Loading...
Loading...

5 Cara Baptisan Air Yang Benar Menurut Alkitab

Artikel ini membahas tentang 5 cara baptisan air yang benar menurut Alkitab.

Baptisan air adalah salah satu sakramen yang sangat penting bagi gereja dari seluruh denominasi atau aliran.

Baptisan Air merupakan satu dari 7 sakramen gereja Katolik, dan satu dari 2 sakramen yang diakui oleh gereja-gereja Kristen Protestan.

Dalam tradisi Kristen Protestan, sakramen diartikan sebagai “tanda lahiriah yang nampak, yang ditetapkan oleh Kristus, untuk menyatakan dan menjanjikan suatu berkat rohani.”

Baca juga: 10 Fakta Tentang Baptisan Air Menurut Alkitab

Memang, gereja-gereja Kristen mempunyai sedikit perbedaan akan hakekat, makna, atau tata cara dari Baptisan Air tersebut.

Namun seluruh aliran/denominasi gereja Kristen melakukan Baptisan Air.

Baptisan air pertama kali muncul di Perjanjian Baru, tatkala Yohanes Pembaptis menyerukan kepada  orang-orang Yahudi untuk bertobat d,an memberi diri dibaptis (Matius 3:1-11).

Baca juga: 7 Makna Baptisan Air Menurut Alkitab

Diyakini bahwa baptisan air, yang pertama kali dibawakan oleh Yohanes pembaptis, diambil dari tradisi kaum esen, sebuah sekte Yahudi yang radikal.

Namun demikian, akar-akarnya telah ada di Perjanjian Lama sebagai bentuk pentahiran/pembasuhan atau penyucian dosa, walaupun belum dipraktekkan dengan baptisan air.

Baca juga: 7 Jenis Baptisan Menurut Alkitab Dan PenjelasanNya

Tuhan Yesus, sebelum naik ke surga, memberi perintah kepada murid-muridNya untuk memberitakan Injil dan membaptis mereka yang percaya kepadaNya (Matius 28:19).

Hal ini dituruti oleh murid-muridNya. Mereka memberitakan Injil di berbagai tempat dan di dalam berbagai kesempatan serta membaptis mereka yang percaya.

Baca juga: 4 Makna Perjamuan Kudus Menurut Alkitab

Seperti telah disebut di atas, gereja-gereja masa kini melakukan baptisan air dengan cara yang berbeda-beda.

Hal ini disebabkan oleh cara pandang yang berbeda dari masing-masing gereja tersebut terhadap ayat-ayat Alkitab tentang baptisan air.

Tetapi bagaimanakah sebenarnya cara baptisan air yang benar dan alkitabiah/sesuai dengan Alkitab?

Berikut 5 cara baptisan air yang benar menurut Alkitab.

 

1. Orang Yang Akan Dibaptis Harus Sudah Percaya Kepada Tuhan Yesus

Cara baptisan air yang benar menurut Alkitab, yang pertama adalah: orang yang akan dibaptis harus sudah percaya kepada Tuhan Yesus.

Di Alkitab, orang-orang yang dibaptis adalah mereka yang telah percaya kepada Tuhan Yesus atau kepada Injil yang diberitakan.

Sebagai contoh, orang-orang Samaria yang memberi diri dibaptis setelah percaya kepada Tuhan Yesus yang diberitakan oleh Filipus, termasuk Simon tukang sihir (Kisah Para Rasul 8:12-13).

Atau sida-sida Etiopia, yang dibaptis oleh Filipus setelah percaya kepada Tuhan Yesus yang diberitakannya (Kisah Para Rasul 8:36-38).

Para rasul atau murid-murid Tuhan Yesus di Perjanjian Baru tidak pernah membaptis orang yang tidak/belum percaya kepadaNya.

Orang-orang yang “percaya” tentu adalah orang-orang yang telah dapat mengambil keputusan sendiri, apakah ia menerima (percaya) Injil yang diberitakan kepadanya ataukah menolaknya (tidak percaya).

Karena itu baptisan terhadap bayi/anak-anak tidak terdapat di Alkitab. Sebab mereka belum bisa mengambil keputusan sendiri, untuk percaya atau tidak percaya kepada Injil, seperti halnya orang dewasa.

Sekalipun di Alkitab terdapat sejumlah rujukan pada baptisan sekeluarga/seisi rumah (misalnya Kisah Para Rasul 16:15), namun belum tentu hal ini berarti bahwa bayi/anak-anak juga ikut dibaptis.

Sebab dari Kisah Para Rasul 16:32-34 dapat kita ketahui bahwa seisi keluarga yang dibaptis adalah seisi keluarga yang percaya. Jadi tentu adalah orang-orang dewasa.

Dengan demikian harus disimpulkan bahwa orang-orang yang dibaptis di Alkitab adalah orang-orang dewasa yang telah percaya kepada Tuhan Yesus.

 

2. Orang Yang Akan Dibaptis Harus Bersedia Bertobat 

Cara baptisan air yang benar menurut Alkitab, yang kedua adalah: orang yang akan dibaptis harus bersedia bertobat.

Bertobat maksudnya adalah meninggalkan cara hidup yang lama, yang hidup di dalam dosa, serta hidup dengan cara hidup yang baru, yakni hidup yang memuliakan Allah.

Jadi sebelum dibaptis, seseorang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus harus punya tekad dan komitmen untuk bertobat dari dosa-dosanya dan hidup selaras dengan firman dan kehendak Allah.

Ketika rasul Petrus berkhotbah di hadapan orang-orang Yahudi yang menghadiri hari raya Pentakosta di Yerusalem, maka mereka sangat terharu.

Mereka bertanya kepada para rasul apa yang harus mereka perbuat.

Maka Petrus menjawab agar mereka bertobat dan memberi diri dibaptis (Kisah Para Rasul 2:38).

Hasilnya, ada 3000 orang Yahudi yang bertobat dan dibaptis pada saat itu.

Jelas, dibutuhkan kemauan untuk bertobat sebelum seseorang dibaptis, bukan hanya percaya.

Tidak boleh terjadi seseorang dibaptis jika orang tersebut tidak ada kesungguhan untuk bertobat dari dosa-dosanya.

 

3. Orang Yang Akan Dibaptis Harus Mengerti Arti Baptisan Dan Mengapa Dia Dibaptis 

Cara baptisan air yang benar menurut Alkitab, yang ketiga adalah: orang yang akan dibaptis harus mengerti arti baptisan dan alasan ia dibaptis.

Maksudnya, orang yang mau dibaptis itu harus tahu, mengerti dan sadar mengapa dia perlu dibaptis.

Faktanya ada beberapa orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, bersedia menjadi pengikut Tuhan Yesus, tetapi tidak mau memberi diri dibaptis.

Alasannya macam-macam.

Ada yang tidak ingin imannya kepada Tuhan Yesus diketahui oleh orang lain.

Ada lagi yang berpikir bahwa baptisan tidak menyelamatkan sehingga tidak masalah kalau dia tidak dibaptis.

Dan ada juga yang menganggap bahwa orang yang dibaptis adalah orang yang sudah kudus dan tidak bisa berbuat dosa lagi, sehingga ia takut jika setelah dibaptis masih berbuat dosa.

Di sisi lain, ada juga orang yang telah percaya dan mau memberi diri dibaptis, tetapi tidak mengerti apa itu baptisan dan mengapa ia dibaptis.

Untuk itulah orang yang akan dibaptis perlu diberi semacam pengarahan akan makna baptisan dan pentingnya hal tersebut dilakukan.

Lamanya “pengarahan” tersebut bisa disesuaikan, tetapi tidak boleh terlalu lama.

Dalam beberapa contoh yang ada di Alkitab, ketika seseorang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, dia langsung segera dibaptiskan, tanpa ada penundaan.

Yang terpenting adalah bahwa seseorang sudah mengerti arti baptisan dan mengapa ia dibaptis.

Sida-sida Etiopia yang dibaptis oleh Filipus secara sadar meminta dibaptis setelah ia percaya kepada Tuhan Yesus –  dan tentu setelah ia mengerti arti baptisan dan pentingnya ia dibaptis (Kisah Para Rasul 8:36-38).

Jadi seseorang baru boleh dibaptis setelah orang tersebut mengerti arti baptisan dan mengapa ia harus dibaptis.

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!