Loading...
Loading...

5 Alasan Mengapa Orang Kristen Tidak Disunat

Artikel ini akan membahas tentang 5 alasan mengapa orang Kristen tidak disunat.

Istilah sunat pasti sudah tidak asing lagi bagi kita.

Sunat adalah pemotongan kulit khatan laki-laki, baik untuk tujuan kesehatan, maupun untuk tujuan rohani/keagamaan.

Sunat adalah suatu hukum atau peraturan yang sangat penting dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Lama.

Baca juga: 10 Fakta Tentang Sunat Menurut Pandangan Kristen

Sunat begitu identik dengan bangsa Israel pada zaman Perjanjian Lama, bahkan pada zaman Perjanjian Baru.

Namun bagi orang Kristen di Perjanjian Baru, sunat bukanlah suatu hal yang penting.

Faktanya, kebanyakan orang Kristen tidak disunat.

Baca juga: 10 Fakta Tentang Makanan Halal Dan Haram Menurut Pandangan Kristen

Hal ini menjadi pertanyaan bagi banyak orang, baik bagi orang-orang Kristen itu sendiri, maupun bagi orang-orang lain di luar Kristen.

Mereka kerap bertanya: Mengapa orang Kristen tidak disunat?

Bukankah Alkitab mengajarkan sunat?

Baca juga: 10 Fakta Tentang Poligami Menurut Alkitab

Apakah firman Allah sudah berubah, sehingga orang Kristen tidak disunat?

Dan bukankah Yesus, yang menjadi teladan utama orang Kristen, juga disunat?

Lalu apa alasannya mengapa orang Kristen tidak disunat?

Baca juga: 10 Fakta Tentang Sabat Menurut Alkitab

Nah, artikel ini berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Di sini akan diberikan 5 alasan mengapa orang Kristen tidak disunat.

Alasan-alasan ini adalah berdasarkan ayat-ayat Alkitab sendiri, baik di Perjanjian Lama maupun – dan terutama – di Perjanjian Baru.

Berikut pembahasannya.

 

1. Tuhan Yesus Telah Menggenapi Sunat

Alasan pertama mengapa orang Kristen tidak disunat adalah karena Tuhan Yesus sudah menggenapi sunat.

Salah satu tujuan kematian Tuhan Yesus di kayu salib adalah untuk menggenapi seluruh Hukum Taurat Yahudi (Matius 5:17), termasuk sunat.

Menggenapi artinya adalah melakukannya secara sempurna.

Sejak Taurat diberikan kepada manusia (bangsa Israel), tidak ada seorang pun manusia yang mampu melakukannya secara sempurna.

Karena itulah Tuhan Yesus datang untuk melakukannya dan menggenapinya bagi kita (Roma 8:3).

Jika Tuhan Yesus telah menggenapi Taurat, termasuk sunat, maka kita tak perlu lagi menyunatkan diri secara harfiah, sunat secara jasmani.

Sekalipun Yesus disunat, tetapi orang Kristen tidak lagi wajib disunat.

Menjadi pengikut Tuhan Yesus tidak berarti harus meneladani “semua” yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.

Kita tidak perlu disalibkan untuk meneladani Tuhan Yesus, meski Dia disalibkan!

Tetapi kita harus melakukan apa yang diajarkanNya.

 

2. Ketika Dibaptis, Orang Kristen Telah Disunat

Alasan kedua mengapa orang Kristen tidak disunat adalah karena ketika dibaptis orang Kristen sudah disunat.

Meski orang percaya/orang Kristen tidak perlu disunat secara harfiah, namun kita perlu, bahkan harus, disunat secara rohani.

Dan sunat rohani itu telah terjadi melalui kematian Tuhan Yesus di kayu salib.

Dan ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, maka otomatis kita telah mengalami sunat rohani, sunat di hati.

Itulah sebabnya rasul Paulus berkata bahwa sebenarnya kitalah (orang-orang percaya), orang-orang yang bersunat, bukan mereka yang bersunat secara lahiriah (Filipi 3:2-3).

Sunat itu dilambangkan oleh baptisan air.

Sebagaimana sunat adalah penanggalan bagian tubuh tertentu, demikian juga baptisan air adalah penanggalan tubuh yang berdosa (Kolose 2:11-14).

Jadi jika dalam Perjanjian Lama tanda perjanjian Allah dengan umat Israel adalah sunat, maka dalam Perjanjian Baru tanda perjanjian Allah dengan gereja adalah baptisan air.

Jadi orang-orang Kristen adalah orang-orang yang bersunat, tetapi sunat secara rohani, sunat di hati, bukan sunat secara harfiah, sunat di badan.

 

3. Sunat Tidak Dapat Membenarkan/Menyelamatkan Seseorang

Alasan ketiga mengapa orang Kristen tidak disunat adalah karena sunat tidak dapat membenarkan atau menyelamatkan seseorang.

Sunat tidak pernah dirancang untuk menyelamatkan seseorang.

Tidak ada orang yang bisa diselamatkan karena melakukan Hukum Taurat, termasuk karena menuruti perintah untuk disunat (Galatia 3:11).

Sejumlah orang Kristen Yahudi di Yudea pernah mengajarkan ajaran sesat di Antiokhia (jemaat mayoritas non-Yahudi) dengan mengatakan bahwa untuk bisa diselamatkan, maka seseorang harus disunat.

Karena itu gereja melakukan “konsili” atau rapat umum para pemimpin (rasul-rasul dan para penatua) di gereja Yerusalem.

Gereja yang melakukan rapat di sini adalah perwakilan gereja Antiokhia dan gereja Yerusalem.

Namun hasil sidang itu dikirimkan kepada gereja-gereja lainnya di berbagai kota.

Dan pada sidang Yerusalem ini diambil keputusan penting yang menyangkut orang-orang percaya dari bangsa-bangsa lain/non-Yahudi, yakni mereka “tidak harus disunat” dan melakukan Hukum Taurat Musa agar bisa diselamatkan.

Mereka hanya diberi beberapa aturan demi kelancaran hubungan mereka dengan orang-orang Kristen Yahudi (Kisah Para Rasul 15:1-34).

Menarik untuk disimak, keputusan tersebut ternyata bukan hanya keputusan para pemimpin gereja (yang semuanya adalah orang Yahudi yang pasti telah disunat), melainkan juga keputusan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 15:28).

Jadi bahwa sunat tidak dapat menyelamatkan manusia pada dasarnya bukanlah ketetapan manusia, tetapi ketetapan Allah.

Dan hal bersunat atau tidak bersunat tidak berguna bagi keselamatan seseorang, sebab hanya iman dan menjadi ciptaan baru yang bisa menyelamatkannya (Galatia 5:6; 6:15).

Artinya, jika seseorang tidak percaya kepada Tuhan Yesus, maka dia tidak akan diselamatkan, sekalipun ia telah disunat.

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!