5 Alasan Mengapa Orang Kristen Tidak Berpoligami

Artikel ini membahas tentang alasan mengapa orang Kristen tidak boleh berpoligami atau  memiliki lebih dari satu istri.

Di Alkitab Perjanjian Lama banyak dicatat kasus poligami atau orang-orang yang mempunyai lebih dari satu istri pada saat yang bersamaan.

Banyak tokoh Alkitab yang berpoligami. Ada yang mempunyai dua istri, tiga istri, lima istri, belasan istri, puluhan istri, bahkan seribu istri!, seperti raja Salomo.

Baca juga: 10 Fakta Tentang Poligami Menurut Alkitab

Istri-istri tersebut ada yang menjadi istri yang sah, yang setara kedudukannya dengan istri pertama.

Tetapi ada juga istri-istri, yang kedua dan seterusnya, yang kedudukannya lebih rendah daripada istri yang sah.

Inilah yang disebut sebagai gundik di Alkitab.

Hal ini telah sering menimbulkan pertanyaan: Apakah Tuhan menghendaki umatNya untuk berpoligami?

Baca juga: 25 Tokoh Alkitab Yang Berpoligami

Jika tidak, mengapa Ia membiarkan umatNya berpoligami?

Dan bagaimanakah pandangan Alkitab Perjanjian Baru tentang poligami?

Bagaimana pandangan Tuhan Yesus dan para rasulNya tentang poligami?

Baca juga: 5 Alasan Mengapa Orang Kristen Tidak Disunat

Apakah ada tokoh Alkitab Perjanjian Baru yang berpoligami?

Bagaimanakah seharusnya pandangan Kristen/Katolik tentang poligami?

Tentu saja sebagai orang Kristen kita tidak boleh berpoligami, sekalipun banyak tokoh Alkitab di Perjanjian Lama yang berpoligami.

Baca juga: 5 Alasan Mengapa Tidak Ada Makanan Haram Dalam Kristen

Ada banyak alasan untuk hal ini.

Artikel ini akan memberikan 5 alasan mengapa orang Kristen tidak boleh berpoligami atau memiliki lebih dari satu istri dalam waktu bersamaan.

Apa saja kelima alasan tersebut?

Berikut pembahasannya.

 

1. Rancangan Awal Tuhan Bagi Manusia Adalah Monogami, Bukan Poligami

Alasan pertama mengapa orang Kristen tidak boleh berpoligami atau memiliki lebih dari satu istri adalah karena rancangan awal Tuhan bagi manusia adalah monogami, bukan poligami.

Sejak awal penciptaan manusia, rencana Tuhan bagi pernikahan manusia bukanlah poligami atau banyak istri, tetapi monogami atau satu istri.

Hal itu nyata dari penciptaan seorang perempuan (Hawa) bagi Adam, manusia pertama yang Tuhan ciptakan (Kejadian 2).

Tuhan tidak menciptakan dua, tiga, atau banyak perempuan bagi Adam, melainkan hanya satu perempuan, yakni Hawa.

Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan manusia yang ideal, yang sesuai dengan rancangan Tuhan, adalah monogami, bukan poligami.

Memang, manusia setelah Adam banyak yang mempraktekkan poligami.

Dan sejak Lamekh, manusia pertama di bumi yang berpoligami (Kejadian 4:19), makin banyak lagi orang yang berpoligami.

Di sisi lain, Tuhan tidak secara eksplisit melarang poligami terjadi.

Tidak ada ayat Alkitab tentang larangan berpoligami yang ditujukan kepada umat Israel secara umum, kecuali larangan poligami bagi para raja Israel (Ulangan 17:17).

Malahan Tuhan memberi aturan atau rambu-rambu dalam berpoligami, sehingga praktek poligami tersebut tidak merugikan istri kedua atau istri-istri lainnya di luar istri pertama, serta anak-anak mereka (Keluaran 21:10; Ulangan 21:15-17).

Tetapi, sekalipun Tuhan tidak secara eksplisit melarang poligami, bahkan memberi aturan tentang poligami, tidak berarti bahwa Tuhan menghendaki poligami terjadi.

Yang benar adalah, sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan mengizinkan banyak pelanggaran terjadi, termasuk poligami, sekalipun hal itu tidak disukaiNya.

Tetapi setelah Tuhan Yesus datang, semua orang harus bertobat dari dosa dan pelanggarannya (lihat poin 3 di bawah).

Dan untuk melindungi umatNya dari akibat buruk poligami, yang dilakukan umatNya dengan melanggar kehendakNya, maka Ia menetapkan sebuah aturan.

 

2. Poligami Menimbulkan Banyak Masalah

Alasan kedua mengapa orang Kristen tidak boleh berpoligami atau memiliki lebih dari satu istri adalah karena poligami menimbulkan banyak masalah.

Kendati Tuhan tidak secara eksplisit melarang poligami, namun tidak berarti bahwa poligami adalah pilihan yang baik dalam berkeluarga.

Ada banyak masalah yang timbul akibat mempraktekkan poligami.

Salah satunya adalah timbulnya saling cemburu dan persaingan di antara istri-istri orang yang berpoligami.

Sebagai contoh adalah istri-istri Yakub, kakak beradik Lea dan Rahel (Kejadian 29-30).

Kemudian poligami juga bisa menimbulkan sakit hati di antara istri-istri atau salah satu di antaranya.

Contohnya adalah istri-istri Abraham, di mana Hagar yang hamil menjadi sombong terhadap Sara yang mandul sehingga Sara menindas Hagar (Kejadian 16).

Hal yang sama terjadi pada istri-istri Elkana, di mana Penina menyakiti hati Hana yang mandul (1 Samuel 1).

Masalah lainnya yang timbul dari poligami adalah permusuhan bahkan pembunuhan di antara anak-anak dari istri-istri yang berpoligami.

Salah satu contohnya adalah anak-anak Gideon, di mana anak gundik Gideon, Abimelekh,  membunuh ketujuh puluh anak laki-laki Gideon, hanya satu yang terluput (Hakim-hakim 9).

Atau dalam kasus Gilead, di mana anak-anaknya dari istri tertua mengusir anak dari gundiknya, Yefta (Hakim-hakim 11).

Demikian juga dengan raja-raja Israel/Yehuda, yang dengan jelas Tuhan larang untuk berpoligami (lihat poin 2 di atas), harus menerima akibat buruk dari berpoligami.

Anak-anak Daud dari banyak istrinya saling membunuh dan juga terjadi pemerkosaan di antara mereka (2 Samuel 13; 1 Raja-raja 2).

Gundik-gundik Daud sendiri diperkosa oleh anak kandungnya, Absalom (2 Samuel 16).

Salomo juga sangat “menderita” akibat berpoligami.

Salomo, yang mempunyai 700 istri dan 300 gundik, harus membayar mahal praktek poligaminya.

Ketika ia sudah tua, istri-istrinya, yang merupakan para penyembah berhala, membawanya kepada allah-allah mereka dan meninggalkan Allah yang hidup.

Akibatnya Tuhan murka kepada Salomo dan “mengoyakkan” 10 suku Israel dari kerajaannya, sehingga keturunan Salomo hanya memerintah atas suku Yehuda dan Benyamin (1 Raja-raja 12:1-24).

 

3. Tuhan Yesus Mengajarkan Orang Kristen Untuk Bermonogami 

Alasan ketiga mengapa orang Kristen tidak boleh berpoligami atau memiliki lebih dari satu istri adalah karena Tuhan Yesus mengajarkan orang Kristen untuk bermonogami.

Injil Markus mencatat bahwa dalam sebuah tanya jawab dengan orang-orang Farisi, Tuhan Yesus secara tersirat mengatakan bahwa rancangan awal Allah bagi manusia adalah monogami, bukan poligami (Markus 10:6-8).

Di sini Tuhan Yesus sedang menunjuk pada awal penciptaan Adam dan Hawa dalam kitab Kejadian, yang memang merupakan pernikahan monogami (lihat poin 1 di atas).

Hal ini berarti bahwa sejak kedatangan Tuhan Yesus ke dunia, rancangan Allah semula bagi manusia, yakni pernikahan monogami, telah dipulihkan.

Kini semua orang harus bertobat dari dosa dan pelanggarannya (Kisah Para Rasul 17:30), termasuk dosa poligami.

Dengan demikian pernikahan monogami, bukan poligami, merupakan norma yang seharusnya  berlaku bagi orang Kristen.

Tuhan Yesus adalah Kepala gereja, karena itu ajaranNya menjadi norma yang berlaku bagi gerejaNya atau orang Kristen, termasuk dalam hal poligami.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!