Categories: KEKRISTENAN

5 Jenderal Kristen Yang Diangkat Jadi Pahlawan

Artikel ini membahas tentang 5 jenderal Kristen yang diangkat jadi pahlawan Indonesia.

Ada 5 jenderal Kristen yang diangkat jadi pahlawan Indonesia, baik Protestan maupun Katolik.

Sebagai bangsa yang lama dijajah oleh bangsa lain, lebih dari 350 tahun, Indonesia melahirkan banyak pejuang, baik yang langsung bertempur di lapangan, pengambil kebijakan dalam peperangan maupun mereka yang membantu melawan penjajah lewat perundingan.

Baca juga: 20 Pahlawan Indonesia Terpopuler Beragama Kristen

Beberapa dari para pejuang ini kemudian ditetapkan sebagai pahlawan.

Selain itu, dalam sejarahnya Indonesia juga sering mengalami pemberontakan dari dalam negeri sendiri, dari antara sesama anak bangsa, yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan RI atau ingin mengganti Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara, seperti yang pernah dicoba oleh pihak PKI (Partai Komunis Indonesia).

Mereka yang menentang para pemberontak ini juga melahirkan beberapa pahlawan.

Bahkan para pahlawan juga termasuk mereka yang tak pernah mengangkat senjata di medan perang, tapi dianggap punya jasa yang sangat besar bagi bangsa dan Negara Indonesia, melampaui tugas yang dibebankan kepada mereka.

Baca juga: 7 Pahlawan Kristen Yang Gugur Di Medan Tempur

Para pahlawan tersebut, sebagaimana keadaan Indonesia yang beragam saat ini, terdiri dari berbagai etnis dan agama yang ada di Indonesia.

Demikian juga dengan agama Kristen, baik Kristen Protestan maupun Kristen Katolik, terdapat banyak pahlawan yang ikut berjuang melawan penjajah atau para pemberontak yang ingin merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia atau mengganti Pancasila sebagai dasar Negara, ataupun mereka yang dinilai sangat berjasa bagi bangsa dan negara melebihi tugas yang mereka emban.

Dari sekitar 160-an pahlawan Indonesia yang ditetapkan pemerintah hingga saat ini (jumlah pahlawan akan bertambah terus), setidaknya terdapat 30-an yang beragama Kristen Protestan dan Kristen Katolik, atau sekitar 20 persen dari total jumlah pahlawan Indonesia.

Baca juga: 4 Pahlawan Revolusi Beragama Kristen

Dari 30-an pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katolik, di sini dicantumkan 5 di antaranya, yakni 5 jenderal Kristen yang diangkat jadi pahlawan Indonesia.

Nah, siapakah 5 jenderal Kristen yang diangkat jadi pahlawan Indonesia?

Berikut profil mereka.

 

1. Jenderal Urip Sumoharjo

Jenderal Kristen yang diangkat jadi pahlawan Indonesia, yang pertama adalah Jenderal Urip Sumoharjo.

Urip lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 22 Februari 1893, dari keluarga non-Kristen. Nama aslinya adalah Muhammad Siddik. Tetapi setelah dewasa, Urip menjadi seorang Kristen.

Ia adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari pasangan Sumoharjo, seorang kepala sekolah, dan istrinya, putri dari Raden Tumenggung Widjojokoesoemo, bupati Trenggalek, Jawa Timur.

Pada tahun kedua sekolahnya, Siddik jatuh dari pohon kemiri dan kehilangan kesadaran. Kakeknya, Widjojokoesoemo menyarankan agar nama Siddik diganti dengan Urip, yang berarti “selamat”.

Urip kecil adalah anak nakal yang sudah memperlihatkan kemampuan memimpin sejak usia dini. Orang tuanya menginginkan dirinya untuk mengikuti jejak kakeknya sebagai bupati, oleh sebab itu, setamat sekolah dasar, ia dikirim ke Sekolah Pendidikan Pegawai Pribumi (OSVIA) di Magelang.

Ibunya wafat saat ia menjalani tahun kedua di sekolah, dan Urip berhenti sekolah untuk mengikuti pelatihan militer di Batavia  (Jakarta). Setelah lulus pada tahun 1914, ia menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara pemerintah kolonial Belanda. Bertugas selama hampir 25 tahun, ia ditempatkan di tiga pulau berbeda dan dipromosikan beberapa kali, dan akhirnya menjadi perwira pribumi dengan pangkat tertinggi di KNIL.

Urip mengundurkan diri dari jabatannya sekitar tahun 1938 setelah berselisih dengan Bupati Purworejo, tempat ia ditempatkan. Urip dan istrinya, Rohmah, kemudian pindah ke sebuah desa di dekat Yogyakarta. Di situ mereka membangun sebuah vila dan kebun bunga yang luas.

Setelah Jerman Nazi menginvasi Belanda pada bulan Mei 1940, Urip dipanggil kembali untuk bertugas. Ketika Kekaisaran Jepang menduduki Hindia Belanda dua tahun kemudian, Urip ditangkap dan ditahan di kamp tawanan perang selama tiga setengah bulan. Ia melalui sisa masa pendudukan Jepang di vilanya.

Pada tanggal 14 Oktober 1945, beberapa bulan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Urip ditetapkan sebagai kepala staff dan pemimpin sementara angkatan perang yang baru dibentuk. Urip berupaya untuk menyatukan kekuatan kelompok-kelompok militer yang terpecah-pecah di Indonesia.

Ketika Jenderal Sudirman terpilih sebagai panglima angkatan perang, Urip tetap menjabat sebagai kepala staff, dan mereka berdua sama-sama mengawasi pembangunan angkatan perang pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Karena muak dengan sikap pemerintah yang menurutnya kurang percaya pada militer, Urip mengajukan pengunduran dirinya, namun tetap bertugas sebagai penasihat Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Presiden, Muhammad Hatta.

Pada 17 November 1948, Urip ambruk dan wafat di kamarnya di Yogyakarta akibat serangan jantung. Ia dikebumikan keesokan harinya di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta dan secara anumerta dipromosikan sebagai Jenderal.

Urip menerima sejumlah tanda kehormatan dari pemerintah secara anumerta (setelah meninggal), termasuk Bintang Sakti (1959), Bintang Mahaputra (1960), Bintang Republik Indonesia Adipurna (1967), dan Bintang Kartika Eka Pakci Utama (1968). Pada tanggal 10 Desember 1964, Urip ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 314 Tahun 1964.

Pada tanggal 22 Februari 1964, akademi militer Indonesia di Magelang mendedikasikan sebuah tugu untuk dirinya, dan menggambarkan Urip sebagai “Seorang putra Indonesia yang mengagungkan karya daripada kata, yang mengutamakan Dharma daripada minta.”

Gereja Katholik di akademi tersebut juga mempersembahkan sebuah dedikasi untuk Urip sejak tahun 1965, yang berawal dari perbincangan antara Rohmah dan teman misionarisnya.

Beberapa jalan juga dinamakan untuk menghormati Urip, termasuk di kampung halamannya, Purworejo, di Yogyakarta, dan di ibu kota Jakarta.

2. Letnan Jenderal T.B. Simatupang

Jenderal Kristen yang diangkat jadi pahlawan Indonesia, yang kedua adalah Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama T.B. Simatupang.

T.B. Simatupang lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, pada 28 Januari 1920 sebagai anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai pegawai kantor pos dan telegraf (PTT: Post, Telefoon en Telegraaf) yang sering berpindah tempat tugas, mulai dari Sidikalang, Siborong-borong, kemudian ke Pematang Siantar.

T.B. Simatupang menempuh pendidikannya di HIS Pematangsiantar dan lulus pada 1934. Ia melanjutkan sekolahnya di MULO Dr. Nommensen di Tarutung pada tahun 1937, lalu ke AMS di Salemba, Batavia (Jakarta) dan selesai pada 1940. Saat bersekolah di Batavia, Simatupang terbilang siswa yang pintar, termasuk fasih berbahasa Belanda.

Pada bulan Mei 1940, Negeri Belanda diinvasi oleh pasukan Nazi Jerman, Angkatan Darat Kerajaan Belanda (KL, Koninlijke Leger) dibubarkan dan senjatanya dilucuti, demikian pula akademi militer kerajaan (KMA: Koninlijke Militaire Academie) di Breda dan diungsikan ke Bandung, Hindia Belanda. Simatupang yang baru menyelesaikan pendidikan menengahnya di AMS Batavia, memutuskan mengikuti ujian masuk KMA.

Ia lulus KMA pada tahun 1942 dengan mendapatkan gelar taruna mahkota dengan mahkota perak karena dinilai berprestasi khususnya di bidang teori. Namun belum sempat ditugaskan di KNIL (Koninlijke Nederlands Indische Leger), pasukan Jepang keburu merebut kekuasaan di Hindia Belanda dan KNIL pun dibubarkan dan senjatanya dilucuti. Simatupang dan beberapa temannya sesama perwira direkrut Jepang dan ditempatkan di Resimen Pertama di Jakarta.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Simatupang bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), dan kemudian turut bergerilya bersama Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman melawan pasukan Belanda yang berniat menguasai kembali bekas koloninya tersebut. Selama perang kemerdekaan Indonesia tersebut, ia pun diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang (WAKSAP) RI pada tahun 1948 hingga 1949.

Dalam kedudukannya tersebut, Simatupang ikut mewakili TNI dalam delegasi Republik Indonesia menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Misi utama mereka adalah mendesak Belanda menghapus KNIL dan menjadikan TNI sebagai inti kekuatan tentara Indonesia. Ketika Jenderal Sudirman wafat pada tahun 1950, Simatupang dalam usia yang sangat muda (29 tahun!) diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI (KSAP) dengan pangkat Mayor Jenderal hingga tahun 1953.

Presiden Sukarno kemudian menghapuskan jabatan KSAP pada tahun 1953. kemudian pada tahun 1954-1959, T.B. Simatupang diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI.

Setelah non aktif dari kemiliteran, T.B. Simatupang menyibukkan diri dengan menulis buku dan mengajar di SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, sekarang Seskoad, dan Akademi Hukum Milter/AHM). Akhirnya dia resmi pensiun dari dinas militer pada tanggal 21 Juli 1959 dalam usia 39 tahun dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal.

Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

Dalam aktivitas gerejawinya itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, bahkan Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia.

Di lingkungan kemasyarakatan, Simatupang menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM). Ia bahkan merupakan salah satu pencetus lembaga pendidikan ini, ketika di Indonesia belum banyak orang yang memikirkannya.

Pada 1969 Simatupang dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat.

T.B. Simatupang meninggal dunia pada 1 Januari 1990 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Saat ini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

 

3. Mayor Jenderal D.I. Panjaitan

Jenderal Kristen yang diangkat jadi pahlawan Indonesia, yang ketiga adalah Mayjen D.I. Panjaitan.

Mayor Jenderal TNI  Donald Isaac Panjaitan lahir di Balige, Sumatera Utara, pada 19 Juni 1925.

Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera.

Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Setelah berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, dan Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan, Panjaitan diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya. Setelah mengikuti kursus Militer Atase tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat.

Tahun 1962, tidak lama setelah pulang dari Jerman, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah yang diembannya saat peristiwa G-30/S PKI yang merenggut nyawanya terjadi.

Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia berhasil membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk PKI (Partai Komunis Indonesia). Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo.

Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan.

Pada jam-jam awal 1 Oktober 1965, sekelompok anggota Gerakan 30 September meninggalkan Lubang Buaya menuju pinggiran Jakarta. Mereka memaksa masuk pagar rumah Panjaitan di Jalan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lalu menembak dan menewaskan salah seorang pelayan yang sedang tidur di lantai dasar rumah dua lantai dan menyerukan Panjaitan untuk turun ke bawah.

Dua orang pemuda, yaitu Albert Naiborhu dan Viktor Naiborhu terluka berat saat mengadakan perlawanan ketika D.I. Panjaitan diculik, tidak lama kemudian Albert meninggal. Setelah penyerang mengancam keluarganya, Panjaitan turun dengan seragam yang lengkap, berdoa secara Kristen sambil berdiri untuk memenuhi panggilan tugas yang sebenarnya dimanupalasi oleh PKI. Ia ditembak mati ketika sedang berdoa, dan tewas di tempat.

Mayat Panjaitan dimasukkan ke dalam truk dan dibawa kembali ke markas gerakan itu di Lubang Buaya. Kemudian, tubuh dan orang-orang dari rekan-rekannya dibunuh tersembunyi di sebuah sumur tua. Mayat ditemukan pada tanggal 4 Oktober, dan semua diberi pemakaman kenegaraan pada hari berikutnya. Panjaitan mendapat promosi pangkat (anumerta) menjadi Mayor Jenderal dan diberi gelar Pahlawan Revolusi.

Nama Panjaitan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, termasuk di Jakarta. Monumennya dibangun di kota kelahirannya, Balige.

Salah satu putra D.I. Panjaitan, Hotmangaraja, mengikuti jejak ayahnya sebagai tentara (mencapai pangkat Jenderal bintang tiga/Letnan Jenderal). Ia terakhir bertugas di militer sebagai Pangdam Udayana di Bali dan Sekretaris Menkopolhukam RI.  Setelah pensiun dari dinas militer, Hotmangaraja ditunjuk sebagai duta besar RI di Perancis, yang dijalaninya hingga kini.

 

Page: 1 2