4. Letnan Jenderal Jamin Ginting

Jenderal Kristen yang diangkat jadi pahlawan Indonesia, yang keempat adalah Letnan Jenderal Jamin Ginting.

Letjen Jamin Ginting lahir di Desa Suka, Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada 12 Januari 1921.

Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah dia bergabung dengan satuan militer yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara guna menambah pasukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di Asia. Jamin Ginting muncul sebagai seorang komandan pada pasukan bentukan Jepang itu.

Rencana Jepang untuk memanfaatkan putra-putra Karo memperkuat pasukan Jepang kandas setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada Perang Dunia II. Jepang menelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang. Sebagai seorang komandan, Jamin Ginting bergerak cepat untuk mengkonsolidasi pasukannya.

Di kemudian hari anggota pasukan Jamin Ginting ini mucul sebagai pionir-pionir pejuang Sumatera Utara dalam melawan tentara Belanda. Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamat Ginting, Kapten Mumah Purba, Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamet Ketaren, dan lain sebagainya, adalah cikal bakal Kodam II/Bukit Barisan yang kita kenal sekarang ini.

Dalam rangka menghadapi gerakan pemberontakan Nainggolan di Medan (Sumatera Utara) maka Panglima TT I, Letkol Jamin Ginting melancarkan Operasi Bukit Barisan pada tanggal 7 April 1958. Hasilnya, pasukan Nainggolan dan Sinta Pohan terdesak dan mundur ke daerah Tapanuli.

Dengan pangkat Mayor Jenderal, Jamin Ginting menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Front Nasional, di Kabinet Dwikora Revisi Kedua. Di penghujung masa baktinya, Jamin Ginting menjadi Duta Besar Indonesia untuk Kanada. Di Kanada inilah ia meninggal pada 23 Oktober 1974.

Semasa hidupnya, Jamin Ginting menulis beberapa buku, salah satunya adalah “Bukit Kadir”, yang mengisahkan perjuangannya di daerah Karo sampai ke perbatasan Aceh melawan tentara Belanda. Seorang anggotanya, Kadir, gugur di sebuah perbukitan di Tanah Karo dalam suatu pertempuran yang sengit dengan pasukan Belanda. Bukit itu sekarang dikenal dengan nama Bukit Kadir.

Kisah hidup istri Jamin Ginting, Likas Tarigan, bersama Jamin Ginting, telah dibuat menjadi sebuah film yang berjudul 3 Nafas Likas, yang diputar di bioskop-bioskop Indonesia pada 2014.

Jalan Jamin Ginting di kota Medan merupakan penghormatan bagi Jamin Ginting, yang konon merupakan jalan terpanjang di Indonesia dengan memakai nama orang/pahlawan.

 

5. Brigadir Jenderal Slamet Riyadi

Jenderal Kristen yang diangkat jadi pahlawan Indonesia, yang kelima adalah Brigadier Jenderal Ignatius Slamet Riyadi.

Advertisements
Ad 16
Advertisements Text

Slamet Riyadi lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 26 Juli 1927, putra dari seorang tentara dan penjual buah. “Dijual” pada pamannya dan sempat berganti nama saat masih balita untuk menyembuhkan penyakitnya, Riyadi tumbuh besar di rumah orang tuanya dan belajar di sekolah milik Belanda.

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda (Indonesia), Riyadi menempuh pendidikan di sekolah pelaut yang dikelola oleh Jepang dan bekerja untuk mereka setelah lulus; ia meninggalkan tentara Jepang menjelang akhir Perang Dunia II dan membantu mengobarkan perlawanan selama sisa pendudukan.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Riyadi memimpin tentara Indonesia di Surakarta pada masa perang kemerdekaan melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Dimulai dengan kampanye gerilya, pada 1947 ia berperang dengan sengit melawan Belanda di Ambarawa dan Semarang, bertanggung jawab atas Resimen 26.

Pada tahun 1950, Riyadi dikirim ke Maluku untuk memerangi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Setibanya di New Victoria, pasukan Riyadi diserang oleh pasukan RMS. Ketika Riyadi sedang menaiki sebuah tank menuju markas pemberontak pada tanggal 4 November, selongsong peluru senjata mesin menembakinya. Peluru tersebut menembus baju besi dan perutnya.

Setelah dilarikan ke rumah sakit kapal, Riyadi bersikeras untuk kembali ke medan pertempuran. Para dokter lalu memberinya banyak morfin dan berupaya untuk mengobati luka tembaknya, namun upaya ini gagal. Riyadi tewas pada malam itu juga, dan pertempuran berakhir di hari yang sama. Riyadi dimakamkan di Ambon.

Sejak kematiannya, Riyadi telah menerima banyak penghormatan. Sebuah jalan utama di Surakarta dinamakan menurut namanya, juga dengan fregat TNI AL, KRI Slamet Riyadi. Begitu juga dengan sebuah universitas di Surakarta, universitas Slamet Riyadi.

Selain itu, Riyadi juga dianugerahi beberapa tanda kehormatan secara anumerta pada tahun 1961, dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

 

Itulah 5 Jenderal Kristen yang diangkat jadi pahlawan Indonesia.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

Tinggalkan Balasan