20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler

 

10. Dr. Sam Ratulangi

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Sam Ratulangi.

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi, lahir di Tondano, Sulawesi Utara, pada 5 November 1890.

Sam Ratulangi dikenal dengan filsafatnya (dalam Bahasa Minahasa): “Si tou timou tumou tou” yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Sam Ratulangi mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar Belanda (Europesche Lagere School) di Tondano, lalu ia melanjutkannya di Hoofden School (setingkat SMA), Tondano dan menyelesaikan Sekolah Teknik Koninginlijke Wilhelmina School (saat ini bernama SMK Negeri 1 Jakarta Budi Utomo) bagian mesin, pada tahun 1908.

Pada tahun 1915, Sam Ratulangi berhasil memperoleh ijazah guru ilmu pasti (Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek) di Universitas Amsterdam (Universiteit van Amsterdam), Belanda. Pada tahun yang sama, ia melanjutkan studi ke Swiss dan mendapat gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr. Phil.) untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Universitas Zürich tahun 1919.

Sam Ratulangi merupakan Gubernur Sulawesi yang pertama, yang berkedudukan di Makassar. Ia meninggal di Jakarta sebagai tawanan musuh pada tanggal 30 Juni 1949 dan dimakamkan di Tondano.

Namanya diabadikan sebagai nama bandar udara di Manado, yakni Bandara Sam Ratulangi serta nama Universitas Negeri di Sulawesi Utara, yakni Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).

 

11. Wolter Monginsidi

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Wolter Monginsidi.

Robert Wolter Monginsidi lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 14 Februari 1925.

Monginsidi memulai pendidikannya pada 1931 di sekolah dasar (HIS) dan sekolah menengah (MULO) Frater Don Bosco di Manado. Monginsidi lalu dididik sebagai guru bahasa Jepang pada sebuah sekolah di Tomohon. Setelah studinya, dia mengajar Bahasa Jepang di Liwutung, Minahasa dan di Luwuk, Sulawesi Tengah, sebelum ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan,  Monginsidi berada di Makassar. Namun, Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II. Mereka kembali melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration/Administrasi Sipil Hindia Belanda). Dan Monginsidi terlibat dalam perjuangan melawan NICA di Makassar.

Pada tanggal 17 Juli 1946, Monginsidi dengan rekan-rekannya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), yang selanjutnya menyerang posisi Belanda. Dia ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil kabur pada 27 Oktober 1947.

Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Monginsidi dieksekusi oleh tim penembak pada 5 September 1949 saat ia berusia 24 tahun. Jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Makassar pada 10 November 1950.

Wolter Monginsidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 6 November 1973. Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana), pada 10 November 1973. Ayahnya, Petrus, yang berusia 80 tahun pada saat itu, menerima penghargaan tersebut.

Bandara Wolter Monginsidi di Kendari, Sulawesi Tenggara dinamakan sebagai penghargaan kepada Monginsidi. Demikian juga kapal Angkatan Darat Indonesia, KRI Wolter Monginsidi dan Yonif 720/Wolter Monginsidi. Sejumlah jalan di berbagai kota juga dinamai menurut namanya.

 

12. Mayor Daan Mogot

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Daan Mogot.

Daan Mogot lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 28 Desember 1928 dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara sepupunya antara lain adalah Kolonel Alex Kawilarang (Panglima Divisi Siliwangi, serta Panglima Besar PERMESTA) dan Irjen A. Gordon Mogot (mantan Kapolda Sulawesi Utara).

Pada tahun 1939, ketika ia berumur 11 tahun, keluarganya pindah dari Manado ke Batavia (Jakarta) dan ayahnya diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda), kemudian menjadi Kepala Penjara Cipinang, Jakarta Timur.

Tahun 1942, Jepang menduduki Hindia Belanda (Indonesia). Pada tahun itu juga, pemuda Daan Mogot direkrut ke Seinen Dojo, pasukan paramiliter bentukan Jepang di Tangerang. Di pasukan tersebut, Daan menjadi angkatan pertama. Sebenarnya usia Daan Mogot belum memenuhi syarat yang ditentukan pihak Jepang yakni 18 tahun, namun karena prestasinya selama pendidikan militer, Daan dipromosikan menjadi pembantu instruktur Pembela Tanah Air (PETA) di Bali pada 1943.

Daan Mogot, bersama rekan-rekannya sesama perwira menengah TKR, menggagas pendirian akademi militer untuk melatih calon-calon perwira TKR dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Gagasannya ditanggapi oleh Markas Besar Tentara (MBT) di Jakarta dan pada 18 November 1945 berdirilah Militaire Academie Tangerang (MAT), dan Daan Mogot dilantik sebagai Direktur.

Mayor Daan Mogot gugur bersama 35 orang rekannya dalam pertempuran melawan tentara Jepang di Lengkong, Serpong, Tangerang.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, monumen Pertempuran Lengkong dibangun di Jalan Pahlawan Seribu, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Dan kisah Pertempuran Lengkong dijadikan dasar penulisan skenario film Merah Putih (2009).

Tanggal 29 Januari 1946 di Tangerang diselenggarakan pemakaman kembali 36 jenazah yang gugur dalam peristiwa Lengkong disusul seorang taruna Soekardi yang luka berat namun akhirnya meninggal di RS Tangerang. Hadir pada upacara tersebut Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir dan Wakil Menteri Luar Negeri Agus Salim, yang puteranya, Sjewket Salim, ikut gugur dalam peristiwa tersebut.

Daan Mogot gugur ketika masih berusia 17 tahun, dialah pahlawan termuda di Indonesia.

Nama Daan Mogot diabadikan sebagai nama jalan yang membentang dari Jakarta Barat hingga kota Tangerang, yakni Jalan Daan Mogot. (Tetapi banyak orang yang sering melewati jalan tersebut tidak tahu bahwa Daan Mogot adalah nama orang atau pahlawan!)

 

13. Prof. Dr. Ir.Herman Johannes

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Prof. Dr. Ir. Herman Johannes.

Herman Johannes lahir di pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, pada 28 Mei 1912.

Setelah lulus dari AMS Salemba di Jakarta tahun 1934, Herman Johannes melanjutkan pendidikannya ke THS Bandung. Namun dengan jatuhnya Hindia Belanda ke tangan Jepang pada 1942, THS Bandung ditutup sehingga studinya terpaksa terhenti.

Tahun 1944 Jepang membuka kembali sekolah ini dengan nama Bandung Kogyo Daigaku (BKD), setelah proklamasi kemerdekaan BKD diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung yang kemudian hijrah ke Yogyakarta. Herman menyelesaikan studinya di STT Bandung di Yogyakarta yang kemudian menjadi cikal bakal Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) di mana dia termasuk salah satu perintisnya.

Herman Johannes banyak mengabdikan dirinya kepada kepentingan negara dan bangsanya, terutama rakyat kecil. Hingga menjelang akhir hayatnya, ia masih melakukan penelitian yang menghasilkan kompor hemat energi dengan briket arang biomassa. Keprihatinannya akan tingginya harga minyak bumi, selalu mendorongnya untuk mencari bahan bakar alternatif yang bisa dipakai secara luas oleh masyarakat.

Walau lebih banyak dikenal sebagai pendidik dan ilmuwan, Herman Johannes tercatat pernah berkarier di bidang militer.

Tahun 1946 Herman Johannes diminta oleh Kepala Staf Umum Kementerian Keamanan Rakyat Letjen Urip Sumoharjo untuk membangun sebuah laboratorium persenjataan bagi TNI, karena Indonesia saat itu sedang mengalami krisis persenjataan. Laboratorium ini selama perang kemerdekaan berhasil memproduksi bemacam bahan peledak yang berguna untuk memblokade gerak pasukan Belanda selama agresi militer I dan II.

Herman Johannes juga ikut serta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menyerbu kota Yogyakarta di pagi buta dan bisa menduduki ibukota Republik selama enam jam.

Jasanya di dalam perang membuat Herman Johannes dianugerahi Bintang Gerilya dan gelar Pahlawan Nasional.

Herman  meninggal di Yogyakarta, pada 17 Oktober 1992. Meski berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, namun ia meminta dimakamkan di Pemakaman Keluarga UGM di Sawitsari, Yogyakarta.

Herman pernah menjabat Rektor UGM (1961-1966), anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI (1968-1978), dan Menteri Pekerjaan Umum (1950-1951).

Pada tahun 2003, nama Herman Johannes diabadikan oleh Keluarga Alumni Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA) menjadi sebuah penghargaan bagi karya utama penelitian bidang ilmu dan teknologi: Herman Johannes Award.

Nama Prof. Herman Johannes juga diabadikan menjadi nama jalan yang menghubungkan Kampus UGM dengan Jalan Solo dan Jalan Jenderal Sudirman di kota Yogyakarta.

Herman Johannes dikaruniai empat anak, salah satunya adalah Helmi Johannes, seorang presenter berita televisi yang terkenal di Indonesia, yang sekarang bekerja di media VOA, Amerika Serikat.

 

14. Prof. W.Z. Johannes

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Prof. dr. Wilhelmus Zakharia Johannes atau W.Z. Johannes.

W.Z. Johannes lahir di Pulau Rote, Nusa Tengara Timur, pada tahun 1895.

Ia adalah ahli radiologi pertama di Indonesia, guru besar radiologi dan pernah menjabat Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Wakil Ketua Senat Universitas Indonesia (UI), Jakarta.

Sebagai dokter Indonesia pertama yang mempelajari ilmu radiologi di Belanda, W.Z. Johannes juga menjadi ahli rontgen pertama yang sangat berjasa dalam pengembangan ilmu kedokteran Indonesia sehingga mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Prof. dr. W.Z. Johannes meninggal dunia di Den Haag, Belanda pada 4 September 1952. Jenazahnya dikirim dengan kapal “Modjokerto” dari Belanda dan tiba di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta pada 24 November 1952. Ia dimakamkan di Jati Petamburan, Jakarta Pusat pada 26 November 1952.

Namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yakni RSU W.Z. Johannes. Nama pahlawan ini juga diabadikan menjadi nama sebuah kapal perang TNI-AL, yakni KRI Wilhelmus Zakharia Johannes.

W.Z. Johannes adalah sepupu Prof. Dr. Ir. Herman Johannes (lihat poin 13 di atas).

 

15. dr. Ferdinand Lumbantobing

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah dr. Ferdinand Lumbantobing.

Ferdinand Lumbantobing, sering disingkat F.L. Tobing, lahir di Sibuluan, Sibolga, Sumatera Utara, pada 19 Februari 1899. Keluarganya kemudian pindah ke Jawa.

Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Depok, ia melanjutkan pelajaran ke STOVIA (Sekolah Dokter) di Jakarta dan lulus pada tahun 1924.  Setelah itu, ia bekerja sebagai dokter di CBZ (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo/RSCM) Jakarta.  Dari situ F.L. Tobing dipindahkan ke Tenggarong (Kalimantan Timur), lalu ke Surabaya, Padang Sidempuan, dan Sibolga.

Pada masa pendudukan Jepang, F.L. Tobing diangkat menjadi dokter pengawas kesehatan romusha. Ia menyaksikan langsung bagaimana sengsaranya nasib para romusha yang dipaksa membuat benteng di Teluk Sibolga. Karena itu, ia melakukan protes terhadap pemerintah Jepang. Akibatnya, ia dicurigai dan termasuk dalam daftar orang terpelajar yang akan dibunuh oleh Jepang.

Tetapi ia terhindar dari bahaya maut karena berhasil menyelamatkan nyawa seorang tentara Jepang yang jatuh dari kendaraan.

Pada bulan Oktober 1945 ia diangkat menjadi Residen Tapanuli. Sebagai residen, ia menghadapi saat-saat sulit ketika daerah Tapanuli dilanda pertentangan bersenjata antara sesama pasukan RI yang datang dengan Sumatera Timur setelah daerah itu jatuh ke tangan Belanda dalam Agresi Militer I. Namun, Tobing yang berpendirian tegas dan tidak mudah digertak berhasil mengatasinya.

Dalam Agresi Militer II Belanda, ia diangkat menjadi Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur yang memimpin perjuangan gerilya melawan Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, F.L. Tobing menjadi Gubernur Sumatera Utara.

Dalam Kabinet Ali I, ia diangkat menjadi Menteri Penerangan dan Menteri Kesehatan (ad interim), ia juga pernah menjadi Menteri Urusan Hubungan Antar Daerah dan Menteri Negara Urusan Transmigrasi.

F.L. Tobing merupakan tokoh yang dikenal selalu dekat dengan rakyat kecil. Sebagai pemimpin, ia selalu memimpin langsung anak buahnya, termasuk turut berjuang keluar-masuk hutan.

F.L. Tobing meninggal di Jakarta pada 7 Oktober 1962 dan dimakamkan di Desa Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Nama Ferdinand Lumbantobing diabadikan sebagai nama bandar udara (bandara) di Pinangsori, Sibolga, serta nama rumah sakit pemerintah (RSUD) Sibolga, Tapanuli Tengah. Selain itu juga sebagai nama jalan di Sibolga dan kota-kota lainnya.

 

16. Frans Kaisiepo

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Frans Kaisiepo.

Kaisiepo lahir di Wardo, Biak, Papua, pada 10 Oktober 1912.

Bulan Juli tahun 1946, Kaisiepo menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak. Dan saat Belanda mengadakan Konferensi Malino di Sulawesi Selatan yang membahas rencana pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT), Kaisiepo menjadi anggota delegasi Irian Barat (Papua).

Kaisiepo menentang rencana Belanda tersebut. Bahkan ia kemudian mengganti nama Netherland Nieuwe Guinea dengan IRIAN yang merupakan singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti Netherland. Kaisiepo dan rakyat Biak kemudian terus mengadakan perlawanan menentang Belanda di Irian.

Saat Konferensi Meja Bundar (KMB), Kaisiepo menolak diangkat sebagai anggota delegasi Belanda. Akibatnya, ia dihukum dan diasingkan ke daerah terpencil. KMB sendiri menghasilkan keputusan pengakuan kedaulatan terhadap Negara Republik Indonesia. Namun, Belanda bersikeras bahwa Irian termasuk ke dalam wilayahnya.

Tanggal 19 Desember 1961, ketika Presiden Sukarno mengumandangkan Trikora (Tri Komando Rakyat) sebagai upaya membebaskan Irian yang dilanjutkan dengan operasi militer, Kaisiepo turut membantu TNI mendarat di Irian Barat.

Ketika Trikora berakhir, perjuangan dilanjutkan melalui jalur diplomasi. Tanggal 1 Mei 1963, secara resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerahkan Irian Barat kepada pemerintah RI. Dan Kaisiepo diangkat menjadi gubernur pertama antara tahun 1964-1973 dan bertugas melaksanakan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA).

Kaisiepo meninggal di Jayapura, Papua, pada 10 April 1979. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura.

Nama Frans Kaisiepo diabadikan sebagai nama bandara di Biak, Papua, dan nama kapal perang milik TNI AL, yaitu KRI Frans Kaisiepo.

 

17. Kolonel Sugiyono

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Kolonel Sugiyono.

Kolonel R. Sugiyono Mangunwiyoto lahir di Gedaren, Gunung Kidul, Yogyakarta, pada 12 Agustus 1926.

Sugiyono bercita-cita menjadi seorang guru, karena itu ia melanjutkan studinya ke Sekolah Guru Pertama di Wonosari. Namun sebelum ia lulus, tentara Jepang menduduki Indonesia dan memberlakukan wajib militer bagi anak-anak muda. Sugiyono terpaksa mengubur impiannya untuk menjadi seorang guru dan mengikuti pendidikan tentara Jepang di Pembela Tanah Air (PETA).

Selepas menyelesaikan pendidikan di PETA, ia diangkat sebagai Budancho (komandan Peleton) di Wonosari. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan mengawali karier sebagai komandan seksi. Ia diangkat menjadi ajudan Komandan Brigade 10 di bawah Letnan Kolonel Suharto (yang kelak menjadi presiden ke-2 RI) pada tahun 1947.

Pada 1 Maret 1949 terjadi serangan umum terhadap Yogyakarta pada peristiwa Agresi Militer II Belanda. Ia turut serta dalam keberhasilan pasukan Indonesia dalam menghentikan agresi militer II tersebut yang mampu mengubah penilaian dunia internasional terhadap kekuatan RI.

Sugiyono juga ikut serta dalam Gerakan Operasi Militer (GOM) III dalam rangka memadamkan pemberontakan KNIL di wilayah Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Andi Aziz.

Karirnya terus menanjak, hingga pada bulan Juni tahun 1965 ia berpangkat Letnan Kolonel dan menjadi Kepala Staf komando Resort Militer (Korem) 072 Kodam VII Diponegoro Yogyakarta (sekarang Kodam IV/ Diponegoro Semarang) di bawah pimpinan Kolonel Katamso.

Pada tahun 1965 terjadi krisis yang diakibatkan oleh ulah PKI. Terjadi penyusupan yang dilakukan PKI baik di tubuh TNI maupun kekuatan politik lainnya. PKI berhasil melakukan provokasi dan mobilisasi pada petani dan buruh di daerah seperti Yogyakarta yang menjadi arena percobaan mereka untuk mempersiapkan pemberontakan.

Mencuatlah peristiwa G-30S/PKI yang sangat mencekam di mana para perwira TNI di Jakarta menjadi korban penculikan, penganiayaan dan pembunuhan oleh para PKI. Termasuk juga di Yogyakarta, karena getol melakukan perlawanan terhadap PKI, maka Sugiyono bersama Komandan Korem 072, Katamso, diculik dan dibunuh oleh PKI pada 1 Oktober 1965.

Jenazah mereka dimasukkan ke dalam lubang yang telah dipersiapkan oleh PKI. Pencarian besar-besaran dilakukan untuk mencari kedua perwira tersebut hingga Jenazah mereka ditemukan pada 21 Oktober 1965 dalam keadaan rusak. Ketika meninggalnya, Sugiyono berusia 39 tahun.

Pada tanggal 22 Oktober mereka berdua dimakamkan di Taman makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Pangkat mereka dinaikkan satu tingkat (Sugiyono menjadi Kolonel) dan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.

Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah kota di Indonesia.

 

18. Marsekal Pertama Tjilik Riwut

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Marsekal Pertama Tjilik Riwut.

Tjilik (baca: Cilik) Riwut lahir di Kasongan, Kalimantan Tengah, pada 2 Februari 1918. Ia berjasa memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung Pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tanggal 17 Oktober 1947 oleh pasukan MN 1001, yang ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU yang diperingati setiap 17 Oktober. Waktu itu pangkat Tjilik Riwut adalah Mayor.

Tjilik Riwut jua salah seorang yang berjasa bagi masuknya pulau Kalimantan ke pangkuan Republik Indonesia. Sebagai seorang putera Dayak ia telah mewakili 142 suku Dayak pedalaman Kalimantan bersumpah setia kepada Pemerintah RI secara adat di hadapan Presiden Sukarno di Gedung Agung Yogyakarta, 17 Desember 1946.

Sebagai tentara, pengalaman perangnya meliputi sebagian besar pulau Kalimantan dan Jawa. Setelah perang usai, Tjilik Riwut aktif di pemerintahan. Dia pernah menjadi Gubernur Kalimantan Tengah, menjadi koordinator masyarakat suku-suku terasing untuk seluruh pedalaman Kalimantan, dan terakhir sebagai anggota DPR RI.

Ia meninggal dalam usia 69 Tahun di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 17 Agustus 1987 (bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia) dan dimakamkan di Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya.

Namanya diabadikan sebagai nama bandara di Palangka Raya, serta nama jalan utama di ibu kota Kalimantan Tengah tersebut.

Tjilik Riwut merupakan seorang penulis yang produktif. Buku-bukunya antara lain adalah: Makanan Dayak (1948), Sejarah Kalimantan (1952), Kalimantan Memanggil (1958), Memperkenalkan Kalimantan Tengah dan Pembangunan Kota Palangka Raya (1962), Manaser Panatau Tatu Hiang (1965), dan Kalimantan Membangun (1979).

 

19. Kapten Pierre Tendean

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Kapten Pierre Tendean.

Pierre Andreas Tendean terlahir dari pasangan dr. A.L. Tendean, seorang dokter yang berdarah Minahasa, dan Cornet M.E., seorang wanita Indo yang berdarah Perancis, pada tanggal 21 Februari 1939 di Batavia (Jakarta). Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara; kakak dan adiknya masing-masing bernama Mitze Farre dan Rooswidiati.

Tendean mengenyam sekolah dasar di Magelang, lalu melanjutkan SMP dan SMA di Semarang, tempat ayahnya bertugas. Sejak kecil, ia sangat ingin menjadi tentara dan masuk akademi militer, walau orang tuanya ingin ia menjadi seorang dokter seperti ayahnya atau seorang insinyur. Ia akhirnya bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung pada tahun 1958.

Setelah lulus dari akademi militer pada tahun 1962 dengan pangkat letnan dua, Tendean menjadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan. Setahun kemudian, ia mengikuti pendidikan di sekolah intelijen di Bogor.

Setelah lulus pendidikan, ia ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) untuk menjadi mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia; ia bertugas memimpin sekelompok relawan di beberapa daerah untuk menyusup ke Malaysia.

Pada tanggal 15 April 1965, Tendean dipromosikan menjadi letnan satu, dan ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution (panglima angkatan bersenjata RI ketika itu).

Pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, pasukan Gerakan 30 September (G-30S/PKI) mendatangi rumah jenderal Nasution dengan tujuan untuk menculiknya. Tendean yang sedang tidur di ruang belakang rumah Nasution terbangun karena suara tembakan dan ribut-ribut dan segera berlari ke bagian depan rumah. Ia ditangkap oleh gerombolan PKI tersebut yang mengira dirinya sebagai Nasution karena kondisi rumah yang gelap.

Nasution sendiri berhasil melarikan diri dengan melompati pagar. Tendean lalu dibawa ke sebuah rumah di daerah Lubang Buaya, Jakarta, bersama enam perwira tinggi lainnya. Ia ditembak mati di situ dan mayatnya dibuang ke sebuah sumur tua bersama enam jasad perwira lainnya.

Ketika meninggal, Tendean baru berumur 26 tahun. Ia, bersama keenam perwira korban Gerakan 30 September lainnya, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Untuk menghargai jasa-jasanya, Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965 dan pangkatnya dinaikkan setingkat menjadi kapten.

Nama Pierre Tendean diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota di Indonesia, antara lain di Manado, Balikpapan, dan Jakarta.

 

20. Ajun Inspektur Dua Karel Satsuit Tubun

Pahlawan Kristen Indonesia terkahir yang terpopuler adalah Ajun Inspektur  Polisi Dua Karel Satsuit Tubun atau K.S. Tubun.

K.S. Tubun lahir di Tual, Maluku Tenggara, pada 14 Oktober 1928. Setelah dewasa ia memasuki pendidikan polisi. Setelah lulus, ia ditempatkan di kesatuan brimob Ambon dengan Pangkat Agen Polisi Kelas Dua atau sekarang Bhayangkara Dua Polisi. Lalu ia ditarik ke Jakarta dengan pangkat Agen Polisi Kelas Satu atau sekarang Bhayangkara Satu Polisi.

Ketika presiden Sukarno mencetuskan Trikora yang menuntut pengembalian Irian Barat (Papua) dari Belanda kepada Indonesia, K.S. Tubun ikut serta dalam operasi militer tersebut.

Setelah Irian Barat berhasil dikembalikan ke Indonesia, ia diberi tugas untuk mengawal kediaman Wakil Perdana Menteri, Dr. Johannes Leimena di Jakarta (lihat poin 7 di atas).

Karena mengganggap para pimpinan Angkatan Darat sebagai penghalang utama cita-citanya, maka PKI (Partai Komunis Indonesia) merencanakan penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah Perwira Angkatan Darat yang paling berpengaruh. Salah satunya adalah Jenderal A.H. Nasution yang bertetangga dengan rumah Dr. J. Leimena.

Ketika gerakan PKI itu dimulai, K.S. Tubun kebagian tugas jaga pagi. Maka, ia menyempatkan diri untuk tidur. Para penculik pun datang, pertama-tama mereka menyekap para pengawal rumah Dr. J. Leimena. Karena mendengar suara gaduh maka K.S. Tubun pun terbangun, ia membawa senjata dan mencoba menembak para gerombolan PKI tersebut. Namun sayang, gerombolan itu menembaknya hingga tewas.

Atas segala jasa-jasanya selama ini, serta turut menjadi korban Gerakan 30 September, maka pemerintah memasukkannya sebagai salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Selain itu, pangkatnya dinaikkan menjadi Ajun Inspektur Dua Polisi.

Nama K.S. Tubun diabadikan menjadi nama sebuah Kapal Perang Indonesia, yakni KRI Karel Satsuitubun, nama bandara di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, serta nama jalan di sejumlah kota, seperti di Jakarta.

 

Itulah 20 pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katolik terpopuler.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

 

 

 

37 komentar untuk “20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler”

  1. Semoga kita yang beragama Kristen tetap mengandalkan Tuhan. Apapun itu yg kita rencanakan dan cita2kan demi memajukan negara kita yg tercinta ini dapat tercapai dalam perlindunganNya. Majulah Indonesia. Tuhan memberkati kita.

  2. Nama-nama yang sangat sering kita dengar ternyata anak-anak Tuhan yang punya kontribusi untuk bangsa ini. Nama Adi Sucipto, Slamet Riyadi, Yos Sudarso, Urip Sumoarjo, nama yang sangat JAWA, namun banyak yang tidak tahu kalau agama mereka adalah Kristen.

    Tetap jadi berkat, walau banyak yang membenci kita kerena iman kita.
    Tuhan Memberkati

  3. Aku browsing nama-nama pahlawan Kristen karena ada yang selalu bilang kalau yang berjuang untuk Indonesia ini hanya….hanya kaum Muslim, aku ngga yakin. Aku juga sudah dengar sebagian ada pejuang dari Kristen hanya saja tidak seluruhnya aku tahu dan ternyata memang benar banyak pejuang Indonesia dari Kristen dan tidak mutlak hanya dari kalangan Muslim.

    1. Ya benar, yang berjuang untuk Indonesia itu bukan hanya Muslim, tetapi juga Kristen, bahkan Hindu dan Budha. Para pahlawan Indonesia juga terdiri dari keempat agama itu, bahkan dari orang yang beragama suku, seperti Sisingamangaraja misalnya.

      1. W.R soepratman katholik gan karena keluarganya katholik, dulu waktu kecil ikut keluarga kakak sulungnya yang menikah dengan meneer Belanda bernama Willem van Eldik diajak pindah ke makassar.

        Nama kecil W.R.Soepratman adalah Wage kemudian setelah dewasa berganti nama jadi Soepratman (ini lazim di masyarakat jawa tempo dulu untuk berganti nama setelah dewasa/menikah/punya kedudukan tapi adat itu udah nggak dipakai sekarang karena repot urusannya dengan catatan sipil).

        W.R soepratman kecil oleh suami kakaknya (rukiyem) disekolahkan di sekolah belanda di makasar dan belajar musik juga dengan kakak iparnya yang orang belanda itu. Nama Rudolf diberikan oleh Willem van Eldik supaya Wage dianggap berasal dari keluarga berdarah belanda dan bisa bersekolah di sekolah anak-anak belanda.

        Sumber ada banyak silakan manfaatkan perpustakaan.

        1. Terima kasih infonya. Tapi kami belum dapat data yang mengatakan bahwa beliau Kristen/Katolik. Jika Anda ada datanya, silakan memberikannya ke kami, nanti kami akan masukkan nama W.R. Supratman di artikel ini. Terima kasih, GBU.

  4. Amin … Terima kasih atas tulisannya, semoga kisah-kisah para Pahlawan khususnya yang beriman kepada Tuhan Yesus, menjadi pelajaran dan memotivasi bagi kita untuk tetap setia beriman kepada Tuhan Yesus, walaupun berbagai hambatan dan tantangan menghadang kita, tapi yakinlah bersama Tuhan Yesus, kita sanggup menanggung dan melewati segala perkara. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin

  5. Mengenai iman kekatolikan W.R. Soepratman bisa dicari datanya di Keuskupan Agung Jakarta. Semoga info ini membantu rubrikkristen.com. Terima kasih.

    1. Terima kasih infonya. Tapi kami belum dapat data yang mengatakan bahwa beliau Kristen/Katolik. Jika Anda ada datanya, silakan memberikannya ke kami, nanti kami akan masukkan nama W.R. Supratman di artikel ini. Terima kasih, GBU.

  6. Semoga Kita termotivasi/terinfluence akan perjuangan beliau dan terus berjuang untuk negara walaupun kita jadi minoritas dan dinomor duakan, toh kita punya pahlawan seiman yang tidak bisa dipandang sebelah mata perjuangan mereka, Amin, GBU.

  7. Kapitan Pattimura itu Kristen bukan Islam, tidak ada bukti kuat bahwa Thomas Matulessy beragama Islam, itu hanya hoax. Masyarakat keturunan klan Matulessy marah karena Kapitan Pattimura disebut Islam. Karena Thomas Matulessy adalah nama baptisan dari ayahnya, Anthony Frans Matulessy.

    Tidak ada didapati nama Kapitan Pattimura bernama Ahmad Tessy, itu hanya fitnah dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak menghargai para pahlawan.

    Sudah pasti hoax karena menyebut Thomas Matulessy adalah Ahmad Tessy jadi membingungkan. Matulessy adalah nama klan atau marga dari Ambon, jadi jelas Kapitan Pattimura itu Kristen. Sudah sah tidak ada perdebatan Kapitan Pattimura beragama Kristen.

    1. Kami sejak lama juga meyakini bahwa Kapitan Pattimura itu beragama Kristen. Namun sayang tidak ada satu pun sumber literatur yang bisa kami dapat yang membuktikan bahwa Pattimura itu Kristen, jadi tidak bisa kami cantumkan di artikel ini.

      Jika kita tidak bisa memastikan bahwa Pattimura Kristen, tidak berarti dia Islam. Tetapi bisa juga dia penganut agama suku, seperti dikemukakan oleh sebagian orang.

      Jika seandainya Anda punya bukti/sumber yang kuat bahwa Pattimura adalah Kristen, mohon diberikan kepada kami agar nama Pattimura kami masukkan di artikel ini.

      Terima kasih, Gbu.

      1. Zayn Malik Milala

        Saya pernah ke Maluku dan berziarah ke makam Pahlawan, dan saya melihat orang yg paling banyak berkumpul di salah satu makam di situ yg berlambangkan Salib, dan saya dengar mereka berkata ini makam Kapitan Patimura (Thomas Matulessy) dan saya langsung menuju ke situ, ternyata benar makam Salib itu adalah Kapitan Patimura (Thomas Matulessy)

  8. Terima kasih buat rubrik ini.., mengingatkan dan memotivasi bahwa anak-anak Tuhan punya andil dalam perjuangan bangsa ini, dan kiranya generasi Kristen masa kini tak kalah semangat dan dedikasinya membangun bangsa Indonesia ini dalam berbagai lini kehidupan sesuai kemampuannya.
    Smangaaat!! Tuhan memberkati.

  9. Jangan lupa juga Pahlawan Nasional asal NTT yang beragama Kristen:
    1.Izaak Huru Doko
    2.Dr. W.J.Yohanes (sekarang nama rumah sakit provinsi NTT)
    3.Prof. Dr. Ir. Herman Yohanes.

    1. Izaak Huru Doko tidak ada di artikel ini, karena hanya 20 pahlawan Kristen saja yang dicatat, yang dianggap paling populer.

      W.Z.Yohanes dan Herman Yohanes juga ada di artikel ini, silakan klik “Next” di bawah artikel untuk melanjutkan membaca.

    1. I.J. Kasimo memang adalah pahlawan Katolik, tetapi tidak ada di artikel ini, karena hanya 20 pahlawan Kristen/Katolik saja yang dicantumkan.

      Mgr. Albertus Soegijapranata kan ada di artikel ini, silakan klik “Next” di bawah artikel untuk melanjutkan membaca.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!