrik Militer (Kodim), Jakarta Selatan, Komandan Komando Resort Militer 163/Wirasatya, Bali, Komandan Resimen Taruna Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, Kepala Staf Garnisun I Ibukota, Jakarta.

Kemudian ia menjadi Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA), Direktur D Badan Intelijen Strategis (BAIS), Panglima Kodam (Pangdam) I/Bukit Barisan, Medan (1994-1995), Asisten Teritorial Kasum ABRI (1995-1997), Komandan Sekolah Staf dan Komando (Dansesko) ABRI (1997-1998).

Jabatan terakhirnya di militer adalah Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Kabakin) (1999-2001), yang sekarang dikenal sebagai Badan Intelijen Negara (BIN).

Arie Kumaat merupakan lulusan terbaik Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Angkatan Darat, serta lulusan terbaik Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS).

Arie Kumaat meninggal di Jakarta, pada 13 Januari 2002 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Loading...
45 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!