Loading...
Loading...

20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler

 

Artikel ini membahas tentang 20 pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katolik.

Sebagai bangsa yang lama dijajah oleh bangsa lain, lebih dari 350 tahun, Indonesia melahirkan banyak pejuang, baik yang langsung bertempur di lapangan, pengambil kebijakan dalam peperangan maupun mereka yang membantu melawan penjajah lewat perundingan. Beberapa dari para pejuang ini kemudian ditetapkan sebagai pahlawan.

Selain itu, dalam sejarahnya Indonesia juga sering mengalami pemberontakan dari dalam negeri sendiri, dari antara sesama anak bangsa, yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan RI atau ingin mengganti Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara, seperti yang pernah dicoba oleh pihak PKI (Partai Komunis Indonesia). Mereka yang menentang para pemberontak ini juga melahirkan beberapa pahlawan.

Bahkan para pahlawan juga termasuk mereka yang tak pernah mengangkat senjata di medan perang, tapi dianggap punya jasa yang sangat besar bagi bangsa dan Negara Indonesia, melampaui tugas yang dibebankan kepada mereka.

Baca juga: 20 Jenderal Terbaik Indonesia Beragama Kristen

Para pahlawan tersebut, sebagaimana keadaan Indonesia yang beragam saat ini, terdiri dari berbagai etnis dan agama yang ada di Indonesia.

Demikian juga dengan agama Kristen, baik Kristen Protestan maupun Kristen Katolik, terdapat banyak pahlawan yang ikut berjuang melawan penjajah atau para pemberontak yang ingin merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia atau mengganti Pancasila sebagai dasar Negara, ataupun mereka yang dinilai sangat berjasa bagi bangsa dan negara melebihi tugas yang mereka emban.

Dari sekitar 160-an pahlawan Indonesia yang ditetapkan pemerintah hingga saat ini (jumlah pahlawan akan bertambah terus), setidaknya terdapat 30-an yang beragama Kristen Protestan dan Kristen Katholik, atau sekitar 20 persen dari total jumlah pahlawan Indonesia.

Baca juga: 50 Jenderal Polri Terbaik Beragama Kristen

(Ada bebeberapa pahlawan Indonesia yang dianggap banyak orang sebagai beragama Kristen, seperti Pattimura, Sisingamangaraja dan W.R. Supratman, tetapi karena ini masih diperdebatkan, maka tidak dicantumkan di sini).

Dari 30-an pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katholik, di sini dicantumkan 20 di antaranya, yakni 20 pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katolik, yang dianggap paling populer, karena perjuangan mereka yang heroik, atau dianggap memberi pengaruh besar terhadap bangsa dan Negara, atau karena namanya diabadikan sebagai nama jalan, bandara, universitas, kapal perang, ataupun karena monumennya dibangun di sebuah kota.

Nah, siapakah 20 pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katolik terpopuler di Indonesia? Berikut profil mereka yang sebagian besar diambil dan diolah dari Wikipedia.

 

1. Jenderal Urip Sumoharjo

Pahlawan Kristen Indonesia terpopuler pertama adalah Jenderal Urip Sumoharjo.

Urip lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 22 Februari 1893, dari keluarga non-Kristen. Nama aslinya adalah Muhammad Siddik. Tetapi setelah dewasa, Urip menjadi seorang Kristen.

Ia adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari pasangan Sumoharjo, seorang kepala sekolah, dan istrinya, putri dari Raden Tumenggung Widjojokoesoemo, bupati Trenggalek, Jawa Timur.

Pada tahun kedua sekolahnya, Siddik jatuh dari pohon kemiri dan kehilangan kesadaran. Kakeknya, Widjojokoesoemo menyarankan agar nama Siddik diganti dengan Urip, yang berarti “selamat”.

Urip kecil adalah anak nakal yang sudah memperlihatkan kemampuan memimpin sejak usia dini. Orang tuanya menginginkan dirinya untuk mengikuti jejak kakeknya sebagai bupati, oleh sebab itu, setamat sekolah dasar, ia dikirim ke Sekolah Pendidikan Pegawai Pribumi (OSVIA) di Magelang.

Ibunya wafat saat ia menjalani tahun kedua di sekolah, dan Urip berhenti sekolah untuk mengikuti pelatihan militer di Batavia  (Jakarta). Setelah lulus pada tahun 1914, ia menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara pemerintah kolonial Belanda. Bertugas selama hampir 25 tahun, ia ditempatkan di tiga pulau berbeda dan dipromosikan beberapa kali, dan akhirnya menjadi perwira pribumi dengan pangkat tertinggi di KNIL.

Urip mengundurkan diri dari jabatannya sekitar tahun 1938 setelah berselisih dengan Bupati Purworejo, tempat ia ditempatkan. Urip dan istrinya, Rohmah, kemudian pindah ke sebuah desa di dekat Yogyakarta. Di situ mereka membangun sebuah vila dan kebun bunga yang luas.

Setelah Jerman Nazi menginvasi Belanda pada bulan Mei 1940, Urip dipanggil kembali untuk bertugas. Ketika Kekaisaran Jepang menduduki Hindia Belanda dua tahun kemudian, Urip ditangkap dan ditahan di kamp tawanan perang selama tiga setengah bulan. Ia melalui sisa masa pendudukan Jepang di vilanya.

Pada tanggal 14 Oktober 1945, beberapa bulan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Urip ditetapkan sebagai kepala staff dan pemimpin sementara angkatan perang yang baru dibentuk. Urip berupaya untuk menyatukan kekuatan kelompok-kelompok militer yang terpecah-pecah di Indonesia.

Ketika Jenderal Sudirman terpilih sebagai panglima angkatan perang, Urip tetap menjabat sebagai kepala staff, dan mereka berdua sama-sama mengawasi pembangunan angkatan perang pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Karena muak dengan sikap pemerintah yang menurutnya kurang percaya pada militer, Urip mengajukan pengunduran dirinya, namun tetap bertugas sebagai penasihat Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Presiden, Muhammad Hatta.

Pada 17 November 1948, Urip ambruk dan wafat di kamarnya di Yogyakarta akibat serangan jantung. Ia dikebumikan keesokan harinya di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta dan secara anumerta dipromosikan sebagai Jenderal.

Urip menerima sejumlah tanda kehormatan dari pemerintah secara anumerta (setelah meninggal), termasuk Bintang Sakti (1959), Bintang Mahaputra (1960), Bintang Republik Indonesia Adipurna (1967), dan Bintang Kartika Eka Pakci Utama (1968). Pada tanggal 10 Desember 1964, Urip ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 314 Tahun 1964.

Pada tanggal 22 Februari 1964, akademi militer Indonesia di Magelang mendedikasikan sebuah tugu untuk dirinya, dan menggambarkan Urip sebagai “Seorang putra Indonesia yang mengagungkan karya daripada kata, yang mengutamakan Dharma daripada minta.”

Gereja Katholik di akademi tersebut juga mempersembahkan sebuah dedikasi untuk Urip sejak tahun 1965, yang berawal dari perbincangan antara Rohmah dan teman misionarisnya.

Beberapa jalan juga dinamakan untuk menghormati Urip, termasuk di kampung halamannya, Purworejo, di Yogyakarta, dan di ibu kota Jakarta

 



2. Letnan Jenderal T.B. Simatupang

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama T.B. Simatupang.

T.B. Simatupang lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, pada 28 Januari 1920 sebagai anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai pegawai kantor pos dan telegraf (PTT: Post, Telefoon en Telegraaf) yang sering berpindah tempat tugas, mulai dari Sidikalang, Siborong-borong, kemudian ke Pematang Siantar.

T.B. Simatupang menempuh pendidikannya di HIS Pematangsiantar dan lulus pada 1934. Ia melanjutkan sekolahnya di MULO Dr. Nommensen di Tarutung pada tahun 1937, lalu ke AMS di Salemba, Batavia (Jakarta) dan selesai pada 1940. Saat bersekolah di Batavia, Simatupang terbilang siswa yang pintar, termasuk fasih berbahasa Belanda.

Pada bulan Mei 1940, Negeri Belanda diinvasi oleh pasukan Nazi Jerman, Angkatan Darat Kerajaan Belanda (KL, Koninlijke Leger) dibubarkan dan senjatanya dilucuti, demikian pula akademi militer kerajaan (KMA: Koninlijke Militaire Academie) di Breda dan diungsikan ke Bandung, Hindia Belanda. Simatupang yang baru menyelesaikan pendidikan menengahnya di AMS Batavia, memutuskan mengikuti ujian masuk KMA.

Ia lulus KMA pada tahun 1942 dengan mendapatkan gelar taruna mahkota dengan mahkota perak karena dinilai berprestasi khususnya di bidang teori. Namun belum sempat ditugaskan di KNIL (Koninlijke Nederlands Indische Leger), pasukan Jepang keburu merebut kekuasaan di Hindia Belanda dan KNIL pun dibubarkan dan senjatanya dilucuti. Simatupang dan beberapa temannya sesama perwira direkrut Jepang dan ditempatkan di Resimen Pertama di Jakarta.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Simatupang bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), dan kemudian turut bergerilya bersama Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman melawan pasukan Belanda yang berniat menguasai kembali bekas koloninya tersebut. Selama perang kemerdekaan Indonesia tersebut, ia pun diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang (WAKSAP) RI pada tahun 1948 hingga 1949.

Dalam kedudukannya tersebut, Simatupang ikut mewakili TNI dalam delegasi Republik Indonesia menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Misi utama mereka adalah mendesak Belanda menghapus KNIL dan menjadikan TNI sebagai inti kekuatan tentara Indonesia. Ketika Jenderal Sudirman wafat pada tahun 1950, Simatupang dalam usia yang sangat muda (29 tahun!) diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI (KSAP) dengan pangkat Mayor Jenderal hingga tahun 1953.

Presiden Sukarno kemudian menghapuskan jabatan KSAP pada tahun 1953. kemudian pada tahun 1954-1959, T.B. Simatupang diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI.

Setelah non aktif dari kemiliteran, T.B. Simatupang menyibukkan diri dengan menulis buku dan mengajar di SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, sekarang Seskoad, dan Akademi Hukum Milter/AHM). Akhirnya dia resmi pensiun dari dinas militer pada tanggal 21 Juli 1959 dalam usia 39 tahun dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal.

Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

Dalam aktivitas gerejawinya itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, bahkan Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia.

Di lingkungan kemasyarakatan, Simatupang menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM). Ia bahkan merupakan salah satu pencetus lembaga pendidikan ini, ketika di Indonesia belum banyak orang yang memikirkannya.

Pada 1969 Simatupang dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat.

T.B. Simatupang meninggal dunia pada 1 Januari 1990 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Saat ini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

 

3. Laksamana Madya Yos Sudarso

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Yos Sudarso.

Laksamana Madya Yosaphat Sudarso lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 24 November 1925.

Yos sudarso menyelesaikan pendidikannya di HIS Salatiga dan melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru di daerah Muntilan, Magelang. Akan tetapi ia berhenti saat Jepang datang dan menguasai Indonesia. Yos kemudian dipindahkan ke sekolah tinggi pelayaran di Semarang dan ikut pendidikan opsir di Giyu Usamu Butai yaitu sebagai salah satu murid lulusan terbaik.

Ia lalu bekerja sebagai mualim kapal milik Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia usai, ia masuk di BKR Laut yang kini dikenal sebagai TNI Angkatan Laut. Ia juga terlibat operasi militer antar pulau Maluku untuk memberikan informasi tentang kemerdekaan Indonesia di bagian Indonesia Timur yang masih dijajah oleh Belanda.

Setelah kedaulatan RI, ia kemudian diangkat sebagai komandan kapal yang kemudian memimpin di KRI Alu, KRI Rajawali, KRI Gajah Mada, dan KRI Pattimura. Tahun 1958, ia pernah menjabat hakim pengadilan tentara walaupun cuma sekitar 4 bulan.

Tanggal 19 Desember 1961 presiden Sukarno membentuk sebuah Tri Komando Rakyat (TRIKORA) untuk upaya pembebasan Irian Barat yang dijajah oleh Belanda. Presiden Sukarno membentuk sebuah komando mandala untuk pembebasan Irian Barat yang berkedudukan di Makasar, dan Yos menjadi pemimpinnya.

Kemudian ia mengadakan patroli di sekitar daerah perbatasan pada tanggal 15 Januari 1962, yakni di laut Aru, Maluku, dengan 3 kapal motor jenis torpedo boat yaitu KRI macan tutul, KRI harimau dan KRI macan kumbang.

Akan tetapi, Belanda rupanya sudah tahu akan rencana Yos tersebut. Belanda menyiapkan kapal perusak dan pesawat pengintai untuk membasmi pasukan Yos. Yos kemudian mengeluarkan perintah bertempur kepada Belanda. Yos memiliki strategi, dengan KRI macan tutul di bawah pimpinannya ia berusaha untuk menarik perhatian dari kapal Belanda agar kedua kapal lainnya bisa melarikan diri.

Namun tanggal 15 Januari 1962 di Laut Aru, di usianya yang masih muda, yaitu 36 tahun, ia tertembak oleh Hr. Ms. Eversten, kapal patroli milik Belanda dan kapal KRI macan tutul pun tenggelam. Yos bersama rekan-rekannya gugur dan tenggelam bersama awak kapal tersebut.

Namanya  kini diabadikan menjadi nama KRI dan nama pulau. Namanya juga dijadikan nama jalan di Jakarta dan Papua, dan monumennya dibangun di kota Surabaya.

 

4. Marsekal Muda Adi Sucipto

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Marsekal Muda Agustinus Adi Sucipto.

Adi Sucipto lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 3 Juli 1916. Ia adalah seorang penganut agama Katholik.

Adi Sucipto mengenyam pendidikan GHS (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan lulusan Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati, Subang, Jawa Barat.

Pada tanggal 15 November 1945, Adi Sucipto mendirikan Sekolah Penerbang di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo, yang kemudian diganti namanya menjadi Bandara Adi Sucipto (salah satu bandara terbesar di Indonesia), untuk mengenang jasanya sebagai pahlawan nasional.

Pada saat Agresi Militer Belanda I, Adi Sucipto dan Abdulrahman Saleh diperintahkan terbang ke India menggunakan pesawat Dakota VT-CLA. Penerobosan blokade udara Belanda menuju India dan Pakistan berhasil dilakukan. Sebelum pulang ke Indonesia, mereka singgah di Singapura untuk mengangkut bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya, sehingga pesawat baru berangkat kembali pada pukul 13.00.

Pesawat ini mengangkut total 9 orang, antara lain: Agustinus Adi Sucipto, Abdulrahman saleh (kelak menjadi nama bandara di Malang) dan Adisumarmo (kelak menjadi nama bandara di Solo).

Sementara itu, di Lanud Maguwo, Yogyakarta, Kepala Staf S. Suryadarma telah menunggu kedatangan pesawat ini dan memerintahkan agar pesawat tidak perlu berputar-putar sebelum mendarat, untuk menghindari kemungkinan serangan udara terhadap pesawat tersebut, mengingat di dalam pesawat ada dua tokoh penting AURI, yakni Agustinus Adi Sucipto dan Abdulrachman Saleh.

Saat telah mendekati Lanud Maguwo pada 29 Juli 1947 pukul 16.30, pesawat ini pun tetap berputar-putar untuk bersiap mendarat. Tiba-tiba muncul dua pesawat milik Belanda yang diawaki oleh Lettu B.J. Ruesink dan Serma W.E. Erkelens, langsung menembaki pesawat tersebut. Akibatnya pesawat hilang kendali, jatuh dan terbakar. Semua orang di pesawat meninggal, kecuali A. Gani Handonocokro.

Adi Sucipto dimakamkan di pemakaman umum Kuncen I dan II, dan kemudian pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan TNI AU di Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

 

5. Mayor Jenderal D.I. Panjaitan

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah D.I. Panjaitan.

Mayor Jenderal TNI  Donald Isaac Panjaitan lahir di Balige, Sumatera Utara, pada 19 Juni 1925.

Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera.

Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Setelah berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, dan Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan, Panjaitan diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya. Setelah mengikuti kursus Militer Atase tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat.

Tahun 1962, tidak lama setelah pulang dari Jerman, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah yang diembannya saat peristiwa G-30/S PKI yang merenggut nyawanya terjadi.

Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia berhasil membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk PKI (Partai Komunis Indonesia). Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo.

Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan.

Pada jam-jam awal 1 Oktober 1965, sekelompok anggota Gerakan 30 September meninggalkan Lubang Buaya menuju pinggiran Jakarta. Mereka memaksa masuk pagar rumah Panjaitan di Jalan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lalu menembak dan menewaskan salah seorang pelayan yang sedang tidur di lantai dasar rumah dua lantai dan menyerukan Panjaitan untuk turun ke bawah.

Dua orang pemuda, yaitu Albert Naiborhu dan Viktor Naiborhu terluka berat saat mengadakan perlawanan ketika D.I. Panjaitan diculik, tidak lama kemudian Albert meninggal. Setelah penyerang mengancam keluarganya, Panjaitan turun dengan seragam yang lengkap, berdoa secara Kristen sambil berdiri untuk memenuhi panggilan tugas yang sebenarnya dimanupalasi oleh PKI. Ia ditembak mati ketika sedang berdoa, dan tewas di tempat.

Mayat Panjaitan dimasukkan ke dalam truk dan dibawa kembali ke markas gerakan itu di Lubang Buaya. Kemudian, tubuh dan orang-orang dari rekan-rekannya dibunuh tersembunyi di sebuah sumur tua. Mayat ditemukan pada tanggal 4 Oktober, dan semua diberi pemakaman kenegaraan pada hari berikutnya. Panjaitan mendapat promosi pangkat (anumerta) menjadi Mayor Jenderal dan diberi gelar Pahlawan Revolusi.

Nama Panjaitan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, termasuk di Jakarta. Monumennya dibangun di kota kelahirannya, Balige.

Salah satu putra D.I. Panjaitan, Hotmangaraja, mengikuti jejak ayahnya sebagai tentara (mencapai pangkat Jenderal bintang tiga/Letnan Jenderal). Ia terakhir bertugas di militer sebagai Pangdam Udayana di Bali dan Sekretaris Menkopolhukam RI.  Setelah pensiun dari dinas militer, Hotmangaraja ditunjuk sebagai duta besar RI di Perancis, yang dijalaninya hingga kini.

 

6. Brigadir Jenderal Slamet Riyadi

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Brigadier Jenderal Ignatius Slamet Riyadi.

Slamet Riyadi lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 26 Juli 1927, putra dari seorang tentara dan penjual buah. “Dijual” pada pamannya dan sempat berganti nama saat masih balita untuk menyembuhkan penyakitnya, Riyadi tumbuh besar di rumah orang tuanya dan belajar di sekolah milik Belanda.

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda (Indonesia), Riyadi menempuh pendidikan di sekolah pelaut yang dikelola oleh Jepang dan bekerja untuk mereka setelah lulus; ia meninggalkan tentara Jepang menjelang akhir Perang Dunia II dan membantu mengobarkan perlawanan selama sisa pendudukan.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Riyadi memimpin tentara Indonesia di Surakarta pada masa perang kemerdekaan melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Dimulai dengan kampanye gerilya, pada 1947 ia berperang dengan sengit melawan Belanda di Ambarawa dan Semarang, bertanggung jawab atas Resimen 26.

Pada tahun 1950, Riyadi dikirim ke Maluku untuk memerangi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Setibanya di New Victoria, pasukan Riyadi diserang oleh pasukan RMS. Ketika Riyadi sedang menaiki sebuah tank menuju markas pemberontak pada tanggal 4 November, selongsong peluru senjata mesin menembakinya. Peluru tersebut menembus baju besi dan perutnya.

Setelah dilarikan ke rumah sakit kapal, Riyadi bersikeras untuk kembali ke medan pertempuran. Para dokter lalu memberinya banyak morfin dan berupaya untuk mengobati luka tembaknya, namun upaya ini gagal. Riyadi tewas pada malam itu juga, dan pertempuran berakhir di hari yang sama. Riyadi dimakamkan di Ambon.

Sejak kematiannya, Riyadi telah menerima banyak penghormatan. Sebuah jalan utama di Surakarta dinamakan menurut namanya, juga dengan fregat TNI AL, KRI Slamet Riyadi. Begitu juga dengan sebuah universitas di Surakarta, universitas Slamet Riyadi.

Selain itu, Riyadi juga dianugerahi beberapa tanda kehormatan secara anumerta pada tahun 1961, dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

 

7. Dr. Johannes Leimena                                  

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Dr. Johannes Leimena.

Dr. Johannes Leimena lahir di Ambon, Maluku, pada 6 Maret 1905.

Pada tahun 1914, Leimena hijrah ke Batavia (Jakarta) di mana ia meneruskan studinya di ELS, namun hanya beberapa bulan saja, lalu pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang). Dari sini ia melanjutkan pendidikannya ke MULO Kristen, kemudian melanjutkan pendidikan kedokterannya di STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) – cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Keprihatinan Leimena atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa, merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada “Gerakan Oikumene”. Pada tahun 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen.

Setelah lulus studi kedokteran STOVIA, Leimena terus mengikuti perkembangan CSV yang didirikannya saat ia duduk pada tahun ke 4 di bangku kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950.

Dengan keaktifannya di Jong Ambon, ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Perhatian Leimena pada pergerakan nasional kebangsaan semakin berkembang sejak saat itu.

Leimena mulai bekerja sebagai dokter sejak tahun 1930. Pertama kali diangkat sebagai dokter pemerintah di “CBZ Batavia” (kini RS Cipto Mangunkusumo). Tidak lama kemudian ia dipindahtugaskan di Karesidenan Kedu, Jawa Tengah, saat Gunung Merapi meletus. Setelah itu dipindahkan ke Rumah Sakit Immanuel Bandung, tahun 1931 sampai 1941. Ia juga pernah menjabat Direktur Rumah Sakit PGI Cikini.

Pada tahun 1945, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) terbentuk dan pada tahun 1950, ia terpilih sebagai ketua umum dan memegang jabatan ini hingga tahun 1957. Selain di Parkindo, Leimena juga berperan dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, kini PGI), juga pada tahun 1950. Di lembaga ini Leimena terpilih sebagai wakil ketua yang membidangi komisi gereja dan negara.

Ketika Orde Baru berkuasa, Leimena mengundurkan diri dari tugasnya sebagai menteri, namun ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Usai aktif di DPA, ia kembali melibatkan diri di lembaga-lembaga Kristen yang pernah ikut dibesarkannya, seperti Parkindo, DGI, UKI, STT, dan lain-lain.

Ketika Parkindo berfusi dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia, kini PDI-P), Leimena diangkat menjadi anggota DEPERPU (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI.

Pada tanggal 29 Maret 1977, Leimena meninggal dunia di Jakarta.

Sebagai penghargaan kepada jasa-jasanya, pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.

Leimena merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri kabinet Indonesia dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus!

Leimena masuk ke dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora.

Dan yang jarang diketahui oleh orang banyak adalah bahwa Leimena sebanyak 7 kali menjabat Presiden Indonesia (sementara) ketika presiden Sukarno berhalangan!

Loading...
34 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!