4 Pahlawan Revolusi Beragama Kristen

 

3. Kapten Pierre Tendean

Pahlawan revolusi beragama Kristen yang ketiga adalah Kapten Pierre Tendean.

Pierre Andreas Tendean terlahir dari pasangan dr. A.L. Tendean, seorang dokter yang berdarah Minahasa, dan Cornet M.E., seorang wanita Indo yang berdarah Perancis, pada tanggal 21 Februari 1939 di Batavia (Jakarta).

Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara; kakak dan adiknya masing-masing bernama Mitze Farre dan Rooswidiati.

Tendean mengenyam sekolah dasar di Magelang, lalu melanjutkan SMP dan SMA di Semarang, tempat ayahnya bertugas.

Sejak kecil, ia sangat ingin menjadi tentara dan masuk akademi militer, walau orang tuanya ingin ia menjadi seorang dokter seperti ayahnya atau seorang insinyur.

Ia akhirnya bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung pada tahun 1958.

Setelah lulus dari akademi militer pada tahun 1962 dengan pangkat letnan dua, Tendean menjadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan.

Setahun kemudian, ia mengikuti pendidikan di sekolah intelijen di Bogor.

Setelah lulus pendidikan, ia ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) untuk menjadi mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia; ia bertugas memimpin sekelompok relawan di beberapa daerah untuk menyusup ke Malaysia.

Pada tanggal 15 April 1965, Tendean dipromosikan menjadi letnan satu, dan ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution (panglima angkatan bersenjata RI ketika itu).

Pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, pasukan Gerakan 30 September (G-30S/PKI) mendatangi rumah jenderal Nasution dengan tujuan untuk menculiknya.

Tendean yang sedang tidur di ruang belakang rumah Nasution terbangun karena suara tembakan dan ribut-ribut dan segera berlari ke bagian depan rumah.

Ia ditangkap oleh gerombolan PKI tersebut yang mengira dirinya sebagai Nasution karena kondisi rumah yang gelap.

Nasution sendiri berhasil melarikan diri dengan melompati pagar. Tendean lalu dibawa ke sebuah rumah di daerah Lubang Buaya, Jakarta, bersama enam perwira tinggi lainnya.

Ia ditembak mati di situ dan mayatnya dibuang ke sebuah sumur tua bersama enam jasad perwira lainnya.

Ketika meninggal, Tendean baru berumur 26 tahun.

Ia, bersama keenam perwira korban Gerakan 30 September lainnya, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Untuk menghargai jasa-jasanya, Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965 dan pangkatnya dinaikkan setingkat menjadi kapten.

Nama Pierre Tendean diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota di Indonesia, antara lain di Manado, Balikpapan, dan Jakarta.

 

4. Ajun Inspektur Dua Karel Satsuit Tubun

Pahlawan revolusi beragama Kristen yang terakhir adalah Ajun Inspektur Polisi Dua Karel Satsuit Tubun atau K.S. Tubun.

K.S. Tubun lahir di Tual, Maluku Tenggara, pada 14 Oktober 1928. Setelah dewasa ia memasuki pendidikan polisi.

Setelah lulus, ia ditempatkan di kesatuan brimob Ambon dengan Pangkat Agen Polisi Kelas Dua atau sekarang Bhayangkara Dua Polisi.

Lalu ia ditarik ke Jakarta dengan pangkat Agen Polisi Kelas Satu atau sekarang Bhayangkara Satu Polisi.

Ketika presiden Sukarno mencetuskan Trikora yang menuntut pengembalian Irian Barat (Papua) dari Belanda kepada Indonesia, K.S. Tubun ikut serta dalam operasi militer tersebut.

Setelah Irian Barat berhasil dikembalikan ke Indonesia, ia diberi tugas untuk mengawal kediaman Wakil Perdana Menteri, Dr. Johannes Leimena di Jakarta.

Karena mengganggap para pimpinan Angkatan Darat sebagai penghalang utama cita-citanya, maka PKI (Partai Komunis Indonesia) merencanakan penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah Perwira Angkatan Darat yang paling berpengaruh.

Salah satunya adalah Jenderal A.H. Nasution yang bertetangga dengan rumah Dr. J. Leimena.

Ketika gerakan PKI itu dimulai, K.S. Tubun kebagian tugas jaga pagi. Maka, ia menyempatkan diri untuk tidur.

Para penculik pun datang, pertama-tama mereka menyekap para pengawal rumah Dr. J. Leimena.

Karena mendengar suara gaduh maka K.S. Tubun pun terbangun, ia membawa senjata dan mencoba menembak para gerombolan PKI tersebut. Namun sayang, gerombolan itu menembaknya hingga tewas.

Atas segala jasa-jasanya selama ini, serta turut menjadi korban Gerakan 30 September, maka pemerintah memasukkannya sebagai salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Selain itu, pangkatnya dinaikkan menjadi Ajun Inspektur Dua Polisi.

Nama K.S. Tubun diabadikan menjadi nama sebuah Kapal Perang Indonesia, yakni KRI Karel Satsuitubun, nama bandara di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, serta nama jalan di sejumlah kota, seperti di Jakarta.

 

Itulah 4 pahlawan revolusi Indonesia beragama Kristen.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!