Jenderal Indonesia yang masuk Kristen dalam artikel ini adalah para jenderal yang berpindah dari agama Islam ke agama Kristen, baik Kristen Protestan maupun Kristen Katolik.

Ketiga Jenderal Indonesia yang masuk Kristen tersebut terdiri dari dua jenderal TNI dan satu jenderal polisi/Polri, yakni mantan Kapolri.

Kedua jenderal TNI tersebut juga merupakan pahlawan nasional Indonesia, salah satunya adalah mantan panglima TNI.

Baca juga: 7 Tokoh Berpengaruh Indonesia Yang Masuk Kristen

Dua dari antara tiga jenderal ini masuk Kristen/Katolik ketika belum menjadi jenderal, bahkan salah satunya ketika masih muda, sedangkan satu lagi justru setelah pensiun dari jabatannya.

Seperti kita tahu, perpindahan agama adalah suatu hal yang lumrah terjadi sejak dulu, tidak terkecuali bagi para tokoh terkenal.

Perpindahan agama para tokoh lebih mendapat sorotan, sebab mereka adalah publik figur, yang memang selalu menjadi pusat perhatian masyarakat, khususnya para pengikut mereka.

Tokoh yang dimaksud di sini adalah para pemimpin agama, aktivis, politisi, pejabat, dll.

Perpindahan agama seseorang, terutama tokoh terkenal, sejatinya harus dipandang sebagai sesuatu hal yang biasa, dan sudah sepatutnya dihormati, sebab merupakan hak privasi mereka sendiri.

Baca juga: 25 Artis Indonesia Yang Berpindah Ke Agama Kristen

Sebab menganut sebuah agama adalah hak paling hakiki bagi umat manusia. Karena itulah perpindahan agama seseorang tidak perlu terlalu dipermasalahkan. Toh mereka sendirilah yang bertanggung jawab kepada Tuhan.

Jadi perpindahan seseorang dari satu agama ke agama lainnya, sudah sewajarnya disikapi secara bijak dan dewasa.

Memang, sudah sewajarnya kita senang jika ada orang yang berpindah mengikuti agama kita, dan merasa sedih jika mereka meninggalkan agama kita. Tetapi bagaimana pun, kita harus menghormati pilihan mereka.

Dengan demikian maka terjadi toleransi dan saling menghormati di antara satu agama dengan agama lainnya, dan tercipta kedamaian dan keharmonisan di antara para penganut agama yang berbeda.

Baca juga: 10 Artis Indonesia Yang Masuk Kristen

Jadi maksud tulisan ini bukanlah mengkotak-kotakkan para tokoh berdasarkan agamanya, atau untuk meninggikan satu agama tetentu dan merendahkan agama lain.

Melainkan untuk menunjukkan bahwa perpindahan agama itu memang banyak terjadi di kalangan tokoh Indonesia; bukan hanya bagi mereka yang berpindah dari agama Kristen/Katolik, tetapi juga bagi mereka yang berpindah ke agama Kristen/Katolik.

Lalu, siapa sajakah 3 jenderal Indonesia yang masuk Kristen tersebut?

Berikut pembahasannya.

1. Jenderal Urip Sumoharjo

Jenderal Indonesia yang masuk Kristen, yang pertama adalah Jenderal Urip Sumoharjo.

Advertisements
Ad 16
Advertisements Text

Jenderal Urip Sumoharjo lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 22 Februari 1893, dari keluarga non-Kristen. Nama aslinya adalah Muhammad Siddik. Tetapi setelah dewasa, jenderal Urip menjadi seorang penganut Kristen Katolik.

Urip berhenti sekolah untuk mengikuti pelatihan militer di Batavia  (Jakarta). Setelah lulus pada tahun 1914, ia menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara pemerintah kolonial Belanda. Bertugas selama hampir 25 tahun, ia ditempatkan di tiga pulau berbeda dan dipromosikan beberapa kali, dan akhirnya menjadi perwira pribumi dengan pangkat tertinggi di KNIL.

Urip mengundurkan diri dari jabatannya sekitar tahun 1938 setelah berselisih dengan Bupati Purworejo, tempat ia ditempatkan.

Tetapi setelah Jerman Nazi menginvasi Belanda pada bulan Mei 1940, Urip dipanggil kembali untuk bertugas. Ketika Kekaisaran Jepang menduduki Hindia Belanda dua tahun kemudian, Urip ditangkap dan ditahan di kamp tawanan perang selama tiga setengah bulan.

Pada tanggal 14 Oktober 1945, beberapa bulan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Urip ditetapkan sebagai kepala staf dan pemimpin sementara angkatan perang yang baru dibentuk. Sehingga boleh dikatakan bahwa dialah panglima TNI (sementara) yang pertama. (Baca: 4 Jenderal Kristen Yang Pernah Menjadi Panglima TNI)

Jenderal Urip berupaya untuk menyatukan kekuatan kelompok-kelompok militer yang terpecah-pecah di Indonesia.

Ketika Jenderal Sudirman terpilih sebagai panglima angkatan perang, Urip tetap menjabat sebagai kepala staff, dan mereka berdua sama-sama mengawasi pembangunan angkatan perang pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Urip kemudian mengajukan pengunduran dirinya, namun tetap bertugas sebagai penasihat Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Presiden, Muhammad Hatta.

Jenderal Urip wafat pada 17 November 1948 di Yogyakarta akibat serangan jantung. Ia dikebumikan keesokan harinya di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta dan secara anumerta dipromosikan sebagai Jenderal.

Urip menerima sejumlah tanda kehormatan dari pemerintah secara anumerta (setelah meninggal), termasuk Bintang Sakti (1959), Bintang Mahaputra (1960), Bintang Republik Indonesia Adipurna (1967), dan Bintang Kartika Eka Pakci Utama (1968).

Pada tanggal 10 Desember 1964, Urip ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 314 Tahun 1964.

Pada tanggal 22 Februari 1964, akademi militer Indonesia di Magelang mendedikasikan sebuah tugu untuk dirinya, dan menggambarkan Urip sebagai “Seorang putra Indonesia yang mengagungkan karya daripada kata, yang mengutamakan Dharma daripada minta.”

Gereja Katolik di akademi tersebut juga mempersembahkan sebuah dedikasi untuk Urip sejak tahun 1965, yang berawal dari perbincangan antara Rohmah dan teman misionarisnya.

 

2. Brigadir Jenderal Slamet Riyadi

Jenderal Indonesia yang masuk Kristen, yang kedua adalah Brigadier Jenderal Ignatius Slamet Riyadi.

Slamet Riyadi lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 26 Juli 1927, putra dari seorang tentara dan penjual buah. “Dijual” pada pamannya dan sempat berganti nama saat masih balita untuk menyembuhkan penyakitnya, Riyadi tumbuh besar di rumah orang tuanya dan belajar di sekolah milik Belanda.

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda (Indonesia), Riyadi menempuh pendidikan di sekolah pelaut yang dikelola oleh Jepang dan bekerja untuk mereka setelah lulus; ia meninggalkan tentara Jepang menjelang akhir Perang Dunia II dan membantu mengobarkan perlawanan selama sisa pendudukan.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Riyadi memimpin tentara Indonesia di Surakarta pada masa perang kemerdekaan melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Dimulai dengan kampanye gerilya, pada 1947 ia berperang dengan sengit melawan Belanda di Ambarawa dan Semarang, bertanggung jawab atas Resimen 26.

Pada tahun 1950, Riyadi dikirim ke Maluku untuk memerangi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Setibanya di New Victoria, pasukan Riyadi diserang oleh pasukan RMS. Ketika Riyadi sedang menaiki sebuah tank menuju markas pemberontak pada tanggal 4 November, selongsong peluru senjata mesin menembakinya. Peluru tersebut menembus baju besi dan perutnya.

Setelah dilarikan ke rumah sakit kapal, Riyadi bersikeras untuk kembali ke medan pertempuran. Para dokter lalu memberinya banyak morfin dan berupaya untuk mengobati luka tembaknya, namun upaya ini gagal. Riyadi tewas pada malam itu juga, dan pertempuran berakhir di hari yang sama. Riyadi dimakamkan di Ambon.

Sejak kematiannya, Riyadi telah menerima banyak penghormatan. Sebuah jalan utama di Surakarta dinamakan menurut namanya, juga dengan fregat TNI AL, KRI Slamet Riyadi. Begitu juga dengan sebuah universitas di Surakarta, universitas Slamet Riyadi.

Selain itu, Riyadi juga dianugerahi beberapa tanda kehormatan secara anumerta pada tahun 1961, dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. (Baca: 20 Pahlawan Indonesia Terpopuler Beragama Kristen)

 

Tinggalkan Balasan