Teladan Maria ibu Yesus adalah hal-hal penting yang patut diteladani dari kisah hidup Maria ibu Yesus atau yang perlu kita tiru dalam hidup kita sebagai orang percaya.

Setidaknya ada 4 teladan Maria ibu Yesus yang patut kita pelajari, renungkan, dan terapkan dalam kehidupan kita dalam mengiring Tuhan Yesus.

Baca juga: 7 Fakta Tentang Orang Majus Yang Perlu Anda Tahu

Keempat teladan Maria ibu Yesus atau pelajaran dari Maria ibu Yesus ini merupakan sifat atau karakter Maria ibu Yesus yang patut kita praktekkan dalam kehidupan kekristenan kita.

Bagi banyak orang Kristen nama Maria, ibu Yesus, adalah nama yang populer.

Sebab Maria adalah tokoh penting di Alkitab dan kisah hidupnya adalah salah satu kisah tokoh Alkitab paling menginspirasi.

Baca juga: 7 Fakta Penting Tentang Petrus Menurut Alkitab

Kisah Maria memang sangat menarik untuk disimak.

Bukan saja karena ia salah satu tokoh penting di Alkitab, tetapi juga karena ia merupakan ibu Yesus, secara manusia.

Apalagi pada masa-masa Natal, kisah Maria pasti banyak dibahas.

Sebab Maria merupakan tokoh penting pada saat kelahiran Yesus.

Baca juga: 7 Fakta Penting Tentang Paulus Menurut Alkitab

Maria ibu Yesus merupakan perempuan sederhana yang tinggal di kota Nazaret, Galilea.

Ia masih gadis dan sedang bertunangan dengan Yusuf, ketika malaikat Gabriel datang kepadanya untuk memberitahukan bahwa ia akan melahirkan Juruselamat dunia.

Maria merupakan perempuan pilihan Tuhan untuk menjadi sarana keselamatan manusia, yang akan mengandung, melahirkan, dan mengasuh Sang Juruselamat hingga dewasaNya.

Kita tidak tahu mengapa Maria yang Tuhan pilih untuk menjadi sarana keselamatan manusia, itu adalah kedaulatan Allah.

Tetapi hal itu jelas merupakan anugerah Allah yang besar bagi Maria.

Lalu, apa sajakah keempat teladan Maria ibu Yesus yang patut kita terapkan dalam hidup kita?

Berikut penjelasannya.

 

1. Orang yang merendahkan diri di hadapan Tuhan

Teladan Maria ibu Yesus bagi kita orang percaya, yang pertama adalah: merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Suatu ketika malaikat Gabriel datang kepada Maria untuk memberitahukan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan Juruselamat dunia.

Ketika Maria mendengar bahwa ia akan mengandung, maka ia sangat terkejut.

Tentu hal ini sangat wajar sebab Maria saat itu belum menikah.

Hal inilah yang menjadi pergumulan batin bagi Maria.

Maria bertanya kepada Tuhan melalui malaikat Gabriel, bagaimana caranya dia bisa mengandung dan melahirkan anak jika dia belum bersuami?

Maria tidak hanya bertanya di dalam hatinya (ayat 29), melainkan bertanya langsung kepada malaikat yang membawa berita kepadanya.

Dan malaikat Gabriel pun mengatakan bahwa Maria akan mengandung Juruselamat dari Roh Kudus.

Jadi ia mengandung bukan dari manusia, karena Anak yang dikandungnya itu juga bukan manusia biasa, yang lahir dari hubungan suami-istri, tetapi Dia adalah Tuhan sendiri yang datang ke dunia.

Setelah malaikat Gabriel menjawab kegundahan hati Maria, maka Maria pun berkata, “Aku ini adalah hamba Tuhan.”

Ini adalah bentuk kerendahan hati seseorang di hadapan Tuhan.

Maria tahu memposisikan dirinya di hadapan Tuhan. Dia hanyalah seorang hamba yang tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan.

Maria yakin bahwa Tuhan itu berdaulat dan maha kuasa. Dia dapat melakukan apa pun yang kelihatannya mustahil bagi manusia.

Sebab, seperti yang disampaikan oleh malaikat Gabriel kepadanya, tidak ada yang mustahil bagi Allah (Lukas 1:37).

Allah lebih daripada sanggup untuk membuat Maria yang belum bersuami mengandung dari Roh Kudus.

Inilah yang disadari penuh oleh Maria.

Ketika kita diperhadapkan pada sebuah pergumulan hidup, kita dapat berkata seperti Maria, “Aku ini adalah hamba Tuhan.”

Inilah teladan Maria ibu Yesus yang patut diapresiasi.

 

2. Orang yang berserah di hadapan Tuhan

Teladan Maria ibu Yesus bagi kita orang percaya, yang kedua adalah: berserah di hadapan Tuhan.

Sejalan dengan sikap Maria yang merendahkan diri di hadapan Tuhan, Maria juga berserah kepada Tuhan.

Maria berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Ini bukanlah pasrah terhadap keadaan, melainkan memasrahkan diri kepada Tuhan.

Karena Maria sadar bahwa dia hanyalah seorang hamba, maka dia pun mempercayakan hidupnya kepada Tuhan.

Maria tahu bahwa Tuhan baik kepadanya, bahwa Dia tidak mungkin akan merencanakan hal yang buruk kepadanya. Dia yakin bahwa Tuhan dapat dipercayai.

Karena itulah dengan penuh keyakinan ia mempercayakan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan.

Jika kita percaya pada kasih dan kuasa Tuhan, maka seharusnya kita tidak perlu lagi ragu untuk memasrahkan seluruh hidup kita kepadaNya.

 

Tinggalkan Balasan