5 Kebenaran Tentang Iblis Menurut Alkitab

Artikel ini berisi kebenaran tentang iblis menurut Alkitab.

Kebenaran tentang iblis menurut Alkitab sangat penting kita ketahui.

Dalam setiap agama dan kepercayaan, umumnya terdapat ajaran tentang kejahatan, atau yang dipersonifikasikan sebagai oknum jahat, atau yang biasa disebut iblis.

Demikianlah dengan ajaran Kristen, ajaran tentang iblis menurut Alkitab dan pandangan Kristen merupakan ajaran yang sangat penting.

Baca juga: 5 Kebenaran Tentang Surga Menurut Alkitab

Iblis menurut Alkitab merupakan musuh kekal Tuhan dan orang percaya.

Dia diyakini aktif untuk melawan Tuhan, menggagalkan rencana-rencanaNya yang baik, menimbulkan penderitaan bagi hidup manusia, serta menggoda orang percaya untuk jatuh ke dalam dosa dan memberontak kepada Tuhan.

Baca juga: 5 Kebenaran Tentang Neraka Menurut Alkitab

Artikel ini akan mencoba memberikan 5 kebenaran tentang iblis menurut Alkitab, baik di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru.

Apa sajakah kelima kebenaran tentang iblis menurut Alkitab tersebut?

Berikut pembahasannya.

 

1. Iblis Adalah Malaikat Yang Jatuh

Kebenaran tentang iblis menurut Alkitab yang pertama adalah: iblis merupakan malaikat yang jatuh.

Iblis tidak diciptakan Tuhan dalam keadaannya sebagai iblis. Iblis awalnya adalah malaikat yang jatuh (sebelum penciptaan manusia).

Jika Tuhan menciptakan iblis dalam keadaannya sebagai iblis, maka Tuhan akan menjadi pencipta kejahatan.

Faktanya, Tuhan hanyalah menciptakan malaikat, malaikat itu sendirilah yang kemudian memilih menjadi iblis.

Yesaya 14:12-15 dan Yehezkiel 28:12-17 sering dianggap sebagai latar belakang kejatuhan iblis, dari malaikat Tuhan yang tercemerlang menjadi penjahat nomor satu dan sumber segala kejahatan di bumi.

Dari kedua bagian firman Tuhan di atas dapat disimpulkan bahwa iblis tadinya adalah malaikat Tuhan yang paling cemerlang, tanpa cacat cela secara fisik dan perilaku.

Lalu ia menyombongkan diri karena hal tersebut dan ingin menyamai Tuhan, hal mana dipandangNya sebagai pemberontakan kepadaNya sehingga melemparkan malaikatNya itu ke bumi.

Jika kita melihat konteks kedua bagian firman Tuhan di atas, memang ayat-ayat tersebut ditujukan kepada raja-raja dunia (dalam Yesaya ditujukan untuk raja Babel, sedangkan dalam Yehezkiel untuk raja Tirus).

Namun ayat-ayat tersebut rupanya tidak cocok dikenakan kepada manusia, melainkan kepada kekuatan yang ada di belakang raja-raja dunia tersebut, yakni iblis.

(Pemakaian ayat-ayat dengan cara seperti ini bukanlah hal yang asing dalam Alkitab).

 

2. Iblis Bukanlah Setan Atau Roh Jahat

Kebenaran tentang iblis menurut Alkitab yang kedua adalah: iblis tidak sama dengan setan atau roh-roh jahat.

Sekalipun dalam bahasa aslinya iblis adalah Satan, namun iblis tidaklah sama artinya dengan setan dalam pengertian yang kita kenal.

Alkitab membedakan antara iblis (satan) dengan setan.

Iblis hanya ada satu, sedangkan setan ada banyak.

Setan-setan adalah antek-antek  atau anak buah iblis, yang biasa juga disebut sebagai roh-roh jahat.

Dan sama seperti iblis, setan-setan atau roh-roh jahat juga awalnya adalah para malaikat yang turut memberontak kepada Tuhan.

Jadi dalam pemberontakannya kepada Tuhan, ternyata iblis tidak sendirian, ia disertai malaikat-malaikat lainnya, yang juga disebut “malaikat-malaikatnya” (Matius 25:41) atau setan-setan.

Dalam 2 Petrus 2:4 dan Yudas 1:6, disebutkan tentang malaikat-malaikat yang berdosa kepada Tuhan dan ditawan di suatu tempat (yang dalam bahasa Yunani disebut Tartaros) hingga tiba hari penghakiman bagi mereka.

Jika demikian, berarti para malaikat yang memberontak itu ada banyak, sebagian ditawan di Tartaros hingga tiba saatnya mereka dilemparkan ke neraka, sedangkan sebagian lagi dilemparkan ke bumi (itulah iblis dan setan-setan).

Iblis dan setan-setan rupanya menjalankan pemerintahannya secara terorganisir, seperti organisasi tentara atau malaikat (mungkin karena mereka berasal dari malaikat).

Dalam Matius 12:25-26 dan Efesus 6:12 terlihat hierarki pemerintahan iblis yang begitu rapi dan kokoh. Iblis paling tinggi dan setan-setan ada di bawahnya.

 

3. Iblis Telah Dikalahkan Tuhan Yesus Di Kayu Salib, Namun Masih Berkuasa Secara Terbatas Atas Dunia

Kebenaran tentang iblis menurut Alkitab yang ketiga adalah: iblis telah dikalahkan Tuhan Yesus di kayu salib, tapi masih punya kuasa secara terbatas.

Iblis dan kuasanya pada dasarnya telah dikalahkan oleh Yesus lewat kematianNya di kayu salib.

Yesus adalah raja dan pemenang atas iblis dan roh-roh jahat atau setan-setan (Kolose 2:13-15).

Dalam Ibrani 2:14 juga dikatakan bahwa tujuan kematian Yesus adalah untuk memusnahkan iblis.

Hal ini telah dinubuatkan jauh sebelumnya, segera setelah manusia pertama, Adam dan Hawa, jatuh ke dalam dosa.

Allah waktu itu mengatakan bahwa akan ada permusuhan antara iblis dan keturunan Hawa (Yesus), di mana iblis akan memagut tumit Yesus (menyiksa dan menyalibkanNya), tetapi Yesus akan meremukkan kepalanya (Kejadian 3:15).

Inilah yang biasa disebut sebagai Protoevangelium  atau Benih Injil.

Karena itu iblis tidak perlu lagi ditakuti. Kuasanya sudah dilucuti, dia tidak berkuasa lagi atas mereka yang percaya kepada Yesus.

Namun, kendati iblis telah dikalahkan oleh Yesus lewat kematianNya di kayu salib, iblis masih punya kuasa di bumi sekarang ini.

Sama seperti ia pertama kali menggoda manusia (Hawa) untuk memberontak kepada Allah dan jatuh ke dalam dosa, demikian juga ia masih terus menggoda manusia hingga saat ini.

Bahkan iblis digambarkan seperti singa yang berkeliling untuk mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8).

Karena itu ia perlu diwaspadai, sebab ia masih dapat menggunakan tipu dayanya untuk memperdaya mereka yang lengah, sekalipun kuasanya telah dilucuti.

Dalam konteks itulah Alkitab berkata bahwa seluruh dunia berada di bawah kuasa iblis (1 Yohanes 5:19).

Sebelum dan setelah kematian Yesus di kayu salib, iblis aktif menggoda manusia. Hanya saja, sejak kematian Yesus, kekuatan iblis dilucuti, ia hanya bisa melakukan tipu daya.

Tetapi orang percaya diberi kuasa untuk melawan tipu dayanya tersebut.

Dengan cara bagaimana?

Melalui “senjata-senjata rohani” yang disebut rasul Paulus, yakni iman, firman Tuhan, dan doa (Efesus 6:11-18).

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!