Loading...

20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler

Loading...

 

8. Letnan Jenderal Jamin Ginting

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Letnan Jenderal Jamin Ginting.

Letjen Jamin Ginting lahir di Desa Suka, Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada 12 Januari 1921.

Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah dia bergabung dengan satuan militer yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara guna menambah pasukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di Asia. Jamin Ginting muncul sebagai seorang komandan pada pasukan bentukan Jepang itu.

Rencana Jepang untuk memanfaatkan putra-putra Karo memperkuat pasukan Jepang kandas setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada Perang Dunia II. Jepang menelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang. Sebagai seorang komandan, Jamin Ginting bergerak cepat untuk mengkonsolidasi pasukannya.

Di kemudian hari anggota pasukan Jamin Ginting ini mucul sebagai pionir-pionir pejuang Sumatera Utara dalam melawan tentara Belanda. Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamat Ginting, Kapten Mumah Purba, Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamet Ketaren, dan lain sebagainya, adalah cikal bakal Kodam II/Bukit Barisan yang kita kenal sekarang ini.

Dalam rangka menghadapi gerakan pemberontakan Nainggolan di Medan (Sumatera Utara) maka Panglima TT I, Letkol Jamin Ginting melancarkan Operasi Bukit Barisan pada tanggal 7 April 1958. Hasilnya, pasukan Nainggolan dan Sinta Pohan terdesak dan mundur ke daerah Tapanuli.

Dengan pangkat Mayor Jenderal, Jamin Ginting menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Front Nasional, di Kabinet Dwikora Revisi Kedua. Di penghujung masa baktinya, Jamin Ginting menjadi Duta Besar Indonesia untuk Kanada. Di Kanada inilah ia meninggal pada 23 Oktober 1974.

Semasa hidupnya, Jamin Ginting menulis beberapa buku, salah satunya adalah “Bukit Kadir”, yang mengisahkan perjuangannya di daerah Karo sampai ke perbatasan Aceh melawan tentara Belanda. Seorang anggotanya, Kadir, gugur di sebuah perbukitan di Tanah Karo dalam suatu pertempuran yang sengit dengan pasukan Belanda. Bukit itu sekarang dikenal dengan nama Bukit Kadir.

Kisah hidup istri Jamin Ginting, Likas Tarigan, bersama Jamin Ginting, telah dibuat menjadi sebuah film yang berjudul 3 Nafas Likas, yang diputar di bioskop-bioskop Indonesia pada 2014.

Jalan Jamin Ginting di kota Medan merupakan penghormatan bagi Jamin Ginting, yang konon merupakan jalan terpanjang di Indonesia dengan memakai nama orang/pahlawan.

 

9. Mgr. Albertus Sugiyapranata

Pahlawan Kristen/Katholik Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Albertus Sugiyapranata (lebih populer memakai ejaan lama: Soegijapranata, disingkat Soegija).

Mgr. Albertus Sugiyapranata dilahirkan pada 25 November 1896 di Surakarta, Jawa Tengah, dalam keluarga seorang abdi dalem non-Kristen/Katholik. Keluarganya pindah ke Yogyakarta saat Sugiya masih kecil.

Pada tahun 1909 Sugiya bergabung dengan Kolese Xaverius, suatu sekolah Yesuit di Muntilan. Di sana Sugiya menjadi tertarik dengan agama Katholik, dan dibaptis pada tanggal 24 Desember 1910.

Setelah lulus dari Xaverius Sugiya belajar di seminari di Muntilan sebelum belajar ke Belanda. Sugiyapranata kemudian menjadi pastor, lalu menjadi uskup agung Semarang, yang menjadikannya uskup asli Indonesia pertama.

Setelah Presiden Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Semarang dipenuhi dengan kekacauan. Sugiyapranata membantu menyelesaikan Pertempuran Lima Hari dan menuntut agar pemerintah pusat mengirim seseorang dari pemerintah untuk menghadapi kerusuhan di Semarang.

Selama revolusi nasional Sugiyapranata berusaha untuk meningkatkan pengakuan Indonesia di dunia luas dan meyakinkan orang Katolik untuk berjuang demi negera mereka.

Ketika Jepang menguasai Indonesia, Sugiyapranata sempat ditahan oleh pemerintah Jepang, tetapi ia diperlakukan dengan baik oleh Jepang. Ia menggunakan kedudukannya sebagai Uskup untuk memastikan bahwa tahanan perang diperlakukan dengan baik oleh Jepang.

Sugiyapranata sangat tegas menolak gagasan Nasakom, yang mengakomodir komunisme dalam pemerintahan RI. Dan untuk meredam meningkatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) di kalangan petani, Sugiyapranata, bekerja sama dengan orang Katolik lainnya, mendirikan kelompok pekerja “Buruh Pancasila”.

Selama Belanda menguasai Yogyakarta Sugiyapranata mengirim beberapa tulisannya di majalah Commonweal, agar masyarakat internasional mengutuk Belanda.  Sugijapranata juga dengan tegas mendukung penguasaan Indonesia atas Papua barat (yang dikuasai Belanda) yang akhirnya bergabung dengan Indonesia pada tahun 1963.

Sugiyapranata meninggal dunia pada tanggal 22 Juli 1963 di Belanda.

Karena presiden Sukarno tidak ingin Sugiyapranata dikebumikan di Belanda, jenazah Sugiyapranata diterbangkan ke Indonesia. Ia dinyatakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada 26 Juli 1963, saat jenazahnya masih dalam perjalanan ke Indonesia! Ia dimakamkan pada tanggal 30 Juli di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang.

Sejarawan Anhar Gonggong menyatakan bahwa Sugiyapranata bukan hanya seorang uskup, melainkan pemimpin Indonesia yang “teruji sebagai pemimpin yang baik dan memang layak dijadikan pahlawan nasional.”

Uskup Sugiya dikenal karena pendiriannya yang pro-nasionalis, yang dikenal melalui ungkapannya, “100% Katolik, 100% Indonesia”.

Universitas Katolik Soegijapranata di Semarang dinamakan untuk menghormati Sugiyapranata. Ada juga beberapa jalan yang diberi nama Soegijapranata, antara lain di Semarang, Malang, dan Medan.

Pada Juni 2012 sutradara Garin Nugroho mengeluarkan film biopik tentang Sugiyapranata, yang diberi judul Soegija, dibintangi Nirwan Dewanto sebagai Sugiyapranata. Film ini, yang menelan dana Rp 12 miliar, ditonton lebih dari 100.000 orang pada hari pertama tayang.

Beberapa buku ditulis seputar Sugiyapranata, baik fiksi maupun non-fiksi, yang ditulis baik oleh orang Katholik maupun non-Katholik.

 

10. Dr. Sam Ratulangi

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Sam Ratulangi.

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi, lahir di Tondano, Sulawesi Utara, pada 5 November 1890.

Sam Ratulangi dikenal dengan filsafatnya (dalam Bahasa Minahasa): “Si tou timou tumou tou” yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Sam Ratulangi mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar Belanda (Europesche Lagere School) di Tondano, lalu ia melanjutkannya di Hoofden School (setingkat SMA), Tondano dan menyelesaikan Sekolah Teknik Koninginlijke Wilhelmina School (saat ini bernama SMK Negeri 1 Jakarta Budi Utomo) bagian mesin, pada tahun 1908.

Pada tahun 1915, Sam Ratulangi berhasil memperoleh ijazah guru ilmu pasti (Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek) di Universitas Amsterdam (Universiteit van Amsterdam), Belanda. Pada tahun yang sama, ia melanjutkan studi ke Swiss dan mendapat gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr. Phil.) untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Universitas Zürich tahun 1919.

Sam Ratulangi merupakan Gubernur Sulawesi yang pertama, yang berkedudukan di Makassar. Ia meninggal di Jakarta sebagai tawanan musuh pada tanggal 30 Juni 1949 dan dimakamkan di Tondano.

Namanya diabadikan sebagai nama bandar udara di Manado, yakni Bandara Sam Ratulangi serta nama Universitas Negeri di Sulawesi Utara, yakni Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).

 

11. Wolter Monginsidi

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Wolter Monginsidi.

Robert Wolter Monginsidi lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 14 Februari 1925.

Monginsidi memulai pendidikannya pada 1931 di sekolah dasar (HIS) dan sekolah menengah (MULO) Frater Don Bosco di Manado. Monginsidi lalu dididik sebagai guru bahasa Jepang pada sebuah sekolah di Tomohon. Setelah studinya, dia mengajar Bahasa Jepang di Liwutung, Minahasa dan di Luwuk, Sulawesi Tengah, sebelum ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan,  Monginsidi berada di Makassar. Namun, Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II. Mereka kembali melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration/Administrasi Sipil Hindia Belanda). Dan Monginsidi terlibat dalam perjuangan melawan NICA di Makassar.

Pada tanggal 17 Juli 1946, Monginsidi dengan rekan-rekannya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), yang selanjutnya menyerang posisi Belanda. Dia ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil kabur pada 27 Oktober 1947.

Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Monginsidi dieksekusi oleh tim penembak pada 5 September 1949 saat ia berusia 24 tahun. Jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Makassar pada 10 November 1950.

Wolter Monginsidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 6 November 1973. Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana), pada 10 November 1973. Ayahnya, Petrus, yang berusia 80 tahun pada saat itu, menerima penghargaan tersebut.

Bandara Wolter Monginsidi di Kendari, Sulawesi Tenggara dinamakan sebagai penghargaan kepada Monginsidi. Demikian juga kapal Angkatan Darat Indonesia, KRI Wolter Monginsidi dan Yonif 720/Wolter Monginsidi. Sejumlah jalan di berbagai kota juga dinamai menurut namanya.

 

12. Mayor Daan Mogot

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Daan Mogot.

Daan Mogot lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 28 Desember 1928 dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara sepupunya antara lain adalah Kolonel Alex Kawilarang (Panglima Divisi Siliwangi, serta Panglima Besar PERMESTA) dan Irjen A. Gordon Mogot (mantan Kapolda Sulawesi Utara).

Pada tahun 1939, ketika ia berumur 11 tahun, keluarganya pindah dari Manado ke Batavia (Jakarta) dan ayahnya diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda), kemudian menjadi Kepala Penjara Cipinang, Jakarta Timur.

Tahun 1942, Jepang menduduki Hindia Belanda (Indonesia). Pada tahun itu juga, pemuda Daan Mogot direkrut ke Seinen Dojo, pasukan paramiliter bentukan Jepang di Tangerang. Di pasukan tersebut, Daan menjadi angkatan pertama. Sebenarnya usia Daan Mogot belum memenuhi syarat yang ditentukan pihak Jepang yakni 18 tahun, namun karena prestasinya selama pendidikan militer, Daan dipromosikan menjadi pembantu instruktur Pembela Tanah Air (PETA) di Bali pada 1943.

Daan Mogot, bersama rekan-rekannya sesama perwira menengah TKR, menggagas pendirian akademi militer untuk melatih calon-calon perwira TKR dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Gagasannya ditanggapi oleh Markas Besar Tentara (MBT) di Jakarta dan pada 18 November 1945 berdirilah Militaire Academie Tangerang (MAT), dan Daan Mogot dilantik sebagai Direktur.

Mayor Daan Mogot gugur bersama 35 orang rekannya dalam pertempuran melawan tentara Jepang di Lengkong, Serpong, Tangerang.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, monumen Pertempuran Lengkong dibangun di Jalan Pahlawan Seribu, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Dan kisah Pertempuran Lengkong dijadikan dasar penulisan skenario film Merah Putih (2009).

Tanggal 29 Januari 1946 di Tangerang diselenggarakan pemakaman kembali 36 jenazah yang gugur dalam peristiwa Lengkong disusul seorang taruna Soekardi yang luka berat namun akhirnya meninggal di RS Tangerang. Hadir pada upacara tersebut Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir dan Wakil Menteri Luar Negeri Agus Salim, yang puteranya, Sjewket Salim, ikut gugur dalam peristiwa tersebut.

Daan Mogot gugur ketika masih berusia 17 tahun, dialah pahlawan termuda di Indonesia.

Nama Daan Mogot diabadikan sebagai nama jalan yang membentang dari Jakarta Barat hingga kota Tangerang, yakni Jalan Daan Mogot. (Tetapi banyak orang yang sering melewati jalan tersebut tidak tahu bahwa Daan Mogot adalah nama orang atau pahlawan!)

 

13. Prof. Dr. Ir.Herman Johannes

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Prof. Dr. Ir. Herman Johannes.

Herman Johannes lahir di pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, pada 28 Mei 1912.

Setelah lulus dari AMS Salemba di Jakarta tahun 1934, Herman Johannes melanjutkan pendidikannya ke THS Bandung. Namun dengan jatuhnya Hindia Belanda ke tangan Jepang pada 1942, THS Bandung ditutup sehingga studinya terpaksa terhenti.

Tahun 1944 Jepang membuka kembali sekolah ini dengan nama Bandung Kogyo Daigaku (BKD), setelah proklamasi kemerdekaan BKD diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung yang kemudian hijrah ke Yogyakarta. Herman menyelesaikan studinya di STT Bandung di Yogyakarta yang kemudian menjadi cikal bakal Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) di mana dia termasuk salah satu perintisnya.

Herman Johannes banyak mengabdikan dirinya kepada kepentingan negara dan bangsanya, terutama rakyat kecil. Hingga menjelang akhir hayatnya, ia masih melakukan penelitian yang menghasilkan kompor hemat energi dengan briket arang biomassa. Keprihatinannya akan tingginya harga minyak bumi, selalu mendorongnya untuk mencari bahan bakar alternatif yang bisa dipakai secara luas oleh masyarakat.

Walau lebih banyak dikenal sebagai pendidik dan ilmuwan, Herman Johannes tercatat pernah berkarier di bidang militer.

Tahun 1946 Herman Johannes diminta oleh Kepala Staf Umum Kementerian Keamanan Rakyat Letjen Urip Sumoharjo untuk membangun sebuah laboratorium persenjataan bagi TNI, karena Indonesia saat itu sedang mengalami krisis persenjataan. Laboratorium ini selama perang kemerdekaan berhasil memproduksi bemacam bahan peledak yang berguna untuk memblokade gerak pasukan Belanda selama agresi militer I dan II.

Herman Johannes juga ikut serta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menyerbu kota Yogyakarta di pagi buta dan bisa menduduki ibukota Republik selama enam jam.

Jasanya di dalam perang membuat Herman Johannes dianugerahi Bintang Gerilya dan gelar Pahlawan Nasional.

Herman  meninggal di Yogyakarta, pada 17 Oktober 1992. Meski berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, namun ia meminta dimakamkan di Pemakaman Keluarga UGM di Sawitsari, Yogyakarta.

Herman pernah menjabat Rektor UGM (1961-1966), anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI (1968-1978), dan Menteri Pekerjaan Umum (1950-1951).

Pada tahun 2003, nama Herman Johannes diabadikan oleh Keluarga Alumni Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA) menjadi sebuah penghargaan bagi karya utama penelitian bidang ilmu dan teknologi: Herman Johannes Award.

Nama Prof. Herman Johannes juga diabadikan menjadi nama jalan yang menghubungkan Kampus UGM dengan Jalan Solo dan Jalan Jenderal Sudirman di kota Yogyakarta.

Herman Johannes dikaruniai empat anak, salah satunya adalah Helmi Johannes, seorang presenter berita televisi yang terkenal di Indonesia, yang sekarang bekerja di media VOA, Amerika Serikat.

 

14. Prof. W.Z. Johannes

Pahlawan Kristen Indonesia lainnya yang terpopuler adalah Prof. dr. Wilhelmus Zakharia Johannes atau W.Z. Johannes.

W.Z. Johannes lahir di Pulau Rote, Nusa Tengara Timur, pada tahun 1895.

Ia adalah ahli radiologi pertama di Indonesia, guru besar radiologi dan pernah menjabat Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Wakil Ketua Senat Universitas Indonesia (UI), Jakarta.

Sebagai dokter Indonesia pertama yang mempelajari ilmu radiologi di Belanda, W.Z. Johannes juga menjadi ahli rontgen pertama yang sangat berjasa dalam pengembangan ilmu kedokteran Indonesia sehingga mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Prof. dr. W.Z. Johannes meninggal dunia di Den Haag, Belanda pada 4 September 1952. Jenazahnya dikirim dengan kapal “Modjokerto” dari Belanda dan tiba di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta pada 24 November 1952. Ia dimakamkan di Jati Petamburan, Jakarta Pusat pada 26 November 1952.

Namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yakni RSU W.Z. Johannes. Nama pahlawan ini juga diabadikan menjadi nama sebuah kapal perang TNI-AL, yakni KRI Wilhelmus Zakharia Johannes.

W.Z. Johannes adalah sepupu Prof. Dr. Ir. Herman Johannes (lihat poin 13 di atas).

Loading...
34 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!