4 Jenderal Kristen Yang Pernah Menjadi Panglima TNI

Artikel ini berisi tentang 4 Jenderal Kristen yang  pernah menjadi Panglima TNI, baik Kristen Protestan maupun Kristen Katolik.

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah sebutan terhadap pimpinan tertinggi dari Tentara Nasional Indonesia.

Sebelum bernama Panglima TNI,  pimpinan tertinggi TNI mempunyai sebutan yang berbeda-beda.

Baca juga: 20 Jenderal Terbaik Indonesia  Beragama Kristen

Mulai dari Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (Panglima TKR), Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP), hingga Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pangab).

Tapi intinya adalah bahwa mereka adalah  pemimpin tertinggi TNI, yang membawahi para kepala Staf Angkatan: KSAD, KSAL, KSAU.

Baca juga: 50 Jenderal Polri Terbaik Beragama Kristen

Dari sekian banyak para pimpinan tertinggi TNI yang pernah menjabat, terdapat juga Panglima TNI yang beragama Kristen ataupun Katolik.

Di sini akan dibahas tentang 4 Jenderal Kristen yang  pernah menjadi Panglima TNI,  baik jenderal Kristen Protestan maupun jenderal Kristen Katolik.

Baca juga: 4 Pahlawan Revolusi Beragama Kristen

Keempat Jenderal Kristen yang  pernah menjadi Panglima TNI ini menjabat pada masa-masa awal kemerdekaan, pada masa orde lama, hingga masa orde baru.

Siapa sajakah 4 Jenderal Kristen yang  pernah menjadi Panglima TNI?

Berikut pembahasannya.

 

1. Jenderal (Purn) Urip Sumoharjo

Jenderal Kristen yang  pernah menjadi Panglima TNI, yang pertama adalah Jenderal Urip Sumoharjo.

Jenderal Urip lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 22 Februari 1893.

Urip berhenti sekolah untuk mengikuti pelatihan militer di Batavia (Jakarta).

Setelah lulus pada tahun 1914, ia menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara pemerintah kolonial Belanda.

Bertugas selama hampir 25 tahun, Jenderal Urip Sumoharjo ditempatkan di tiga pulau berbeda dan dipromosikan beberapa kali, dan akhirnya menjadi perwira pribumi dengan pangkat tertinggi di KNIL.

Jenderal Urip Sumoharjo mengundurkan diri dari jabatannya sekitar tahun 1938 setelah berselisih dengan Bupati Purworejo, tempat ia ditempatkan.

Tetapi setelah Jerman Nazi menginvasi Belanda pada bulan Mei 1940, Urip dipanggil kembali untuk bertugas.

Pada tanggal 14 Oktober 1945, beberapa bulan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Jenderal Urip Sumoharjo ditetapkan sebagai kepala staff dan pemimpin sementara angkatan perang yang baru dibentuk.

Artinya, Jenderal Urip Sumoharjo adalah pemimpin tertinggi Angkatan Bersenjata RI pada masa itu, atau Panglima TNI pertama RI.

Jenderal Urip Sumoharjo berupaya untuk menyatukan kekuatan kelompok-kelompok militer yang terpecah-pecah di Indonesia.

Ketika Jenderal Sudirman terpilih sebagai panglima Angkatan Perang, Jenderal Urip Sumoharjo tetap menjabat sebagai kepala staff, dan mereka berdua sama-sama mengawasi pembangunan Angkatan Perang pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Jenderal Urip Sumoharjo mengajukan pengunduran dirinya dari militer, namun tetap bertugas sebagai penasihat Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Presiden, Muhammad Hatta.

Jenderal Urip Sumoharjo wafat di Yogyakarta pada 17 November 1948 dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Secara anumerta pangkatnya dinaikkan menjadi Jenderal.

Jenderal Urip Sumoharjo telah menerima banyak tanda kehormatan dari pemerintah.

Ia juga merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia dan termasuk di antara 20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler.

 

2. Letnan Jenderal (Purn) T.B. Simatupang

Jenderal Kristen yang  pernah menjadi Panglima TNI, yang kedua adalah Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama T.B. Simatupang.

Letjen T.B. Simatupang lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, pada 28 Januari 1920.

Ia lulus dari Koninlijke Militaire Academie (KMA) pada tahun 1942 dengan mendapatkan gelar taruna mahkota dengan mahkota perak karena dinilai berprestasi khususnya di bidang teori.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Simatupang bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), dan kemudian turut bergerilya bersama Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman melawan pasukan Belanda yang berniat menguasai kembali bekas koloninya tersebut

Selama perang kemerdekaan Indonesia tersebut, ia pun diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang (WAKSAP) RI pada tahun 1948 hingga 1949.

Ketika Jenderal Sudirman wafat pada tahun 1950, Simatupang diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI/KSAP (saat ini disebut Panglima TNI) dengan pangkat Mayor Jenderal hingga tahun 1953. Waktu itu ia masih berusia 29 tahun!

Setelah Presiden Sukarno menghapuskan jabatan KSAP pada tahun 1953, Letjen T.B. Simatupang diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI, tahun 1954-1959.

Setelah non aktif dari kemiliteran, Letjen T.B. Simatupang menyibukkan diri dengan menulis buku dan mengajar di SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, sekarang Seskoad, dan Akademi Hukum Milter/AHM).

Akhirnya Letjen T.B. Simatupang resmi pensiun dari dinas militer pada tanggal 21 Juli 1959 dalam usia 39 tahun dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal.

Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, Letjen T.B. Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

Letjen T.B. Simatupang meninggal dunia pada 1 Januari 1990 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Letjen T.B. Simatupang adalah seorang Pahlwan Nasional RI dan namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di Jakarta.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!