Categories: FAKTA ALKITAB

4 Bait Allah Di Perjanjian Lama

Bait Allah di Perjanjian Lama atau Bait Suci  adalah pusat ibadah bangsa Israel, dan menjadi salah satu ciri khas mereka sebagai umat pilihan Allah, yang membedakan mereka dari bangsa-bangsa lainnya.

Bait Allah di Perjanjian Lama adalah tempat bangsa Israel beribadah setiap hari, dan menjadi pusat perayaan hari-hari raya mereka.

Bait Allah di Perjanjian Lama adalah Rumah Allah, tempat di mana Allah berkenan diam di dalam sebuah bangunan buatan manusia. Bait Allah adalah lambang kehadiran Allah di tengah-tengah umatNya, bangsa Israel.

Karena itulah Bait itu disebut juga Bait Suci, ia suci karena di dalamnya tinggal Yang Mahasuci, Allah Sang Pencipta semesta alam.

Bait Allah terdapat di kota Yerusalem, ibu kota Israel/Yehuda. Hal ini menjadikan Yerusalem menjadi sangat penting, sebab bukan saja menjadi pusat pemerintahan, tempat raja-raja Israel/Yehuda tinggal, tetapi juga menjadi pusat ibadah, tempat Allah berdiam.

Itulah sebabnya kota Yerusalem disebut sebagai kota kudus. (Baca: 10 Fakta Tentang Yerusalem Yang Perlu Anda Tahu)

Bait Allah itu umumnya terdiri dari tiga bagian utama, yakni: pelataran, ruang kudus dan ruang maha kudus.

Di masing-masing bagian Bait Suci tersebut terdapat beberapa benda yang dipakai untuk melakukan upacara ibadah.

Di bagian pelataran atau halaman Bait Suci, ada dua benda penting.

Pertama, mezbah korban bakaran, yang dipakai untuk membakar korban-korban hewan (kambing, domba, sapi).

Kedua, bejana pembasuhan, yakni tempat menampung air yang dipakai oleh imam-imam untuk membersihkan korban-korban bakaran dan untuk membersihkan diri mereka sendiri sebelum masuk ke ruang kudus.

Di ruang kudus Bait Allah ada tiga benda penting.

Pertama, meja roti sajian, yang dipakai untuk mempersembahkan/menyajikan 12 potong roti. Ke-12 roti tersebut mewakili setiap suku Israel dari 12 suku.

Kedua, mezbah ukupan, yang dipakai untuk mempersembahkan ukupan yang terbuat dari berbagai macam rempah-rempah, dibakar dan mengeluarkan asap.

Ketiga, menorah, atau kaki dian, atau kandil bercabang 7, yang dinyalakan dengan memakai minyak zaitun.

Sedangkan di dalam ruang maha kudus Bait Allah, hanya satu benda yang ada, yakni tabut perjanjian. Tabut perjanjian adalah kotak persegi empat yang terbuat dari kayu penaga dan dilapisi dengan emas.

Tabut perjanjian secara khusus adalah lambang kehadiran Tuhan, sekalipun secara keseluruhan Bait Suci juga merupakan lambang kehadiran Tuhan.

Di dalam tabut perjanjian tersebut, dalam perjalanannya kemudian, terdapat tiga benda, yakni: dua loh batu berisi sepuluh firman Tuhan, buli-buli emas berisi manna, dan tongkat Harun yang berbunga (Ibrani 9:4).

Pelataran Bait Allah diperuntukkan bagi umat, setiap orang Israel bisa masuk ke dalamnya. Sedangkan ruang kudus diperuntukkan hanya bagi imam-imam untuk melakukan upacara ibadah setiap harinya.

Sementara ruang maha kudus hanya boleh dimasuki oleh imam besar untuk mengadakan upacara pendamaian dosa dengan memerciki darah hewan ke atas tabut perjanjian, yang dilakukan setiap tahun, yakni pada Hari Raya Pendamaian atau Yom Kippur.

Di Perjanjian Lama  ada 4 Bait Allah.

Berikut keempat Bait Allah tersebut  dan penjelasannya.

 

1. Kemah Suci Musa

Bait Allah berawal atas perintah Tuhan kepada Musa, yang membawa bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian.

Di padang gurun, dalam perjalanan dari Mesir ke Tanah Perjanjian, Tuhan memerintahkan Musa untuk mendirikan sebuah kemah sebagai tempat bagi bangsa Israel untuk bertemu dengan Tuhan.

Karena itu kemah ini kemudian disebut sebagai Kemah Pertemuan atau Kemah Suci, atau Tabernakel.

Seperti namanya, tempat ibadah tersebut terbuat dari kemah atau tenda, yang dipatok dengan kayu-kayu.

Tuhan memerintahkan langsung ukuran kemah tersebut dan bahan-bahan yang dipakai untuk membuatnya. Tuhan juga memerintahkan untuk membuat berbagai perlengkapan ibadahnya, seperti yang telah disebut di atas: mezbah korban bakaran, bejana pembasuhan, dll (lihat bagian pendahuluan artikel ini).

Pembangunan kemah suci ini dan bagian-bagiannya, serta perabot-perabotnya dicatat dalam Keluaran 35-40.

Kemah ini dibangun secara semi permanen, dan bisa dibongkar pasang. Ketika bangsa Israel bergerak maju ke sebuah tempat, dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian, maka kemah tersebut dibongkar dan dibawa. Ketika mereka berkemah di sebuah tempat, maka mereka memasang kembali kemah tersebut.

Karena bangsa Israel mengembara di padang gurun selama 40 tahun, sampai mereka tiba di Tanah Perjanjian, maka selama itu jugalah kemah pertemuan itu ada, yakni sekitar 40 tahun.

Kemah pertemuan ini berakhir ketika bangsa Israel tiba di tanah perjanjian.

Kemah ini memang tidak disebut sebagai Bait Suci atau Bait Allah, tetapi kemah pertemuan atau kemah suci. Namun, fungsinya sama persis seperti Bait Suci pada umumnya. Yang membedakan hanyalah bangunannya yang belum permanen.

Kemah Suci Musa adalah dasar bagi Bait Suci-Bait Suci selanjutnya.

 

2. Bait Allah Salomo

Ketika bangsa Israel telah bermukim di Tanah Kanaan, atau Tanah Perjanjian, maka mereka membangun Bait Allah yang permanen. Namun Bait Suci ini dibangun tidak segera setelah mereka tinggal di Tanah Kanaan, tetapi ratusan tahun kemudian.

Bait Allah ini dibangun oleh Salomo, raja Israel saat itu, satu dari 10 Raja Israel Terbesar Di Alkitab.

Bait Allah ini disebut juga sebagai Bait Allah pertama. Sebab, seperti telah dijelaskan, Kemah Suci Musa belum disebut sebagai bait.

Bagian-bagian dari Bait Suci pertama ini sama dengan kemah suci Musa. Terdiri dari tiga bagian utama: pelataran, ruang kudus dan ruang maha kudus. Hanya saja bangunan Bait Suci Salomo ini jauh lebih besar dan lebih indah.

Tabut perjanjian zaman Musa dimasukkan oleh Salomo ke dalam ruang maha kudus. Jadi, tidak seperti perabot-perabot Bait Allah lainnya, Salomo tidak membuat tabut perjanjian yang baru (1 Raja-raja 5-8).

Bait Allah ini dibangun di atas gunung Moria, tempat Abraham mempersembahkan Ishak (Kejadian 22). Ini juga tempat Daud membangun mezbah setelah Tuhan menulahi bangsa Israel akibat dosa Daud menghitung laskar Israel, yang berarti ia mengandalkan laskarnya itu, bukan Tuhan (2 Samuel 24).

Jadi tempat Salomo membangun Bait Allah ini adalah tempat bersejarah, dan sangat disakralkan oleh bangsa Israel.

Namun sayang, akibat dosa Salomo yang menyembah berhala, Bait Suci ini kemudian dihancurkan oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan orang Israel/Yehuda dibuang ke Babel selama 70 tahun (2 Raja-raja 25).

Tabut perjanjian juga diambil atau dirusak oleh bangsa Babel, dan sejak saat itu dan seterusnya, tidak ada lagi tabut perjanjian di Bait Allah berikutnya.

Penghancuran Bait Allah ini adalah atas seijin Tuhan sebagai hukumanNya atas dosa Salomo, serta dosa-dosa raja-raja Yehuda berikutnya dan dosa-dosa bangsa Yehuda.

 

Page: 1 2