20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler

 

Artikel ini membahas tentang 20 pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katolik.

Sebagai bangsa yang lama dijajah oleh bangsa lain, lebih dari 350 tahun, Indonesia melahirkan banyak pejuang, baik yang langsung bertempur di lapangan, pengambil kebijakan dalam peperangan maupun mereka yang membantu melawan penjajah lewat perundingan. Beberapa dari para pejuang ini kemudian ditetapkan sebagai pahlawan.

Selain itu, dalam sejarahnya Indonesia juga sering mengalami pemberontakan dari dalam negeri sendiri, dari antara sesama anak bangsa, yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan RI atau ingin mengganti Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara, seperti yang pernah dicoba oleh pihak PKI (Partai Komunis Indonesia). Mereka yang menentang para pemberontak ini juga melahirkan beberapa pahlawan.

Bahkan para pahlawan juga termasuk mereka yang tak pernah mengangkat senjata di medan perang, tapi dianggap punya jasa yang sangat besar bagi bangsa dan Negara Indonesia, melampaui tugas yang dibebankan kepada mereka.

Baca juga: 20 Jenderal Terbaik Indonesia Beragama Kristen

Para pahlawan tersebut, sebagaimana keadaan Indonesia yang beragam saat ini, terdiri dari berbagai etnis dan agama yang ada di Indonesia.

Demikian juga dengan agama Kristen, baik Kristen Protestan maupun Kristen Katolik, terdapat banyak pahlawan yang ikut berjuang melawan penjajah atau para pemberontak yang ingin merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia atau mengganti Pancasila sebagai dasar Negara, ataupun mereka yang dinilai sangat berjasa bagi bangsa dan negara melebihi tugas yang mereka emban.

Dari sekitar 160-an pahlawan Indonesia yang ditetapkan pemerintah hingga saat ini (jumlah pahlawan akan bertambah terus), setidaknya terdapat 30-an yang beragama Kristen Protestan dan Kristen Katholik, atau sekitar 20 persen dari total jumlah pahlawan Indonesia.

Baca juga: 20 Universitas Kristen Terbaik Di Indonesia

(Ada bebeberapa pahlawan Indonesia yang dianggap banyak orang sebagai beragama Kristen, seperti Pattimura, Sisingamangaraja dan W.R. Supratman, tetapi karena ini masih diperdebatkan, maka tidak dicantumkan di sini).

Dari 30-an pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katholik, di sini dicantumkan 20 di antaranya, yakni 20 pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katolik, yang dianggap paling populer, karena perjuangan mereka yang heroik, atau dianggap memberi pengaruh besar terhadap bangsa dan Negara, atau karena namanya diabadikan sebagai nama jalan, bandara, universitas, kapal perang, ataupun karena monumennya dibangun di sebuah kota.

Nah, siapakah 20 pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katolik terpopuler di Indonesia? Berikut pembahasannya.

 

1. Jenderal Urip Sumoharjo

Pahlawan Kristen Indonesia terpopuler pertama adalah Jenderal Urip Sumoharjo.

Urip lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 22 Februari 1893, dari keluarga non-Kristen. Nama aslinya adalah Muhammad Siddik. Tetapi setelah dewasa, Urip menjadi seorang Kristen.

Ia adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari pasangan Sumoharjo, seorang kepala sekolah, dan istrinya, putri dari Raden Tumenggung Widjojokoesoemo, bupati Trenggalek, Jawa Timur.

Pada tahun kedua sekolahnya, Siddik jatuh dari pohon kemiri dan kehilangan kesadaran. Kakeknya, Widjojokoesoemo menyarankan agar nama Siddik diganti dengan Urip, yang berarti “selamat”.

Urip kecil adalah anak nakal yang sudah memperlihatkan kemampuan memimpin sejak usia dini. Orang tuanya menginginkan dirinya untuk mengikuti jejak kakeknya sebagai bupati, oleh sebab itu, setamat sekolah dasar, ia dikirim ke Sekolah Pendidikan Pegawai Pribumi (OSVIA) di Magelang.

Ibunya wafat saat ia menjalani tahun kedua di sekolah, dan Urip berhenti sekolah untuk mengikuti pelatihan militer di Batavia  (Jakarta). Setelah lulus pada tahun 1914, ia menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara pemerintah kolonial Belanda. Bertugas selama hampir 25 tahun, ia ditempatkan di tiga pulau berbeda dan dipromosikan beberapa kali, dan akhirnya menjadi perwira pribumi dengan pangkat tertinggi di KNIL.

Urip mengundurkan diri dari jabatannya sekitar tahun 1938 setelah berselisih dengan Bupati Purworejo, tempat ia ditempatkan. Urip dan istrinya, Rohmah, kemudian pindah ke sebuah desa di dekat Yogyakarta. Di situ mereka membangun sebuah vila dan kebun bunga yang luas.

Setelah Jerman Nazi menginvasi Belanda pada bulan Mei 1940, Urip dipanggil kembali untuk bertugas. Ketika Kekaisaran Jepang menduduki Hindia Belanda dua tahun kemudian, Urip ditangkap dan ditahan di kamp tawanan perang selama tiga setengah bulan. Ia melalui sisa masa pendudukan Jepang di vilanya.

Pada tanggal 14 Oktober 1945, beberapa bulan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Urip ditetapkan sebagai kepala staff dan pemimpin sementara angkatan perang yang baru dibentuk. Urip berupaya untuk menyatukan kekuatan kelompok-kelompok militer yang terpecah-pecah di Indonesia.

Ketika Jenderal Sudirman terpilih sebagai panglima angkatan perang, Urip tetap menjabat sebagai kepala staff, dan mereka berdua sama-sama mengawasi pembangunan angkatan perang pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Karena muak dengan sikap pemerintah yang menurutnya kurang percaya pada militer, Urip mengajukan pengunduran dirinya, namun tetap bertugas sebagai penasihat Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Presiden, Muhammad Hatta.

Pada 17 November 1948, Urip ambruk dan wafat di kamarnya di Yogyakarta akibat serangan jantung. Ia dikebumikan keesokan harinya di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta dan secara anumerta dipromosikan sebagai Jenderal.

Urip meninggalkan istri, Rohmah, dan putri angkat bernama Abby, yang diadopsi pada tahun 1940 dari sebuah panti asuhan di Semarang. Namun Abby meninggal dunia karena malaria pada Januari 1951.

Urip menerima sejumlah tanda kehormatan dari pemerintah secara anumerta (setelah meninggal), termasuk Bintang Sakti (1959), Bintang Mahaputra (1960), Bintang Republik Indonesia Adipurna (1967), dan Bintang Kartika Eka Pakci Utama (1968). Pada tanggal 10 Desember 1964, Urip ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 314 Tahun 1964.

Pada tanggal 22 Februari 1964, akademi militer Indonesia di Magelang mendedikasikan sebuah tugu untuk dirinya, dan menggambarkan Urip sebagai “Seorang putra Indonesia yang mengagungkan karya daripada kata, yang mengutamakan Dharma daripada minta.”

Gereja Katholik di akademi tersebut juga mempersembahkan sebuah dedikasi untuk Urip sejak tahun 1965, yang berawal dari perbincangan antara Rohmah dan teman misionarisnya.

Beberapa jalan juga dinamakan untuk menghormati Urip, termasuk di kampung halamannya, Purworejo, di Yogyakarta, dan di ibu kota Jakarta

 



2. Letnan Jenderal T.B. Simatupang

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama T.B. Simatupang.

T.B. Simatupang lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, pada 28 Januari 1920 sebagai anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai pegawai kantor pos dan telegraf (PTT: Post, Telefoon en Telegraaf) yang sering berpindah tempat tugas, mulai dari Sidikalang, Siborong-borong, kemudian ke Pematang Siantar.

T.B. Simatupang menempuh pendidikannya di HIS Pematangsiantar dan lulus pada 1934. Ia melanjutkan sekolahnya di MULO Dr. Nommensen di Tarutung pada tahun 1937, lalu ke AMS di Salemba, Batavia (Jakarta) dan selesai pada 1940. Saat bersekolah di Batavia, Simatupang terbilang siswa yang pintar, termasuk fasih berbahasa Belanda.

Pada bulan Mei 1940, Negeri Belanda diinvasi oleh pasukan Nazi Jerman, Angkatan Darat Kerajaan Belanda (KL, Koninlijke Leger) dibubarkan dan senjatanya dilucuti, demikian pula akademi militer kerajaan (KMA: Koninlijke Militaire Academie) di Breda dan diungsikan ke Bandung, Hindia Belanda. Simatupang yang baru menyelesaikan pendidikan menengahnya di AMS Batavia, memutuskan mengikuti ujian masuk KMA.

Ia lulus KMA pada tahun 1942 dengan mendapatkan gelar taruna mahkota dengan mahkota perak karena dinilai berprestasi khususnya di bidang teori. Namun belum sempat ditugaskan di KNIL (Koninlijke Nederlands Indische Leger), pasukan Jepang keburu merebut kekuasaan di Hindia Belanda dan KNIL pun dibubarkan dan senjatanya dilucuti. Simatupang dan beberapa temannya sesama perwira direkrut Jepang dan ditempatkan di Resimen Pertama di Jakarta.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Simatupang bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), dan kemudian turut bergerilya bersama Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman melawan pasukan Belanda yang berniat menguasai kembali bekas koloninya tersebut. Selama perang kemerdekaan Indonesia tersebut, ia pun diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang (WAKSAP) RI pada tahun 1948 hingga 1949.

Dalam kedudukannya tersebut, Simatupang ikut mewakili TNI dalam delegasi Republik Indonesia menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Misi utama mereka adalah mendesak Belanda menghapus KNIL dan menjadikan TNI sebagai inti kekuatan tentara Indonesia. Ketika Jenderal Sudirman wafat pada tahun 1950, Simatupang dalam usia yang sangat muda (29 tahun!) diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI (KSAP) dengan pangkat Mayor Jenderal hingga tahun 1953.

Presiden Sukarno kemudian menghapuskan jabatan KSAP pada tahun 1953. kemudian pada tahun 1954-1959, T.B. Simatupang diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI.

Setelah non aktif dari kemiliteran, T.B. Simatupang menyibukkan diri dengan menulis buku dan mengajar di SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, sekarang Seskoad, dan Akademi Hukum Milter/AHM). Akhirnya dia resmi pensiun dari dinas militer pada tanggal 21 Juli 1959 dalam usia 39 tahun dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal.

Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

Dalam aktivitas gerejawinya itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, bahkan Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia.

Di lingkungan kemasyarakatan, Simatupang menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM). Ia bahkan merupakan salah satu pencetus lembaga pendidikan ini, ketika di Indonesia belum banyak orang yang memikirkannya.

Pada 1969 Simatupang dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat.

T.B. Simatupang meninggal dunia pada 1 Januari 1990 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Saat ini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Simatupang meninggalkan istri, Sumarti Budiardjo, yang merupakan adik dari teman seperjuangannya Ali Budiardjo. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak, yaitu: Tigor, Toga, Siadji, dan Ida Apulia. Salah seorang di antaranya meninggal. Ia dikarunia empat cucu, yaitu: Satria Mula Habonaran, Larasati Dameria, dan Kezia Sekarsari, serta Hizkia Tuah Badia.

 

3. Laksamana Madya Yos Sudarso

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Yos Sudarso.

Laksamana Madya Yosaphat Sudarso lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 24 November 1925.

Yos sudarso menyelesaikan pendidikannya di HIS Salatiga dan melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru di daerah Muntilan, Magelang. Akan tetapi ia berhenti saat Jepang datang dan menguasai Indonesia. Yos kemudian dipindahkan ke sekolah tinggi pelayaran di Semarang dan ikut pendidikan opsir di Giyu Usamu Butai yaitu sebagai salah satu murid lulusan terbaik.

Ia lalu bekerja sebagai mualim kapal milik Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia usai, ia masuk di BKR Laut yang kini dikenal sebagai TNI Angkatan Laut. Ia juga terlibat operasi militer antar pulau Maluku untuk memberikan informasi tentang kemerdekaan Indonesia di bagian Indonesia Timur yang masih dijajah oleh Belanda.

Setelah kedaulatan RI, ia kemudian diangkat sebagai komandan kapal yang kemudian memimpin di KRI Alu, KRI Rajawali, KRI Gajah Mada, dan KRI Pattimura. Tahun 1958, ia pernah menjabat hakim pengadilan tentara walaupun cuma sekitar 4 bulan.

Tanggal 19 Desember 1961 presiden Sukarno membentuk sebuah Tri Komando Rakyat (TRIKORA) untuk upaya pembebasan Irian Barat yang dijajah oleh Belanda. Presiden Sukarno membentuk sebuah komando mandala untuk pembebasan Irian Barat yang berkedudukan di Makasar, dan Yos menjadi pemimpinnya.

Kemudian ia mengadakan patroli di sekitar daerah perbatasan pada tanggal 15 Januari 1962, yakni di laut Aru, Maluku, dengan 3 kapal motor jenis torpedo boat yaitu KRI macan tutul, KRI harimau dan KRI macan kumbang.

Akan tetapi, Belanda rupanya sudah tahu akan rencana Yos tersebut. Belanda menyiapkan kapal perusak dan pesawat pengintai untuk membasmi pasukan Yos. Yos kemudian mengeluarkan perintah bertempur kepada Belanda. Yos memiliki strategi, dengan KRI macan tutul di bawah pimpinannya ia berusaha untuk menarik perhatian dari kapal Belanda agar kedua kapal lainnya bisa melarikan diri.

Namun tanggal 15 Januari 1962 di Laut Aru, di usianya yang masih muda, yaitu 36 tahun, ia tertembak oleh Hr. Ms. Eversten, kapal patroli milik Belanda dan kapal KRI macan tutul pun tenggelam. Yos bersama rekan-rekannya gugur dan tenggelam bersama awak kapal tersebut.

Namanya  kini diabadikan menjadi nama KRI dan nama pulau. Namanya juga dijadikan nama jalan di Jakarta dan Papua, dan monumennya dibangun di kota Surabaya.

Yos Sudarso menganut agama Katholik, dan ia memiliki lima orang anak (dua di antaranya meninggal).

 

4. Marsekal Muda Adi Sucipto

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Marsekal Muda Agustinus Adi Sucipto.

Adi Sucipto lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 3 Juli 1916. Ia adalah seorang penganut agama Katholik.

Adi Sucipto mengenyam pendidikan GHS (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan lulusan Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati, Subang, Jawa Barat.

Pada tanggal 15 November 1945, Adi Sucipto mendirikan Sekolah Penerbang di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo, yang kemudian diganti namanya menjadi Bandara Adi Sucipto (salah satu bandara terbesar di Indonesia), untuk mengenang jasanya sebagai pahlawan nasional.

Pada saat Agresi Militer Belanda I, Adi Sucipto dan Abdulrahman Saleh diperintahkan terbang ke India menggunakan pesawat Dakota VT-CLA. Penerobosan blokade udara Belanda menuju India dan Pakistan berhasil dilakukan. Sebelum pulang ke Indonesia, mereka singgah di Singapura untuk mengangkut bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya, sehingga pesawat baru berangkat kembali pada pukul 13.00.

Pesawat ini mengangkut total 9 orang, antara lain: Agustinus Adi Sucipto, Abdulrahman saleh (kelak menjadi nama bandara di Malang) dan Adisumarmo (kelak menjadi nama bandara di Solo).

Sementara itu, di Lanud Maguwo, Yogyakarta, Kepala Staf S. Suryadarma telah menunggu kedatangan pesawat ini dan memerintahkan agar pesawat tidak perlu berputar-putar sebelum mendarat, untuk menghindari kemungkinan serangan udara terhadap pesawat tersebut, mengingat di dalam pesawat ada dua tokoh penting AURI, yakni Agustinus Adi Sucipto dan Abdulrachman Saleh.

Saat telah mendekati Lanud Maguwo pada 29 Juli 1947 pukul 16.30, pesawat ini pun tetap berputar-putar untuk bersiap mendarat. Tiba-tiba muncul dua pesawat milik Belanda yang diawaki oleh Lettu B.J. Ruesink dan Serma W.E. Erkelens, langsung menembaki pesawat tersebut. Akibatnya pesawat hilang kendali, jatuh dan terbakar. Semua orang di pesawat meninggal, kecuali A. Gani Handonocokro.

Adi Sucipto dimakamkan di pemakaman umum Kuncen I dan II, dan kemudian pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan TNI AU di Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

 

5. Mayor Jenderal D.I. Panjaitan

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah D.I. Panjaitan.

Mayor Jenderal TNI  Donald Isaac Panjaitan lahir di Balige, Sumatera Utara, pada 19 Juni 1925.

Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera.

Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Setelah berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, dan Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan, Panjaitan diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya. Setelah mengikuti kursus Militer Atase tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat.

Tahun 1962, tidak lama setelah pulang dari Jerman, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah yang diembannya saat peristiwa G-30/S PKI yang merenggut nyawanya terjadi.

Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia berhasil membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk PKI (Partai Komunis Indonesia). Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo.

Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan.

Pada jam-jam awal 1 Oktober 1965, sekelompok anggota Gerakan 30 September meninggalkan Lubang Buaya menuju pinggiran Jakarta. Mereka memaksa masuk pagar rumah Panjaitan di Jalan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lalu menembak dan menewaskan salah seorang pelayan yang sedang tidur di lantai dasar rumah dua lantai dan menyerukan Panjaitan untuk turun ke bawah.

Dua orang pemuda, yaitu Albert Naiborhu dan Viktor Naiborhu terluka berat saat mengadakan perlawanan ketika D.I. Panjaitan diculik, tidak lama kemudian Albert meninggal. Setelah penyerang mengancam keluarganya, Panjaitan turun dengan seragam yang lengkap, berdoa secara Kristen sambil berdiri untuk memenuhi panggilan tugas yang sebenarnya dimanupalasi oleh PKI. Ia ditembak mati ketika sedang berdoa, dan tewas di tempat.

Mayat Panjaitan dimasukkan ke dalam truk dan dibawa kembali ke markas gerakan itu di Lubang Buaya. Kemudian, tubuh dan orang-orang dari rekan-rekannya dibunuh tersembunyi di sebuah sumur tua. Mayat ditemukan pada tanggal 4 Oktober, dan semua diberi pemakaman kenegaraan pada hari berikutnya. Panjaitan mendapat promosi pangkat (anumerta) menjadi Mayor Jenderal dan diberi gelar Pahlawan Revolusi.

Nama Panjaitan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, termasuk di Jakarta. Monumennya dibangun di kota kelahirannya, Balige.

Salah satu putra D.I. Panjaitan, Hotmangaraja, mengikuti jejak ayahnya sebagai tentara (mencapai pangkat Jenderal bintang tiga/Letnan Jenderal). Ia terakhir bertugas di militer sebagai Pangdam Udayana di Bali dan Sekretaris Menkopolhukam RI.  Setelah pensiun dari dinas militer, Hotmangaraja ditunjuk sebagai duta besar RI di Perancis, yang dijalaninya hingga kini.

 

6. Brigadir Jenderal Slamet Riyadi

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Brigadier Jenderal Ignatius Slamet Riyadi.

Slamet Riyadi lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 26 Juli 1927, putra dari seorang tentara dan penjual buah. “Dijual” pada pamannya dan sempat berganti nama saat masih balita untuk menyembuhkan penyakitnya, Riyadi tumbuh besar di rumah orang tuanya dan belajar di sekolah milik Belanda.

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda (Indonesia), Riyadi menempuh pendidikan di sekolah pelaut yang dikelola oleh Jepang dan bekerja untuk mereka setelah lulus; ia meninggalkan tentara Jepang menjelang akhir Perang Dunia II dan membantu mengobarkan perlawanan selama sisa pendudukan.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Riyadi memimpin tentara Indonesia di Surakarta pada masa perang kemerdekaan melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Dimulai dengan kampanye gerilya, pada 1947 ia berperang dengan sengit melawan Belanda di Ambarawa dan Semarang, bertanggung jawab atas Resimen 26.

Pada tahun 1950, Riyadi dikirim ke Maluku untuk memerangi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Setibanya di New Victoria, pasukan Riyadi diserang oleh pasukan RMS. Ketika Riyadi sedang menaiki sebuah tank menuju markas pemberontak pada tanggal 4 November, selongsong peluru senjata mesin menembakinya. Peluru tersebut menembus baju besi dan perutnya.

Setelah dilarikan ke rumah sakit kapal, Riyadi bersikeras untuk kembali ke medan pertempuran. Para dokter lalu memberinya banyak morfin dan berupaya untuk mengobati luka tembaknya, namun upaya ini gagal. Riyadi tewas pada malam itu juga, dan pertempuran berakhir di hari yang sama. Riyadi dimakamkan di Ambon.

Sejak kematiannya, Riyadi telah menerima banyak penghormatan. Sebuah jalan utama di Surakarta dinamakan menurut namanya, juga dengan fregat TNI AL, KRI Slamet Riyadi. Begitu juga dengan sebuah universitas di Surakarta, universitas Slamet Riyadi.

Selain itu, Riyadi juga dianugerahi beberapa tanda kehormatan secara anumerta pada tahun 1961, dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

 

7. Dr. Johannes Leimena                                  

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Dr. Johannes Leimena.

Dr. Johannes Leimena lahir di Ambon, Maluku, pada 6 Maret 1905.

Pada tahun 1914, Leimena hijrah ke Batavia (Jakarta) di mana ia meneruskan studinya di ELS, namun hanya beberapa bulan saja, lalu pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang). Dari sini ia melanjutkan pendidikannya ke MULO Kristen, kemudian melanjutkan pendidikan kedokterannya di STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) – cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Keprihatinan Leimena atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa, merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada “Gerakan Oikumene”. Pada tahun 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen.

Setelah lulus studi kedokteran STOVIA, Leimena terus mengikuti perkembangan CSV yang didirikannya saat ia duduk pada tahun ke 4 di bangku kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950.

Dengan keaktifannya di Jong Ambon, ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Perhatian Leimena pada pergerakan nasional kebangsaan semakin berkembang sejak saat itu.

Leimena mulai bekerja sebagai dokter sejak tahun 1930. Pertama kali diangkat sebagai dokter pemerintah di “CBZ Batavia” (kini RS Cipto Mangunkusumo). Tidak lama kemudian ia dipindahtugaskan di Karesidenan Kedu, Jawa Tengah, saat Gunung Merapi meletus. Setelah itu dipindahkan ke Rumah Sakit Immanuel Bandung, tahun 1931 sampai 1941. Ia juga pernah menjabat Direktur Rumah Sakit PGI Cikini.

Pada tahun 1945, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) terbentuk dan pada tahun 1950, ia terpilih sebagai ketua umum dan memegang jabatan ini hingga tahun 1957. Selain di Parkindo, Leimena juga berperan dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, kini PGI), juga pada tahun 1950. Di lembaga ini Leimena terpilih sebagai wakil ketua yang membidangi komisi gereja dan negara.

Ketika Orde Baru berkuasa, Leimena mengundurkan diri dari tugasnya sebagai menteri, namun ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Usai aktif di DPA, ia kembali melibatkan diri di lembaga-lembaga Kristen yang pernah ikut dibesarkannya, seperti Parkindo, DGI, UKI, STT, dan lain-lain.

Ketika Parkindo berfusi dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia, kini PDI-P), Leimena diangkat menjadi anggota DEPERPU (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI.

Pada tanggal 29 Maret 1977, Leimena meninggal dunia di Jakarta.

Sebagai penghargaan kepada jasa-jasanya, pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.

Leimena merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri kabinet Indonesia dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus!

Leimena masuk ke dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora.

Dan yang jarang diketahui oleh orang banyak adalah bahwa Leimena sebanyak 7 kali menjabat Presiden Indonesia (sementara) ketika presiden Sukarno berhalangan!

 

8. Letnan Jenderal Jamin Ginting

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Letnan Jenderal Jamin Ginting.

Letjen Jamin Ginting lahir di Desa Suka, Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada 12 Januari 1921.

Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah dia bergabung dengan satuan militer yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara guna menambah pasukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di Asia. Jamin Ginting muncul sebagai seorang komandan pada pasukan bentukan Jepang itu.

Rencana Jepang untuk memanfaatkan putra-putra Karo memperkuat pasukan Jepang kandas setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada Perang Dunia II. Jepang menelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang. Sebagai seorang komandan, Jamin Ginting bergerak cepat untuk mengkonsolidasi pasukannya.

Di kemudian hari anggota pasukan Jamin Ginting ini mucul sebagai pionir-pionir pejuang Sumatera Utara dalam melawan tentara Belanda. Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamat Ginting, Kapten Mumah Purba, Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamet Ketaren, dan lain sebagainya, adalah cikal bakal Kodam II/Bukit Barisan yang kita kenal sekarang ini.

Dalam rangka menghadapi gerakan pemberontakan Nainggolan di Medan (Sumatera Utara) maka Panglima TT I, Letkol Jamin Ginting melancarkan Operasi Bukit Barisan pada tanggal 7 April 1958. Hasilnya, pasukan Nainggolan dan Sinta Pohan terdesak dan mundur ke daerah Tapanuli.

Dengan pangkat Mayor Jenderal, Jamin Ginting menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Front Nasional, di Kabinet Dwikora Revisi Kedua. Di penghujung masa baktinya, Jamin Ginting menjadi Duta Besar Indonesia untuk Kanada. Di Kanada inilah ia meninggal pada 23 Oktober 1974.

Jamin Ginting meninggalkan lima orang anak. Salah satunya seorang putri bernama Rimenda br Ginting, SH, yang sekarang menjabat sebagai ketua umum Himpunan Masyarakat Karo Indonesia.

Semasa hidupnya, Jamin Ginting menulis beberapa buku, salah satunya adalah “Bukit Kadir”, yang mengisahkan perjuangannya di daerah Karo sampai ke perbatasan Aceh melawan tentara Belanda. Seorang anggotanya, Kadir, gugur di sebuah perbukitan di Tanah Karo dalam suatu pertempuran yang sengit dengan pasukan Belanda. Bukit itu sekarang dikenal dengan nama Bukit Kadir.

Kisah hidup istri Jamin Ginting, Likas Tarigan, bersama Jamin Ginting, telah dibuat menjadi sebuah film yang berjudul 3 Nafas Likas, yang diputar di bioskop-bioskop Indonesia pada 2014.

Jalan Jamin Ginting di kota Medan merupakan penghormatan bagi Jamin Ginting, yang konon merupakan jalan terpanjang di Indonesia dengan memakai nama orang/pahlawan.

 

9. Mgr. Albertus Sugiyapranata

Pahlawan Kristen/Katholik Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Albertus Sugiyapranata (lebih populer memakai ejaan lama: Soegijapranata, disingkat Soegija).

Mgr. Albertus Sugiyapranata dilahirkan pada 25 November 1896 di Surakarta, Jawa Tengah, dalam keluarga seorang abdi dalem non-Kristen/Katholik. Keluarganya pindah ke Yogyakarta saat Sugiya masih kecil.

Pada tahun 1909 Sugiya bergabung dengan Kolese Xaverius, suatu sekolah Yesuit di Muntilan. Di sana Sugiya menjadi tertarik dengan agama Katholik, dan dibaptis pada tanggal 24 Desember 1910.

Setelah lulus dari Xaverius Sugiya belajar di seminari di Muntilan sebelum belajar ke Belanda. Sugiyapranata kemudian menjadi pastor, lalu menjadi uskup agung Semarang, yang menjadikannya uskup asli Indonesia pertama.

Setelah Presiden Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Semarang dipenuhi dengan kekacauan. Sugiyapranata membantu menyelesaikan Pertempuran Lima Hari dan menuntut agar pemerintah pusat mengirim seseorang dari pemerintah untuk menghadapi kerusuhan di Semarang.

Selama revolusi nasional Sugiyapranata berusaha untuk meningkatkan pengakuan Indonesia di dunia luas dan meyakinkan orang Katolik untuk berjuang demi negera mereka.

Ketika Jepang menguasai Indonesia, Sugiyapranata sempat ditahan oleh pemerintah Jepang, tetapi ia diperlakukan dengan baik oleh Jepang. Ia menggunakan kedudukannya sebagai Uskup untuk memastikan bahwa tahanan perang diperlakukan dengan baik oleh Jepang.

Sugiyapranata sangat tegas menolak gagasan Nasakom, yang mengakomodir komunisme dalam pemerintahan RI. Dan untuk meredam meningkatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) di kalangan petani, Sugiyapranata, bekerja sama dengan orang Katolik lainnya, mendirikan kelompok pekerja “Buruh Pancasila”.

Selama Belanda menguasai Yogyakarta Sugiyapranata mengirim beberapa tulisannya di majalah Commonweal, agar masyarakat internasional mengutuk Belanda.  Sugijapranata juga dengan tegas mendukung penguasaan Indonesia atas Papua barat (yang dikuasai Belanda) yang akhirnya bergabung dengan Indonesia pada tahun 1963.

Sugiyapranata meninggal dunia pada tanggal 22 Juli 1963 di Belanda.

Karena presiden Sukarno tidak ingin Sugiyapranata dikebumikan di Belanda, jenazah Sugiyapranata diterbangkan ke Indonesia. Ia dinyatakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada 26 Juli 1963, saat jenazahnya masih dalam perjalanan ke Indonesia! Ia dimakamkan pada tanggal 30 Juli di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang.

Sejarawan Anhar Gonggong menyatakan bahwa Sugiyapranata bukan hanya seorang uskup, melainkan pemimpin Indonesia yang “teruji sebagai pemimpin yang baik dan memang layak dijadikan pahlawan nasional.”

Uskup Sugiya dikenal karena pendiriannya yang pro-nasionalis, yang dikenal melalui ungkapannya, “100% Katolik, 100% Indonesia”.

Universitas Katolik Soegijapranata di Semarang dinamakan untuk menghormati Sugiyapranata. Ada juga beberapa jalan yang diberi nama Soegijapranata, antara lain di Semarang, Malang, dan Medan.

Pada Juni 2012 sutradara Garin Nugroho mengeluarkan film biopik tentang Sugiyapranata, yang diberi judul Soegija, dibintangi Nirwan Dewanto sebagai Sugiyapranata. Film ini, yang menelan dana Rp 12 miliar, ditonton lebih dari 100.000 orang pada hari pertama tayang.

Beberapa buku ditulis seputar Sugiyapranata, baik fiksi maupun non-fiksi, yang ditulis baik oleh orang Katholik maupun non-Katholik.

 

10. Dr. Sam Ratulangi

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Sam Ratulangi.

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi, lahir di Tondano, Sulawesi Utara, pada 5 November 1890.

Sam Ratulangi dikenal dengan filsafatnya (dalam Bahasa Minahasa): “Si tou timou tumou tou” yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Sam Ratulangi mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar Belanda (Europesche Lagere School) di Tondano, lalu ia melanjutkannya di Hoofden School (setingkat SMA), Tondano dan menyelesaikan Sekolah Teknik Koninginlijke Wilhelmina School (saat ini bernama SMK Negeri 1 Jakarta Budi Utomo) bagian mesin, pada tahun 1908.

Pada tahun 1915, Sam Ratulangi berhasil memperoleh ijazah guru ilmu pasti (Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek) di Universitas Amsterdam (Universiteit van Amsterdam), Belanda. Pada tahun yang sama, ia melanjutkan studi ke Swiss dan mendapat gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr. Phil.) untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Universitas Zürich tahun 1919.

Sam Ratulangi merupakan Gubernur Sulawesi yang pertama, yang berkedudukan di Makassar. Ia meninggal di Jakarta sebagai tawanan musuh pada tanggal 30 Juni 1949 dan dimakamkan di Tondano.

Namanya diabadikan sebagai nama bandar udara di Manado, yakni Bandara Sam Ratulangi serta nama Universitas Negeri di Sulawesi Utara, yakni Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).

 

11. Wolter Monginsidi

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Wolter Monginsidi.

Robert Wolter Monginsidi lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 14 Februari 1925.

Monginsidi memulai pendidikannya pada 1931 di sekolah dasar (HIS) dan sekolah menengah (MULO) Frater Don Bosco di Manado. Monginsidi lalu dididik sebagai guru bahasa Jepang pada sebuah sekolah di Tomohon. Setelah studinya, dia mengajar Bahasa Jepang di Liwutung, Minahasa dan di Luwuk, Sulawesi Tengah, sebelum ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan,  Monginsidi berada di Makassar. Namun, Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II. Mereka kembali melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration/Administrasi Sipil Hindia Belanda). Dan Monginsidi terlibat dalam perjuangan melawan NICA di Makassar.

Pada tanggal 17 Juli 1946, Monginsidi dengan rekan-rekannya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), yang selanjutnya menyerang posisi Belanda. Dia ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil kabur pada 27 Oktober 1947.

Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Monginsidi dieksekusi oleh tim penembak pada 5 September 1949 saat ia berusia 24 tahun. Jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Makassar pada 10 November 1950.

Wolter Monginsidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 6 November 1973. Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana), pada 10 November 1973. Ayahnya, Petrus, yang berusia 80 tahun pada saat itu, menerima penghargaan tersebut.

Bandara Wolter Monginsidi di Kendari, Sulawesi Tenggara dinamakan sebagai penghargaan kepada Monginsidi. Demikian juga kapal Angkatan Darat Indonesia, KRI Wolter Monginsidi dan Yonif 720/Wolter Monginsidi. Sejumlah jalan di berbagai kota juga dinamai menurut namanya.

 

12. Mayor Daan Mogot

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Daan Mogot.

Daan Mogot lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 28 Desember 1928 dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara sepupunya antara lain adalah Kolonel Alex Kawilarang (Panglima Divisi Siliwangi, serta Panglima Besar PERMESTA) dan Irjen A. Gordon Mogot (mantan Kapolda Sulawesi Utara).

Pada tahun 1939, ketika ia berumur 11 tahun, keluarganya pindah dari Manado ke Batavia (Jakarta) dan ayahnya diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda), kemudian menjadi Kepala Penjara Cipinang, Jakarta Timur.

Tahun 1942, Jepang menduduki Hindia Belanda (Indonesia). Pada tahun itu juga, pemuda Daan Mogot direkrut ke Seinen Dojo, pasukan paramiliter bentukan Jepang di Tangerang. Di pasukan tersebut, Daan menjadi angkatan pertama. Sebenarnya usia Daan Mogot belum memenuhi syarat yang ditentukan pihak Jepang yakni 18 tahun, namun karena prestasinya selama pendidikan militer, Daan dipromosikan menjadi pembantu instruktur Pembela Tanah Air (PETA) di Bali pada 1943.

Daan Mogot, bersama rekan-rekannya sesama perwira menengah TKR, menggagas pendirian akademi militer untuk melatih calon-calon perwira TKR dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Gagasannya ditanggapi oleh Markas Besar Tentara (MBT) di Jakarta dan pada 18 November 1945 berdirilah Militaire Academie Tangerang (MAT), dan Daan Mogot dilantik sebagai Direktur.

Mayor Daan Mogot gugur bersama 35 orang rekannya dalam pertempuran melawan tentara Jepang di Lengkong, Serpong, Tangerang.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, monumen Pertempuran Lengkong dibangun di Jalan Pahlawan Seribu, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Dan kisah Pertempuran Lengkong dijadikan dasar penulisan skenario film Merah Putih (2009).

Tanggal 29 Januari 1946 di Tangerang diselenggarakan pemakaman kembali 36 jenazah yang gugur dalam peristiwa Lengkong disusul seorang taruna Soekardi yang luka berat namun akhirnya meninggal di RS Tangerang. Hadir pada upacara tersebut Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir dan Wakil Menteri Luar Negeri Agus Salim, yang puteranya, Sjewket Salim, ikut gugur dalam peristiwa tersebut.

Daan Mogot gugur ketika masih berusia 17 tahun, dialah pahlawan termuda di Indonesia.

Konon pacar Mayor Daan Mogot, Hadjari Singgih, memotong rambutnya yang panjangnya mencapai pinggang dan menanam rambut itu bersama jenazah Daan Mogot. Setelah itu rambutnya tak pernah dibiarkan panjang lagi.

Nama Daan Mogot diabadikan sebagai nama jalan yang membentang dari Jakarta Barat hingga kota Tangerang, yakni Jalan Daan Mogot. (kebanyakan orang yang sering melewati jalan tersebut tidak tahu bahwa Daan Mogot adalah nama orang atau pahlawan!)

 

13. Prof. Dr. Ir.Herman Johannes

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Prof. Dr. Ir. Herman Johannes.

Herman Johannes lahir di pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, pada 28 Mei 1912.

Setelah lulus dari AMS Salemba di Jakarta tahun 1934, Herman Johannes melanjutkan pendidikannya ke THS Bandung. Namun dengan jatuhnya Hindia Belanda ke tangan Jepang pada 1942, THS Bandung ditutup sehingga studinya terpaksa terhenti.

Tahun 1944 Jepang membuka kembali sekolah ini dengan nama Bandung Kogyo Daigaku (BKD), setelah proklamasi kemerdekaan BKD diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung yang kemudian hijrah ke Yogyakarta. Herman menyelesaikan studinya di STT Bandung di Yogyakarta yang kemudian menjadi cikal bakal Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) di mana dia termasuk salah satu perintisnya.

Herman Johannes banyak mengabdikan dirinya kepada kepentingan negara dan bangsanya, terutama rakyat kecil. Hingga menjelang akhir hayatnya, ia masih melakukan penelitian yang menghasilkan kompor hemat energi dengan briket arang biomassa. Keprihatinannya akan tingginya harga minyak bumi, selalu mendorongnya untuk mencari bahan bakar alternatif yang bisa dipakai secara luas oleh masyarakat.

Walau lebih banyak dikenal sebagai pendidik dan ilmuwan, Herman Johannes tercatat pernah berkarier di bidang militer.

Tahun 1946 Herman Johannes diminta oleh Kepala Staf Umum Kementerian Keamanan Rakyat Letjen Urip Sumoharjo untuk membangun sebuah laboratorium persenjataan bagi TNI, karena Indonesia saat itu sedang mengalami krisis persenjataan. Laboratorium ini selama perang kemerdekaan berhasil memproduksi bemacam bahan peledak yang berguna untuk memblokade gerak pasukan Belanda selama agresi militer I dan II.

Herman Johannes juga ikut serta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menyerbu kota Yogyakarta di pagi buta dan bisa menduduki ibukota Republik selama enam jam.

Jasanya di dalam perang membuat Herman Johannes dianugerahi Bintang Gerilya dan gelar Pahlawan Nasional.

Herman  meninggal di Yogyakarta, pada 17 Oktober 1992. Meski berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, namun ia meminta dimakamkan di Pemakaman Keluarga UGM di Sawitsari, Yogyakarta.

Herman pernah menjabat Rektor UGM (1961-1966), anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI (1968-1978), dan Menteri Pekerjaan Umum (1950-1951).

Pada tahun 2003, nama Herman Johannes diabadikan oleh Keluarga Alumni Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA) menjadi sebuah penghargaan bagi karya utama penelitian bidang ilmu dan teknologi: Herman Johannes Award.

Nama Prof. Herman Johannes juga diabadikan menjadi nama jalan yang menghubungkan Kampus UGM dengan Jalan Solo dan Jalan Jenderal Sudirman di kota Yogyakarta.

Herman Johannes dikaruniai empat anak, salah satunya adalah Helmi Johannes, seorang presenter berita televisi yang terkenal di Indonesia, yang sekarang bekerja di media VOA, Amerika Serikat.

 

14. Prof. W.Z. Johannes

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Prof. dr. Wilhelmus Zakharia Johannes atau W.Z. Johannes.

W.Z. Johannes lahir di Pulau Rote, Nusa Tengara Timur, pada tahun 1895.

Ia adalah ahli radiologi pertama di Indonesia, guru besar radiologi dan pernah menjabat Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Wakil Ketua Senat Universitas Indonesia (UI), Jakarta.

Sebagai dokter Indonesia pertama yang mempelajari ilmu radiologi di Belanda, W.Z. Johannes juga menjadi ahli rontgen pertama yang sangat berjasa dalam pengembangan ilmu kedokteran Indonesia sehingga mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Prof. dr. W.Z. Johannes meninggal dunia di Den Haag, Belanda pada 4 September 1952. Jenazahnya dikirim dengan kapal “Modjokerto” dari Belanda dan tiba di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta pada 24 November 1952. Ia dimakamkan di Jati Petamburan, Jakarta Pusat pada 26 November 1952.

Namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yakni RSU W.Z. Johannes. Nama pahlawan ini juga diabadikan menjadi nama sebuah kapal perang TNI-AL, yakni KRI Wilhelmus Zakharia Johannes.

W.Z. Johannes adalah sepupu Prof. Dr. Ir. Herman Johannes (lihat poin 13 di atas).

 

15. dr. Ferdinand Lumbantobing

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah dr. Ferdinand Lumbantobing.

Ferdinand Lumbantobing, sering disingkat F.L. Tobing, lahir di Sibuluan, Sibolga, Sumatera Utara, pada 19 Februari 1899. Keluarganya kemudian pindah ke Jawa.

Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Depok, ia melanjutkan pelajaran ke STOVIA (Sekolah Dokter) di Jakarta dan lulus pada tahun 1924.  Setelah itu, ia bekerja sebagai dokter di CBZ (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo/RSCM) Jakarta.  Dari situ F.L. Tobing dipindahkan ke Tenggarong (Kalimantan Timur), lalu ke Surabaya, Padang Sidempuan, dan Sibolga.

Pada masa pendudukan Jepang, F.L. Tobing diangkat menjadi dokter pengawas kesehatan romusha. Ia menyaksikan langsung bagaimana sengsaranya nasib para romusha yang dipaksa membuat benteng di Teluk Sibolga. Karena itu, ia melakukan protes terhadap pemerintah Jepang. Akibatnya, ia dicurigai dan termasuk dalam daftar orang terpelajar yang akan dibunuh oleh Jepang.

Tetapi ia terhindar dari bahaya maut karena berhasil menyelamatkan nyawa seorang tentara Jepang yang jatuh dari kendaraan.

Pada bulan Oktober 1945 ia diangkat menjadi Residen Tapanuli. Sebagai residen, ia menghadapi saat-saat sulit ketika daerah Tapanuli dilanda pertentangan bersenjata antara sesama pasukan RI yang datang dengan Sumatera Timur setelah daerah itu jatuh ke tangan Belanda dalam Agresi Militer I. Namun, Tobing yang berpendirian tegas dan tidak mudah digertak berhasil mengatasinya.

Dalam Agresi Militer II Belanda, ia diangkat menjadi Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur yang memimpin perjuangan gerilya melawan Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, F.L. Tobing menjadi Gubernur Sumatera Utara.

Dalam Kabinet Ali I, ia diangkat menjadi Menteri Penerangan dan Menteri Kesehatan (ad interim), ia juga pernah menjadi Menteri Urusan Hubungan Antar Daerah dan Menteri Negara Urusan Transmigrasi.

F.L. Tobing merupakan tokoh yang dikenal selalu dekat dengan rakyat kecil. Sebagai pemimpin, ia selalu memimpin langsung anak buahnya, termasuk turut berjuang keluar-masuk hutan.

F.L. Tobing meninggal di Jakarta pada 7 Oktober 1962 dan dimakamkan di Desa Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Nama Ferdinand Lumbantobing diabadikan sebagai nama bandar udara (bandara) di Pinangsori, Sibolga, serta nama rumah sakit pemerintah (RSUD) Sibolga, Tapanuli Tengah. Selain itu juga sebagai nama jalan di Sibolga dan kota-kota lainnya.

 

16. Frans Kaisiepo

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Frans Kaisiepo.

Kaisiepo lahir di Wardo, Biak, Papua, pada 10 Oktober 1912.

Bulan Juli tahun 1946, Kaisiepo menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak. Dan saat Belanda mengadakan Konferensi Malino di Sulawesi Selatan yang membahas rencana pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT), Kaisiepo menjadi anggota delegasi Irian Barat (Papua).

Kaisiepo menentang rencana Belanda tersebut. Bahkan ia kemudian mengganti nama Netherland Nieuwe Guinea dengan IRIAN yang merupakan singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti Netherland. Kaisiepo dan rakyat Biak kemudian terus mengadakan perlawanan menentang Belanda di Irian.

Saat Konferensi Meja Bundar (KMB), Kaisiepo menolak diangkat sebagai anggota delegasi Belanda. Akibatnya, ia dihukum dan diasingkan ke daerah terpencil. KMB sendiri menghasilkan keputusan pengakuan kedaulatan terhadap Negara Republik Indonesia. Namun, Belanda bersikeras bahwa Irian termasuk ke dalam wilayahnya.

Tanggal 19 Desember 1961, ketika Presiden Sukarno mengumandangkan Trikora (Tri Komando Rakyat) sebagai upaya membebaskan Irian yang dilanjutkan dengan operasi militer, Kaisiepo turut membantu TNI mendarat di Irian Barat.

Ketika Trikora berakhir, perjuangan dilanjutkan melalui jalur diplomasi. Tanggal 1 Mei 1963, secara resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerahkan Irian Barat kepada pemerintah RI. Dan Kaisiepo diangkat menjadi gubernur pertama antara tahun 1964-1973 dan bertugas melaksanakan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA).

Kaisiepo meninggal di Jayapura, Papua, pada 10 April 1979. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura.

Nama Frans Kaisiepo diabadikan sebagai nama bandara di Biak, Papua, dan nama kapal perang milik TNI AL, yaitu KRI Frans Kaisiepo.

 

17. Kolonel Sugiyono

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Kolonel Sugiyono.

Kolonel R. Sugiyono Mangunwiyoto lahir di Gedaren, Gunung Kidul, Yogyakarta, pada 12 Agustus 1926.

Sugiyono bercita-cita menjadi seorang guru, karena itu ia melanjutkan studinya ke Sekolah Guru Pertama di Wonosari. Namun sebelum ia lulus, tentara Jepang menduduki Indonesia dan memberlakukan wajib militer bagi anak-anak muda. Sugiyono terpaksa mengubur impiannya untuk menjadi seorang guru dan mengikuti pendidikan tentara Jepang di Pembela Tanah Air (PETA).

Selepas menyelesaikan pendidikan di PETA, ia diangkat sebagai Budancho (komandan Peleton) di Wonosari. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan mengawali karier sebagai komandan seksi. Ia diangkat menjadi ajudan Komandan Brigade 10 di bawah Letnan Kolonel Suharto (yang kelak menjadi presiden ke-2 RI) pada tahun 1947.

Pada 1 Maret 1949 terjadi serangan umum terhadap Yogyakarta pada peristiwa Agresi Militer II Belanda. Ia turut serta dalam keberhasilan pasukan Indonesia dalam menghentikan agresi militer II tersebut yang mampu mengubah penilaian dunia internasional terhadap kekuatan RI.

Sugiyono juga ikut serta dalam Gerakan Operasi Militer (GOM) III dalam rangka memadamkan pemberontakan KNIL di wilayah Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Andi Aziz.

Karirnya terus menanjak, hingga pada bulan Juni tahun 1965 ia berpangkat Letnan Kolonel dan menjadi Kepala Staf komando Resort Militer (Korem) 072 Kodam VII Diponegoro Yogyakarta (sekarang Kodam IV/ Diponegoro Semarang) di bawah pimpinan Kolonel Katamso.

Pada tahun 1965 terjadi krisis yang diakibatkan oleh ulah PKI. Terjadi penyusupan yang dilakukan PKI baik di tubuh TNI maupun kekuatan politik lainnya. PKI berhasil melakukan provokasi dan mobilisasi pada petani dan buruh di daerah seperti Yogyakarta yang menjadi arena percobaan mereka untuk mempersiapkan pemberontakan.

Mencuatlah peristiwa G-30S/PKI yang sangat mencekam di mana para perwira TNI di Jakarta menjadi korban penculikan, penganiayaan dan pembunuhan oleh para PKI. Termasuk juga di Yogyakarta, karena getol melakukan perlawanan terhadap PKI, maka Sugiyono bersama Komandan Korem 072, Katamso, diculik dan dibunuh oleh PKI pada 1 Oktober 1965.

Jenazah mereka dimasukkan ke dalam lubang yang telah dipersiapkan oleh PKI. Pencarian besar-besaran dilakukan untuk mencari kedua perwira tersebut hingga Jenazah mereka ditemukan pada 21 Oktober 1965 dalam keadaan rusak. Ketika meninggalnya, Sugiyono berusia 39 tahun.

Pada tanggal 22 Oktober mereka berdua dimakamkan di Taman makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Pangkat mereka dinaikkan satu tingkat (Sugiyono menjadi Kolonel) dan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.

Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah kota di Indonesia.

Kolonel Sugiyono memiliki enam orang anak laki-laki, serta seorang anak perempuan, yang lahir setelah Sugiyono meninggal.

 

18. Marsekal Pertama Tjilik Riwut

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Marsekal Pertama Tjilik Riwut.

Tjilik (baca: Cilik) Riwut lahir di Kasongan, Kalimantan Tengah, pada 2 Februari 1918. Ia berjasa memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung Pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tanggal 17 Oktober 1947 oleh pasukan MN 1001, yang ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU yang diperingati setiap 17 Oktober. Waktu itu pangkat Tjilik Riwut adalah Mayor.

Tjilik Riwut jua salah seorang yang berjasa bagi masuknya pulau Kalimantan ke pangkuan Republik Indonesia. Sebagai seorang putera Dayak ia telah mewakili 142 suku Dayak pedalaman Kalimantan bersumpah setia kepada Pemerintah RI secara adat di hadapan Presiden Sukarno di Gedung Agung Yogyakarta, 17 Desember 1946.

Sebagai tentara, pengalaman perangnya meliputi sebagian besar pulau Kalimantan dan Jawa. Setelah perang usai, Tjilik Riwut aktif di pemerintahan. Dia pernah menjadi Gubernur Kalimantan Tengah, menjadi koordinator masyarakat suku-suku terasing untuk seluruh pedalaman Kalimantan, dan terakhir sebagai anggota DPR RI.

Ia meninggal dalam usia 69 Tahun di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 17 Agustus 1987 (bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia) dan dimakamkan di Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya.

Namanya diabadikan sebagai nama bandara di Palangka Raya, serta nama jalan utama di ibu kota Kalimantan Tengah tersebut.

Tjilik Riwut merupakan seorang penulis yang produktif. Buku-bukunya antara lain adalah: Makanan Dayak (1948), Sejarah Kalimantan (1952), Kalimantan Memanggil (1958), Memperkenalkan Kalimantan Tengah dan Pembangunan Kota Palangka Raya (1962), Manaser Panatau Tatu Hiang (1965), dan Kalimantan Membangun (1979).

 

19. Kapten Pierre Tendean

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Kapten Pierre Tendean.

Pierre Andreas Tendean terlahir dari pasangan dr. A.L. Tendean, seorang dokter yang berdarah Minahasa, dan Cornet M.E., seorang wanita Indo yang berdarah Perancis, pada tanggal 21 Februari 1939 di Batavia (Jakarta). Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara; kakak dan adiknya masing-masing bernama Mitze Farre dan Rooswidiati.

Tendean mengenyam sekolah dasar di Magelang, lalu melanjutkan SMP dan SMA di Semarang, tempat ayahnya bertugas. Sejak kecil, ia sangat ingin menjadi tentara dan masuk akademi militer, walau orang tuanya ingin ia menjadi seorang dokter seperti ayahnya atau seorang insinyur. Ia akhirnya bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung pada tahun 1958.

Setelah lulus dari akademi militer pada tahun 1962 dengan pangkat letnan dua, Tendean menjadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan. Setahun kemudian, ia mengikuti pendidikan di sekolah intelijen di Bogor.

Setelah lulus pendidikan, ia ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) untuk menjadi mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia; ia bertugas memimpin sekelompok relawan di beberapa daerah untuk menyusup ke Malaysia.

Pada tanggal 15 April 1965, Tendean dipromosikan menjadi letnan satu, dan ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution (panglima angkatan bersenjata RI ketika itu).

Pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, pasukan Gerakan 30 September (G-30S/PKI) mendatangi rumah jenderal Nasution dengan tujuan untuk menculiknya. Tendean yang sedang tidur di ruang belakang rumah Nasution terbangun karena suara tembakan dan ribut-ribut dan segera berlari ke bagian depan rumah. Ia ditangkap oleh gerombolan PKI tersebut yang mengira dirinya sebagai Nasution karena kondisi rumah yang gelap.

Nasution sendiri berhasil melarikan diri dengan melompati pagar. Tendean lalu dibawa ke sebuah rumah di daerah Lubang Buaya, Jakarta, bersama enam perwira tinggi lainnya. Ia ditembak mati di situ dan mayatnya dibuang ke sebuah sumur tua bersama enam jasad perwira lainnya.

Ketika meninggal, Tendean baru berumur 26 tahun. Ia, bersama keenam perwira korban Gerakan 30 September lainnya, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Untuk menghargai jasa-jasanya, Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965 dan pangkatnya dinaikkan setingkat menjadi kapten.

Nama Pierre Tendean diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota di Indonesia, antara lain di Manado, Balikpapan, dan Jakarta.

 

20. Ajun Inspektur Dua Karel Satsuit Tubun

Pahlawan Kristen Indonesia terkahir yang terpopuler adalah Ajun Inspektur  Polisi Dua Karel Satsuit Tubun atau K.S. Tubun.

K.S. Tubun lahir di Tual, Maluku Tenggara, pada 14 Oktober 1928. Setelah dewasa ia memasuki pendidikan polisi. Setelah lulus, ia ditempatkan di kesatuan brimob Ambon dengan Pangkat Agen Polisi Kelas Dua atau sekarang Bhayangkara Dua Polisi. Lalu ia ditarik ke Jakarta dengan pangkat Agen Polisi Kelas Satu atau sekarang Bhayangkara Satu Polisi.

Ketika presiden Sukarno mencetuskan Trikora yang menuntut pengembalian Irian Barat (Papua) dari Belanda kepada Indonesia, K.S. Tubun ikut serta dalam operasi militer tersebut.

Setelah Irian Barat berhasil dikembalikan ke Indonesia, ia diberi tugas untuk mengawal kediaman Wakil Perdana Menteri, Dr. Johannes Leimena di Jakarta (lihat poin 7 di atas).

Karena mengganggap para pimpinan Angkatan Darat sebagai penghalang utama cita-citanya, maka PKI (Partai Komunis Indonesia) merencanakan penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah Perwira Angkatan Darat yang paling berpengaruh. Salah satunya adalah Jenderal A.H. Nasution yang bertetangga dengan rumah Dr. J. Leimena.

Ketika gerakan PKI itu dimulai, K.S. Tubun kebagian tugas jaga pagi. Maka, ia menyempatkan diri untuk tidur. Para penculik pun datang, pertama-tama mereka menyekap para pengawal rumah Dr. J. Leimena. Karena mendengar suara gaduh maka K.S. Tubun pun terbangun, ia membawa senjata dan mencoba menembak para gerombolan PKI tersebut. Namun sayang, gerombolan itu menembaknya hingga tewas.

Atas segala jasa-jasanya selama ini, serta turut menjadi korban Gerakan 30 September, maka pemerintah memasukkannya sebagai salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Selain itu, pangkatnya dinaikkan menjadi Ajun Inspektur Dua Polisi.

Nama K.S. Tubun diabadikan menjadi nama sebuah Kapal Perang Indonesia, yakni KRI Karel Satsuitubun, nama bandara di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, serta nama jalan di sejumlah kota, seperti di Jakarta.

 

Itulah 20 pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katolik terpopuler.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

 

 

 

18 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!