4 Jenderal Kristen Yang Pernah Menjadi Panglima TNI

 

3. Jenderal (Purn) Maraden Panggabean

Jenderal Kristen yang  pernah menjadi Panglima TNI, yang ketiga adalah Jenderal Maraden Panggabean.

Jenderal Saur Halomoan Maraden Panggabean lahir di Tarutung, Sumatera Utara, pada 29 Juni 1922.

Jenderal Maraden mendapat jenjang karier yang sempurna di militer serta memiliki jabatan bergengsi di pemerintahan pada zaman Presiden Suharto.

Jenderal Maraden Panggabean menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada tahun 1968-1969, Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) tahun 1969–1973, Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan Menteri Pertahanan dan Keamanan tahun 1971–1978.

Jenderal Maraden Panggabean kemudian menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam) tahun 1978-1983, dialah Menkopolkam pertama Indonesia.

Selanjutnya pada tahun 1983-1988, Jenderal Maraden Panggabean menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Kini lembaga DPA diganti dengan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Jenderal Maraden Panggabean aktif dalam kegiatan organisasi di Golongan Karya (Golkar) dan pernah menjadi anggota Dewan Pembina (1973), Ketua Dewan Pembina (1974-1978), dan Ketua Presidium Harian Dewan Pembina Golkar (1979-1988).

Jenderal Maraden Panggabean meninggal di Jakarta, pada 28 Mei 2000 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta dengan upacara militer.

 

4. Jenderal (Purn) Benny Moerdani

Jenderal Kristen yang  pernah menjadi Panglima TNI, yang keempat/terakhir adalah Jenderal Benny Moerdani.

Jenderal Leonardus Benyamin Moerdani atau biasa disingkat Benny Moerdani atau L.B. Moerdani, lahir pada 2 Oktober 1932 di Cepu, Blora, Jawa Tengah dari pasangan R.G. Moerdani Sosrodirjo dan Jeanne Roech, keturunan Jerman.

L.B. Moerdani merupakan perwira yang ikut terjun langsung di operasi militer penanganan pembajakan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand pada tanggal 28 Maret 1981.

Inilah peristiwa pembajakan pesawat pertama dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia serta terorisme bermotif jihad pertama di Indonesia.

Dalam posisi pemerintahan, selain sebagai Panglima ABRI, Jenderal Benny Moerdani juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan dan juga Pangkopkamtib (sekarang jabatan ini sudah tidak ada lagi).

Sebagai anggota RPKAD (kini Kopassus), Jenderal Benny Moerdani menjadi bagian dari pertempuran untuk menekan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), kelompok separatis yang berbasis di Sumatera.

Tugas Moerdani berikutnya adalah untuk mengurus Piagam Perjuangan Semesta (Permesta), kelompok separatis lain di Sulawesi. Mirip dengan apa yang dia lakukan di Sumatera, Moerdani dan pasukannya meletakkan dasar bagi semua serangan terhadap Permesta yang kemudian menyerah pada bulan Juni 1958.

Moerdani memimpin pasukan dalam pertempuran-pertempuran melawan anggota Angkatan Laut Belanda sampai PBB ikut campur pada bulan Agustus 1962 dan memutuskan memberikan Irian Barat ke Indonesia.

Pada tahun 1984 bersama-sama dengan Panglima Kodam V/Jaya, Try Sutrisno, ia memerintahkan untuk menggunakan tindakan keras terhadap demonstran Islam di Tanjung Priok, Jakarta yang mengakibatkan jatuhnya korban.

Namun Jenderal Benny Moerdani mengklaim bahwa para demonstran telah terprovokasi dan tidak bisa dikendalikan secara damai dan sebagai hasilnya ia memerintahkan tindakan keras.

Karena hal ini, banyak kelompok Islam membencinya, namun Moerdani bersikeras bahwa dia tidak pernah ingin menganiaya umat Muslim,dan ia melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah Muslim di seluruh Jawa untuk memperbaiki hubungannya dengan kaum Muslim.

Sebagai Panglima ABRI (Panglima TNI) saat itu, Jenderal Benny Moerdani dianggap sebagai orang terkuat kedua di Indonesia saat, setelah Presiden Soeharto.

Jenderal Benny Moerdani merupakan jenderal yang jarang senyum dan berwajah agak sangar. Benny Moerdani adalah jenderal yang sangat ditakuti pada masa itu.

Jenderal Benny Moerdani cukup tegas mengkritik Soeharto soal korupsi dan nepotisme dalam rezimnya, sehingga hubungannya dengan Soeharto memburuk.

Jenderal Benny Moerdani meninggal di Jakarta pada 29 Agustus 2004 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

 

Itulah 4 Jenderal Kristen yang  pernah menjadi Panglima TNI.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!