Categories: KRISTOLOGI

25 Nubuat Perjanjian Lama Tentang Yesus

 

Artikel ini berisi tentang 25 nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus.

Setidaknya ada 25 nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang semuanya telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru.

Kedua puluh nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus ini terdapat di berbagai kitab Perjanjian Lama, dan dinubuatkan oleh banyak nabi.

Nubuat-nubuat tersebut mencakup nubuat tentang kedatangan Yesus ke dunia, kelahiranNya sebagai manusia, penderitaan, penyaliban, kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya ke surga.

Memang, kedatangan Yesus di dunia bukanlah terjadi secara mendadak, hal itu sudah ada dalam rancangan Allah beribu-ribu tahun sebelumnya.

Baca juga: 7 Nubuat Perjanjian Lama Yang Digenapi Saat Kelahiran Yesus

Dan telah dinubuatkan oleh para nabi  Allah, ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya.

Kelahiran, penderitaan, penyaliban dan kematian Yesus di dunia adalah rancangan Allah yang besar untuk menyelamatkan manusia ciptaanNya yang terbelenggu oleh dosa.

Tidak lama setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan telah mengatakan bahwa suatu saat nanti Ia akan menghancurkan dosa dan iblis, sumber dosa, melalui salah seorang keturunan manusia/Hawa (Kejadian 3:15).

Nubuat Perjanjian Lama itu jelas mengacu pada kedatangan Yesus Kristus, Sang Juru Selamat, ke dunia.

Baca juga: 10 Nubuat Perjanjian Lama Yang Digenapi Saat Penyaliban Yesus

Hal ini kemudian dipertegasNya melalui Abraham, orang yang dipilihNya sebagai penyalur keselamatan itu ke seluruh bumi.

Lalu lewat nabi-nabiNya, atau orang-orang pilihanNya dari antara bangsa Israel, umat pilihanNya, yakni keturunan Abraham yang dipilihNya.

Nabi-nabi ini dalam rentang ribuan tahun, dalam berbagai cara dan kesempatan, telah bernubuat dalam Perjanjian Lama tentang kedatangan Sang Juru Selamat dunia, yang dalam konsep Perjanjian Lama lebih dikenal sebagai Mesias.

Baca juga: 10 Nubuat Perjanjian Lama Yang Digenapi Saat Kematian Yesus

Dari sekian banyak nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang semuanya telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, di sini dicantumkan 25 di antaranya.

Nubuat apa sajakah yang termasuk ke dalam 25 nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus?

Berikut pembahasannya dan penggenapan nubuat-nubuat tersebut oleh Tuhan Yesus pada zaman Perjanjian Baru.

 

1. Nubuat Tentang Keselamatan Dunia Melalui Abraham

Nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang pertama: Nubuat Tentang Keselamatan Dunia Melalui Abraham.

Ketika Maria diberitahu oleh malaikat Tuhan bahwa ia akan mengandung Juru Selamat, maka ia pun bernyanyi dengan sukacita.

Dalam nyanyiannya ini, yang dikenal sebagai Magnificat, Maria bersyukur karena Allah telah menggenapi janjiNya kepada Abraham, orang pilihanNya dan bapa leluhur bangsa Israel.

Maria mengatakan,

Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya. (Lukas 1:54-55)

Hal senada disampaikan oleh Zakharia, ketika ia diberitahu oleh malaikat bahwa istrinya yang mandul dan sudah tua, Elisabet, akan mengandung dan melahirkan Yohanes Pembaptis, perintis jalan bagi Mesias.

Dalam nyanyiannya, yang dikenal sebagai Benedictus, Zakharia mengatakan,

“… untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. (Lukas 1:72-75).

Allah memang telah berjanji kepada Abraham, nenek moyang bangsa Israel, bapa orang beriman, bahwa olehnya seluruh bumi akan diberkati atau diselamatkan.

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” (Kejadian 12:1-3)

Bagaimanakah caranya Abraham dapat memberkati/menyelamatkan seluruh bumi?  Melalui keturunannya, yakni Yesus Kristus (Galatia 3:16).

 

2. Nubuat Tentang Kedatangan Mesias Dari Keturunan Daud

Nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang kedua: Nubuat Tentang Kedatangan Mesias Dari Keturunan Daud

Selain sebagai penggenapan janjiNya kepada Abraham, kedatangan Yesus ke dunia juga merupakan penggenapan janji/nubuatNya kepada Daud, raja terbesar Israel, yang juga keturunan Abraham.

Dalam nyanyiannya, Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis, mengatakan,

Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu,seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita,….” (Lukas 1:68-71)

Seperti Abraham, Daud adalah orang pilihan Tuhan.

Kepadanya Tuhan telah berfirman bahwa tahtanya akan dibangun turun-temurun. Pemerintahan Daud tidak akan berakhir.

“Engkau telah berkata: Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun. (Mazmur 89:4-5).

Bagaimanakah caranya Daud dapat memerintah terus menerus? Melalui salah satu keturunannya, yakni Mesias atau Yesus Kristus.

Untuk lebih jelasnya, silakan baca: 10 Fakta Tentang Mesias Yang Perlu Anda Tahu.

 

3. Nubuat Tentang Juru Selamat Yang Lahir Dari Seorang Gadis/Anak Dara

Nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang ketiga: Nubuat Tentang Juru Selamat Yang Lahir Dari Seorang Gadis/anak dara.

Mesias atau Juru Selamat itu akan dilahirkan oleh seorang anak dara atau anak gadis, yang belum mempunyai suami.

Bagaimanakah hal itu bisa terjadi? Dengan campur tangan Allah secara langsung, yakni melalui kuasa Roh Kudus.

Hal ini dikatakan oleh malaikat Tuhan kepada Yusuf, bahwa Maria, tunangannya, yang masih gadis, akan melahirkan bayi Yesus, sang Juru Selamat dunia.

Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel– yang berarti: Allah menyertai kita. (Matius 1:20-23)

Yesus Kristus lahir bukan dari hubungan antara Yusuf dengan Maria, melainkan atas campur tangan ilahi, dari kuasa supranatural Roh Kudus.

Bahwa Sang Juru Selamat akan lahir dari seorang perempuan muda /anak gadis telah dinubuatkan 700 tahun sebelumnya oleh Nabi Yesaya,

Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. (Yesaya 7:14)

 

4. Nubuat Tentang Kota Kelahiran Juru Selamat Di Betlehem

Nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang keempat: Nubuat Tentang Kota Kelahiran Juru Selamat di Betlehem.

Bukan hanya kelahiran Yesus yang ajaib – lahir dari seorang perempuan yang belum bersuami – yang dinubuatkan di perjanjian Lama. Kota kelahiranNya sendiri pun juga dinubuatkan secara tepat.

Ketika orang-orang majus dari timur datang ke Yerusalem, Israel, setelah dituntun oleh sebuah bintang, mereka bertanya-tanya di manakah raja Yahudi yang baru lahir itu.

Mendengar hal itu raja raj Herodes Agung sangat terkejut. Sebab ia merasa tersaingi oleh kelahiran seorang “Raja Yahudi”. Ia kemudian bertanya kepada para ahli taurat Yahudi di mana Kristus dilahirkan.

Para ahli taurat itu menjawab di Betlehem, sesuai nubuat nabi Mikha.

Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” (Matius 2:5-6).

Kitab nabi yang dimaksud oleh para ahli taurat Yahudi adalah kitab nabi Mikha.

Nabi Mikha memang telah menubuatkan kelahiran Sang Mesias di kota kecil Betlehem,

Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. (Mikha 5:1)

Meskipun Yusuf dan Maria tinggal Di kota Nazaret, bukan di kota Betlehem, namun oleh campur tangan Allah, Yesus akan lahir di Betlehem, sesuai dengan nubuat nabi Mikha.

Hal ini terjadi ketika Kaisar Agustus, kaisar Romawi yang memerintah ketika Kristus lahir, mengeluarkan titah agar semua orang di seluruh kerajaan Romawi yang dipimpinnya mendaftarkan diri.

Maka semua orang pulang ke kampung halamannya untuk mendaftarkan diri.

Demikianlah Yusuf bersama Maria yang telah hamil besar, pergi ke kampungnya di Betlehem untuk mendaftarkan diri.

Ketika tiba di Betlehem maka Maria pun melahirkan.

Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, – karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daudsupaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. (Lukas 2:4-7)

Kelahiran Yesus di kota kecil Betlehem, bukan di Yerusalem, ibu kota Israel, atau di Roma, ibu kota kekaisaran Romawi, menunjukkan kesederhanaanNya dan solidaritasNya bagi manusia berdosa.

 

5. Nubuat Tentang Ratapan Atas Kematian Bayi-Bayi

Nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang kelima: Nubuat Tentang Ratapan Atas Kematian Bayi-Bayi.

Setelah raja Herodes Agung mengetahui bahwa Yesus dilahirkan di kota Betlehem, maka ia memerintahkan orang-orang majus untuk menyelidiki Yesus agar Herodes juga datang menyembahNya.

Tetapi hal ini hanyalah siasat Herodes untuk membunuh Yesus. Karena ia takut kehadiran Yesus akan mengganggu kekuasaannya di Yudea (mencakup Yerusalem dan Betlehem).

Ketika Herodes Agung merasa diperdaya oleh para majus itu, maka ia menjadi sangat marah. Ia panik dan ia tak mau ambil resiko.

Herodes membunuh semua bayi di Betlehem, yang berusia 2 tahun ke bawah, ia tak ingin Yesus luput.

Hal ini menimbulkan ratapan yang sangat pilu bagi para ibu yang kehilangan bayi mereka.

Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.’ ” (Matius 2:16-18)

Rupanya ratapan para orang tua yang kehilangan bayi mereka di Betlehem sudah dinubuatkan nabi Yeremia sebelumnya.

Hal ini tertulis dalam Yeremia 31:15,

Beginilah firman TUHAN: Dengar! Di Rama terdengar ratapan, tangisan yang pahit pedih: Rahel menangisi anak-anaknya, ia tidak mau dihibur karena anak-anaknya, sebab mereka tidak ada lagi.

Tetapi ada bedanya penderitaan orang tua para bayi yang mati di zaman Yeremia (yang disebut Rahel, Istri Yakub, nenek moyang Israel), dengan orang tua bayi-bayi yang mati di Betlehem.

Pada masa nabi Yeremia, mereka kehilangan bayi mereka karena dosa-dosa mereka sendiri, atau dosa bangsa Israel pada umumnya.

Sementara kematian bayi-bayi di Betlehem bukan karena dosa orang tua bayi-bayi tersebut, tetapi karena kelaliman raja Herodes, karena ketakutannya pada kelahiran seorang “raja Yahudi”.

 

6. Nubuat Tentang Kepulangan Juru Selamat Dari Mesir

Nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang keenam: Nubuat Tentang Kepulangan Juru Selamat Dari Mesir.

Ketika Herodes membunuh bayi-bayi di Betlehem, maka malaikat Tuhan memerintahkan Yusuf untuk membawa Yesus mengungsi ke Mesir, menghindari Herodes yang ingin membunuhNya.

Yusuf menaati perintah Tuhan dan membawa Maria, istrinya dan bayi Yesus pergi ke Mesir. Saat itu diperkirakan bayi Yesus sudah berusia sekitar 2 tahun.

Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku. (Matius 2:14-15)

Lamanya Yesus dan orang tuaNya di Mesir mungkin sampai beberapa bulan, walau Alkitab tidak menyebut hal ini.

Alkitab juga tidak menyebut apa-apa tentang kehidupan Yesus atau apa yang diperbuatNya  selama di Mesir.

Cerita-cerita yang mengatakan bahwa Yesus melakukan mujizat di Mesir adalah dongeng belaka, suatu cerita fiktif yang tidak bisa dipertangungjawabkan.

Alkitab menegaskan bahwa Yesus baru melakukan mujizat ketika Ia secara resmi memulai pelayananNya, yakni ketika Ia berusia 30 tahun.

Kepulangan (dan kepergian) Yesus dari Mesir ternyata sudah dinubuatkan oleh nabi Hosea sebelumnya,

Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu.(Hosea 11:1)

Bangsa Israel Tuhan panggil keluar dari perbudakan di Mesir menuju tanah perjanjian di Tanah Kanaan, sesuai dengan janjiNya kepada Abraham, nenek moyang bangsa Israel.

Jika orang Israel (Yakub dan anak-anaknya) dahulu pergi ke Mesir untuk menghindari kelaparan di Tanah Kanaan, maka Yesus dan orang tuanya pergi ke Mesir untuk menghindari pembunuhan.

 

7. Nubuat Tentang Sebutan Orang Nazaret bagi Juru Selamat

Nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang ketujuh: Nubuat Tentang Sebutan Orang Nazaret bagi Juru Selamat.

Setelah Herodes Agung mati, maka malaikat memerintahkan Yusuf untuk kembali dari Mesir.

Awalnya Yusuf hendak pergi ke wilayah Yudea (di mana Yerusalem dan Betlehem, tempat Yesus lahir, berada).

Tetapi ia takut, sebab di Yudea memerintah Arkhelaus, anak Herodes Agung yang juga lalim.

Lalu, Yusuf kembali ke Nazaret, di Galilea. Di Nazaret-lah kemudian Yesus tumbuh dan berkembang.

Dan karena itu ia akan disebut orang Nazaret, sesuai nubuat nabi Yesaya.

Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret. (Matius 2:23)

Dalam Yesaya 11:1 disebutkan bahwa,

Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.

Dalam bahasa Ibrani, kata “tunas” atau “taruk”, merupakan asal kata dari Nazaret.

Sebutan terhadap Yesus yang sering muncul di Alkitab Perjanjian Baru adalah “Orang Nazaret”, Yesus, orang Nazaret (misalnya, Kisah Para Rasul 3:6).

 

8. Nubuat Tentang Penghancuran Iblis Melalui Kematian Yesus

Nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang ke delapan adalah nubuat tentang penghancuran kuasa iblis melalui kematian Yesus.

Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kejadian 3:15)

Ini adalah ayat yang sudah terkenal, yang diucapkan oleh Allah sendiri kepada iblis, setelah manusia jatuh ke dalam dosa.

Dalam ayat ini, yang dikenal sebagai proto-evangelium atau injil yang pertama/benih injil, Allah menubuatkan bahwa keturunan perempuan (Hawa), yakni Yesus Kristus, akan meremukkan kepala iblis.

Ayat ini digenapi saat kematian Yesus, seperti nyata dari ayat di bawah ini.

“Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut.” (Ibrani 2:14).

Tentu iblis belum sepenuhnya hancur sejak kematian Yesus, kuasanya masih ada.

Namun kuasanya itu terbatas, dan kelak ia akan dikalahkan sepenuhnya pada akhir zaman. (Baca: 10 Fakta Tentang Iblis Menurut Pandangan Kristen)

 

9. Nubuat Tentang Yesus Sebagai Anak Domba Paskah

Nubuat Perjanjian Lama yang tentang Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang ke sembilan adalah Nubuat Tentang Yesus Sebagai Anak Domba Paskah.

Orang Israel mempunyai tradisi Paskah dengan menyembelih dan memakan seekor anak domba, yang disebut sebagai anak domba Paskah.

Di setiap hari Paskah, setiap keluarga di Israel harus menyembelih dan memakan anak domba ini. (Baca: 10 Fakta Tentang Paskah Menurut Alkitab)

“Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja. (Keluaran 12:5-6)

Anak domba Paskah ini ternyata merupakan nubuat bagi Yesus Kristus, sehingga Yesus disebut sebagai anak domba Paskah kita.

Hal ini dijelaskan oleh Rasul Paulus,

“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. (1 Korintus 5:7)

Kapankah Yesus, anak domba Paskah kita “disembelih”?

Sudah pasti pada saat Ia disalibkan dan wafat di kayu salib.

 

10. Nubuat Tentang Yesus Sebagai Roti Hidup

Nubuat Perjanjian Lama yang digenapi saat kematian Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang kesepuluh adalah Nubuat Tentang Yesus Sebagai Roti Hidup.

Ketika berada di padang gurun selama 40 tahun, dalam perjalanan keluar dari perbudakan di Mesir menuju Tanah Perjanjian, bangsa Israel Tuhan beri manna.

Manna itu adalah makanan dari surga, bukan yang tumbuh di bumi ini. Itulah makanan bangsa Israel selama masa pengembaraan 40 tahun tersebut.

“Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.… Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi. Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: Apakah ini? Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu. (Keluaran 16:4, 14, 15)

Manna atau roti surga ini ternyata merupakan nubuat tentang Yesus, seperti nyata dari Perjanjian Baru.

Ketika Yesus selesai membuat mujizat besar, memberi makan 5000 orang laki-laki dengan hanya lima roti dan dua ikan, maka banyak orang yang menyaksikan mujizat tersebut datang kepadaNya.

Mereka takjub akan mujizat tersebut, bukan takjub akan pribadi Yesus, Sang Pembuat mujizat. Mereka hanya mencari mujizat, bukan Pribadi dan pengajaran Yesus.

Karena itulah Yesus menegur mereka. Lalu terjadilah percakapan antara mereka dengan Yesus, tentang roti.

Orang-orang Yahudi tersebut berbicara tentang roti dari surga atau manna, yang menjadi makanan nenek moyang mereka selama 40 tahun di padang gurun.

Yesus menjawab mereka bahwa nenek moyang mereka yang makan roti itu telah mati. Tetapi Dialah roti hidup yang sesungguhnya, barangsiapa yang memakannya akan tetap hidup selamanya.

“Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yohanes 6:48-51).

“Memakan” Yesus sebagai roti hidup tentu maksudnya adalah secara kiasan, yang dimaksud adalah percaya kepadaNya yang akan mati bagi penebusan dosa, seperti nyata dari ayat-ayat selanjutnya.

Jadi roti manna dalam Perjanjian Lama adalah nubuat tentang Yesus sebagai roti hidup yang akan mati bagi manusia.

 

11. Nubuat Tentang Darah Perjanjian Baru

Nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang kesebelas adalah Nubuat Tentang Darah Perjanjian Baru.

Bangsa Israel adalah umat pilihan Allah oleh karena janjiNya kepada Abraham, nenek moyang mereka.

Sebagai umat pilihan Allah, Allah juga mengikat perjanjian dengan bangsa Israel, bahwa mereka akan menjadi umat yang taat pada firman/Taurat yang diberikanNya kepada mereka.

Perjanjian Tuhan dengan bangsa Israel itu diikat dan disahkan dengan darah.

“Sesudah itu Musa mengambil sebagian dari darah itu, lalu ditaruhnya ke dalam pasu, sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu. Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan. Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.” (Keluaran 24:6-8)

Hal ini jelas merupakan nubuat yang digenapi saat kematian Yesus.

Pada saat perjamuan malam terakhirNya dengan murid-muridNya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa darahNya, yang saat itu dilambangkan oleh anggur, adalah darah Perjanjian yang baru.

“Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. (Matius 27:27-28).

Dengan mengatakan bahwa darahNya adalah darah Perjanjian, maka Yesus menahbiskan sebuah perjanjian yang baru, yang berbeda dengan perjanjian yang lama.

Jika Perjanjian Lama itu disahkan dengan darah domba, maka Perjanjian Baru ini disahkan dengan darah Yesus sendiri.

Dan jika dalam perjanjian yang lama pengampunan dosa tercapai dengan mempersembahkan korban-korban, maka dalam perjanjian yang baru ini pengampunan dosa terjadi melalui pengorbanan Yesus di kayu salib.

Karena Yesus berbicara tentang darahNya, maka pastilah Ia berbicara tentang kematianNya, yang terjadi hanya beberapa jam setelah perjamuan malam tersebut.

 

12. Nubuat Tentang Darah Yesus Yang Mendamaikan Manusia Dengan Allah

Nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang kedua belas adalah Nubuat Tentang Darah Yesus Yang Mendamaikan Manusia Dengan Allah.

Salah satu hari raya bangsa Israel di Alkitab adalah hari Pendamaian, yang diperingati setiap tahunnya. (Baca: 10 Hari Raya Israel Di Alkitab)

Pada Hari Raya Pendamaian ini Imam Besar akan masuk ke ruang Maha Kudus dari Kemah Suci/Bait Suci dengan memercikkan darah domba ke atas tutup pendamaian di Tabut Perjanjian yang ada di ruang Maha Kudus tersebut, sebagai lambang pengampunan dosa umat Israel. (Baca: 7 Bait Allah Di Alkitab)

“Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah diperbuatnya dengan darah itu seperti yang diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercikkannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu. Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka.” (Imamat 16:15-16)

Jelas upacara ini merupakan nubuat tentang darah Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang mati di kayu salib demi pengampunan dosa manusia, seperti dicatat dalam Kitab Ibrani di bawah ini.

“Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita. Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya. (Ibrani 9:24-26).

Dengan demikian upacara Pendamaian ini telah digenapi saat kematian Yesus.

 

13. Nubuat Tentang Tubuh Yesus Sebagai Korban Bakaran

Nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus, yang telah digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yang ketiga belas adalah Nubuat Tentang Tubuh Yesus Sebagai Korban Bakaran.

Bangsa Israel mempunyai berbagai macam persembahan korban yang harus dipersembahkan kepada Allah.

Semuanya itu berfungsi untuk mengampuni dosa dan kesalahan mereka di hadapan Tuhan serta membuat mereka berkenan kepadaNya.

Namun ternyata bukan korban-korban itu sendiri yang Tuhan kehendaki, tetapi hidup yang melakukan kehendak Allah.

Hal ini dikatakan oleh pemazmur (Daud).

“Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.” (Mazmur 40:7-9)

Namun rupanya ayat ini juga merupakan nubuat tentang kematian Mesias atau Yesus.

Hal ini nyata dari penjelasan Penulis Surat Ibrani di bawah ini,

“Di atas Ia berkata: Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya — meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat –. Dan kemudian kata-Nya: Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu. Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. (Ibrani 10:8-10).

Yesus telah datang untuk melakukan kehendak Allah dengan cara mempersembahkan tubuhNya sendiri demi pengampunan dosa kita, sehingga kita orang yang percaya kepadaNya, tidak lagi perlu mempersembahkan korban-korban di Perjanjian Lama itu.

 

Page: 1 2