4 Pahlawan Revolusi Beragama Kristen

 

Artikel ini membahas tentang 4 pahlawan revolusi beragama Kristen.

Pahlawan revolusi adalah para prajurit terbaik bangsa yang gugur oleh kebiadaban PKI pada tahun1965, karena ingin mengganti Pancasila sebagai dasar negara RI.

Jumlah pahlawan revolusi ada 10 orang, baik perwira tinggi/ jenderal maupun perwira menengah.

9 orang berasal dari TNI AD dan 1 orang dari kepolisian.

Baca juga: 20 Pahlawan Indonesia Terpopuler Beragama Kristen

Para pahlawan revolusi tersebut, sebagaimana keadaan Indonesia yang beragam saat ini, terdiri dari berbagai etnis dan agama yang ada di Indonesia.

Demikian juga dengan agama Kristen, terdapat sejumlah pahlawan revolusi yang ikut gugur dalam pemberontakan PKI.

Dari 10 orang pahlawan revolusi Indonesia tersebut, terdapat 4 orang yang beragama Kristen, atau 40 persen dari total jumlah pahlawan revolusi Indonesia.

Baca juga: 20 Jenderal Terbaik Indonesia Beragama Kristen

Artikel ini akan membahas tentang keempat pahlawan revolusi beragama Kristen tersebut.

Nah, siapa sajakah keempat pahlawan revolusi  beragama Kristen di Indonesia?

Berikut profil mereka yang sebagian besar diambil dan diolah dari Wikipedia.

 

1. Mayor Jenderal D.I. Panjaitan

Pahlawan revolusi beragama Kristen yang pertama adalah D.I. Panjaitan.

Mayor Jenderal TNI  Donald Isaac Panjaitan lahir di Balige, Sumatera Utara, pada 19 Juni 1925.

Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun.

Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI.

Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera.

Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Setelah berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, dan Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan, Panjaitan diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan.

Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya. Setelah mengikuti kursus Militer Atase tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat.

Tahun 1962, tidak lama setelah pulang dari Jerman, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad).

Jabatan inilah yang diembannya saat peristiwa G-30/S PKI yang merenggut nyawanya terjadi.

Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia berhasil membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk PKI (Partai Komunis Indonesia).

Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo.

Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan.

Pada jam-jam awal 1 Oktober 1965, sekelompok anggota Gerakan 30 September meninggalkan Lubang Buaya menuju pinggiran Jakarta.

Mereka memaksa masuk pagar rumah Panjaitan di Jalan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lalu menembak dan menewaskan salah seorang pelayan yang sedang tidur di lantai dasar rumah dua lantai dan menyerukan Panjaitan untuk turun ke bawah.

Dua orang pemuda, yaitu Albert Naiborhu dan Viktor Naiborhu terluka berat saat mengadakan perlawanan ketika D.I. Panjaitan diculik, tidak lama kemudian Albert meninggal.

Setelah penyerang mengancam keluarganya, Panjaitan turun dengan seragam yang lengkap, berdoa secara Kristen sambil berdiri untuk memenuhi panggilan tugas yang sebenarnya dimanupalasi oleh PKI.

Ia ditembak mati ketika sedang berdoa, dan tewas di tempat.

Mayat Panjaitan dimasukkan ke dalam truk dan dibawa kembali ke markas gerakan itu di Lubang Buaya.

Kemudian, tubuh dan orang-orang dari rekan-rekannya dibunuh tersembunyi di sebuah sumur tua.

Mayat ditemukan pada tanggal 4 Oktober, dan semua diberi pemakaman kenegaraan pada hari berikutnya. Panjaitan mendapat promosi pangkat (anumerta) menjadi Mayor Jenderal dan diberi gelar Pahlawan Revolusi.

Nama Panjaitan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, termasuk di Jakarta. Monumennya dibangun di kota kelahirannya, Balige.

Salah satu putra D.I. Panjaitan, Hotmangaraja, mengikuti jejak ayahnya sebagai tentara (mencapai pangkat Jenderal bintang tiga/Letnan Jenderal).

Ia terakhir bertugas di militer sebagai Pangdam Udayana di Bali dan Sekretaris Menkopolhukam RI.

Setelah pensiun dari dinas militer, Hotmangaraja ditunjuk sebagai duta besar RI di Perancis, yang dijalaninya hingga kini.

 

2. Kolonel Sugiyono

Pahlawan revolusi beragama Kristen yang kedua adalah Kolonel Sugiyono.

Kolonel R. Sugiyono Mangunwiyoto lahir di Gedaren, Gunung Kidul, Yogyakarta, pada 12 Agustus 1926.

Sugiyono bercita-cita menjadi seorang guru, karena itu ia melanjutkan studinya ke Sekolah Guru Pertama di Wonosari.

Namun sebelum ia lulus, tentara Jepang menduduki Indonesia dan memberlakukan wajib militer bagi anak-anak muda.

Sugiyono terpaksa mengubur impiannya untuk menjadi seorang guru dan mengikuti pendidikan tentara Jepang di Pembela Tanah Air (PETA).

Selepas menyelesaikan pendidikan di PETA, ia diangkat sebagai Budancho (komandan Peleton) di Wonosari. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan mengawali karier sebagai komandan seksi.

Ia diangkat menjadi ajudan Komandan Brigade 10 di bawah Letnan Kolonel Suharto (yang kelak menjadi presiden ke-2 RI) pada tahun 1947.

Pada 1 Maret 1949 terjadi serangan umum terhadap Yogyakarta pada peristiwa Agresi Militer II Belanda.

Ia turut serta dalam keberhasilan pasukan Indonesia dalam menghentikan agresi militer II tersebut yang mampu mengubah penilaian dunia internasional terhadap kekuatan RI.

Sugiyono juga ikut serta dalam Gerakan Operasi Militer (GOM) III dalam rangka memadamkan pemberontakan KNIL di wilayah Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Andi Aziz.

Karirnya terus menanjak, hingga pada bulan Juni tahun 1965 ia berpangkat Letnan Kolonel dan menjadi Kepala Staf komando Resort Militer (Korem) 072 Kodam VII Diponegoro Yogyakarta (sekarang Kodam IV/ Diponegoro Semarang) di bawah pimpinan Kolonel Katamso.

Pada tahun 1965 terjadi krisis yang diakibatkan oleh ulah PKI. Terjadi penyusupan yang dilakukan PKI baik di tubuh TNI maupun kekuatan politik lainnya.

PKI berhasil melakukan provokasi dan mobilisasi pada petani dan buruh di daerah seperti Yogyakarta yang menjadi arena percobaan mereka untuk mempersiapkan pemberontakan.

Mencuatlah peristiwa G-30S/PKI yang sangat mencekam di mana para perwira TNI di Jakarta menjadi korban penculikan, penganiayaan dan pembunuhan oleh para PKI.

Termasuk juga di Yogyakarta, karena getol melakukan perlawanan terhadap PKI, maka Sugiyono bersama Komandan Korem 072, Katamso, diculik dan dibunuh oleh PKI pada 1 Oktober 1965.

Jenazah mereka dimasukkan ke dalam lubang yang telah dipersiapkan oleh PKI.

Pencarian besar-besaran dilakukan untuk mencari kedua perwira tersebut hingga Jenazah mereka ditemukan pada 21 Oktober 1965 dalam keadaan rusak. Ketika meninggalnya, Sugiyono berusia 39 tahun.

Pada tanggal 22 Oktober mereka berdua dimakamkan di Taman makam Pahlawan Semaki Yogyakarta.

Pangkat mereka dinaikkan satu tingkat (Sugiyono menjadi Kolonel) dan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.

Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah kota di Indonesia.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!