20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler

 

Pahlawan Indonesia beragama Kristen, baik Kristen Protestan maupun Kristen Katolik, sangatlah banyak, ada puluhan orang.

Para pahlawan beragama Kristen tersebut, sebagaimana keadaan Indonesia yang beragam saat ini, terdiri dari berbagai etnis atau suku yang ada di Indonesia.

Pahlawan-pahlawan beragama Kristen Protestan dan Kristen Katolik ini ikut berjuang melawan penjajah atau para pemberontak yang ingin merongrong NKRI atau mengganti Pancasila sebagai dasar Negara.

Baca juga: 34 Pahlawan nasional beragama Kristen

Selain itu para pahlawan beragama Nasrani/non Muslim ini juga termasuk mereka yang dinilai sangat berjasa bagi bangsa dan negara melebihi tugas yang mereka emban.

Sebagai informasi, Indonesia lama dijajah oleh bangsa lain, lebih dari 350 tahun, sehingga melahirkan banyak pejuang, baik yang langsung bertempur di lapangan, pengambil kebijakan dalam peperangan maupun mereka yang membantu melawan penjajah lewat perundingan.

Beberapa dari para pejuang ini kemudian ditetapkan sebagai pahlawan.

Baca juga: 4 Pahlawan Revolusi Beragama Kristen

Selain itu, dalam sejarahnya Indonesia juga sering mengalami pemberontakan dari dalam negeri sendiri, dari antara sesama anak bangsa, yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan RI atau ingin mengganti Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara, seperti yang pernah dicoba oleh pihak PKI (Partai Komunis Indonesia).

Mereka yang menentang para pemberontak ini juga melahirkan beberapa pahlawan.

Bahkan para pahlawan juga termasuk mereka yang tak pernah mengangkat senjata di medan perang, tapi dianggap punya jasa yang sangat besar bagi bangsa dan Negara Indonesia, melampaui tugas yang dibebankan kepada mereka.

Baca juga: 7 Pahlawan Kristen yang gugur di medan tempur

Dari sekitar 160-an pahlawan Indonesia yang ditetapkan pemerintah hingga saat ini (jumlah pahlawan akan bertambah terus), setidaknya terdapat 30-an yang beragama Kristen Protestan dan Kristen Katolik, atau sekitar 20 persen dari total jumlah pahlawan Indonesia.

Dari 30-an pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katolik, di sini dicantumkan 20 di antaranya.

Baca juga: 5 Jenderal Kristen yang ditetapkan sebagai Pahlawan

Ke-20 pahlawan Indonesia beragama Kristen ini  dianggap paling populer, karena perjuangan mereka yang heroik, atau dianggap memberi pengaruh besar terhadap bangsa dan Negara, atau karena namanya diabadikan sebagai nama jalan, bandara, universitas, kapal perang, ataupun karena monumennya dibangun di sebuah kota.

Nah, siapakah 20 pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katolik terpopuler di Indonesia?

Berikut profil mereka yang sebagian besar diambil dan diolah dari Wikipedia.

 

1. Urip Sumoharjo

Pahlawan Kristen Indonesia terpopuler pertama adalah Jenderal Urip Sumoharjo.

Urip lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 22 Februari 1893, dari keluarga non-Kristen. Nama aslinya adalah Muhammad Siddik. Tetapi setelah dewasa, Urip menjadi seorang Kristen.

Ia adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari pasangan Sumoharjo, seorang kepala sekolah, dan istrinya, putri dari Raden Tumenggung Widjojokoesoemo, bupati Trenggalek, Jawa Timur.

Pada tahun kedua sekolahnya, Siddik jatuh dari pohon kemiri dan kehilangan kesadaran. Kakeknya, Widjojokoesoemo menyarankan agar nama Siddik diganti dengan Urip, yang berarti “selamat”.

Urip kecil adalah anak nakal yang sudah memperlihatkan kemampuan memimpin sejak usia dini. Orang tuanya menginginkan dirinya untuk mengikuti jejak kakeknya sebagai bupati, oleh sebab itu, setamat sekolah dasar, ia dikirim ke Sekolah Pendidikan Pegawai Pribumi (OSVIA) di Magelang.

Ibunya wafat saat ia menjalani tahun kedua di sekolah, dan Urip berhenti sekolah untuk mengikuti pelatihan militer di Batavia  (Jakarta). Setelah lulus pada tahun 1914, ia menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara pemerintah kolonial Belanda. Bertugas selama hampir 25 tahun, ia ditempatkan di tiga pulau berbeda dan dipromosikan beberapa kali, dan akhirnya menjadi perwira pribumi dengan pangkat tertinggi di KNIL.

Urip mengundurkan diri dari jabatannya sekitar tahun 1938 setelah berselisih dengan Bupati Purworejo, tempat ia ditempatkan. Urip dan istrinya, Rohmah, kemudian pindah ke sebuah desa di dekat Yogyakarta. Di situ mereka membangun sebuah vila dan kebun bunga yang luas.

Setelah Jerman Nazi menginvasi Belanda pada bulan Mei 1940, Urip dipanggil kembali untuk bertugas. Ketika Kekaisaran Jepang menduduki Hindia Belanda dua tahun kemudian, Urip ditangkap dan ditahan di kamp tawanan perang selama tiga setengah bulan. Ia melalui sisa masa pendudukan Jepang di vilanya.

Pada tanggal 14 Oktober 1945, beberapa bulan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Urip ditetapkan sebagai kepala staff dan pemimpin sementara angkatan perang yang baru dibentuk. Urip berupaya untuk menyatukan kekuatan kelompok-kelompok militer yang terpecah-pecah di Indonesia.

Ketika Jenderal Sudirman terpilih sebagai panglima angkatan perang, Urip tetap menjabat sebagai kepala staff, dan mereka berdua sama-sama mengawasi pembangunan angkatan perang pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Karena muak dengan sikap pemerintah yang menurutnya kurang percaya pada militer, Urip mengajukan pengunduran dirinya, namun tetap bertugas sebagai penasihat Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Presiden, Muhammad Hatta.

Pada 17 November 1948, Urip ambruk dan wafat di kamarnya di Yogyakarta akibat serangan jantung. Ia dikebumikan keesokan harinya di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta dan secara anumerta dipromosikan sebagai Jenderal.

Urip menerima sejumlah tanda kehormatan dari pemerintah secara anumerta (setelah meninggal), termasuk Bintang Sakti (1959), Bintang Mahaputra (1960), Bintang Republik Indonesia Adipurna (1967), dan Bintang Kartika Eka Pakci Utama (1968). Pada tanggal 10 Desember 1964, Urip ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 314 Tahun 1964.

Pada tanggal 22 Februari 1964, akademi militer Indonesia di Magelang mendedikasikan sebuah tugu untuk dirinya, dan menggambarkan Urip sebagai “Seorang putra Indonesia yang mengagungkan karya daripada kata, yang mengutamakan Dharma daripada minta.”

Gereja Katholik di akademi tersebut juga mempersembahkan sebuah dedikasi untuk Urip sejak tahun 1965, yang berawal dari perbincangan antara Rohmah dan teman misionarisnya.

Beberapa jalan juga dinamakan untuk menghormati Urip, termasuk di kampung halamannya, Purworejo, di Yogyakarta, dan di ibu kota Jakarta.

2. T.B. Simatupang

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama T.B. Simatupang.

T.B. Simatupang lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, pada 28 Januari 1920 sebagai anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai pegawai kantor pos dan telegraf (PTT: Post, Telefoon en Telegraaf) yang sering berpindah tempat tugas, mulai dari Sidikalang, Siborong-borong, kemudian ke Pematang Siantar.

T.B. Simatupang menempuh pendidikannya di HIS Pematangsiantar dan lulus pada 1934. Ia melanjutkan sekolahnya di MULO Dr. Nommensen di Tarutung pada tahun 1937, lalu ke AMS di Salemba, Batavia (Jakarta) dan selesai pada 1940. Saat bersekolah di Batavia, Simatupang terbilang siswa yang pintar, termasuk fasih berbahasa Belanda.

Pada bulan Mei 1940, Negeri Belanda diinvasi oleh pasukan Nazi Jerman, Angkatan Darat Kerajaan Belanda (KL, Koninlijke Leger) dibubarkan dan senjatanya dilucuti, demikian pula akademi militer kerajaan (KMA: Koninlijke Militaire Academie) di Breda dan diungsikan ke Bandung, Hindia Belanda. Simatupang yang baru menyelesaikan pendidikan menengahnya di AMS Batavia, memutuskan mengikuti ujian masuk KMA.

Ia lulus KMA pada tahun 1942 dengan mendapatkan gelar taruna mahkota dengan mahkota perak karena dinilai berprestasi khususnya di bidang teori. Namun belum sempat ditugaskan di KNIL (Koninlijke Nederlands Indische Leger), pasukan Jepang keburu merebut kekuasaan di Hindia Belanda dan KNIL pun dibubarkan dan senjatanya dilucuti. Simatupang dan beberapa temannya sesama perwira direkrut Jepang dan ditempatkan di Resimen Pertama di Jakarta.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Simatupang bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), dan kemudian turut bergerilya bersama Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman melawan pasukan Belanda yang berniat menguasai kembali bekas koloninya tersebut. Selama perang kemerdekaan Indonesia tersebut, ia pun diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang (WAKSAP) RI pada tahun 1948 hingga 1949.

Dalam kedudukannya tersebut, Simatupang ikut mewakili TNI dalam delegasi Republik Indonesia menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Misi utama mereka adalah mendesak Belanda menghapus KNIL dan menjadikan TNI sebagai inti kekuatan tentara Indonesia. Ketika Jenderal Sudirman wafat pada tahun 1950, Simatupang dalam usia yang sangat muda (29 tahun!) diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI (KSAP) dengan pangkat Mayor Jenderal hingga tahun 1953.

Presiden Sukarno kemudian menghapuskan jabatan KSAP pada tahun 1953. kemudian pada tahun 1954-1959, T.B. Simatupang diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI.

Setelah non aktif dari kemiliteran, T.B. Simatupang menyibukkan diri dengan menulis buku dan mengajar di SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, sekarang Seskoad, dan Akademi Hukum Milter/AHM). Akhirnya dia resmi pensiun dari dinas militer pada tanggal 21 Juli 1959 dalam usia 39 tahun dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal.

Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

Dalam aktivitas gerejawinya itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, bahkan Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia.

Di lingkungan kemasyarakatan, Simatupang menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM). Ia bahkan merupakan salah satu pencetus lembaga pendidikan ini, ketika di Indonesia belum banyak orang yang memikirkannya.

Pada 1969 Simatupang dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat.

T.B. Simatupang meninggal dunia pada 1 Januari 1990 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Saat ini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

 

3. Yos Sudarso

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Yos Sudarso.

Laksamana Madya Yosaphat Sudarso lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 24 November 1925.

Yos sudarso menyelesaikan pendidikannya di HIS Salatiga dan melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru di daerah Muntilan, Magelang. Akan tetapi ia berhenti saat Jepang datang dan menguasai Indonesia. Yos kemudian dipindahkan ke sekolah tinggi pelayaran di Semarang dan ikut pendidikan opsir di Giyu Usamu Butai yaitu sebagai salah satu murid lulusan terbaik.

Ia lalu bekerja sebagai mualim kapal milik Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia usai, ia masuk di BKR Laut yang kini dikenal sebagai TNI Angkatan Laut. Ia juga terlibat operasi militer antar pulau Maluku untuk memberikan informasi tentang kemerdekaan Indonesia di bagian Indonesia Timur yang masih dijajah oleh Belanda.

Setelah kedaulatan RI, ia kemudian diangkat sebagai komandan kapal yang kemudian memimpin di KRI Alu, KRI Rajawali, KRI Gajah Mada, dan KRI Pattimura. Tahun 1958, ia pernah menjabat hakim pengadilan tentara walaupun cuma sekitar 4 bulan.

Tanggal 19 Desember 1961 presiden Sukarno membentuk sebuah Tri Komando Rakyat (TRIKORA) untuk upaya pembebasan Irian Barat yang dijajah oleh Belanda. Presiden Sukarno membentuk sebuah komando mandala untuk pembebasan Irian Barat yang berkedudukan di Makasar, dan Yos menjadi pemimpinnya.

Kemudian ia mengadakan patroli di sekitar daerah perbatasan pada tanggal 15 Januari 1962, yakni di laut Aru, Maluku, dengan 3 kapal motor jenis torpedo boat yaitu KRI macan tutul, KRI harimau dan KRI macan kumbang.

Akan tetapi, Belanda rupanya sudah tahu akan rencana Yos tersebut. Belanda menyiapkan kapal perusak dan pesawat pengintai untuk membasmi pasukan Yos. Yos kemudian mengeluarkan perintah bertempur kepada Belanda. Yos memiliki strategi, dengan KRI macan tutul di bawah pimpinannya ia berusaha untuk menarik perhatian dari kapal Belanda agar kedua kapal lainnya bisa melarikan diri.

Namun tanggal 15 Januari 1962 di Laut Aru, di usianya yang masih muda, yaitu 36 tahun, ia tertembak oleh Hr. Ms. Eversten, kapal patroli milik Belanda dan kapal KRI macan tutul pun tenggelam. Yos bersama rekan-rekannya gugur dan tenggelam bersama awak kapal tersebut.

Namanya  kini diabadikan menjadi nama KRI dan nama pulau. Namanya juga dijadikan nama jalan di Jakarta dan Papua, dan monumennya dibangun di kota Surabaya.

 

4. Adi Sucipto

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Marsekal Muda Agustinus Adi Sucipto.

Adi Sucipto lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 3 Juli 1916. Ia adalah seorang penganut agama Katholik.

Adi Sucipto mengenyam pendidikan GHS (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan lulusan Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati, Subang, Jawa Barat.

Pada tanggal 15 November 1945, Adi Sucipto mendirikan Sekolah Penerbang di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo, yang kemudian diganti namanya menjadi Bandara Adi Sucipto (salah satu bandara terbesar di Indonesia), untuk mengenang jasanya sebagai pahlawan nasional.

Pada saat Agresi Militer Belanda I, Adi Sucipto dan Abdulrahman Saleh diperintahkan terbang ke India menggunakan pesawat Dakota VT-CLA. Penerobosan blokade udara Belanda menuju India dan Pakistan berhasil dilakukan. Sebelum pulang ke Indonesia, mereka singgah di Singapura untuk mengangkut bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya, sehingga pesawat baru berangkat kembali pada pukul 13.00.

Pesawat ini mengangkut total 9 orang, antara lain: Agustinus Adi Sucipto, Abdulrahman saleh (kelak menjadi nama bandara di Malang) dan Adisumarmo (kelak menjadi nama bandara di Solo).

Sementara itu, di Lanud Maguwo, Yogyakarta, Kepala Staf S. Suryadarma telah menunggu kedatangan pesawat ini dan memerintahkan agar pesawat tidak perlu berputar-putar sebelum mendarat, untuk menghindari kemungkinan serangan udara terhadap pesawat tersebut, mengingat di dalam pesawat ada dua tokoh penting AURI, yakni Agustinus Adi Sucipto dan Abdulrachman Saleh.

Saat telah mendekati Lanud Maguwo pada 29 Juli 1947 pukul 16.30, pesawat ini pun tetap berputar-putar untuk bersiap mendarat. Tiba-tiba muncul dua pesawat milik Belanda yang diawaki oleh Lettu B.J. Ruesink dan Serma W.E. Erkelens, langsung menembaki pesawat tersebut. Akibatnya pesawat hilang kendali, jatuh dan terbakar. Semua orang di pesawat meninggal, kecuali A. Gani Handonocokro.

Adi Sucipto dimakamkan di pemakaman umum Kuncen I dan II, dan kemudian pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan TNI AU di Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

 

5. D.I. Panjaitan

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah D.I. Panjaitan.

Mayor Jenderal TNI  Donald Isaac Panjaitan lahir di Balige, Sumatera Utara, pada 19 Juni 1925.

Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera.

Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Setelah berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, dan Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan, Panjaitan diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya. Setelah mengikuti kursus Militer Atase tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat.

Tahun 1962, tidak lama setelah pulang dari Jerman, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah yang diembannya saat peristiwa G-30/S PKI yang merenggut nyawanya terjadi.

Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia berhasil membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk PKI (Partai Komunis Indonesia). Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo.

Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan.

Pada jam-jam awal 1 Oktober 1965, sekelompok anggota Gerakan 30 September meninggalkan Lubang Buaya menuju pinggiran Jakarta. Mereka memaksa masuk pagar rumah Panjaitan di Jalan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lalu menembak dan menewaskan salah seorang pelayan yang sedang tidur di lantai dasar rumah dua lantai dan menyerukan Panjaitan untuk turun ke bawah.

Dua orang pemuda, yaitu Albert Naiborhu dan Viktor Naiborhu terluka berat saat mengadakan perlawanan ketika D.I. Panjaitan diculik, tidak lama kemudian Albert meninggal. Setelah penyerang mengancam keluarganya, Panjaitan turun dengan seragam yang lengkap, berdoa secara Kristen sambil berdiri untuk memenuhi panggilan tugas yang sebenarnya dimanupalasi oleh PKI. Ia ditembak mati ketika sedang berdoa, dan tewas di tempat.

Mayat Panjaitan dimasukkan ke dalam truk dan dibawa kembali ke markas gerakan itu di Lubang Buaya. Kemudian, tubuh dan orang-orang dari rekan-rekannya dibunuh tersembunyi di sebuah sumur tua. Mayat ditemukan pada tanggal 4 Oktober, dan semua diberi pemakaman kenegaraan pada hari berikutnya. Panjaitan mendapat promosi pangkat (anumerta) menjadi Mayor Jenderal dan diberi gelar Pahlawan Revolusi.

Nama Panjaitan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, termasuk di Jakarta. Monumennya dibangun di kota kelahirannya, Balige.

Salah satu putra D.I. Panjaitan, Hotmangaraja, mengikuti jejak ayahnya sebagai tentara (mencapai pangkat Jenderal bintang tiga/Letnan Jenderal). Ia terakhir bertugas di militer sebagai Pangdam Udayana di Bali dan Sekretaris Menkopolhukam RI.  Setelah pensiun dari dinas militer, Hotmangaraja ditunjuk sebagai duta besar RI di Perancis, yang dijalaninya hingga kini.

 

6. Slamet Riyadi

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Brigadier Jenderal Ignatius Slamet Riyadi.

Slamet Riyadi lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 26 Juli 1927, putra dari seorang tentara dan penjual buah. “Dijual” pada pamannya dan sempat berganti nama saat masih balita untuk menyembuhkan penyakitnya, Riyadi tumbuh besar di rumah orang tuanya dan belajar di sekolah milik Belanda.

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda (Indonesia), Riyadi menempuh pendidikan di sekolah pelaut yang dikelola oleh Jepang dan bekerja untuk mereka setelah lulus; ia meninggalkan tentara Jepang menjelang akhir Perang Dunia II dan membantu mengobarkan perlawanan selama sisa pendudukan.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Riyadi memimpin tentara Indonesia di Surakarta pada masa perang kemerdekaan melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Dimulai dengan kampanye gerilya, pada 1947 ia berperang dengan sengit melawan Belanda di Ambarawa dan Semarang, bertanggung jawab atas Resimen 26.

Pada tahun 1950, Riyadi dikirim ke Maluku untuk memerangi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Setibanya di New Victoria, pasukan Riyadi diserang oleh pasukan RMS. Ketika Riyadi sedang menaiki sebuah tank menuju markas pemberontak pada tanggal 4 November, selongsong peluru senjata mesin menembakinya. Peluru tersebut menembus baju besi dan perutnya.

Setelah dilarikan ke rumah sakit kapal, Riyadi bersikeras untuk kembali ke medan pertempuran. Para dokter lalu memberinya banyak morfin dan berupaya untuk mengobati luka tembaknya, namun upaya ini gagal. Riyadi tewas pada malam itu juga, dan pertempuran berakhir di hari yang sama. Riyadi dimakamkan di Ambon.

Sejak kematiannya, Riyadi telah menerima banyak penghormatan. Sebuah jalan utama di Surakarta dinamakan menurut namanya, juga dengan fregat TNI AL, KRI Slamet Riyadi. Begitu juga dengan sebuah universitas di Surakarta, universitas Slamet Riyadi.

Selain itu, Riyadi juga dianugerahi beberapa tanda kehormatan secara anumerta pada tahun 1961, dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

 

7. Pattimura

Pahlawan beragama Kristen/Katolik terpopuler  berikutnya adalah Pattimura, atau biasa disebut Kapiten Pattimura.

Nama asli Pattimura adalah Thomas Matulessy.

Pattimura lahir pada 1783 dan meninggal pada 1817.

Pattimura adalah Gerilyawan dari Maluku yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda.

Pattimura ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1973.

 

8. Wage Rudolf Supratman

Pahlawan beragama Kristen/Katolik terpopuler  berikutnya adalah Wage Rudolf Supratman.

W.R. Supratman lahir pada 1903 dan meninggal pada 1938.

Wage Rudolf Supratman adalah Komposer lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.

Wage Rudolf Supratman ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1971.

 

9. Jamin Ginting

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Letnan Jenderal Jamin Ginting.

Letjen Jamin Ginting lahir di Desa Suka, Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada 12 Januari 1921.

Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah dia bergabung dengan satuan militer yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara guna menambah pasukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di Asia. Jamin Ginting muncul sebagai seorang komandan pada pasukan bentukan Jepang itu.

Rencana Jepang untuk memanfaatkan putra-putra Karo memperkuat pasukan Jepang kandas setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada Perang Dunia II. Jepang menelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang. Sebagai seorang komandan, Jamin Ginting bergerak cepat untuk mengkonsolidasi pasukannya.

Di kemudian hari anggota pasukan Jamin Ginting ini mucul sebagai pionir-pionir pejuang Sumatera Utara dalam melawan tentara Belanda. Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamat Ginting, Kapten Mumah Purba, Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamet Ketaren, dan lain sebagainya, adalah cikal bakal Kodam II/Bukit Barisan yang kita kenal sekarang ini.

Dalam rangka menghadapi gerakan pemberontakan Nainggolan di Medan (Sumatera Utara) maka Panglima TT I, Letkol Jamin Ginting melancarkan Operasi Bukit Barisan pada tanggal 7 April 1958. Hasilnya, pasukan Nainggolan dan Sinta Pohan terdesak dan mundur ke daerah Tapanuli.

Dengan pangkat Mayor Jenderal, Jamin Ginting menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Front Nasional, di Kabinet Dwikora Revisi Kedua. Di penghujung masa baktinya, Jamin Ginting menjadi Duta Besar Indonesia untuk Kanada. Di Kanada inilah ia meninggal pada 23 Oktober 1974.

Semasa hidupnya, Jamin Ginting menulis beberapa buku, salah satunya adalah “Bukit Kadir”, yang mengisahkan perjuangannya di daerah Karo sampai ke perbatasan Aceh melawan tentara Belanda. Seorang anggotanya, Kadir, gugur di sebuah perbukitan di Tanah Karo dalam suatu pertempuran yang sengit dengan pasukan Belanda. Bukit itu sekarang dikenal dengan nama Bukit Kadir.

Kisah hidup istri Jamin Ginting, Likas Tarigan, bersama Jamin Ginting, telah dibuat menjadi sebuah film yang berjudul 3 Nafas Likas, yang diputar di bioskop-bioskop Indonesia pada 2014.

Jalan Jamin Ginting di kota Medan merupakan penghormatan bagi Jamin Ginting, yang konon merupakan jalan terpanjang di Indonesia dengan memakai nama orang/pahlawan.

 

10. Sam Ratulangi

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Sam Ratulangi.

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi, lahir di Tondano, Sulawesi Utara, pada 5 November 1890.

Sam Ratulangi dikenal dengan filsafatnya (dalam Bahasa Minahasa): “Si tou timou tumou tou” yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Sam Ratulangi mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar Belanda (Europesche Lagere School) di Tondano, lalu ia melanjutkannya di Hoofden School (setingkat SMA), Tondano dan menyelesaikan Sekolah Teknik Koninginlijke Wilhelmina School (saat ini bernama SMK Negeri 1 Jakarta Budi Utomo) bagian mesin, pada tahun 1908.

Pada tahun 1915, Sam Ratulangi berhasil memperoleh ijazah guru ilmu pasti (Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek) di Universitas Amsterdam (Universiteit van Amsterdam), Belanda. Pada tahun yang sama, ia melanjutkan studi ke Swiss dan mendapat gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr. Phil.) untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Universitas Zürich tahun 1919.

Sam Ratulangi merupakan Gubernur Sulawesi yang pertama, yang berkedudukan di Makassar. Ia meninggal di Jakarta sebagai tawanan musuh pada tanggal 30 Juni 1949 dan dimakamkan di Tondano.

Namanya diabadikan sebagai nama bandar udara di Manado, yakni Bandara Sam Ratulangi serta nama Universitas Negeri di Sulawesi Utara, yakni Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).

 

41 komentar untuk “20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler”

  1. Semoga Kristen masa kini tdk berkurang sumbangsihnya bagi perkembangan dan kebaikan bangsa…
    teruslah bercahaya anak2 terang…

  2. Hendra silalahi

    Semoga kita yang beragama Kristen tetap mengandalkan Tuhan. Apapun itu yg kita rencanakan dan cita2kan demi memajukan negara kita yg tercinta ini dapat tercapai dalam perlindunganNya. Majulah Indonesia. Tuhan memberkati kita.

  3. Nama-nama yang sangat sering kita dengar ternyata anak-anak Tuhan yang punya kontribusi untuk bangsa ini. Nama Adi Sucipto, Slamet Riyadi, Yos Sudarso, Urip Sumoarjo, nama yang sangat JAWA, namun banyak yang tidak tahu kalau agama mereka adalah Kristen.

    Tetap jadi berkat, walau banyak yang membenci kita kerena iman kita.
    Tuhan Memberkati

  4. Dandung Dwiyanto

    Aku browsing nama-nama pahlawan Kristen karena ada yang selalu bilang kalau yang berjuang untuk Indonesia ini hanya….hanya kaum Muslim, aku ngga yakin. Aku juga sudah dengar sebagian ada pejuang dari Kristen hanya saja tidak seluruhnya aku tahu dan ternyata memang benar banyak pejuang Indonesia dari Kristen dan tidak mutlak hanya dari kalangan Muslim.

  5. Ya benar, yang berjuang untuk Indonesia itu bukan hanya Muslim, tetapi juga Kristen, bahkan Hindu dan Budha. Para pahlawan Indonesia juga terdiri dari keempat agama itu, bahkan dari orang yang beragama suku, seperti Sisingamangaraja misalnya.

  6. Sesungguhnya saya tidak tahu persis agama WR Supratman itu apa, makanya saya tidak cantumkan di artikel ini. Yang terpenting beliau adalah pahlawan Indonesia. Terima kasih, GBU.

  7. Amin … Terima kasih atas tulisannya, semoga kisah-kisah para Pahlawan khususnya yang beriman kepada Tuhan Yesus, menjadi pelajaran dan memotivasi bagi kita untuk tetap setia beriman kepada Tuhan Yesus, walaupun berbagai hambatan dan tantangan menghadang kita, tapi yakinlah bersama Tuhan Yesus, kita sanggup menanggung dan melewati segala perkara. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin

  8. W.R soepratman katholik gan karena keluarganya katholik, dulu waktu kecil ikut keluarga kakak sulungnya yang menikah dengan meneer Belanda bernama Willem van Eldik diajak pindah ke makassar.

    Nama kecil W.R.Soepratman adalah Wage kemudian setelah dewasa berganti nama jadi Soepratman (ini lazim di masyarakat jawa tempo dulu untuk berganti nama setelah dewasa/menikah/punya kedudukan tapi adat itu udah nggak dipakai sekarang karena repot urusannya dengan catatan sipil).

    W.R soepratman kecil oleh suami kakaknya (rukiyem) disekolahkan di sekolah belanda di makasar dan belajar musik juga dengan kakak iparnya yang orang belanda itu. Nama Rudolf diberikan oleh Willem van Eldik supaya Wage dianggap berasal dari keluarga berdarah belanda dan bisa bersekolah di sekolah anak-anak belanda.

    Sumber ada banyak silakan manfaatkan perpustakaan.

  9. Mengenai iman kekatolikan W.R. Soepratman bisa dicari datanya di Keuskupan Agung Jakarta. Semoga info ini membantu rubrikkristen.com. Terima kasih.

  10. Semoga Kita termotivasi/terinfluence akan perjuangan beliau dan terus berjuang untuk negara walaupun kita jadi minoritas dan dinomor duakan, toh kita punya pahlawan seiman yang tidak bisa dipandang sebelah mata perjuangan mereka, Amin, GBU.

  11. Terima kasih infonya. Tapi kami belum dapat data yang mengatakan bahwa beliau Kristen/Katolik. Jika Anda ada datanya, silakan memberikannya ke kami, nanti kami akan masukkan nama W.R. Supratman di artikel ini. Terima kasih, GBU.

  12. Terima kasih infonya. Tapi kami belum dapat data yang mengatakan bahwa beliau Kristen/Katolik. Jika Anda ada datanya, silakan memberikannya ke kami, nanti kami akan masukkan nama W.R. Supratman di artikel ini. Terima kasih, GBU.

  13. Zayn Malik Milala

    Kapitan Pattimura itu Kristen bukan Islam, tidak ada bukti kuat bahwa Thomas Matulessy beragama Islam, itu hanya hoax. Masyarakat keturunan klan Matulessy marah karena Kapitan Pattimura disebut Islam. Karena Thomas Matulessy adalah nama baptisan dari ayahnya, Anthony Frans Matulessy.

    Tidak ada didapati nama Kapitan Pattimura bernama Ahmad Tessy, itu hanya fitnah dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak menghargai para pahlawan.

    Sudah pasti hoax karena menyebut Thomas Matulessy adalah Ahmad Tessy jadi membingungkan. Matulessy adalah nama klan atau marga dari Ambon, jadi jelas Kapitan Pattimura itu Kristen. Sudah sah tidak ada perdebatan Kapitan Pattimura beragama Kristen.

  14. Kami sejak lama juga meyakini bahwa Kapitan Pattimura itu beragama Kristen. Namun sayang tidak ada satu pun sumber literatur yang bisa kami dapat yang membuktikan bahwa Pattimura itu Kristen, jadi tidak bisa kami cantumkan di artikel ini.

    Jika kita tidak bisa memastikan bahwa Pattimura Kristen, tidak berarti dia Islam. Tetapi bisa juga dia penganut agama suku, seperti dikemukakan oleh sebagian orang.

    Jika seandainya Anda punya bukti/sumber yang kuat bahwa Pattimura adalah Kristen, mohon diberikan kepada kami agar nama Pattimura kami masukkan di artikel ini.

    Terima kasih, Gbu.

  15. Terima kasih buat rubrik ini.., mengingatkan dan memotivasi bahwa anak-anak Tuhan punya andil dalam perjuangan bangsa ini, dan kiranya generasi Kristen masa kini tak kalah semangat dan dedikasinya membangun bangsa Indonesia ini dalam berbagai lini kehidupan sesuai kemampuannya.
    Smangaaat!! Tuhan memberkati.

  16. Zayn Malik Milala

    Saya pernah ke Maluku dan berziarah ke makam Pahlawan, dan saya melihat orang yg paling banyak berkumpul di salah satu makam di situ yg berlambangkan Salib, dan saya dengar mereka berkata ini makam Kapitan Patimura (Thomas Matulessy) dan saya langsung menuju ke situ, ternyata benar makam Salib itu adalah Kapitan Patimura (Thomas Matulessy)

  17. Zayn Malik Milala

    Berita tentang Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy) adalah beragama Islam atau Ateis adalah hoax, ahli sejarah dan menteri pendidikan sudah mengatakan bahwa Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy) beragama Kristen. Sebab itu makamnya di Maluku dibuat dalam bentuk salib, karena pejuang Ambon itu adalah beragama Kristen.

    Dan dipastikan isu nama Ahmad Tessy adalah hoax dari oknum yang merusak sejarah. Menteri pendidikan dan juga ahli sejarah Indonesia mengimbau harus tetap menggunakan fakta sejarah terdahulu, yaitu bahwa Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy) beragama Kristen, yang tertulis dalam buku sejarah.

    Jadi kita juga bisa pastikan bahwa Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy) itu Kristen, karena dilihat dari makamnya di Maluku.

  18. Laurensius Tesen

    Jangan lupa juga Pahlawan Nasional asal NTT yang beragama Kristen:
    1.Izaak Huru Doko
    2.Dr. W.J.Yohanes (sekarang nama rumah sakit provinsi NTT)
    3.Prof. Dr. Ir. Herman Yohanes.

  19. Izaak Huru Doko tidak ada di artikel ini, karena hanya 20 pahlawan Kristen saja yang dicatat, yang dianggap paling populer.

    W.Z.Yohanes dan Herman Yohanes juga ada di artikel ini, silakan klik “Next” di bawah artikel untuk melanjutkan membaca.

  20. Ada juga pahlawan lain yakni I.J Kasimo, Mgr. Albertus Soegijapranata Uskup Agung Semarang,

  21. I.J. Kasimo memang adalah pahlawan Katolik, tetapi tidak ada di artikel ini, karena hanya 20 pahlawan Kristen/Katolik saja yang dicantumkan.

    Mgr. Albertus Soegijapranata kan ada di artikel ini, silakan klik “Next” di bawah artikel untuk melanjutkan membaca.

  22. Zayn Malik Milala

    Satu lagi Paul Tiahahu, ayahnya Christina Martha Tiahahu beragama Kristen.

  23. Masih ada A.I.Z Mononutu,AA Maramis,Wolter Monginsidi, Karel Satsuit Tubun dan masih banyak lagi

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: