5 Kerugian PDIP jika tidak mencalonkan Ganjar

Sekalipun elektabilitas Ganjar Pranowo di sejumlah lembaga survei jauh lebih unggul dari Puan Maharani, namun sepertinya PDIP, partai yang sedang berkuasa, lebih memilih Puan sebagai capres untuk bertarung pada pilpres 2024.

Setidaknya itulah yang terjadi hingga saat ini. Kalaupun peluang Ganjar masih terbuka untuk diusung PDIP, Ganjar sepertinya hanya pilihan kedua jika elektabilitas Puan ternyata tidak kunjung naik secara signifikan menjelang penutupan pendaftaran capres 2024.

Pencalonan Puan sebagai capres dari PDIP di pilpres 2024 bukan isapan jempol belaka. Seluruh kader PDIP seperti bergerilya untuk menaikkan elektabilitas ketua DPR tersebut dan membuatnya layak dipilih oleh rakyat pada pilpres 2024.

Bukti terbaru adalah terbentuknya apa yang disebut dengan istilah “dewan kolonel,” berisi para anggota DPR RI fraksi PDIP yang berusaha untuk mendukung pencapresan Puan.

Jika benar PDIP akhirnya sudah bulat mencalonkan Puan meski elektabilitasnya begitu rendah, maka itu sebenarnya sangat riskan. Bahkan meskipun elektabilitas Puan masih bisa naik menjelang penutupan pendaftaran capres pada pilpres 2024 nanti.

PDIP justru akan merugi banyak jika tidak mencalonkan Ganjar di satu sisi dan mencalonkan Puan di sisi lain.

Setidaknya ada lima hal yang bisa merugikan PDIP jika mereka tidak mencalonkan Ganjar sebagai presiden, kader PDIP yang sedang menjabat gubernur Jawa Tengah itu.

Pertama, usaha PDIP untuk menang menjadi sangat sulit.

Sangat sulit untuk memenangkan calon yang elektabilitasnya atau tingkat keterpilihannya sangat rendah seperti Puan. Mungkin masih bisa menang, tetapi butuh usaha yang sangat keras.

Misalnya, partai gencar melakukan promosi dengan berbagai cara dan berusaha meyakinkan pemilih, yang tadinya tidak mau memilih Puan menjadi mau memilihnya.

Kedua, Logistik yang dikeluarkan partai menjadi lebih besar.

Bukan rahasia lagi kalau yang namanya pemilihan pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pemilihan kepala desa saja butuh biaya besar, apalagi pemilihan presiden.

Terlebih lagi jika si calon belum terlalu terkenal, atau sudah terkenal tetapi tidak mendapat simpati dari pemilih. Maka biaya yang dibutuhkan pun akan membengkak.

Ketiga, PDIP mencari rekan koalisi menjadi lebih sulit.

Meskipun dari segi persyaratan PDIP tidak butuh lagi partai lain untuk mencapreskan Puan, namun PDIP tetap butuh partai lain agar kemenangan bisa lebih mudah didapat.

Tetapi partai lain akan berpikir dua kali untuk bergabung dengan PDIP, karena mereka tahu elektabilitas Puan sangat rendah.

Keempat, PDIP terancam ditinggal pendukung dan relawan, khususnya pendukung Jokowi dan Ganjar.

Pendukung Jokowi masih besar, mereka mendukung Jokowi sejak pilpres periode pertama Jokowi hingga periode keduanya.

Dan pendukung Jokowi dan Ganjar hampir identik. Sebagian besar pendukung Jokowi adalah pendukung Ganjar. Sehingga tidak mencalonkan Ganjar berarti PDIP akan kehilangan pendukung Jokowi, bukan hanya pendukung Ganjar.

Apalagi mereka ini bukan hanya pemilih, tetapi di antara mereka juga banyak yang merupakan relawan, yang secara sukarela aktif mempromosikan Ganjar.

Kelima, yang terakhir dan yang terpenting, PDIP akan kalah pilpres dan mungkin juga akan kalah pileg.

Survei-survei membuktikan PDIP akan menang pileg dan pilpres jika capresnya adalah Ganjar. Sebaliknya akan terjadi jika capresnya Puan.

Kalah pilpres artinya PDIP bukan hanya akan kehilangan kursi presiden, tetapi juga akan kehilangan kesempatan dalam memerintah, mengatur anggaran, serta mengisi jabatan-jabatan strategis lainnya, seperti menteri-menteri, ketua-ketua lembaga negara, dubes-dubes, komisaris-komisaris BUMN, dll.

Sementara kalah pileg berpotensi kehilangan sejumlah kursi di parlemen serta kehilangan kursi ketua DPR yang biasanya merupakan jatah parpol pemenang pemilu, dan ketua-ketua komisi.

Selain itu, dengan jumlah kursi yang lebih sedikit, posisi tawar (bargaining position) partai pun di parlemen menjadi lebih rendah, sehingga sulit menggolkan program-program yang menjadi aspirasi para konstituen partai.

Jadi apakah PDIP pilih Puan atau Ganjar?

Toh tujuan tiap parpol ikut pemilu adalah untuk menang. Tidak ada parpol yang ingin kalah di pemilu.

Kalau begitu, kenapa PDIP tidak mencalonkan orang yang kemungkinan menangnya lebih besar?

 

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!