Loading...

4 Pandangan Tentang Kerajaan Seribu Tahun Dan Penjelasannya

Loading...

Artikel ini membahas tentang 4 pandangan tentang Kerajaan Seribu Tahun, dan penjelasannya.

Istilah Kerajaan Seribu Tahun adalah sebuah doktrin yang sangat penting bagi banyak gereja dari berbagai aliran.

Sebab hal ini berkaitan dengan akhir zaman, suatu hal yang sangat penting di Alkitab.

Kerajaan Seribu Tahun adalah masa pemerintahan Kristus sebelum akhir zaman, setelah kebangkitan orang percaya.

Baca juga: 4 Pandangan Tentang Tribulasi Dan Penjelasannya

Di Perjanjian Lama sebenarnya sudah ada dibicarakan tentang Kerajaan Seribu Tahun, misalnya di dalam kitab Daniel, walau istilah “seribu tahun” tidak disebutkan.

Namun Kerajaan Seribu Tahun atau kerajaan millenium ini baru menjadi nyata dalam kepercayaan orang Yahudi pada zaman intertestamental (masa antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru).

Dan hal ini semakin jelas lagi setelah disebutkan di dalam kitab Wahyu (Wahyu 20:1-6), kitab apokaliptik, yang menyingkap akhir zaman.

Baca juga: 4 Pandangan Tentang Pengangkatan Dan Penjelasannya

Akan tetapi, konsep tentang Kerajaan Seribu Tahun ternyata tidak mendapat penafsiran yang sama dari gereja Tuhan.

Gereja-gereja dari berbagai aliran dan denominasi memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang hal ini.

Pada umumnya gereja-gereja dapat dibagi menjadi dua bagian perihal pandangan tentang Kerajaan Seribu Tahun.

Baca juga: 4 Pandangan Tentang Perjamuan Kudus Dan Penjelasannya

Sebagian gereja percaya pada adanya Kerajaan Seribu Tahun secara harfiah, sedangkan sebagian lagi tidak percaya adanya Kerajaan Seribu Tahun secara harfiah.

Namun kedua macam pandangan tentang Kerajaan Seribu Tahun tersebut dapat dibagi lagi menjadi empat macam pandangan (dan inilah pembagian yang paling umum).

Baca juga: 7 Jenis Kepemimpinan Gereja Dan Penjelasannya

Dua di antaranya adalah pandangan yang percaya akan adanya Kerajaan Seribu Tahun secara harfiah, dan dua lagi adalah pandangan yang tidak percaya adanya Kerajaan Seribu Tahun secara harfiah.

Gereja-gereja Kristen dari berbagai aliran atau denominasi menganut salah satu dari 4 pandangan tentang Kerajaan Seribu Tahun  ini.

Lalu, apa sajakah keempat pandangan tentang Kerajaan Seribu Tahun tersebut? Berikut pembahasannya.

 

1. Amil 

Pandangan pertama tentang Kerajaan Seribu Tahun adalah Amil.

Amil adalah singkatan dari Amilenium. A artinya adalah tidak/tidak ada, Milenium artinya Seribu, artinya Kerajaan Seribu Tahun.

Jadi Amilenium atau disingkat Amil, artinya adalah tidak ada Kerajaan Seribu Tahun.

Tetapi yang dimaksud dengan “tidak ada” Kerajaan Seribu Tahun adalah dalam pengertian secara harfiah.

Secara kiasan, pandangan Amil percaya adanya Kerajaan Seribu Tahun.

Maksudnya, para penganut Amil tidak percaya bahwa Kerajaan Seribu Tahun ada secara harfiah di bumi. Yang mereka percayai adalah Kerajaan Seribu Tahun secara kiasan/rohani.

Menurut pandangan ini, Kerajaan Seribu Tahun yang disebut di dalam kitab Wahyu adalah dalam pengertian rohani.

Pandangan Amil menganggap bahwa kerajaan seribu tahun bukan nanti pada akhir zaman, setelah Tuhan Yesus datang, tetapi sekarang, yakni masa semenjak kedatangan Kristus pertama kali hingga kedatanganNya kedua kali, jadi tentu lebih dari seribu tahun.

Mereka melihat kerajaan seribu tahun sebagai simbol kemenangan gereja atas dosa, bukan sebuah kerajaan secara harfiah.

Pandangan ini populer sejak zaman bapa gereja Agustinus. Sekarang banyak dianut oleh gereja-gereja Calvinis, Lutheran dan Katolik.

Tetapi pandangan ini cukup lemah.

Pertama, dalam Wahyu 20:5 disebutkan bahwa kerajaan seribu tahun dimulai setelah “kebangkitan pertama”, yakni kebangkitan orang percaya.

Sekarang belum ada kebangkitan, berarti belum ada kerajaan seribu tahun.

Memang, pandangan ini menganggap bahwa arti kata “kebangkitan pertama” dalam ayat tersebut adalah kebangkitan rohani. Artinya adalah keadaan orang percaya yang telah diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus.

Namun, “kebangkitan pertama” yang dimaksud dalam Wahyu 20:5 adalah kebangkitan secara harfiah, yakni kebangkitan orang mati.

Kedua, dikatakan dalam Wahyu 20:2-3 bahwa pada masa kerajaan seribu tahun iblis akan diikat sehingga tidak bisa menyesatkan manusia.

Jika kerajaan seribu tahun adalah sekarang, seperti pandangan Amil, maka tentu iblis tidak akan “beraktivitas” saat ini.

Tetapi semua kita tahu, bahwa iblis saat ini tidaklah diikat, malahan iblis sedang gencar-gencarnya melakukan penyesatan di seluruh dunia.

 

2. Postmil 

Pandangan kedua tentang Kerajaan Seribu Tahun adalah Postmil.

“Post” artinya adalah “setelah”, dan “mil” atau milenium artinya adalah “seribu”.

Jadi Postmil atau Postmilenium adalah pandangan bahwa kerajaan seribu tahun akan hadir sebelum Kristus datang ke dunia, atau Kristus baru datang “setelah” kerajaan seribu tahun berakhir.

Jadi Kristus tidak ada dalam kerajaan seribu tahun.

Pandangan ini meyakini bahwa pada akhir zaman akan ada zaman keemasan gereja.

Mereka melihat dunia secara positif, akan ada pertobatan besar-besaran dan dunia akan dikristenkan.

Ajaran Kristen menjadi aturan di dunia. Setelah itu barulah Kristus datang.

Dasar bagi pandangan ini adalah nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama tentang masa keemasan kerajaan Allah pada akhir zaman (misalnya Yesaya 11).

Pandangan ini banyak dianut oleh para teolog injili maupun teolog-teolog liberal.

Namun pandangan ini sangat lemah.

Dunia semakin lama bukannya semakin baik, tetapi justru semakin buruk. Itulah yang membuat orang semakin meragukan pandangan ini.

Dan memang, pandangan ini boleh dikatakan sudah runtuh sejak perang dunia ke-2, sebab orang melihat bahwa dunia bukannya makin baik, tetapi makin buruk.

Lagipula, dalam Wahyu 20:4 dikatakan bahwa kerajaan seribu tahun adalah pemerintahan Kristus bersama gerejaNya, jadi pasti terjadi setelah kedatanganNya, bukan sebelum kedatanganNya, seperti pandangan Postmil.

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!